
Happy Reading temen temen 💙
"Aish, dasar dosen gila!" umpat Cery.
"Wah, nya-nyali Lo ku-kuat banget Cer!" respon Maya terbata bata.
"Emang bener tuh dosen gila, sialan lagi! Siapa tuh tadi namanya, Re-Reyhan siapalah nggak jelas!" kesal Cery sementara Maya sudah membelalakkan matanya karena keberanian Cery.
"Cer." panggil Maya pelan sambil merapatkan giginya.
"Ngapa Lo? Liat setan yak? Alah ga usah takut, seharusnya yang Lo takutin tuh kayak pak Rey! Soalnya muncul dimana mana kayak Naruto aja." cerocos Cery.
"Cer, Lo bener nggak takut sama pak Rey?" tanya Maya berbisik.
"Ngapain juga harus takut sama tuh dosen gila, nggak jelas banget lagi!" sahut Cery cuek.
Di luar kampus nampak Reisa tengah kebingungan mencari keberadaan sahabat satu satunya di sini.
"Lo dimana sih Cer? Lo lupa apa, kalo disini masih ada gue!" guman Reisa sambil berjalan mondar mandir nggak jelas.
**
Suasana di kantin begitu mencekam bagi Maya, namun tidak untuk Cery. Karena sedari tadi ia tak menyadari jika ada seseorang tengah berdiri di belakangnya.
"Dasar gadis kasar! Di depanku saja kau tak banyak bicara, tapi saat di belakangku mulutmu bahkan tak ada henti hentinya untuk bicara." batin Reyhan saat menatap lekat kearah Cery.
"Cer, itu belakang Lo!" ujar Maya sambil menunjuk pak Rey menggunakan dagunya.
Cery pun mengikuti arah pandang mata Maya dan langsung melebarkan matanya, saat ia tahu bahwa pak Reyhan tengah menatapnya dengan pandangan ingin menerkam.
"Apa kamu sudah selesai mengumpat saya?" tanya pak Reyhan dingin.
"Ke-kenapa bapak ada disini?" tanya Cery mencoba mengalihkan pembicaraan.
"Apa pertanyaan saya sulit untuk di jawab?!" tegas pak Reyhan.
"Man-mana ada, saya tadi itu hanya memuji bapak." dusta Cery.
"Benarkah?" tanya pak Reyhan sembari tersenyum smirk. "Tapi ekspresimu lebih jujur, daripada mulutmu!" sambung pak Reyhan dan bergegas pergi meninggalkan Cery dan Maya yang tengah bergemetaran.
"Tuh kan! Tu orang dimana mana pasti ada!" batin Cery.
"Ck, Lo sih Cer. Gue takut nih jadinya." protes Maya.
"Kok gue? Ya harusnya sih Lo, ngapain Lo nggak ngasih tau gue kalau pak Rey itu ada dibelakang gue?!" ucap Cery tak terima.
"Ah, udahlah. Yuk pulang!" ajak Maya dan langsung di anggukin mantab oleh Cery.
Cery melajukan motornya dengan sangat kencang, karena cuaca sedang panas. Jadi ia tak mau berlama lama di panasan.
__ADS_1
"Cer, kenapa kok mukanya di tekuk gitu?" tanya mamah Emil saat tangannya di cium oleh Cery.
"Nanti Cery cerita mah, sekarang Cery mau mandi dulu ya!" sahut Cery lemas.
Selesai mandi Cery langsung turun ke bawah untuk makan siang. Bukan makan siang sih, tapi lebih tepatnya sore.
"Cery, kamu ada masalah apa nak?" tanya mamah Emil setelah menyelesaikan makan sorenya.
"Cery tadi nggak sengaja ngumpat dosen mah." jawab Cery lemah.
"Terus?" sambung mamah Emil.
"Terus, ketahuan sama dosennya. Ntah besok Cery akan di hukum apa." balas Cery pasrah.
"Makanya jangan suka mengumpat orang Cer. Lagian siapa sih nama dosenmu?" sahut papah Jemi yang baru saja datang.
"Siapa ya tadi, kalo nggak salah sih Re-Reyhan pah. Yang waktu itu nabrak Cery di kantor papah." jelas Cery.
"Reyhan Putra Arengga?" tanya mamah Emil kaget.
"Nah, haah betul mah." jawab Cery spontan.
Kedua orang tua Cery hanya saling pandang.
"Terus terus, dia gimana reaksinya Cer?" tanya mamah Emil berbinar binar.
"Hm, dingin mah. Setelah itu pak Rey pergi." jawab Cery dan mampu membuat kedua orang tuanya nampak lesu.
Sore pun berganti dengan malam.
Selesai makan malam, Cery segera ijin untuk tidur terlebih dahulu. Karena besok ia ada jadwal kuliah.
-
-
Cery nampak ragu untuk menginjakkan kakinya di ruang kuliahnya.
Setelah di rasa cukup mental, Cery langsung bergegas masuk.
"Cer, kenapa muka Lo pucet? Lo sakit ya?" tanya Maya khawatir dan kebetulan pak Reyhan juga baru saja masuk ruangan.
"Enggak, gue baik baik aja kok." jawab Cery yang masih berdiri membelakangi pak Reyhan.
Mendengar pertanyaan yang di lontarkan Maya, membuat pak Reyhan mengerutkan keningnya.
"Kamu yang berdiri!" ujar pak Reyhan sambil menunjuk Cery.
Merasa di panggil, Cery pun menoleh ke arah pak Reyhan dengan wajah takutnya.
__ADS_1
Ia berusaha menelan savilanya dengan kondisi tangan yang sudah bergetar.
"Ya Tuhan, cobaan apa ini?" batin Cery sambil menggigit bibir bagian bawahnya.
"Siapa namamu?!" tanya pak Reyhan dingin.
"Cer-Cery pak." jawab Cery terbata bata.
"Oh Cery. Jadi itu nama kamu yang kemarin sudah berani mengumpat saya dengan kata kata kasar, dan sekarang silahkan keluar dari ruangan ini!" tegas pak Reyhan.
"Tapi pak.." sela Cery.
"Tidak ada bantahan!" tungkas pak Reyhan.
"Baik, permisi pak." pamit Cery sopan.
Setelah kepergian Cery, Maya pun merasa tak bersemangat. Ia segera mengacungkan tangannya.
"Kamu kenapa?" tanya pak Reyhan dingin.
"Saya juga mau keluar pak." ujar Maya memberanikan dirinya.
"Oh, mau ikut ikutan Cery kamu!" gertak pak Reyhan.
"Iya pak." jawab Maya spontan disertai cengengesan.
"Baik, silahkan keluar dari ruangan ini!" balas pak Reyhan dingin.
Setelah terbebas dari kelas pak Reyhan, Maya segera pergi mencari keberadaan Cery.
Dan ternyata oh ternyata Cery malah pergi ke kantin kampus.
Setelah membaca jangan diem diem baek dong:( Ayo ramein novelku kakak 😍
Jadilah pembaca yang baik, hargai kerja keras penulis oke! Ngetik itu juga butuh tenaga kakak:)
Ayolah jangan cuman baca doang 😭 Like, Vote, Komen and favoritnya jangan lupa ❤️ Kan itu juga gratis 😫 Hitung hitung saling berbagi, karena itu sangat berarti bagiku yang masih pelajar kak 😌
Terimakasih bagi yang sudah mau mampir 🙏
Terimakasih juga bagi yang sudah mau berbagi:) Lovyu✨
Ini novel pertamaku jadi harap maklum 😉
Pak Burhan ingin makan roti
Rotinya di dalam etalase kaca
Hey readersku yang baik hati
__ADS_1
Tetep semangat ya kalau baca
😘