Akara Rindu Dalam Penantian

Akara Rindu Dalam Penantian
42


__ADS_3

Kai dan Meysa meneruskan perjalanaan ke tempat yang akan di tuju. Meysa tak lagi bersedih. Wajahnya kembali berseri setelah diyakinkan Kai bahwa dia pergi untuk kembali.


“Jadi kita kemana dulu nih, bee?" tanya Kai bingung, Ia masih belum tahu seluk beluk kota itu.


Dari tadi hanya melaju tanpa arahan, entah sudah dimana Meraka berada, Kai bahkan tidak tahu.


“Ke mall yuk, nonton!" ucap Meysa memberi ide.


“Boleh tuh, bee." Kai mengangguk menyetujui.


Meysa lalu menunjukkan jalan pada Kai, sepanjang jalan keduanya bercerita banyak hal. Senyum terus terpancar dari wajah keduanya.


Selang beberapa waktu mereka tiba di salah satu pusat perbelanjaan di kota itu. Bangunan yang menghadap laut menjadi pemandangan yang enak dilihat mata. Mall tersebut salah satu bangunan yang menjadi saksi bisu tragedi tsunami beberapa tahun lalu yang melanda kota tersebut. Kai tak bisa membayangkan bagaimana situasi mencekam yang dirasakan oleh orang-orang saat tragedi itu terjadi.


Kai melangkah mendekati Meysa setelah selesai memarkirkan motor. Lalu mengulurkan tangan untuk Meysa genggam.


Meysa membalas uluran tangan Kai sambil tersenyum. Keduanya mulai melangkah meninggalkan parkiran.


“Bee, kamu gak disini kan waktu bencana beberapa tahun lalu?" tanya Kai memastikan, Ia malah membahas soal kejadian mencekam itu.


Meysa menggeleng, setelah menoleh pada Kai Ia kembali menatap lurus ke depan. Masih pagi, tapi matahari sudah begitu terik. Beruntung angin yang bertiup dari arah pantai bisa jadi penyejuk.


“Waktu itu aku masih di kampung, kan pas itu masih kerja di kantor desa!"


Kai mengangguk mendengar ucapan Meysa, bersyukur Meysa tak kenapa-kenapa.


“Tapi waktu itu Rena disini!" papar Meysa, membuat kening Kai mengkerut. Sempat khawatir sahabat orang terkasih ada saat tragedi, tapi ketika mengingat sosok Rena masih sehat walafiat hingga kini, itu artinya dia tidak kenapa-kenapa. Kai terkekeh menertawai pikirannya.


“Terus gimana?" tanya Kai penasaran.


“Waktu itu Rena belum ngekost di tempat Kak Faza, masih di daerah dekat kampusnya."


“Hari itu pas acara ulang tahun kota Palu, banyak yang udah stay di tempat acara. Untungnya Rena belum pergi, kalau nggak mungkin sekarang tu anak udah jadi almarhum," jelas Meysa panjang lebar, membuat Kai manggut-manggut.


Keduanya sudah masuk di dalam mall. Masih dengan bergandengan tangan, Meysa mengajak Kai naik ke lantai tempat Bioskop berada.


Menyadari sedang berada di eskalator, Meysa menoleh pada Kai dengan senyum mengembang. Terlintas ide cemerlang di kepalanya.


Sedangkan Kai yang melihat Meysa seperti itu hanya menyerngit heran dengan raut wajah menyiratkan tanya, kenapa?


“Foto di sini, yuk?" Ajak Meysa sambil nyengir. Matanya mengerling tanda ia memohon penuh harap. Tidak ingin ditolak.


“Jiwa-jiwa selebnya kumat!" ledek Kai. Meski begitu, sebenarnya ia senang kalau harus berfoto dengan Meysa.


“Biar estetik, bee, kayak orang-orang." Meysa mengeluarkan ponselnya dari sling bag merek Louis Vuitton, hanya saja ini yang kw, bukan ORI. Maklum, Meysa bukanlah anak sultan yang bisa membeli tas semahal itu.


Meski ada harga di bawah sejuta, tapi Meysa lebih suka yang murah meriah.


“Yaudah ayok!"


“Bentar, cari filter dulu!" Meysa sibuk mencari-cari filter IG yang bagus menurutnya.


“Jangan lama-lama bee, ini udah mau sampai atas."


Baru Kai mengingatkan, mereka sudah sampai di ujung. Membuat Meysa yang tengah fokus pada ponselnya seketika menoleh pada Kai dengan mulut menahan tawa. Gagal bikin foto estetik.

__ADS_1


“Kamu sih kelamaan!" Kai mengetuk pelan kening Meysa yang masih menahan tawa.


“Pakai kamera biasa aja kenapa, bee!"


Meysa mengibaskan tangan, menunjukkan keluhan Kai tak berarti apa-apa.


“Ah, kenapa pusing, itukan masih ada." Meysa menunjuk eskalator untuk ke lantai berikutnya."


Kai geleng-geleng, perempuan benar-benar teliti dalam hal foto. Tidak pernah mau ketinggalan moment.


“Kamu yang videonya ya, bee.” Meysa memberikan ponselnya pada Kai.


Lalu Kai mulai merekam langkah mereka saat hendak menaiki eskalator. Tak lupa memotret tangan yang saling menggenggam hingga banyak pose yang diambil menggunakan kamera depan.


“Udah?" tanya Kai saat Meysa melihat hasil video dan foto mereka.


Gadis itu mengangguk puas, kini mereka sudah berada di lantai tempat Bioskop berada.


Ada lumayan banyak pengunjung yang antree di depan outlet karcis. Membuat mereka harus menunggu sesuai nomor urut.


“Bee, foto disitu yok!" ujar Meysa menunjuk sebuah kursi. Mereka kembali memotret gambar.


Setelah selesai membeli karcis, sejoli terus memilih untuk pergi makan dulu, karena film yang ditonton akan tayang setelah dzuhur.


Sambil menunggu, dua orang itu memilih berkeliling ke tempat lain.


“Bee, kesana yuk!" tunjuk Kai pada salah satu gerai jam tangan.


“Ngapain?" tanya Meysa heran.


“Kita cari jam couple, 2 Minggu yang lalu kamu ulang tahun, kan bee?”


“Kamu ingat?" Meysa mengulas senyum sambil terus memerhatikan Kai yang terus menggandeng tangannya


Kai menoleh sekilas. “Ya ingatlah, bee! Apa pulaknya yang nggak."


Sesampai di gerai salah satu jam tangan, Kai melihat etalase kaca. Seorang pramuniaga menghampiri mereka, menyapa dengan sangat ramah.


“Ada yang bisa dibantu, kak?"


Meysa yang balas tersenyum, sementara Kai masih sibuk melirik jam dari luar etalase.


“Yang itu berapa?" tunjuk Kai pada sebuah jam couple, dengan tali kulit berwarna hitam.


Baru pramuniaga itu ingin mengambil. Meysa malah menarik Kai menjauh darisana. Membuat Kai dan mbak-mbak pramuniaga itu heran.


“Kok ditarik sih bee, kita kan mau beli." Kai melayangkan protes masih berusaha menyeimbangkan langkah yang oleng karena ditari Meysa.


“Ck, mentang-mentang udah banyak uang, mau boros-boros ya kamu!" Meysa menghentakkan pelan tangan Kai. Tidak suka Kai hendak belanja mahal-mahal.


“Gak gitu bee, aku kan cuma mau ngasih hadiah ke kamu. Aku belum pernah ngasih apa-apa loh sama kamu!"


“Gak usah ngasih kalau ngasih yang mahal, yang tadi itu merek Alexander Christie, mahal!"


Kai yang tidak memerhatikan merek jam dan asal tunjukpun mengernyit heran.

__ADS_1


“Tahu darimana bee, kan mbaknya belum ngomong!"


“Tahulah, merek itu tuh brand ternama, paling murah lima ratusan."


Kai menelan ludah kasar mendengar itu, sebenarnya tidak masalah asal itu untuk Meysa. Tapi menurut Kai kalau hanya untuk sebuah jam rasanya tidak pantas. Lebih baik membelikan cincin emas untuk Meysa, bisa digunakan untuk mengikat Bulannya itu. Ah ya, sepertinya itu ide bagus. Hati Kai bersorak gembira menemukan ide cemerlang.


Ia menatap Meysa lebih dulu, mempertanyakan kenapa Meysa bisa tahu.


“Kok bee bee bisa tahu? Pernah beli ya?"


Meysa menggeleng.


“Terus tahu darimana?” tanya Kai heran.


“Hehe, aku tahu karena kalau aku bikin cerita yang tokohnya orang kaya aku riset tuh segala merek benda-benda mahal yang biasa dipakai orang kaya."


Ya, Meysa memang tahu jika merek itu merek mahal, karena Ia pernah meriset dengan cara membaca beberapa artikel dan melihat dibeberapa situs belanja online jika jam dengan merek tersebut memang termasuk merek mahal dengan harga perjam bisa tembus setengah juta. Kalau mau yang murah paling yang kw, seperti tas LV milik Meysa.


“Hehe, ada gunanya juga kamu tahu soal harganya bee!" Kai memuji, membuat Meysa tersenyum bangga.


“Maka dari itu, mending beli jam di pasar atau di market place online. Kan bisa lebih murah!" Meysa memelankan suara. Membuat Kai mengangguk mengerti.


“Maaf ya bee, kalau gitu kita beli yang lain aja yuk!" tawar Kai. Ia kembali menggenggam tangan Meysa.


“Kalau mau beli, kita beli diluar aja atau cari yang diskon. Jangan boros-boros, nanti gak bisa nikah!"


Kai terkekeh mendengar ucapan Meysa. Meski begitu ia senang, Meysa pengertian dan tidak suka diajak hambur-hambur duit.


“Cie, ada yang takut proses ngehalalinnya makin lama kalau aku boros." Kai menggoda Meysa, membuat gadis itu menepuk lengan Kai, menyembunyikan rasa salah tingkah akibat Kai mengetahui maksud di balik larangannya untuk tidak boros.


Karena waktu sudah hampir jam 1 siang, Kai dan Meysa bersiap untuk masuk ke bioskop. Banyak yang sudah menunggu untuk masuk. Mereka menunggu di depan lorong. Menemukan tempat yang bagus, Meysa kembali mengajak Kai berfoto. Benar-benar gila foto, meski begitu Kai sama sekali tidak marah dan protes. Dengan senang hati ia menuruti keinginan Meysa.


Suara pengumuman sudah menggema. Menandakan jika pintu teater pada masing-masing studio sudah dibuka.


Meysa dan Kai masuk setelah menyerahkan karcis pada petugas yang bersangkutan. Keduanya memilih tempat di kursi paling atas, barisan tengah. Tak lupa membawa popcorn dan minuman yang sudah dibeli di luar tadi.


“Ini film apa, bee?" Meysa yang tidak tahu judul film yang dipilih Kai baru menanyakan hal itu sekarang. Tadi ia terlalu sibuk berfoto ria.


Kai nampak berpikir sambil membukakan botol minuman untuk Meysa. Belum apa-apa< Bulamnya itu sudah kehausan saja.


“Apa ya, bee? Kok aku juga lupa judulnya." Kai yang lupapun berusaha mengingat, tapi sayang dia benar-benar lupa.


“Ih, gimana sih, bee. Emang tadi kamu jawab apa pas ditanya petugas karcisnya?" Meysa memberenggut, cemas jika saja Kai malah salah pilih tontonan.


“Tadi mbaknya sebutin dua judul, aku asal itu aja tadi, lupa yang mana! Gak k baca juga yang di karcis," ujar Kai apa adanya. Dia benar-benar tidak ingat.


Keduanya lalu sama-sama menoleh ke depan saat suara instrumen opening film mulai terdengar, menggema di seluruh ruang.


“Anjirr, film horor!" keluh Kai saat menyadari jika film yang dipilihnya ternyata film horor.


“Anjir-anjir, ini tuh salah kamu gak lihat-lihat." protes Meysa, Ia yang takut horor mulai menutup mata menggunakan tangan, menyisakan lubang dari sela jari. Musik horor membuat bulu kuduk merinding.


“Ya, maaf bee, tadi asal pilih. Tadi mikirnya film romantis." Ternyata Kai tak kalah penakutnya. Ia bahkan ikut menyipitkan mata


Sejoli itu terlihat begitu mengenaskan, sama-sama penakut terhadap film horor. Sial sekali malah menyaksikan film seperti itu. Ingin keluar tapi sayang dengan harga tiket yang lumayan fantastis.

__ADS_1


__ADS_2