
Hana masih terus menangis saat melihat kamarnya yang sedikitpun tidak berubah, hanya dindingnya sudah agak rusak.
Dahlia mengeluarkan pakaian Hana Aisya dari dalam koper.
Dahlia merapikannya dan menyimpannya di lemari.
"Mak biar Aisya rapikan sendiri," ucap Hana Aisya
"Gak apa, kamu sholat Isya dulu," kata Dahlia
Hana Aisya semakin sedih mendengarnya, karna kata-kata yang paling dirindukannya adalah saat Ibunya menyuruh sholat.
Hana Aisya kembali memeluk Ibunya.
"Rasanya seperti mimpi bisa pulang ke rumah," ucapnya.
"Mak juga merasa ini mimpi, Sejak kalian gak bisa dihubungi, Mak sudah pasrah sama Allah," ucap Dahlia
"Ya sudah Aisya ambil wudhu dulu." Hana melepaskan pelukannya lalu berjalan keluar ke kamar mandi.
Setelah semuanya selesai sholat, mereka duduk di depan TV.
"Kamu pasti menderita setelah kematian Vito," ucap Pak Hairul
"Gak juga kok Pak, di sana gampang cari kerjaan yang penting bisa masak," kata Hana
"Waktu itu kami sangat panik saat dengar Vito meninggal dan kamu diusir sama mertua kamu, waktu itu Bapak sampai cari pinjaman untuk kirim uang supaya kamu bisa pulang, saat di telpon nomor kamu sudah gak aktif," ucap Dahlia
"Iya waktu itu semua barang pemberian Mas Vito, Aisya kembalikan kecuali mas kawin, tapi saat kembali ke sini mas kawinnya Aisya jual untuk ongkos takut gak cukup," kata Hana
Bu Dahlia memegang tangan Hana.
"Telapak tangan kamu juga kasar, maaf Nak karna kami menikahkan kamu terlalu muda waktu itu," ucap Bu Dahlia sedih.
"Aisya yang ingin menikah muda, jadi jangan menyalahkan diri," kata Hana
*
Keesokan harinya, Arka sibuk mencoba menelpon Rangga tapi masih belum aktif.
Liburan saja harus mematikan ponsel batinnya
Arka langsung mulai sarapan.
"Papa berharap masalah pribadi gak mengganggu pekerjaan," ucap Papanya
"Iya pa, maaf tentang kemarin, itu gak akan terulang lagi," kata Arka
Linda hanya diam selama sarapan.
Arka mengerti kalau Mamanya belum sepenuhnya setuju dengan tindakannya.
Arka pamit berangkat kerja, Papanya juga berangkat.
Arka sudah di tempat kerja, Papanya juga baru turun dari mobil.
Mereka masuk bersama, terlihat Farel juga baru datang dengan wajah lelah.
Wijayanto langsung memanggilnya.
"Hari ini kamu istirahat saja, terima kasih kemarin sudah mengurus semuanya," ucap Wijayanto
"Terima kasih banyak Pak, saya istirahat setengah hari saja," ucap Farel sambil melihat ke arah Arka dengan sedikit takut.
Arka langsung masuk ke dalam lift, Wijayanto juga masuk disusul Farel.
Arka keluar dari lift dan langsung berjalan menuju ruangannya.
__ADS_1
Farel mengejarnya.
"Farel terima kasih untuk kemarin, kau membantu urusan pekerjaan semuanya," ucap Arka
Farel langsung menghela nafas lega mendengar kata itu.
"Iya Pak, jadi bolehkah saya istirahat sebentar," ucap Farel
"Ya istirahatlah, habis Dzuhur ikut saya ketemu orang," kata Arka
Farel mengangguk lalu berjalan menuju ruangannya yang ada disebelah ruangan Arka.
Arka masuk ke ruangan kerjanya, Arka duduk lalu melihat ke arah kaca ruangannya.
Semoga Allah selalu melindungi kalian, saat Mama setuju sepenuh hati, maka saat itu juga aku akan mencarimu batin Arka yang ditujukan untuk Hana Aisya.
*
Di kampung Hana Aisya menerima banyak tamu, mereka duduk di teras rumah.
Hana tersenyum melihat tetangganya datang mengunjunginya setelah tahu Ia kembali.
"Kami senang bisa melihat kamu pulang," ucap Bu Nur tetangganya.
"Aku juga senang Bu bisa pulang dan ketemu kalian lagi, ternyata selama 7 tahun ini gak banyak yang berubah," kata Hana
Mereka mengobrol-ngobrol hingga lupa kalau sudah waktunya masak untuk makan siang.
Semua orang pamit satu persatu untuk pulang.
Alwi bersama Arif juga baru datang dari kebun.
Alwi terlihat bahagia saat membantu Arif membawa sayur.
"Besok ikut lagi ya!" ucap Alwi
Mereka mengucap salam lalu masuk.
"Langsung mandi sama Paman," ucap Hana saat melihat Alwi sudah kotor.
Alwi mengangguk, Arif tersenyum melihatnya begitu juga Dahlia.
Keduanya langsung pergi ke kamar mandi.
Hana mencuci sayur yang tadi dibawa Alwi.
"Mak gak noreh lagi?" tanya Hana
"Masih, tapi sekarang karna musim hujan jadi jarang," ucap Dahlia
"Besok Aisya bantu ya!" ucap Hana sambil tersenyum ke arah Dahlia.
"Gak usah, batang getahnya juga gak terlalu banyak, kadang jam 7 sudah selesai, mending Aisya ke kebun saja bantuin Bapak sama Arif," kata Dahlia
"Ya baiklah." Hana tersenyum bahagia
Bu Dahlia ikut bahagia melihat senyum Hana.
Pak Hairul juga baru pulang dan langsung mandi, makan siang sudah siap semua.
Rasanya kehidupan normal dulu kembali lagi, batin Hana
Setelah Pak Hairul mandi dan memakai pakaian, mereka semua duduk untuk makan siang.
Saat agak sore mereka semua berjalan menuju kebun.
Hana melihat banyak sayuran, rasa sedih kembali muncul.
__ADS_1
Air matanya perlahan menetes membasahi pipinya, Ia melihat Bapak dan Adiknya mulai mencangkul, sedangkan Emaknya menyiram sayur.
Alwi membantu menyiram, Hana juga langsung membantu.
"Mak, Arif tamat gak sekolahnya?" tanya Hana
"Tamat SMA, nilainya sangat bagus, tapi kau tau sendiri kalau kita gak punya uang jadinya gak bisa kuliah," kata Dahlia
Hana sedih mendengarnya, matanya tertuju pada adiknya yang dari kecil memang suka banget belajar.
"Tapi teman-temannya juga banyak yang gak melanjutkan kuliah, jadi Arif gak terlalu sedih," tambah Dahlia
Setelah menyiram tanaman, Hana dan Dahlia memetik buah cabai.
"Ini jualnya masih tempat biasa ya Mak?" tanya Hana
"Iya, nanti pulang dari sini Bapak akan langsung menjualnya," kata Dahlia
Alwi kepanasan hingga duduk ditepi di bawah pohon.
Semua tersenyum ke arahnya.
"Alwi sudah sekolah belum?" tanya Dahlia
"Baru kelas 1 Mak tapi sudah pernah pindah dan sekarang harus pindah lagi, besok biar Arif yang membawanya daftar di sekolah, sekolah di sini kan gak jauh juga jadi Aisya bisa tenang," ucap Hana
"Iya, sekolah di sini dekat cuma 100 meter jadi Alwi bisa berangkat dan pulang sendiri saat sudah sekolah, kendaraan juga gak terlalu banyak jadi aman," kata Dahlia
"Setelah panen sawi kita langsung pulang," kata Bu Dahlia
Hana mengangguk
Di tempat lain, Arka mencoba menelpon Rangga lagi tapi nomornya tetap gak aktif.
Arka berjalan keluar dari ruangannya, disaat itu juga Papanya juga baru keluar. Wijayanto melihat ke arah anaknya yang terlihat muram.
Arka melaju menuju tempat latihan panjat tebing, sesampainya di sana Arka melihat ada Cantika.
Arka berjalan dengan dingin melewatinya.
"Arka...!" panggil Cantika
Arka langsung ingat kalau Cantika juga pernah ke kampung halamannya Hana Aisya.
Arka berbalik dan membuat Cantika tersenyum.
"Oh ya Cantika waktu Vito menikah kamu hadir kan?" tanya Arka
"Iya, memangnya kenapa?" tanya Cantika balik.
"Bisa gak berikan alamatnya Hana Aisya," ucap Arka
"Arka apa hebatnya Hana Aisya hingga kamu sangat ingin menemukannya hingga ke kampungnya?" tanya Cantika yang terlihat kesal
"Kok kamu tau dia pergi?" tanya Arka mulai curiga
"Jadi kau orang yang memaksanya pergi?" tanya Arka lagi
"Ya, aku yang menyuruhnya pergi, karna dia gak pantas ada di dekat kamu," kata Cantika
Arka memegang kepalanya karna gak habis pikir sama sikap Cantika.
"Pantas tidaknya Dia bukan kalian yang menentukan," kata Arka yang langsung masuk ke ruang ganti.
Cantika kesal dan langsung pergi.
*
__ADS_1
(Dikarnakan bahasa Sambas Kalbar lebih mirip bahasa Malaysia jadi terpaksa dari episode sebelumnya bahasanya menggunakan bahasa indonesia biasa karna takut kalian gak mengerti hanya saja panggilannya yang berubah.)