
Kai melajukan motor dengan kecepatan sedang ke arah taman komplek. Jalannya cukup mudah di hafal, tinggal belok kanan dari arah rumah, lalu lurus maka ia akan sampai di taman kecil dekat gerbang masuk, sehingga ia tak harus menggunakan petunjuk dari maps lagi.
Tak butuh waktu lama Kai sudah sampai di depan taman, ia memarkirkan motor Rena di samping motor para pembeli yang sedang menyantap jajanan di pinggir taman. Dari sana Kai bisa melihat Meysa memang sedang bersama sosok laki-laki.
Dengan mantap dan perasaan penuh keyakinan Kai melangkah ke arah Meysa.
“Meysa!" seru Kai, yang mana membuat kedua orang yang tengah mengobrol serius itu menoleh ke arahnya.
Meysa dan Erza kembali saling tatap, pria yang hanya Kai tahu namanya itu pun ikut berdiri, disusul dengan Meysa. ”Aku duluan ya Mey, masih ada urusan!" katanya yang langsung berpamitan setelah kedatangan Kai.
Meysa mengangguk. “Hati-hati, Za! Makasih untuk somay dan waktunya."
“Santai Mey, kayak dengan siapa saja kau ini!"
Dan Kai masih menjadi pengamat diantara interaksi keduanya.
“Saya duluan!"
Kai balas tersenyum ketika Erza menoleh padanya sambil tersenyum untuk menyapanya.
“Ingat perkataanku tadi, Mey!" Sebelum benar-benar melangkah, Erza kembali mengingatkan masukan yang ia berikan pada Meysa tadi, gadis itu hanya mengangguk. Erza pun mulai beranjak pergi, lalu masuk ke dalam mobil sedan kuning miliknya yang terparkir.
Kini hanya tinggal kecanggungan yang ada diantara Bulan dan Bintang. Tak bersama di waktu yang cukup lama membuat keasingan kian menjadi pemisah yang nyata. Tapi tak berlangsung lama, sebab Kai terlebih dulu membuka obrolan pada sang Bulan yang tak lagi menghindarinya dengan banyak alasan.
“Bisa bicara sebentar?"
Mendengar itu Meysa langsung kembali duduk di bangku kayu. “Silahkan!" Meski dengan wajah acuh, tapi Meysa tetap mempersilahkan sambil menyuruh Kai untuk duduk.
“Dari tadi kemana aja?”
“Tidak kemana-mana!" sahut Meysa dengan acuh.
“Katanya sakit? Kenapa gak pulang ke rumah?" tanya Kai, ia benar-benar menghawatirkan keadaan Meysa.
“Saya baik-baik saja!"
Kai memejamkan mata dengan napas dihembuskan pelan sambil menoleh ke arah lain mendengar jawaban Meysa yang singkat dan ketus.
“Mey!" ujar Kai dengan lembut, tatapan pemuda itu benar-benar dipenuhi rasa bersalah. “Aku minta maaf ya kalau aku banyak salah samamu.” Ia tahu pasti Meysa masih sangat marah dan kecewa padanya.
“Kamu tidak punya salah apa-apa sama aku!" Jujur air mata Meysa sudah hampir menetes mendengar permohonan maaf dari sang Bintang. Tapi ia masih berusaha menahan diri untuk tidak menangis.
__ADS_1
Meysa masih belum mampu untuk mengungkapkan apa yang dirasakan agar semua selesai seperti yang Erza katakan tadi. Hatinya ingin mengatakan tapi pikirannya menolak untuk itu, ia masih belum seberani itu.
“Aku banyak salah samamu, Mey!" lanjut Kai dengan raut wajah cemas dan menyesal.
Meysa memejamkan mata menahan perasaan yang kian sesak dan berusaha untuk tetap terlihat baik-baik saja.
“Aku tahu kamu hanya sedang berusaha menghindariku.” Kai kembali menghela napas, sikap diam Meysa benar-benar membuatnya sesakit ini.
Setahun lamanya Kai memang berhasil untuk tidak mengabari Meysa, tapi selama itu pula batinnya tersiksa karena harus melewati hari tanpa kabar gadis itu. Semua terpaksa ia lakukan karena memang ia takut memberikan harapan apapun, takut tak bisa menunaikan semua. Tapi kini kondisinya sudah berbeda, Kai bersyukur setelah lulus mendapat kerjaan dan sebagian ia sisihkan untuk datang menemui sang Bulan.
“Mey, apa kita gak bisa seperti dulu lagi?"
Meysa menyipitkan mata mendengar penuturan Kai yang membuatnya memiliki keberanian untuk mengeluarkan isi hati setelah ini.
“Apa?" sergahnya nyalang dengan raut wajah menuntut jawaban. “Apa aku gak salah dengar?” Bahkan kini Meysa tersenyum sinis. “Memangnya hubungan kita dulu seperti apa?”
Perkataan itu membuat Kai terpaku, meski terdengar menohok. Namun, inilah yang Kai harapkan, komunikasi dan mengungkapkan isi hati satu sama lain tentu bisa membuat masalah yang terjadi lebih cepat terselesaikan. Meski begitu Kai tetap berusaha tenang mendengar apa yang Meysa katakan.
“Kamu gak pernah tahukan gimana rasanya menyembuhkan luka, merawatnya sampai benar-benar pulih?” Meysa menatap Kai dengan tatapan tajam.
“Kamu pasti gak tahukan gimana rasanya terluka, kamu gak akan paham! Terus sekarang kamu datang untuk meminta semuanya kembali seperti dulu, lukaku ini belum kering!" teriak Meysa sedikit keras. Beruntung tidak ada orang disekitar taman, jadi tak perlu khawatir ada yang dengar. Sebab orang-orang memang lebih memilih berkumpul sambil menyantap jajanan di pinggir jalan.
“Maaf!" Kai menunduk. “Aku benar-benar minta maaf karena sudah menyakitimu, aku terlalu banyak mengecewakanmu!"
Meysa memang begitu cepat luluh setiap kali Kai menjelaskan apapun itu, karena memang saat itu dirinyalah yang terlalu overprotektif, mempermasalahkan setiap kali Kai lambat membalas pesannya dan melakukan apapun tanpa memberi tahunya selalu menjadi pemicu perselihsihan. Semua itu karena Meysa begitu menyukai Kai ditambah lagi hubungan jarak jauh sering membuatnya berpikiran buruk, sementara kondisinya saat itu mereka sama sekali belum pernah bertemu.
“Kuakui aku memang sejahat itu samamu, tapi aku punya alasan kenapa sampai melakukan itu, paling tidak kamu mau mendengarkan penjelasanku dulu." ujar Kai dengan wajah memohon.
“Setelah mendengar penjelasanku, kuharap masih ada sedikit celah dihatimu untukku bisa kembali masuk dan memperbaiki semua.”
Meysa langsung terkekeh mendengar ucapan Kai. Jauh di dalam lubuk hatinya, ia bahagia dan terharu mendengar niat dan harapan sang Bintang yang masih menginginkan kesempatan untuk memperbaiki hubungan mereka. Namun, seketika ia langsung merubah haluan ketika mengingat ucapan Rena semalam dan bagaimana sakit hatinya ia waktu ditinggalkan begitu saja oleh laki-laki ini.
“Kai, Kai,” Meysa berdecak sambil menatap Kai. “Kamu mau masuk kemana?”
“Kamu pikir kamu sespesial itu, tadi itu aku cuma pura-pura. Kamu pikir aku masih memikirkanmu setelah hubungan kita berakhir?"
“Kamu gak bisa bohong Mey!" pungkas Kai. Bukannya ingin sok tahu dan percaya diri, tapi info yang ia dapat dari Meysa malam itu cukup membuatnya yakin kalau Bulannya itu memang menutup hati selama tidak dengan dirinya.
“Aku tahu semuanya dan aku sangat berterimakasih karena kamu sudah lakuin itu!"
“Jangan terlalu percaya diri dan sok tahu!"
__ADS_1
“Aku tahu, Mey! Makanya untuk itu tolong dengar penjelasanku dulu ya, setelah itu terserah kamu mau mereseponnya dengan cara seperti apa, aku akan terima.”
Namun, bukannya mengindahkan perkataan Kai, Meysa justru terus melontarkan kata-kata yang menohok. Seakan ia tengah melakukan pembalasan melalui ucapan yang menyakitkan. Meysa seakan ingin Kai juga merasakan sakit yang ia alami selama ini.
“ Tapi sebenarnya selama ini aku memang gak punya rasa apa-apa ke kamu, Kai. Memangnya kamu sendiri benar-benar menganggapku sespesial itu ya makanya sampai mencariku kesini hanya untuk meminta hatiku kembali?"
“Asal kamu tahu Kai, dulu itu aku cuma main-main ke kamu, bahkan setelah kamu hilang kabar aku biasa saja!" Meysa tersenyum palsu. Di balik senyum menyakitkan itu tersbunyi luka yang amat besar. Hati dan pikirannya seakan berperang mengutuki apa yang baru saja ia katakan. Membohongi diri hanya karena ingin balas dendam dan menuruti ego.
“Dulu tuh aku cuma pura-pura sayang sama, supaya kamu bisa menemani kekosonganku saja.”
Kai sama sekali tak terpengaruh dengan ucapan Meysa. Meski hubungan mereka dulu terbentang oleh jarak, tapi ia sudah terbiasa dan sering menghadapi Meysa disaat seperti ini. Hanya saja kini situasinya memang berbeda, mereka sedang saling berhadapan dengan nyata. Terlepas dari apa yang pernah Kai lakukan, ia berusaha memaklumi sikap Meysa ini. Bagi Kai, wajar jika Meysa marah.
“Aku tahu apa yg kamu lakuin ini cuma untuk biar kamu kelihatan seperti orang jahat kan? Aku tau caramu dan sayangnya kamu gagal, Mey! Perasaan gak bisa dibohongi, jangan bohongi perasaanmu!" ucap Kai mencoba memperingatkan dengan sabar dan lembut.
“Siapa yang pura-pura?" ucap Meysa memicing.
Sudah lama ia tak menunjukkan sikap seperti ini, angkuh dan menyebalkan. Biasanya ia hanya bersikap begini di hadapan orang-orang yang dikesali dan saat ini ia memang sedang meluapkan emosi pada Kai. Meski yang ia lakukan kali ini di tengah perasaan bimbang memikirkan apakah ia sudah memilih keputusan yang tepat, apakah sikapnya pada Kai tidak berlebihan? Mengingat sang Bintang rela datang jauh-jauh hanya untuk memint maaf dan ingin menjelaskan semua secara baik-baik. Seharusnya ia mendengarkan penjelasan itu, bukan malah bersikap seperti pemeran antagonis begini.
“Jangan membuat kesimpulan apa-apa, kamu tidak mengenalku sebaik itu, dan aku gak sebaik Meysa yang kamu kenal setahun lalu!”
“Aku kenal kamu, aku juga tahu kamu orangnya seperti apa!" sergah Kai masih tetap pada pendiriannya dan belum menyerah.
“Waktu sesingkat itu tidak cukup membuatmu kenal aku dengan baik!" pungkas Meysa yang sedari tadi berbicara menyesuaikan dengan bahasa yang Kai gunakan, sebagaimana bahasa yang sering mereka gunakan dulu.
“Tapi rasanya waktu singkat yang telah kita ukir bersama itu sudah cukup bagiku untuk mengetahui kalo kamu itu baik!”
Stok sabar sudah Kai persiapkan, dia tak akan tersulut emosi hanya karena hal seperti ini. Meysa adalah tujuannya, memohon maaf dan menjelaskan semua adalah hal yang wajib ia lakukan. Karena Kai sadar betul dialah yang paling bersalah disini.
“Mungkin kamu bisa menggunakan topeng ini, tapi kamu gak bisa menukar hati kecilmu!" Wajah Kai terlihat sendu.
“Tidak semua hal bisa kamu lakukan tanpa hati, kamu punya hati kecil yg membuat naluri baikmu muncul! Kamu memang orang baik, dari dulu sampai sekarang kamu selalu baik!" ujar Kai menegaskan. Membuat Meysa tak lagi bisa berkata-kata. Sebab dari dulu Kai selalu bisa mematahkan setiap argumennya.
“Sudahlah!" Meysa berdiri dan bersiap untuk beranjak, membuat Kai dengan sigap ikut berdiri dan mengamati pergerakan Meysa.
“Aku capek, aku mau pulang! Intinya kamu tidak perlu minta maaf atau menjelaskan apapun itu karena selama ini memang hubungan kita tidak sespesial itu, selama ini aku hanya pura-pura menyayangimu. Bahkan setelah kepergianmu aku sama sekali tidak apa-apa!”
“Kamu gak sepenting itu!"
“Sudah ya, aku mau pulang dulu. Kamu juga jangan lupa pulang!”
“Mey!" Cegat Kai saat Meysa hendak melangkah pergi.
__ADS_1
.....