
Keesokan harinya Meysa sudah kembali pulih seperti sedia kala. Hari ini ia memutuskan tak ke rumah Rena dulu, ia mendapat beberapa orderan yang mengharuskannya sibuk di toko.
Semalam Kai tak lagi menempati janji yang katanya akan menelpon begitu tiba di rumah. Walau sedikit kecewa ketika mengingat kondisinya kemarin benar-benar drop tapi Kai malah terkesan mengabaikannya. Meski begitu Meysa mencoba memahami, mungkin Kai terlalu lelah sehingga tak ada waktu.
Apalagi ketika pagi tadi Kai mengirimkan chat permohonan maaf sebelum berangkat kerja, Ia langsung luluh dan memaafkan. Begitulah setiap harinya. Bertengkar, baikan, bertengkar, baikan lagi. Skema hubungan mereka memang demikian.
Bintang : Hari ini aku ada survei ya bee, teleponannya sekalian nanti malam aja ya kalau aku udah pulang.
Meysa hanya membaca pesan Kai tanpa membalasnya. Ia lebih memilih menyelesaikan orderan buket. Ia tak terlalu berharap, takut kecewa seperti semalam.
Malam harinya Meysa yang sudah selesai masak dan beres-beres langsung merebahkan tubuhnya di tempat tidur.
Tak ada kegiatan lain membuat Meysa berniat melanjutkan karya yang ia buat, mumpung moodnya sedang bagus dan mendapat ide. Kebetulan saat ini ia punya dua karya ongoing, satu di platform biru yang di kontrak eksklusif da satu lagi di platform oranye.
Namun, sebelum mulai menulis. Meysa tertarik membuka notifikasi pemberitahuan yang lumayan banyak.
Pembaca 1 : Si Alden goblok banget nyia-nyiain cewek kek Auris.
Pembaca 2 : Yuk Kak MeysHa, Auris buat Angkasa aja. Aku tim AurKa garis keras.
Pembaca 3 : Kalau aku sih yakin banget endingnya si Auris bakalan sama Angkasa. Sesuai judul "Dekapan Angkasa". Nanti Auris didekap Angkasa🤭
Pembaca 6 menyebut Pembaca 3: Eh, emang iya gitu?😱 Tau darimana kak? Spoiler dong. Aku fans AurKa garis keras juga soalnya.🤗😘
Pembaca 3 menyebut pembaca 6: Wkwkw, Tapi gak tahu juga deh soalnya gue ngarang. hahaha.🤣
... Dan seterusnya.
Meysa tersenyum membaca beberapa komentar pembaca yang turut hanyut dalam cerita genre teen yang ia buat di platform oranye. Sedangkan di platform biru, ia membuat cerita genre romansa pernikahan. Yang digemari banyak ibu-ibu.
Meysa memakai nama pena MeysHa dimana dua huruf terakhir itu merupakan kepanjangan dari nama depannya. Yaitu Haneendya.
Meysa yang tengah menulis chapter kedua, langsung menghentikan tulisannya ketika melihat sebuah notifikasi dari WhatsApp.
Pasti Kai! Menebak pesan itu dari Kai membuat Meysa bergegas membukanya. Ia memang se-fast respon itu jika menyangkut soal Kai yang jarang punya waktu. Walau tadi siang ia sempat kesal dan tak berharap Kai benar-benar menghubunginya malam ini. Namun, perasaan itu cepat sekali berubah. Feeling-nya saja bisa menebak jika pesan itu dari Kai, membuat ia bergegas membuka, bahkan sampai batal mengetik.
Namun, betapa kecewanya ia ketika Kai hanya mengirim pesan untuk memberi tahu jika ia ingin langsung tidur sebab lelah seharian survei.
_________
Bintang : Bee, maaf ya malam ini gak bisa nelepon dulu. Aku capek banget, besok lagi ya sayang!❣️
Kamu juga langsung tidur, jangan begadang!
Love you😘
Meysa membaca pesan Kai sambil tertawa sumbang. Kecewa sebab orang yang selalu ia prioritaskan malah memperlakukannya seperti ini.
^^^Meysa : Enak ya jadi kamu, selalu diprioritaskan tapi gak pernah bisa jadiin orang prioritas.^^^
^^^Kamu mana tau sedihnya seseorang yang nungguin kamu selesai dari semua kesibukan tiap harinya tapi sekalinya aktif langsung ngajakin tidur dengan alasan capek dan udah tengah malam.^^^
^^^kamu gak tau apa gimana rindunya aku ke kamu?^^^
^^^Atau kamu emang udah gak ngerasain itu karena emang gak pernah rindu sama aku?^^^
^^^Begitulah kalau orang yang kita prioritaskan gak memprioritaskan balik!^^^
___________
__ADS_1
Begitu rentetan balasan pesan yang Meysa kirim. Yang mana langsung membuat Kai yang baru saja merebahkan tubuh sambil membuka ponsel terkejut kesal membaca pesan dari Meysa. Ia menghela napas berusaha untuk tidak emosi.
Kai yang benar-benar lelah dan hendak tidur langsung memutuskan untuk menghubungi Meysa.
“Apa sih bee, tolong jangan mulai lagi deh! Ini aku beneran capek loh! Aku gak mau ribut!" sentak Kai begitu Meysa menjawab panggilannya
“Aku gak mau tiap hari kita permasalahin soal kabar, permasalahin ini. kamu kan tahu aku seharian ngapain aja!" sambung Kai lagi yang mencoba memberi pemahaman agar Meysa mau mengerti. Mereka bukan anak kecil yang harus mempermasalahkan hal kecil.
“Aku gak akan permasalahin soal kabar kalau kamu bisa ngertiin apa mauku!" balas Meysa tak mau kalah. Merasa selama ini Kai sudah sangat keterlaluan dengan Ia yang selalu berusaha maklum akan kesibukan pemuda itu.
Ia sudah semaksimal mungkin memaklumi sebuah kesalahan yang bahkan selalu terulang setiap harinya. Lalu saat ia marah dan merasa tak diprioritaskan, Kai malah berkata ketus seperti ini. Meysa merasa Kai terlalu egois.
“Maumu seperti apa yang gak aku ngertiin?" sentak Kai yang sama sekali tak merasa bersalah. Rasa lelah membuat emosinya malah tersulut. Ia penat, lelah dan bosan terus-menerus bertengkar setiap hari hanya karena hal yang sama. Ia hanya ingin dimengerti sedikit saja, tapi Meysa malah mengatakan hal yang tidak-tidak, seakan ia tak memprioritaskannya. Kai merasa sikap meysa terlalu berlebihan.
Kai menyayangi gadis itu, bahkan saking sayangnya ia bekerja keras demi menghalalkan Meysa. Selalu berusaha menjaga hati dan setia di tengah besarnya badai cobaan untuk mendua.
“See, bukannya merasa bersalah kamu malah balik marah." Meysa tersenyum getir dari balik telepon.
“Udahlah aku capek sama kamu!" sentak Meysa. Ia menyerah dan tak sanggup kalau harus melangsungkan pertengkaran.
Setiap hari harus berusaha berpikiran positif pada Kai yang semakin hari semakin jarang memberi kabar. Bukannya berubah atau merasa bersalah, pria itu malah bersikap begini. Membuat Meysa makin tak bisa berpikiran jernih. Kai berubah banyak..
Bahkan ia sering menemukan penggalan quote bertebaran di reels IG yang kata-katanya selalu related dengan hubungan mereka. Yang mana katanya jika seorang laki-laki tak lagi memprioritaskan maka sudah pasti ada yang lain, mungkin perasaannya mulai berubah. Tak jarang semua itu membuat Meysa overthinkking.
Dan melihat ini, Meysa semakin sakit hati. Sikap Kai membuat hatinya sakit.
“Mending kita udahan aja kalau begini. aku capek makan hati tiap hari!" Lanjutnya yang mana langsung membuat Kai memejamkan mata, ia berusaha mengontrol emosi.
tak ingin hubungan yng sudah terjalin selama ini hancur hanya karena keegoisan mereka, tak ada satupun yang mau mengalah.
Kai menghela napas lesu. Ucapan Meysa benar-benar membuatnya tersadar dari amarah yang hampir menguasai. Kai tak ingin terjadi sesuatu pada hubungan ini, sehingga ia lebih memilih mengalah dan menurunkan ego.
“Jangan begini!"
“Aku gak pernah ya mau gini, kamu yang gak ngerti!" sergah Meysa dengan cepat. Air matanya sudah mulai menetes.
“Kalau kamu bosan atau capek, bilang! Jangan begini! Atau mungkin kamu lagi dekat dengan yang lain, kasih tau aku. Jangan nyiksa dengan cara begini!"
“Jangan bikin aku seperti orang bodoh yang tiap hari selalu ngemis kabar, padahal kamu emang udah gak ada rasa lagi ke aku. Kalau emang gitu ya udah kita selesaiin aja. Aku capek Kai, capek!" sentak Meysa mengeluarkan seluruh isi hatinya.
Membuat Kai nampak menggeleng di balik telepon, pria itu mengusap napasnya kasar.
“Ih bee, mana ada pulak aku udah gak sayang! Aku sayang banget samamu!" seloroh Kai yang berusaha menepis pikiran negatif Meysa. Sungguh Ia tak bisa kalau seperti ini. Kai tak ingin Meysa berpikiran yang tidak-tidak.
“Iya aku minta maaf, aku salah bee. Aku yang gak ngertiin kamu, aku yang selalu gak ada waktu buat kamu," lirih Kai yang benar-benar merasa bersalah. Ia terlihat memijat pangkal hidungnya.
“Aku yang terlalu sibuk sampai gak bisa bagi waktu, aku sadar akan hal itu, bee!"
“Jujur aku sayang banget samaa kamu bee, aku juga kerja buat kamu sayang, kerja buat masa depan kita!" ujar Kai mengeluarkan seluruh isi hatinya. Berharap Meysa berhenti menyebutkan hal yang sama sekali tak pernah terlintas di pikirannya.
“Aku jarang ngabarin bukan karena nggak mriorritasin kamu, ataupun udah gak sayang, apalagi sampai ada orang baru. Itu nggak mungkin bee, kamu masih jadi satu-satunya dan akan selalu jadi satu-satunya, bee. Tolong jangan berpikiran yang nggak-nggak!"
Meysa menghembuskan napas gusar mendengar jawaban Kai yang berusaha meyakinkan. Namun, ia yang sudah terlanjur merasa demikian susah untuk percaya. Ia pun menjawab ucapan Kai.
“Kamu tahu sendiri kita jauhan, kita LDRan. Harusnya kamu bisa punya waktu buat hubungan kita. Aku udah berusaha ngerti, tapi kalau kamu yang gak bisa ngerti aku juga bisa capek!" Sentak Meysa kesal. Meluapkan emosi pada Kai.
“Kata orang sibuk itu gak ada, semua tergantung prioritas!" lirih Meysa dengan suara pilu, ia masih menangis.
“Gak semua orang sama bee, dan mungkin aku salah satu orang yang gak sama itu!" lirih Kai menyadari kekurangannya yang tak bisa menjadi seperti yang Meysa inginkan.
__ADS_1
“Aku sibuk tapi aku selalu mikirin kamu, kamu selalu hadi prioritasku, hanya saja aku yang gak bisa bagi waktuku."
Keduanya pun sama-sama terdiam setelah perdebatan panjang yang menguras emosi itu.
“Bee kalau kamu marah tolong jangan sedikit-sedikit bilang putus!”
“Kalau ada masalah itu masalahnya yang kita selesaikan, bukan hubungannya!" lirih Kai dengan lembut, tak ingin memperkeruh keadaan. Jika ia tak merendakan ego, sudah dipastikan hubungan mereka akan benar-benar usai disini.
Namun, Meysa sama sekali tak menjawab. Gadis itu nampak termenung dengan pikiran yang entah melayang kemana.
Ia pun mencintai Kai, tapi rasanya ia tak mampu kalau terus-terusan begini setiap harinya.
“Angkat vc ku ya, kita sleepcall!" pinta Kai saat Meysa sama sekali tak membalas satupun perkataannya. Hatinya seperti teriris saat mendengar suara tangisan yang Meysa tahan.
Meysa lalu mengangkatnya, Membuat Kai semakin merasa bersalah. Ingin rasanya ia memeluk tubuh yang sudah ia buat menangis itu.
“Maafin aku ya bee, Aku salah!"
“Aaku sayang banget samaamu, bee!"
“Aku capek!" lirih Meysa dengan wajah ditekuk menahan air mata.
Kai mengangguk mengerti. Menyesak telah membuat Meysa sedih. “Iya bee, aku salah, aku minta maaf ya, sayang!"
"Aku gak kuat kalau harus begini tiapa hari. Aku kuat nungguin kamu, aku bisa sabar nahan rindu walau kita gak bisa ketemu selama ini. Aku selalu jaga hati buat kamu! Tapi kalau harus tiap hari gini, aku benar-benar gak sanggup Kai, hatiku capek!" ungkap Meysa dengan wajah sendu. Membuat Kai makin menundukkan kepala.
“Sekali lagi aku minta maaf bee, aku salah dan aku akan berusaha jadi seperti apa yang kamu inginkan tapi tolong jangan akhiri hubungan kita. Aku sayang banget samamu!"
Pertengkaran itu akhirnya selesai, Kai berhasil mendapat maaf dari Meysa yang begitu cepat luluh karena rasa cintanya pada Kai yang teramat besar. Malam itu pun mereka lalui bersamaa dengan Kai yang menemani Meysa sleepcall. Meski rasa lelah begitu melanda tubuh, tapi Kai berusaha menahannya demi membuktikan cintanya pada Meysa. Ia tak ingin Meysa sedih dan merasa tak diprioritaskan seperti katanya tadi.
Namun, kemesraan itu tak berlangsung lama. Keesokan harinya Kai kembali melakukan kesalahan yang membuat Meysa kesal. Pemuda yang biasanya memberi kabar setiap akan berangkat kerja itu sejak pagi tak memberikan kabar apapun.
Sebab, pagi-pagi sekali Kai harus buru-buru pergi. Ada sebuah kendala pada proyek interior hunian yang saat ini ia tangani. Dimana pekerjanya kabur, padahal pekerjaan mereka belum rampung secara keseluruhan. Membuat Kai dan tim kewalahan. Belum lagi para pekerja itu sudah diberikan DP sebelumnya.
Seharian itu Kai benar-benar sibuk mencari tukang yang bisa melanjutkan proyek tersebut sebelum masuk bulan ramadhan, sesuai deadline. Semua itu membuatnya tak sempat menghubungi Meysa saking pusingnya memikirkan masalah tersebut. Sebab disini ialah penanggung jawabnya.
“Kai, nanti malam kita dapat undangan ulang tahun anaknya Pak Rajas!" ujar Ojik ketika mereka tengah melaksanakan makan siang bersama.
Sedangkan Kai masih sibuk menghubungi beberapa tukang yang bisa melanjutkan proyek tersebut.
“Kalian pergilah, aku pusing mikirin masalah yang di Permai Indah!" kai mengusap wajahnya kasar dan kembali fokus pada laptopnya. Rasanya kepalanya ingin meledak, terlalu banyak yang ia pikirkan.
Satria berdecak, kesal melihat Kai yang selalu jadi orang paling sok sibuk. Ya, walau begitulah kenyataannya.
“Kalau kau gak pergi, gak enak sama pak Rajasnya lah Kai! Nanti dikiranya kau beneran marah gara-gara masalah hari itu!"
Ucapan Satria membuat Kai mendesah gusar. Apa yang Satria ucapkan memang benar. Jika ia tak datang, bisa-bisa pak Rajas, pemilik sebuah perusahaan yang beberapa bulan lalu menggunakan jasanya dalam proyek interior desain ruangan kantornya yang baru jadi pada saat itu. Dipastikan pria paruh baya itu akan mengira Kai marah karena kejadian beberapa bulan lalu.
Dimana Pak Rajas berniat menjodohkan ia dengan anak perempuannya, Isita. Gadis yang berprofesi sebagai dokter umum. Namun, Kai menolak niat baik Pak Rajas dengan baik. Ia berkata jujur jika dirinya sudah memiliki pasangan. Meski begitu hubungannya dengan pak Rajas masih berhubungan baik. Walau beberapa kali Pak Rajas masih sering membahas hal tersebut. Dan beberapa kali Isita sering menunjukkan gelagat ketertarikan padanya, walau tak terlalu mencolok.
Bahkan Meysa pun mengetahui hal itu. Ia marah dan cemburu mendengar berita kekasihnya mendapat tawaran dari seorang ayah yang meminta ntuk menikahi putrinya secara langsung. Bahkan Meysa yang kesal mendesak Kai untuk memperlihatkan foto gadis yang Kai maksud. Membuat Kai kewalahan, ribet mengahadapi wanita yang sedang cemburu. Ia tak memiliki foto Isita tapi Meysa terus memaksa hanya karena rasa penasaran.
“Cantikan aku sih!" begitu Meysa berkata dengan pd-nya setelah melihat foto gadis yang Kai maksud. “Tapi dia anak bos, kalau kamu mau sama dia, ya udah sana nikahin dia aja!" Namun, Meysa malah marah dan memintanya menikahi gadis itu.
"Apa pulak lah nikahin, orang gak cinta juga!" sela Kai saat itu. Ia tahu Meysa cemburu, tapi ia juga dibuat kesal karena Meysa malah merespon seperti itu, padahal ia sudah menolak demi dirinya.
Ingatan Kai soal persoalan beberapa bulan lalu itu membuat Ia juga teringat dengan Meysa yang saat itu sangat kesal pada bapak bernama Rajas dan anaknya, Isita.
“Nanti lah dilihat kalau aku ada sempat," jawab Kai bingung. Jika ia tak dang dipastikan Pak Rajas akan beranggapan jika ia memutus hubungan karena masalah beberapa waktu lalu itu.
__ADS_1