
Happy Reading temen temen 💙
Tubuh pemuda itu yang tak lain adalah Derin, menjadi lemas seketika saat mengetahui, jika orang yang di hadapannya adalah orang yang sangat menakutkan.
"Mana keberanian mu?" tanya papah Jemi dengan sinis. "Jangan menunduk! Ayo tunjukkan bagaimana kau menembak dan menghancurkan pesta putri ku!" tantang papah Jemi.
"Aku diam, karena aku menghargai mu!" jawab Derin dengan lantang.
"Cih! Aku tak sudi!" balas papah Jemi. "Melihat mu saja, membuat ku muak! Aku muak melihat wajah duplikat dari si ba*****n itu!" kata papah Jemi geram.
"Siapa yang kau maksud ba*****n?" tanya Derin dengan belagunya.
"Apa di rumah mu tidak ada foto seorang ayah mu itu?" tanya papah Jemi balik.
"Tau apa kau tentang ayah ku? Dasar si tua bangka!" kata Derin yang sudah tersulut emosi.
"Hey, jaga mulut kotor mu itu nak!" hardik Mike yang sudah geram menghadapi tingkah Derin.
"Diamlah kau! Kau itu hanya seorang manusia yang di perbudak bagaikan anjing!" geram Derin.
Ceklerk...
Mike sudah menodongkan pistolnya tepat di samping pelipis Derin.
"Kenapa kau lama? Cepat bunuh saja aku!" titah Derin tersenyum mengejek.
"Kenapa terburu-buru nak? Aku masih ingin bermain-main dengan mu!" balas papah Jemi tersenyum penuh arti.
"Cepat habisi aku sekarang saja!" teriak Derin.
"Kau terlalu terburu-buru!" kata papah Jemi. "Mike, bawakan alat yang ku butuhkan!" perintah papah Jemi.
"Baik king!" jawab Mike.
Dengan segera Mike pergi memanggil anak buahnya, untuk membawakan meja yang sudah di siapkan ke hadapan sang rajanya mafia.
Ya di atas meja itu lengkap ada pistol, cambuk, besi serta pisau kecil yang sudah berkarat namun masih tajam.
"Bersiaplah mengikuti permainan ku nak!" kata papah Jemi tersenyum meremehkan.
"Kau sungguh lama!" balas Derin mengejek.
"Aku yang lama, ataukah kau yang sudah tidak sabar menemui si ba*****n itu di neraka?" tanya papah Jemi.
"Kau sembunyikan ayah ku dimana? Ha? Jawab aku si tua bangka!" hardik Derin dengan keras.
"Apakah bunda mu tersayang tidak memberitahu mu?" tanya papah Jemi lagi.
Namun Derin hanya diam, menahan emosinya yang sudah meluap-luap.
"Baiklah akan ku ceritakan!" kata papah Jemi. "Mungkin ayah mu sekarang sudah berada di neraka! Karena apa? Karena dia telah mengusik kehidupan ku, baik istri maupun keluarga ku!" jelas papah Jemi. "Keluarga tepatnya orang tua ku di bunuh, sedangkan istri ku hampir ternodai olehnya! Kenapa begitu? Karena si ba*****n alias ayah mu itu orang yang serakah!" imbuhnya. "Sudah bagus aku mengangkatnya menjadi sekretaris pribadi ku, namun apa balasannya? Dia tak lebih dari seorang pengkhianat dan pengecut!" jelas papah Jemi panjang kali lebar.
"Cih! Kau jangan mengada-ada! Ayah ku itu orang yang baik, tapi entah jika diri mu!" balas Derin tersenyum sinis.
"Jaga omongan mu atau timah panas ini yang akan menutup mulut kotor mu itu!" bentak Mike memperingatkan.
"Mike, jangan kau nodai tangan mu! Biar aku saja yang bertindak!" ucap papah Jemi tersenyum devil.
__ADS_1
"Baik king!" jawab Mike patuh.
Papah Jemi pun berdiri dari kursinya. Ia melangkah mengambil pisau kecil, namun sudah berkarat itu.
Sementara Derin mulai waspada saat papah Jemi berjalan mendekatinya.
Sir...
Pipi kanan Derin terkena goresan pisau berkarat itu.
"Ini baru yang pertama, karena kau sudah berani mengatai ku tua bangka!" ujar papah Jemi tersenyum meremehkan.
Papah Jemi kembali berjalan memutari tubuh Derin yang tengah menahan sakitnya goresan itu.
"Derin, nama yang bagus! Tapi, tidak sebagus akhlaknya!" ucap papah Jemi. "Kenapa kau diam? Sakit? Itu belum seberapa anak muda!" tutur papah Jemi.
"Cepat habisi aku saja, kau sungguh lama! Dasar si tua bangka!" cemooh Derin yang sudah emosi tinggi.
Bugh...
Mike melayangkan tinjunya tepat ke pipi Derin yang terluka.
"Ow ow ow!" kata sang raja mafia sambil tersenyum smirk.
Sir...
Papah Jemi kembali menggores pipi kiri Derin.
Argh...
Erang Derin karena kesakitan.
"Br*****k! Daripada kau menyiksa ku terus, lebih baik cepat habisi aku saja!" teriak Derin.
Bugh...
Lagi lagi Mike melayangkan tinjunya di pipi kiri Derin.
"Ch.. He anak kecil! Jika aku langsung menghabisi mu, hidup ku tidak akan indah! Karena aku tak punya mainan seperti mu!" balas papah Jemi.
Sir...
Kening Derin meneteskan darah akibat dari goresan.
"Oke, itu balasan karena kau sudah mencela ku!" sahut papah Jemi.
Sang raja mafia pun melangkah kembali ke meja untuk meletakkan pisaunya.
Tangan kekar itu beralih pada sebuah cambuk, yang terbuat dari beberapa rotan.
"Aa...apa yang kau lakukan?" tanya Derin tak sanggup merasakan sakit di wajahnya.
"Kenapa kau terbata-bata? Jangan jadi lelaki yang lemah!" gertak papah Jemi yang mulai berjalan mendekati Derin. "Ku dengar-dengar kau sudah di keluarkan dari sekolah ya?" tanya papah Jemi.
"Bukan urusan mu!" jawab Derin.
"Baiklah!" kata papah Jemi.
__ADS_1
Ceples...
Papah Jemi mengarahkan rotan itu ke punggung Derin yang sedang meringkuk.
Arkh...
Erangan Derin yang merasakan sakit di punggungnya.
"Itu sebagai gantinya, karena kau telah membuat putri ku menangis!" jelas papah Jemi.
"Cih!" decak Derin.
Ceples...
Lagi lagi punggung Derin mendapatkan sabetan.
"Dan ini sebagai gantinya, karena kau telah menyelingkuhkan putri ku!" tegas papah Jemi.
"Hanya itu?" tanya Derin menantang.
Ceples...
Rotan itu menyabet punggung Derin lebih keras dari pada sebelumnya.
Argkh...
Jeritan Derin terdengar sampai di luar.
"Itu balasan karena kau juga, putri ku mengalami kecelakaan!" jelas papah Jemi mencoba meredam emosinya.
Tubuh Derin yang meringkuk, nampak memprihatinkan.
Darah yang terus mengalir dari pipi dan keningnya, membuat seluruh wajah Derin terbalut dengan cairan berwarna merah itu.
Belum lagi memar yang di pipinya, akibat tonjokkan dari Mike.
Baju yang di kenakannya pun lama kelamaan basah, karena punggungnya sudah sobek dan mengeluarkan darah segar.
"Kau kejam sekali!" ujar seseorang yang baru datang.
Sontak papah Jemi, Mike dan Derin pun melihat ke sumber suara.
"Kenapa kau tidak menunggu ku papah mertua?" tanya pemuda itu yang tak lain adalah Reyhan.
"Bagus sekali kau datang tanpa ku suruh!" puji papah Jemi.
"Ch.. Aku ini menantu yang idaman bukan?" kekeh Reyhan.
"Terserah kau saja lah!" balas papah Jemi terkekeh pelan. "Ku serahkan nyawanya pada mu!" ujar papah Jemi seraya menepuk pundak sang mantu.
"Terimakasih pah, atas hadiahnya!" balas Reyhan sambil menatap Derin dengan sebuah senyuman devil.
Jangan lupa untuk selalu dukung aku ya 🙏
Ayo ayo tinggalkan jejaknya Like, Vote, Komen and favoritnya 😍
Terimakasih sudah mau berbagi dan mampir di karya ku:) Lovyu ✨
__ADS_1
Jangan lupa mampir di karya kesatu ku "Akhir Yang Bahagia" dan karya kedua ku "Cinta Remaja SMA"
😘