
“Apa syaratnya?" tanya Kai penasaran.
Rasa cemas kembali menyusup di relung hati, padahal tadi harapannya sudah hampir secerah mentari pagi, tapi kini kembali suram. Ia takut jika syarat yang Meysa berikan adalah sesuatu yang tak bisa Ia sanggupi.
“Apa kamu bisa janji gak akan menyakitiku lagi? Apa kamu bisa jamin kalau hal seperti itu gak akan terjadi lagi?"
Kai yang hampir serangan jantung karena terlalu cemas seketika tersenyum mendengar ucapan Meysa. Ia kembali menunjukkan semangat 45 yang berkobar. Tadi Kai fikir Meysa akan mengajukan syarat mencengangkan. Ternyata hanya hal seperti ini. Tanpa diminta atau diberi tahu sekalipun ia tidak akan melakukan hal yang sama lagi. Itu juga terlalu menyakitkan untuknya.
“Tanpa kamu bilang pun aku gak akan nyakitimu lagi, bee. Aku gak akan mengulang hal yang sama karena sebenarnya aku juga gak bisa berada di situasi itu." ucap Kai sambil tersenyum hangat, matanya mengerling tanda bahagia.
“Kalau bohong mau diapain?"
“Gak mau diapa-apain,” sergah Kai dengan cepat. “Aku maunya disayang, dipeluk, udah itu aja!"
Plak...
Melihat tingkah Kai seperti itu membuat Meysa gemas sekaligus kesal, akhirnya cap lima jari Meysa mendarat di Bintang.
“Ih, sakit tahu, kok dipukul?" Kai mengaduh kesakitan, padahal tadi saat diberi pukulan bertubi-tubi ia sama sekali tak mengeluh, sedangkan ini baru satu pukulan saja sudah seperti orang yang akan meregang nyawa. Meysa menggerutu dalam hati.
“Drama kali lah, bang!"
Kai tertawa, wajah ketus Meysa terlihat menggemaskan di matanya. Ia sungguh tak menyangka jika saat ini akan tiba. Kai senang sekali, hingga kata-kata bahkan tak mampu mengungkapkan perasaan bahagia yang Kai rasakan.
“Jadi ini kita beneran mulai semua dari awal kan?" Kai memastikan, matanya berbinar lembut. Tak bisa menyembunyikan kekaguman pada sang Bulan. Kai terharu, sekaligus tak menyangka jika saat ini ia benar-benar tengah menatap Meysa dengan nyata, bahkan bisa berbincang normal tanpa pertengkaran seperti tadi dan beberapa hari sebelumnya.
Meysa mengangguk. Wajah yang tadi ketus itu seketika memelas luluh dan menganggukkan kepala seperti kucing penurut.
“Tapi kamu beneran gak lagi main-main kan?"
Kai menghela napas berat mendengar ucapan Meysa. Tangannya teralih memegang kedua bahu Meysa, membuatnya mendongak menatap Kai.
“Kalau kamu masih mikir aku main-main, buat apa aku jauh-jauh datang kesini cuma buat dapetin maaf darimu dan buktiin keseriusanku, Mey."
“Kan bisa aja cuma buat jalan-jalan atau mungkin kamu punya cewek baru disini.”
“Kamu samperin perempuan lain, terus sekalian buat naburin jeruk di atas lukaku!"
Perkataan Meysa membuat Kai berdecak kesal.
"Apa pulak lah aku punya cewek disini, ada-ada aja kamu, bul!" Pikiran Meysa benar-benar jauh. Ia bahkan tak pernah memikirkan hal seperti itu, tapi Meysa malah punya pikiran yang tidak-tidak.
Demikianlah perempuan, selalu punya pikiran yang jauh. Prasangka seperti inilah yang sering membuat kaum hawa berpikiran negatif dan ujung-ujungnya menimbulkan pertengkaran. Ternyata Meysa juga sama seperti wanita kebanyakan, suka cari perkara.
Kini keduanya sama-sama terdiam, sejenak tak ada lagi obrolan yang terdengar.
Kai lebih memilih menatap Meysa dalam diam. Tak lagi dalam angan ataupun melalui ruang virtual, tetapi ia sedang menatap Meysa secara nyata. Ada kebahagiaan tersendiri yang tak bisa ia katakan.
"Lebih cantik aslinya!" Kai memuji dengan lirih.
“Kenapa lihat-lihat gitu?" ketus Meysa saat menyadari ternyata Kai tengah menatapnya.
“Ini aku gak lagi mimpi kan, bee?"
“Kamu lagi mimpi, udah tiga hari gak bangun-bangun!"
Ucapan Meysa membuat Kai terkekeh, tangan yang tadi bertumpu pada pagar pembatas, ia arahkan ke dalam saku hoodie dengan pandangan yang tak sedikitpun teralih dari Meysa.
Malam makin larut, membuat angin lebih kencang. Semua yang ada bisa meraskan dingin menyusup kulit, menembus pakaian yang membalut tubuh.
__ADS_1
“Eh bee, kamu gak capek? Kita berdiri disini udah hampir sejam lebih loh." Kai sedikit menyibakkan lengan hoodie untuk melihat jam di tangan.
“Eh." Kai menyerngit melihat ekspresi wajah Meysa yang begitu cepat berubah-ubah. Dari yang tadinya sedih jadi ceria, sekarang berubah ketus lagi. Membuat Kai heran.
Namun, dengan cepat Kai menyadari ucapannya. Sepertinya ekspresi Meysa berubah karena sebuah kata 'bee', panggilan Sayang yang Kai gunakan barusan.
“Gak boleh manggil Bee lagi ya?" tanya Kai hati-hati, takut Meysa tidak nyaman.
Gelengan yang Meysa berikan sebagai jawaban iya, membuat bibir tipis Kai tertarik. Senyum tipisnya terukir samar.
“Sekali lagi maafin semua salahku ya, aku sayang kamu tahu, bee!" Kai mengusap kepala Meysa yang berbalut kupluk hoodie Membuat jantung Meysa berdebar tak menentu. Disentuh Kai membuat detak jantungnya bermaraton.
Lagi-lagi Meysa hanya bisa mengangguk, kali ini justru berbalik lagi. Dirinyalah yang lebih banyak diam, tak seperti tadi. Meysa hanya menjawab pertanyaan Kai dengan anggukan dan raut wajah penuh haru.
Sedangkan dari arah yang tak jauh dari sana, yaitu masih di area tangga menuju tugu. Rena yang sedari tadi memerhatikan interaksi keduanya terus menggerutu kesal.
“Ih, lama sekali!" Omelnya lagi sambil terus menghentakkan kaki di tangga. Bahkan cemilan dan minuman yang dibeli untuk menemaninya menunggu sudah habis.
“Sudah hampir jam delapan!" Rena mengecek ponselnya. Lalu beranjak dari sana. Ia melangkah menuju lantai atas bangunan berbentuk kuil itu. Rena ingin mengajak dua orang itu pulang.
Satu persatu Rena menapaki tangga, menyisakan dua anak tangga lagi untuk sampai ke atas, Rena sudah berteriak dari tempatnya. Ia malas melanjutkan langkah untuk naik. Dari sini pun bisa. Begitu pikirnya.
“Mey!"
Teriakannya itu membuat acara saling tatap antara Meysa dan Kai buyar. Keduanya lantas kompak menoleh pada Rena.
“Ayo pulang! Dingin, banyak nyamuk!" Rena membuat gerakan menepuk nyamuk di lenganya. Kening kedua insan yang tengah dimabuk asmara itu menyerngit.
Dalam hati Meysa dan Kai menggerutu. ‘Perasaan tidak ada nyamuk." Keduanya dibuat kesal karena merasa Rena telah mengganggu.
“Nanti dicari kak Faza, pasti dia sudah pulang!"
Mendengar nama Faza disebut. Meysa lantas memutuskan untuk pulang. Selain takut diamuk singa tidur, Ia juga tidak ingin jadi bahan olokan sang kakak yang kadang cosplay menjadi perundung baginya.
“Iya, gak enak juga dengan Kak Faza, nanti kamu dicarinya.” Kai ikut menengahi. Ia paham kecemasan yang Meysa rasakan.
“Ya sudah ayo pulang! Jangan diam disitu!" Gerutu Rena, tangannya melambai mengajak Kai dan Meysa untuk segera turun.
Rena turun duluan, disusul dengan Meysa, lalu Kai yang berjalan di belakangnya.
Sesampainya di parkiran, Kai berdiri seraya memerhatikan dua perempuan yang saling tatap, dengan Rena yang sudah naik lebih dulu ke atas motor, sedang memakai helm.
“Kau sama Meysa saja, Kai."
Kai beralih menatap Meysa seakan minta persetujuan. Sebenarnya Meysa mau-mau saja pulang dengan Kai tapi dia masih terlalu canggung untuk berada di motor yang sama. Sepertinya Meysa sedang malu-malu kucing.
“Kai datang sama kau, berarti pulang juga sama kamu, Ren!"
“Kau pacarnya, berarti pulangnya sama kamu, Mey,” sahut Rena tak mau kalah. Membuat Kai ingin tepuk jidat melihat perdebatan dua orang itu.
Kai sendiri tidak masalah mau pulang dengan siapa, asal tidak jalan kaki. Tapi kalau dengan Meysa pasti jauh lebih menyenangkan, hal yang sudah lama diimpikan. Kai tersenyum penuh arti.
“Pokoknya sama kau!" Rena membuat keputusan yang tak bisa dibantah. Setelah mengatakan itu gadis itu melaju meninggalkan Kai dan Meysa.
“Rena kampret!" teriak Meysa kesal.
“Segitu gak maunya sama aku," imbuh Kai sambil menahan senyum.
“Ck, bukan gak mau tapi malu." Meysa berdecak dengan memelankan kata yang diucapkan paling akhir. Membuat Kai makin cekikikan gemas.
__ADS_1
“Kenapa juga malu sama aku sih, bee!" Meski Meysa memelankan suaranya tapi Kai masih bisa mendengar dengan jelas.
Pipi Meysa berubah merah, telinganya terasa panas. Sudah seperti ABG yang baru merasakan cinta. Padahal umurnya sudah genap 24 tahun beberapa minggu yang lalu. Bukan abg lagi.
“Bukan malu, tapi canggung!"
“Canggung kenapa?” Kai masih menahan tawa. Tingkah Meysa benar-benar membuatnya gemas. Rasanya Kai ingin mencubit pipi Meysa yang tak secuby dulu. Setiap melakukan vc, dulu ia selalu meminta Meysa untuk mencubit pipinya. Katanya biar terwakilkan.
“Aish jangan banyak tanya. Nih, bawa motor!" Meysa memberikan kunci, lalu mundur memberikan tempat untuk Kai duduk.
Kai bersiap melajukan motor dengan wajah sumringah. Ini kali pertamanya mereka mengendarai motor bersama. Kai bahagia sekali. Begitupun dengan Meysa, jantungnya terus berdebar.
“Eh, kamu gak pakai helm?" tanya Meysa saat menyadari ternyata Kai tak memakai helm.
Tangan Kai tergerak mengusap kepalanya. “Eh iya ya?"
“Rena gak ngasih helmnya." Adu Kai pada Meysa.
Meysa mendengus kesal memikirkan keselamatan ayang dalam berkendara. Rena keterlaluan, saking niatnya kabur duluan sampai tak ingat memberikan helm yang Kau gunakan.
“Rena kampret!"
“Ih bee!" tegur Kai sambil terkekeh. “Gak boleh gitu, masa kawannya dikatain gitu."
“Kawan-kawan, orang sini nyebutnya teman!" sungguh Meysa membenarkan.
“Hehe, iya bee iya!" Kai makin terkekeh. Ia lupa jika sebutan meraka dalam memanggil teman memang berbeda.
“Ayo jalan!"
“Ayo bee, ayo!" Perlahan Kai mulai melajukan motor keluar dari area perbukitan.
“Kamu gak apa-apa gak pake helm?"
“Aman, bee, aman!"
Meysa tersenyum. Ternyata kebiasaan Kai masih sama, selalu menyahut dengan kata aman setiap kali ditanya soal keadaan.
“Atau kamu pake helmku aja!" tawar Meysa dengan bersiap melepas helmnya. Menurut Meysa sangat aneh melihat pengemudi tidak memakai helm, sedangkan dia yang dibonceng memakai pelindung kepala.
“Gak usah bee, pakai aja. Keselamatanmu lebih penting, aku gak apa kok." Dari pantulan kaca spion, Kai menatap wajah menggemaskan sang Bulan.
Motor itu mulai keluar dari jalan satu jalur, mulai memasuki jalan jalur dua. Suara bising kendaraan yang berlalu-lalang, serta jejeran lampu jalan dan lampu bangunan menghiasi di sepanjang jalan.
“Tapi kamu drivernya Kai, bahaya!" Meysa masih kekeh menawarkan Kai memakai helm miliknya.
“Ih bee, gak gitu. Justru survei banyak membuktikan bahwa yang dibonceng justru lebih berisiko tinggi mengalami cedera dibanding pengemudi.”
Meysa memutar mata malas mendengar penjelasan Kai. Akhirnya ia tak lagi memaksa agar Kai memakai helmnya.
“Hmmmt, iya deh iya!" sahut Meysa pasrah.
“Nurut ya bee!"
“Hmmmnt," sahut Meysa
“Eh, ini udah bener 'kan, jalannya?" Tanya Kai tidak yakin.
“Bener kok! Masa lupa, tinggal ikutin aja jalan ini terus belok kiri pas di lampu merah."
__ADS_1
“Siap, buk bos!" Kai mengangkat tangannya, membuat gerakan hormat. Membuat Meysa ikut tersenyum simpul.