
Arka dan Hana sudah di dalam taxi.
"Tidurlah kalau mengantuk," ucap Arka
Hana mengangguk dan langsung bersandar di pundak Arka.
Sejak menikah lagi sekalipun gak pernah ke makamnya Mas Vito, batin Hana
"Mikirin apa?" tanya Arka
"Dari sejak datang ke Jakarta lagi, gak pernah sekalipun datang ke makam Mas Vito," ucap Hana
"Aku sering kok datang ke sana untuk buang rumputnya, tapi memang sengaja gak ngajak kamu, karna kamu tau sendiri kan hati perempuan sangat lemah jadi gak baik jika menitikkan air mata di makam, cukup doakan saja di waktu sholat," ucap Arka
Hana bangkit dan menatap Arka.
Mas Arka benar karna setiap kali pergi ke makam hampir saja menjatuhkan air mata batin Hana
"Ya Mas Arka benar," ucap Hana tersenyum lalu langsung bersandar lagi.
"Ini masih jauh jadi tidurlah dulu," ucap Arka
"Iya ini sudah pejam," Hana memejamkan mata sambil memeluk suaminya.
Arka tersenyum, lalu pandangannya tertuju ke arah luar, wajah Arka berubah jadi khawatir, terlihat ada masalah yang dipendamnya.
Ya Allah jagalah istri dan anakku saat kami berjauhan nanti batin Arka
Beberapa jam berlalu mereka sampai di depan rumah, Alwi yang sedang bermain bersama temannya melihat ke arah Ayah dan Bundanya yang baru turun dari taxi.
"Ayah... Bunda...!" panggil Alwi sambil berlari tanpa sendal.
Hana dan Arka tersenyum melihat Alwi yang berlari ke arah mereka, Arka langsung mengangkat Alwi yang sangat kotor karna habis main di tanah.
Hana mencium anaknya itu beberapa kali saat berada digendongan Arka.
"Bunda kangen banget sama Alwi," kata Hana yang masih terus-terusan mencium pipi anaknya.
Mereka berjalan ke teras rumah.
"Assalamu 'alaikum," ucap Hana
Bu Dahlia yang lagi masak langsung berlari keluar mendengar suara Hana.
"Wa'alaikumussalam," ucap Bu Dahlia senang melihat anak dan menantunya datang.
Hana dan Arka gantian mencium tangan Bu Dahlia.
"Ayo masuk," ajak Bu Dahlia
"Bapak mana Mak?" tanya Arka
"Biasa, masih di sawah, tapi bentar lagi pulang mau sholat Asar," kata Bu Dahlia
Arka langsung membawa Alwi ke kamar mandi.
"Mak, Aisya ke kamar dulu mau nyiapin handuk buat Mas Arka sama Alwi," kata Hana
"Iya, Mak juga mau ke dapur," kata Bu Dahlia
Hana membuka kopernya dan langsung mengambil handuk milik Arka, lalu keluar lagi dari kamar dan langsung mengambil handuk Alwi.
Hana berjalan menuju kamar mandi.
__ADS_1
"Mas ini handuknya," kata Hana
"Buka aja, gak dikunci kok," ucap Arka
Hana membuka pintu kamar mandi dan tersenyum saat melihat Arka memandikan Alwi.
"Mau sekalian ikut mandi?" tanya Arka bercanda
"Gak, kalian duluan saja," Hana buru-buru keluar setelah menyimpan handuk digantungan.
Hana langsung duduk di lantai dekat Bu Dahlia masak.
"Apa semuanya baik-baik saja?" tanya Bu Dahlia
"Iya Mak, hanya saja Aisya akan di sini hingga Alwi naik kelas, Mas Arka besok sudah pulang," kata Hana
"Apa dia gak masalah?" tanya Bu Dahlia
"Iya, setiap bulan dia akan ke sini kok," kata Hana
"Baiklah," Bu Dahlia tersenyum.
*
Keesokan harinya Arka sudah bersiap di kamar.
"Yakin pakaiannya mau ditinggal?" tanya Hana
"Iya kan nanti supaya datang ke sini gak perlu bawa lagi," ucap Arka
"Ya sudah, ayo ke depan, Arif sudah nunggu." Hana bangkit dan akan berjalan keluar.
Arka memegang tangan Hana lalu langsung memeluknya.
"Aku akan merindukanmu jadi usahakan untuk menelpon sehari 3 kali," kata Arka
"Iya pasti," kata Hana
Mereka melepaskan pelukannya lalu berjalan keluar.
Arka pamit pada kedua mertuanya.
Terakhir Arka mencium Alwi lalu bersalaman pada semuanya.
Arka sudah naik ke motornya Alwi.
"Mas nanti kalau sudah sampai langsung telpon," kata Hana
"Iya pasti," Arka tersenyum lalu melambaikan tangan.
Jagalah Ia di sepanjang perjalannya batin Hana
Arka sudah di jalan bersama Arif.
"Arif nanti kalau ada apa-apa sama di rumah, secepatnya hubungi Bang Arka ya!" ucap Arka
"Iya Bang pasti," kata Arif
Beberapa jam berlalu Arka masih di dalam taxi.
Arka menatap ke arah luar sambil melamun.
Maaf Aisya aku terpaksa menyuruh kamu tetap di sini, aku gak mau kamu mendengar apa yang terjadi waktu it**u batin Arka
__ADS_1
Arka menyibak rambutnya ke atas menandakan lagi pusing memikirkan masalah yang dihadapinya.
*
Arka sudah pulang ke rumah orang tuanya, terlihat Cantika juga baru datang.
Cantika tersenyum ke arah Arka, Arka tidak memperdulikannya.
"Ini fotonya sudah semakin banyak, bagaimana ya jika ini sampai ke tangan Hana Aisya," ucap Cantika
Arka berbalik dengan kesal.
"Cantika seharusnya kau tau kalau menebar fitnah itu dosanya sangat besar," ucap Arka kesal
"Aku gak peduli selama kau bisa di sampingku," ucap Cantika
"Aku ini hanya menyukai satu wanita yaitu Hana Aisya," kata Arka
"Aku juga gak peduli tentang itu, yang aku mau hanya menikah denganmu," kata Cantika dengan mata berkaca-kaca.
"Aku gak bisa," kata Arka
"Aku mau kok jadi simpanan kamu, atau istri siri kamu tanpa Hana Aisya tau," kata Cantika
"Aku gak bisa, tolong segera musnahkan foto itu," kata Arka
"Aku gak bisa musnahkan ini," kata Cantika
"Kalau Hana melihat ini maka dia akan ninggalin kamu," kata Cantika
Arka kesal dan langsung berjalan masuk tanpa peduli pada ancaman Cantika. Padahal sebenarnya Arka takut kalau sampai Hana melihat foto itu, Hana akan salah paham.
Arka masuk ke kamarnya dan hanya mengirim pesan ke Hana, mengabarkan sudah sampai di rumah orang tuanya.
Hana yang sejak tadi menunggu telponnya terlihat kecewa karna Arka hanya mengirim pesan.
Arka langsung berbaring sambil memejamkan mata.
Saat ponselnya berbunyi Arka tidak memperdulikannya padahal itu telpon dari Hana.
Di jauh sana Hana menghela nafas saat Arka tidak menjawab panggilannya.
"Maaf Aisya saat ini aku gak ingin bicara dulu," gumam Arka yang sudah tau kalau si penelpon adalah Hana.
Arka menonaktifkan ponselnya lalu kembali memejamkan mata.
Hana masih mencoba menelpon Arka tapi sudah tidak aktif.
Mungkin Mas Arka capek batin Hana
Hana langsung menyimpan ponselnya lalu langsung menuju dapur.
*
Beberapa jam berlalu Cantika sudah berada di rumah sakit tempat Rangga kerja.
Cantika berusaha mencari nomor ponsel Hana melalui Rangga tapi Rangga mengatakan tidak tau.
Cantika menanyakan rumah baru Arka tapi Rangga juga terpaksa berbohong bilang gak tau.
Rangga curiga dengan sikap Cantika yang datang jauh-jauh ke Bogor hanya untuk menanyakan itu.
Cantika juga curiga pada Rangga yang selalu mengatakan tidak tau, Cantika pun keluar dari rumah sakit tempat Rangga kerja.
__ADS_1