Akara Rindu Dalam Penantian

Akara Rindu Dalam Penantian
50


__ADS_3

Sejak sampai di kontrakan tepat pada jam 3.40 sore tadi. Kai langsung bergegas masuk ke dalam rumah yang ia tinggali sejak usaha toko baju milik Abangnya tutup.


Kontrakan itu milik kawan abangnya. Sebenarnya sejak toko Abang tutup, Kai ditawari tinggal dengan Abang dan istrinya. Hanya saja Kai sungkan dan merasa tidak bebas kalau harus tinggal bersama. Akhirnya ia memilih untuk tinggal sendiri.


Kai masuk di kontrakan yang cukup luas dengan satu ruang tamu merangkap ruang keluarga, dua ruang kamar berukuran sama dan satu kamar mandi, juga ruangan yang dijadikan dapur, cukup luas. Di ujungnya terdapat sebuah tangga. Rencananya rumah ini dibuat bertingkat, tapi belum diteruskan pembangunannya karena terkendala dana. Itulah sebabnya ada tangga menuju lantai atas yang biasa dijadikan tempat menjemur pakaian.


Dari dulu hingga sekarang Kai diberikan harga yang bersahabat oleh pemilik rumah yang merupakan kawan Albi, Abangnya.


Kai menghela napas lega bisa sampai dengan selamat. Ia meletakkan tas di atas ranjang, membongkar isinya. Kai mencari peralatan mandi, setelah ketemu lelaki itu langsung menuju kamar mandi yang ada di ruangan yang dijadikan dapur.


Setelah mandi Kai langsung merebahkan diri di kasur. Rasanya nyaman sekali, termenung sambil memeluk guling membuat ingatannya tertuju pada Meysa. Ia lupa mengecek ponsel dan mengabari kekasih hatinya itu.


Kai lalu meraih ponsel yang ada di dalam tas selempangnya. Tasnya masih berserakan di tempat tidur, Kai tidak memiliki tenaga untuk membereskannya sekarang.


Jari Kai tergerak membuka aplikasi WA. Meysa belum juga membaca pesannya, mungkin dia sedang istirahat. Hal itu membuat Kai memilih untuk tak mengganggu.


Senyumnya terulas melihat story' WA Meysa yang mengunggah foto dirinya. Bahkan saat mengecek IG, lagi-lagi Kai dibuat tersenyum. Memang benar cinta bisa merubah pandangan terhadap semua hal jadi berubah, salah satunya Kai. Ia bukti nyata dan akurat dalam hal itu. Dulu ia tidak suka melihat orang yang lebay terhadap pasangannya dengan cara pamer kekasih melalui postingan, Tapi kini Ia merasakannya secara langsung dan ternyata tidak seburuk itu.


Kai sudah seperti orang yang terkena gejala ODGJ, senyum-senyum sendiri.


Kai me-repost insta story Meysa, ia membuat caption hanya dengan emoticon love berwarna merah. Setelah itu Kai langsung memejamkan mata sejenak untuk beristirahat. Tubuhnya terasa penat.


Kai memejamkan mata hanya sesaat, begitu bangun ia langsung menonton YouTube karena pesan dari orang yang ditunggu tak kunjung masuk. Namun, disaat yang bersamaan juga ia menerima panggilan video dari Meysa.


Bibirnya tertarik membentuk senyum, tangannya tergerak mengangkat panggilan dengan penuh semangat.


.... Dan kini panggilan itu sudah berlangsung cukup lama. Ia dan Meysa bercerita banyak hal. Kai senang melihat wajah Meysa, membuat rasa rindunya bisa terobati. Padahal baru pagi tadi mereka tidak bersama, tapi rasa rindu yang begitu besar terus mendera kalbu. Rasanya Kai tak sabar ingin segera menghalalkan. Tapi, apa daya ia masih harus mempersiapkan segalanya dulu.


“Ya Allah, jaga dia untukku. Berilah kemudahan untuk segera menghalalkannya!" lirih Kai disela Meysa masih melayangkan banyak tanya.


Terutama soal toko, melihat Ia berada di tempat lain tentu membuat Meysa bertanya. Memang banyak yang sudah berubah. Mereka sudah lama tanpa kabar satu sama lain, tentu Meysa heran melihat suasana baru.


Kai pun menceritakan semua secara detail, tanpa ada yang terlewatkan.


“Alamatnya dimana?"


“Alamat apa?" Kai menyerngit mendengar pertanyaan Meysa. Dari tadi ia sibuk memerhatikan wajah manis Bulannya itu.


“Itu kontrakannya, kan dulu toko baju di jalan Kartama, sekarang alamatnya apa?" tanya Meysa bersungguh-sungguh. Membuat Kai beroh ria, ia baru memahami maksud pertanyaan Meysa.


“Jalan Kartama juga kok, nggak jauh dari toko, cuma ini agak masuk gang. Di komplek perumahan gitu!" seru Kai menjelaskan.


“Nanti kasih tahu alamat jelasnya ya." Meysa nampak berbinar menyampaikan keinginannya itu. Membuat Kai menautkan alis, Ia tahu Meysa pasti sedang punya niat terselubung.


“Mau apa lagi nih?" Kai bertanya seraya membenarkan posisinya. Dari barung terlentang menjadi miring.


“Gak usah aneh-aneh!" peringat Kai.


Dulu Meysa selalu mengirimkan gift atau apapun padanya. Membuat Kai merasa tak enak, sedangkan saat itu Meysa sama sekali tak memberi tahu alamat jelas tempat tinggalnya, karena pada saat itu Meysa memang masih di kampung. Bahkan alamat toko bunga baru ia ketahui setelah mereka lost contact, Meysa selalu memposting orderan bunga dengan menuliskan alamat lengkap Toko. Dari situ Kai bertekad untuk datang menemui Meysa suatu saat nanti.


“Gak macam-macam kok!" Meysa memanyunkan bibir, Kai bisa membaca gerak gerik dan niat terselubungnya.


“Awas ya, gak usah kayak dulu! Uangnya mending tabung aja, gak usah boros!" Balik Kai yang tak ingin Meysa berlaku boros.


“Gak boros kok, kan buat orang tersayang!" Meysa mengedipkan mata sambil tersenyum malu-malu.


Bersamaan dengan itu Kai bisa mendengar suara Rena yang berceletuk mengejek Meysa yang bucin.


“Idih, alay!" Ejekan Rena membuat Meysa menoleh kesal.


“Diam menantunya Bu Asmi!" Meysa balas mengejek dengan senjata andalan membuat Rena bungkam.


Kai hanya bisa menahan senyum menyaksikan perdebatan dua orang yang tak beda jauh dengan kelakuannya saat bersama dengan Ojik dan Satria.


“Kalian kek tom and Jerry!"


“Kamu kek nggak aja!" seru Meysa menghakimi Kai. Membuat Kai manggut-manggut dengan senyum tertahan, Ia menyadari dirinya pun tak kalah tom and Jerrynya kalau sudah bertemu dengan duo kamvret.


“Bee!"

__ADS_1


“Ingat ya, gak usah aneh-aneh. Jangan lakuin yang nggak-nggak!" peringat Kai sekali lagi.


“Emang gak mau tukaran gofood makanan seperti rencana kamu dulu?" tanya Meysa yang mana membuat Kai tersenyum.


“Kalau itu boleh deh, bee," ujar Kai menyetujui.


“Tapi kalau yang lain aku gak mau loh!”


“Kalau mau, mending duitnya ditabung aja."


Meysa tersenyum mendengar nasehat dari Kai. Ia lalu mengangguk mengiyakan.


Kini keduanya terdiam, hanya saling tatap tanpa mengatakan sepatah kata apapun. Kai merasa beruntung punya Meysa yang sejak awal tahu banyak kekurangannya tapi masih mau bersamanya. Bahkan setelah keputusan bodoh yang ia lakukan, Meysa masih menjaga hati dan mau menerimanya kembali.


“Bee!" lirih Kai dengan tatapan serius. Membuat Meysa mengernyitkan kening, menunggu apa yang akan Kai ucapkan.


“Maaf ya karena aku udah egois minta kamu menunggu!"


Meysa menggeleng, ia tidak setuju dengan apa yang barusan Kai katakan.


“Bee, kamu gak egois. Kalaupun aku harus menunggu lama, asal yang kutunggu itu kamu, aku gak masalah!" lirih Meysa. Gadis itu terlihat menoleh. Sepertinya Rena kembali mengejek dengan mengernyitkan kening.


Tapi untungnya Rena yang mengerti arah pembahasa mereka mulai serius pun memilih keluar dari kamar. Rena memberikan ruang pada Meysa untuk berbicara dengan Kai.


“Tapi kesannya aku terlalu egois dan maksa buat kamu tunggu, padahal disitu banyak yang lebih baik dari Aku."


“Aku tahu banyak yang menginginkanmu, bee.” Lirih Kai yang kembali diterpa rasa bersalah.


“Bee!" Meysa menggeleng tak setuju. Ia tak suka Kai berkata demikian. Kalaupun harus memaksa dan egois, jika itu Kai yang melakukan maka Meysa akan sangat bahagia karena ia pun begitu menginginkan pria itu.


Meski bukan hamba yang taat, tetapi ia selalu berdo'a agar Allah memberikan jalan terbaik dan menyatukan mereka. Dan yang semakin membuat Meysa bersyukur adalah karena Tuhan kembali mempertemukannya dengan Kai.


“Dengerin aku!" lirih Meysa dengan tatapan dalam, berusaha meyakinkan Kai.


“Yang aku mau bukan orang lain, sekalipun orang itu lebih segalanya dari kamu. Aku akan tetap memilihmu, bee!" lirih Meysa dengan begitu tulus.


“Janji sama aku, kamu akan baik-baik aja!"


Melihat Kai yang seperti itu membuat mata Meysa berkaca-kaca. Ia lalu mengangkat tangannya dan menautkan jadi kelingking seolah ia dan Kai tengah mengikrar janji secara nyata.


“Kamu akan jaga diri sampai nanti tiba saatnya kamu kuhalalkan!"


Meysa manggut-manggut, Ia dan Kai terlihat seperti tengah menautkan jari secara nyata. Meski virtual, tapi hal itu dapat dirasakan dengan tulus.


“Kamu juga janji harus jaga kesehatan, jaga hati!"


“Iya sayangku!" ucap Kai dengan lembut, lalu mengarahkan kecupan di layar ponsel.


Inilah susahnya LDR, mau ciumanpun harus cium layar, bukan manusia. Sangat mengenaskan.


Namun, di tengah suasana yang mengharu biru itu telinga Kai mendengar suara motor yang berhenti di halaman kontrakan. Kemudian di susul dengan suara ketukan tiada henti. Sudah seperti debt colector yang hendak menagih hutang.


Kai menghela napas kesal. Ia tahu siapa yang mengetuk pintu seperti orang kesetanan itu.


Tok, tok tok....


“Kai, oiii Kai!! Kami tahu kau datang!”


“Buka Kai!"


Kai menggaruk pelipisnya yang gatal sambil menggerutu sebal.


“Anjir kali lah duo kamvret tu!"


Ucapan lirih Kai dan wajah meringisnya membuat Meysa bertanya.


“Kenapa bee?" Meysa bertanya penasaran ingin tahu.


“Kamu mau pup?" lanjut Meysa saat Kai sama sekali tak menghiraukan pertanyaannya.

__ADS_1


“Hahaha."


Ucapan Meysa membuat Kai terkekeh. Bisa-bisanya ia dikira ingin pup hanya karena menunjukkan ekspresi kesal mendengar teriakan duo sahabat lucknut yang menggangu. Sudah dipastikan Ojik dan Satria hanya akan mengganggu istirahatnya.


“Kenapa pulak lah lari ke pup, aku lagi gak sakit perut loh ini, bee." Kai berkelakar sambil menahan tawa.


“Ya, siapa tahu kan."


“Kalau diingat-ingat, jam segini kan emang waktunya kamu pup!"


Ucapan Meysa makin membuat Kai tertawa. Ingatan Meysa dalam mengenang dirinya memang tidak diragukan lagi. Gadis itu bahkan begitu teliti mengingat jam dan setiap detail ekspresi yang ia tunjukkan.


“Ih, bee! Jam pupku pun kamu ingat," kekeh Kai sambil menahan kebengekan.


“Ya namanya juga sayang, itu tandanya aku ingat semua hal tentangmu!" ujac Meysa berbangga karena merasa sudah maksimal dalam mengingat setiap detail yang Bintangnya lakukan.


“Lagian kan dulu, setiap kita teleponan jam segini pasti kamu izin pup terus."


“Haha, bee, bee. Ada-ada aja kamu!"


Membuat Meysa menampakkan ekspresi mengejek.


Tapi, suara rusuh yang ditimbulkan oleh Ojik dan Satria membuat telinga Kai panas.


“Anjirlah anak dua tu, kek gak ada adanya aja bertamu." Omel Kai dengan kepala menoleh.


“Kenapa bee?" tanya Meysa makin penasaran.


Kai menoleh pada Meysa. “Denger gak bee?"


Meysa ikut terdiam berusaha mendengar suara yang Kai maksud. Kening Meysa menyerngit mendengar suara ketukan tersebut.


“Ojik sama Bang Sat?" tebam Meysa. Karena yang bisa bersikap seperti itu hanya dua orang itu saja.


Kai mengangguk. “Siapa lagi bee?" tanyanya seraya menghela napas.


“Cuma dua orang itu aja yang suka bersikap seenaknya."


“Yaudah bukain lah, bee!" ujar Meysa memberi saran, tapi Kai malah menggeleng tak mau.


“Malas bee, aku mau istirahat. Paling anak tu mau bikin rusuh."


Baru Kai mengatakan hal itu, sosok Satria dan Ojik malah muncul dari jendela, mengintip tepat di atas fentilasi yang ada di atas pintu.


“Anjir, ternyata lagi teleponan dia, Jik!"


Suara Satria yang terdengar membuat Kai menoleh dengan wajah geram. Ia hanya geleng-geleng melihat tingkah lucknut si duo kamvret.


“Pantaslah gak dibukain, gak mau diganggu!"


“Woy, macam maling aja kalian berdua ini!" sentak Kai tak suka. Baru juga datang, duo kamvret yang suka rusuh itu sudah membuat sorenya menjadi kelam.


“Makanya bukain!"


“Baru juga sampai udah langsung kangen-kangenan, anj***!"


Kai berdecak kesal, mau tak mau ia harus membukakan pintu untuk dua orang itu. Ia lalu menoleh pada Meysa yang sejak tadi hanya diam menengahi percakapannya dengan Ojik dan Satri yang terdengar bar-bar sekali.


“Tunggu bentar ya, bee. Bukain si lapet itu dulu!" ucap Kai tak bersemangat.


“Iya bee, aku juga mau mandi."


“Eh iya, di situ udah mau maghrib ya, bee?"


“Iya bee, udah mau adzan."


“Yaudah bee bee, nanti aku telpon lagi ya!"


Kai melambaikan tangan pada Meysa, membuat gadis itu tersenyum bahagia. Apalagi ketika Kai kembali mengecup ponselnya sebelum mengakhiri panggilan video.

__ADS_1


__ADS_2