Akara Rindu Dalam Penantian

Akara Rindu Dalam Penantian
39


__ADS_3

Kai masih saja berteleponan dengan duo kamvret hingga kini, bahkan mereka sudah keluar dari rumah makan dan tengah duduk santai di motor, suara kendaraan yang berlalu lalang sangat bising, membuat suara duo kamvret itu tak terdengar jelas.


Meski Kai kesal mendengar ejekan-ejekan mereka, tapi ia sama sekali tak berniat memutus sambungan telepon. Kai Ingin mendengar soal touring dan jumpa investor yang disebut Satria tadi. Tapi dua makhluk itu malah terus-terusam membahas hal lain, masih betah meledeknya.


“Tunjukin cewek kau, Kai!" perintah Satria penasaran.


Dari dulu Kai tidak pernah mau memperlihatkan wajah Meysa, meski hanya foto ia tidak rela duo makhluk itu menikmati keindahan Bulan yang satu ini. Kalau mau, lihat langit saja! begitu ucap Kai setiap kali menolak.


“Masih aja pelit!" gerutu Satria, sedangkan Ojik hanya ikut manggut-manggut membenarkan.


Kai memutar mata malas. “Nih!" Ia mengarahkan ponsel dengan tidak ikhlas.


Satria dan Ojik menatap dengan khusyuk. Wajah Meysa tidak terlihat jelas. Tengah menoleh ke arah lain. Hanya bisa dilihat dari samping.


Meysa tengah menatap langit, tadi memang masuk saat matahari sudah tergelincir. Kini sudah berganti gelap.


“Bee!" Panggilan Kai membuat Meysa menoleh. Ia tersenyum ramah saat melihat duo kamvret itu. Ini pun kali pertama Meysa menampakkan wajah di hadapan mereka.


Dulu Meysa selalu menutupi wajahnya setiap kali Satria yang paling jahil muncul tiba-tiba hanya untuk melihatnya setiap vc dengan Kai.


“Anjas, kelas! Bee!" keduanya saling tatap dan terkekeh mendengar Kai memanggil Meysa dengan sebutan yang memang dari dulu membuat mereka suka mengejek Kai.


“Ck!" Kai berdecak, menarik ponsel menampakkan wajahnya yang kesal.


“Eh, kami dah bosan lihat kau. Lihatin Meysa! Eh, namanya Meysa bukan?" tanya Satria membenarkan.


“Sok tahu!" Ojik menyahuti.


“Eh kalau gak salah, Jik!" kata Satria sambil mencoba mengingat. “Dulu pernah lihat nama IG dia pas lagi telepon si Kai!"


Duo kamvret itu langsung menghentikan obrolan saat Kai kembali menampakkan Meysa yang tengah berdiri tepat di samping Kai.


“Halo kak!" Keduanya menyapa sok ramah.


“Halo!" Meysa membalas tak kalah ramah, Senyum manis yang masyaallah membuat Kai menutup kamera ponsel. Jadinya dua orang itu tak bisa melihat Meysa senyum.


“Anjir ditutup!" keluh Ojik dan Satria.


“Yang boleh nikmati senyum dia cuma aku!" teriak Kai. Ternyata itu alasannya.


“Hahaha! Bucin kali anj**ing!" Tawa duo kamvret menggelegar.


“Mulut kau jaga, setan!" tegur Kai tak terima Satria dan Ojik bicara kasar di depan Meysa. padahal mulutnya pun tak kalah setannya.


“Ish!!” Meysa protes tak suka. Kai mengatupkan dua bibirnya lalu tersenyum lebar.


Duo kamvret itu hanya menahan tawa melihat sahabatnya yang bucin akut.


“Kai jahat kali lah gak ngajak-ngajak kami pergi!" protes Satria. Sangat menyesali kenapa Kai tak memberi tahu soal kepergiannya.


“Bener, mana gak ada pulak ngasih tahu kalau mau pergi! Tau-tau dah nyebrang pulau aja." Ojik pun tak kalah kesalmya.


“Ngapain juga ngajak-ngajak kalian, gak ada faedahnya. Nambah bajeting pesawat aja!" seru Kai yang mana membuat Ojik dan Satri mencebik.


Sementara Meysa langsung terkekeh, tak menyangka Kai malah kepikiran hal itu. Ternyata si Bintang ini tak kalah perhitungannya juga.


“Ck, perhitungan kali, Cok!"


“Bukan perhitungan, lagian ngumpulin biaya buat kesini aja harus nunggu lama. Ngapa pulak aku harus ngajak kalian. Nemuin first-time tuh cocoknya emang only me!" Kai menarik turunkan alisnya. Bangga karena sudah merasa jantan.


“Jir, kami pun gak minta dibiayai sama Kau. Setidaknya kan ngajak-ngajaklah. Biar bisa jelajah Nusantara bareng." sahut Ojik


“Betul kata Ojik, bajet mah tanggung masing-masing." Satria ikut menimpali. Wajah duo itu terlihat begitu serius.


Kai menghela napas. Sama sekali tak menyesal tidak mengajak dua orang itu. Yang ada nanti bikin rusuh.


“Kalau gitu lain kali lah, nanti kalau kami nikahan baru ikut!"

__ADS_1


“Wih, dah bahas nikahan pulak. Udah ada planning nih bau-baunya!"


“Kalau gak ada planning ngapain jalin hubungan!" sahut Kai sok bijak dan dewasa. Bukan sok, lebih tepatnya Ia memang seserius itu dengan hubungan ini.


“Kelass!" celetuk keduanya lagi secara serentak.


Sedangkan Meysa yang mendengar itu merasa sangat berdebar. Menatap Kai layaknya pangeran berkuda yang sangat berkharisma.


“Eh Kak, hati-hati sama si Kai, dia tuh aslinya sa---”


Tut.


Kai yang mencium aroma-aroma ternistakan, segera memutus panggilan. Ia tahu apa yang hendak mulut dua lucknut itu sampaikan. Ia harus segera menghindar. Harga dirinya bisa jatuh.


“Kok dimatiin?" tanya Meysa heran saat menoleh Kai sudah memasukkan ponsel ke saku celana.


“Omongan mereka udah mulai ngaur!" Kai menghela napas. Tangan kirinya merogoh kunci motor di saku yang lain.


Kai mencebikkan bibir. “Kamu juga sama aja, kalian mulutnya udah kek kebun binatang." Protes Meysa. Membuat Kai terkekeh.


“Ya mau gimana lagi bee, namanya juga makhluk hidup!"


Plak...


Meysa memukul bahu Kai yang terlalu pintar ngeles. Selalu saja ada jawaban meskipun nyeleneh.


“Btw, mas abu-abu sekarang kerja apa?" tanya Meysa. Ia menyebut Satria dengan sebutan mas abu-abu karena saat mereka vc dulu, Ia melihat Kai dan temannya kumpul, Satria yang bertingkah aneh memakai baju abu-abu. Sedangkan saat itu ia belum tahu nama dua orang tersebut. Akhirnya Meysa menyebutnya dengan sebutan mas abu-abu.


“Sama kayak aku."


“Interior desain?"


“Udah nggak." Kai menggeleng, ia mengeluarkan rokok dari saku belakang. Lalu membakar dan menyesapnya.


“Terus kerja apa?"


“Waktu itu kamu gak bilang."


Kai menatap Meysa sambil senyum, lalu mengalihkan pandangan ketika hendak menghembuskan asap rokok. Tidak ingin Meysa terkontaminasi asap rokoknya.


“Sama-sama jadi konsultan konstruksi!"


“Wih keren!" puji Meysa seraya bertepuk tangan. Ikut bangga dengan profesi Kai. Dari Bintang kecil perlahan jadi Bintang besar.


“Lebih keren lagi kalau bisa nikahin ibu author." Kai mengusap kepala Meysa dengan gemas. Membuat gadis itu menempelkan kepala di lengan Kai. Tapi hanya sesaat, sebab Meysa kembali berdiri tegak dan menjaga jarak aman.


“Gimana tulisannya?" Kai balik bertanya. Ingin rasanya memeluk Meysa, tapi ia tetap berusaha menahan diri. Hanya tangannya saja yang tergerak mengusap kepala gadis itu.


Sungguh Kai sangat menyayangi Meysa, tidak sabar ingin menikah. Tapi kondisi belum memungkinkan, Ia harus memiliki banyak tabungan untuk mengajak anak orang berumah tangga.


“Ya gitu, masih lanjut! Cuma ya akhir-akhir ini jarang up, susah bagi waktu, mana pembacanya suka hate komen!" adu Meysa, mengeluarkan uneg-uneg pada orang terkasih memanglah menenangkan.


“Sabar ya, harus tetap semangat!


Meysa menganggukkan kepala, senang disemangati Ayang.


“Abis ini mau kemana?" tanya Kai. Ia melirik jam, sudah hampir jam 7. Sedangkan ia belum shalat Maghrib.


“Aku belum shalat.”


“Yaudah ke mesjid dulu yok, kalau pulang gak keburu.”


Kai mengangguk. Keduanya lalu melajukan motor, mencari mesjid terdekat.


Meysa menunggu Kai di halaman Mesjid, Ia duduk di atas motor. Selang beberapa menit, Kai sudah selesai shalat. Ia kembali keluar.


“Ngapain?" tanya Kai heran saat melihat Meysa mengarahkan ponselnya ke langit.

__ADS_1


Meysa menoleh pada Kai yang tengah mengibas-ngibaskan rambutnya agar kering. Untuk yang kesekian kalinya ia terpesona, mengagumi ketampanan sang Bintang yang begitu menawan. Di mata Meysa, Kai yang paling ganteng sedunia. Hmmmnt, demikianlah hati yang sedang dilanda cinta!


Tuk!


Kai menjentikkan jari tepat di depan wajah Meysa. Membuatnya seketika sadar dari sosok yang membuatnya seakan terhipnotis. Wajah Meysa kian bersemu merah saat Kai malah tersenyum dengan kepala miring, tengah menatapnya tepat di depan wajah.


“Kamu ngapain kayak tadi, moto langit?" tebak Kai.


“Iya, foto itu tapi gak jelas,” ucap Meysa dengan tangan menujuk langit malam, dimana ada satu Bintang yang berada begitu dekat dengan bulan, bahkan sebuah lingkaran membuat kebersamaan bintang yang satu itu nampak lebih istimewa daripada bintang yang lain, dia seperti memiliki tempat tersendiri di sisi bulan.


“Wih, cantik juga ya bee. Bintangnya seperti punya tempat khusus di sisi Bulan, cuma satu itu aja yang ada di dalam lingkaran.” Kai mendongak, melihat apa yang Meysa tunjuk.


“Iya, Bintang itu sama seperti kamu, sama-sama punya tempat khusus di sini!" Meysa menunjuk dadanya. Membuat Kai mengangguk haru. Bahagia sekali!


“Karena Bintang ini emang gak mau jauh-jauh dari kamu, selalu mau berada di dekat Bulannya!"


“Sama-sama mengarungi malam!"


Ucapan yang mengharu biru itu membuat keduanya larut, perlahan tubuh mereka makin mendekat, mengikis jarak. Hingga tangan Kai terulur, melingkar di pinggang Meysa. Keduanya saling tatap dengan penuh sayang. Berbicara melalui sorot mata, mengatakan jika keduanya benar-benar saling mencintai.


“Aku sayang kamu bee!”


“Aku lebih sayang kamu!" balas Meysa, bahkan satu tangannya terarah melingkar di pinggang Kai.


“Ehemmmmmnt!"


Baru bibir Kai akan mendarat di kening Meysa, suara deheman dari arah teras Mesjid membuat mereka menoleh. Refleks Kai dan Meysa sadar tengah saling berpelukan. Dengan cepat mereka menjauh.


“Astagfirullah!" Kai menggeleng mengusir setan yang hendak mengahsut. Bisa-bisanya hampir berbuat dosa di halaman Mesjid.


Sementara Meysa yang malu, hanya menunduk. Beruntung di Mesjid itu tidak terlalu banyak orang. Semua ada di dalam, hanya marbot itu saja yang menyapu jenazah laron-laron yang berserakan di lantai.


Pak marbot itu menggeleng melihat kelakuan mereka.


“Anak muda jaman sekarang suka tidak tahu tempat!" Gumamnya lalu masuk. Meninggalkan dua orang yang masih dilanda kecanggungan.


Kai menoleh pada Meysa yang kembali mengarahkan ponsel ke langit, hendak memotret Bulan dan Bintang yang bersanding indah di atas sana. Hal itu untuk mengusir rasa malu. Ia benar-benar salah tingkah kepergok hampir berciuman.


“Gak bisa lagi?" tanya Kai saat Meysa terlihat mendesah kesal.


“Maklum bukan hp yang bisa ngezoom sampai ke aib-aib. Gak kayak Samsung yang bisa ngezoom ampai Mars. Ini mah hp kentang!" seloroh Meysa putus asa. Gagal mendapatkan foto estetik Bulan dan Bintang yang bersanding di langit malam.


Ucapan itu membuat Kai terkekeh. Walau sebenarnya agak kasihan lihat Ayang kecewa.


“Coba aku fotoin pake hpku yah," Kai mengeluarkan ponselnya. Lalu mulai memotret. Ia sedang berusaha membuat Meysa bahagia, tak ingi melihatnya sedih.


Kai memotret beberapa kali, dan melihatnya berkali-kali. Memastikan hasil potretannya bagus atau tidak. Meysa senang melihat Kai seperti itu, nampak menggemaskan saat sedang serius.


“Nih!" Kai menyodorkan ponsel pada Meysa, diterima dengan antusias dan senyum mengembang.


“Gak terlalu bagus sih, tapi Bulan dan Bintangnya lumayan jelas lah." Kai memaparkan. Memberi tahu jika sudah berusaha maksimal untuk membuatnya bahagi.


Meysa mengangguk senang, potretan Kai memang jauh lebih baik. “Ini udah bagus kok!" Meysa merasa puas.


“Coba pake hpku!" Meysa memberikan ponselnya pada Kai. Lalu Kai mulai memotret lagi.


Begitu selesai, Meysa kembali tersenyum. Merasa puas dengan hasil potretan Kai. Kemampuan Kai memang tidak diragukan lagi, Meysa tahu Kai memang suka mengambil gambar pemandangan. Ia jelas lebih menguasai karena sering melakukannya.


“Aku gak bawa kamera, seandainya ada pasti hasilnya bagus kalau pakai itu,” ujar Kai. Membuat Meysa mengingat jika Kai memang memiliki sebuah kamera.


“Emang masih ada?"


Kai mengangguk. “Bukan yang dulu tapi.”


“Ada yang baru?" tanya Meysa.


“Alhamdulilah ada ganti yang baru."

__ADS_1


Meysa turut senang mendengarnya, senang Kai bisa seperti sekarang. Setelah itu mereka lalu segera pulang.


__ADS_2