
Sore hari Linda datang bersama perawat, Arka langsung mengajak mereka ke kamar.
Hana tersenyum melihat mertuanya datang.
Linda langsung duduk di dekatnya.
Perawat mulai memasang infus karna memang Hana sangat butuh cairan.
Hana meringis menahan sakit saat tangannya di tusukkan jarum, karna baru kemarin melepas infus.
Arka hanya diam menatap ke arah istrinya.
Terlihat kekhawatiran yang cukup besar karna ini pertama kalinya Ia melihat hal seperti ini.
Perawat memberikan beberapa obat dan vitamin untuk Hana.
Hana melihat ke arah Arka yang terlihat sangat khawatir.
Hana tersenyum sedikit ke arah suaminya biar suaminya gak terlalu khawatir.
Perawat pamit pergi, Linda mengantarkannya ke depan.
Arka perlahan mendekati Hana dan duduk di samping Hana yang lagi tersandar di tempat tidur.
Arka memegang wajah Hana dengan lembut.
"Kamu pasti menderita," ucap Arka
Hana menggelengkan kepalanya sambil sedikit tersenyum.
"Cukup ini yang pertama dan terakhir," kata Arka yang agak sedikit sedih.
"Setiap kehamilan berbeda-beda, dan juga Mas kita gak boleh menghentikan punya anak, mau 2, 3, atau sepuluh pun kita harus terima," kata Hana
"Tapi aku gak bisa melihat yang seperti ini lagi," kata Arka
"Insya Allah ini gak akan lama," Hana juga memegang wajah Arka dengan tangan lemahnya.
Arka merangkul Hana dan memeluk Hana, Hana langsung menyandarkan kepalanya di pundak Arka.
"Nanti bantuin wudhu ya," ucap Hana
Arka mengangguk, "Ya,"
*
Beberapa hari berlalu, Hana sudah mulai makan, Arka sedang menyuapinya roti.
"Ini pasti Mas Arka buat sendiri kan?" tanya Hana
Arka mengangguk tersenyum, "Kok bisa tau?"
"Hem...rasanya kan beda dari yang biasa, dulu kan kita juga pernah buat roti yang rasanya seperti ini," kata Hana
"Aku kira kamu sudah lupa," kata Arka
"Mana mungkin bisa lupa, ini roti terenak," kata Hana sambil tersenyum.
"Ya sudah makan yang banyak biar punya tenaga," kata Arka
"Mas Arka...!" ucap Hana
"Kenapa?" tanya Arka
"Terima kasih banyak," kata Hana tulus
"Untuk apa?" tanya Arka
__ADS_1
"Mas Arka dulu mecat aku," kata Hana
Arka tertawa, "Kok terima kasih untuk itu? harusnya kamu kesal waktu dulu aku marahi,"
"Tapi karna waktu itu Mas Arka mecat aku jadinya Mas Arka merasa bersalah dan nyari aku lagi, terus setelahnya Mas Arka jadi kasihan kan sama aku, jadi sekarang aku bisa hidup bahagia seperti ini berkat Mas Arka," kata Hana
Arka masih tertawa.
"Bukan seperti itu, waktu itu kan habis mecat kamu, aku jadi merasa bersalah terus nyari kamu gak ketemu-ketemu, pas ketemu aku langsung jatuh cinta pada Hana Aisya ini, bukan kasihan," kata Arka
"Gak mungkin, Mas Arka pasti kasihan karna aku ini ditinggalkan oleh Mas Vito sahabatnya Mas Arka," kata Hana
"Aku jatuh cinta padamu sebelum aku tau kamu itu istrinya almarhum Vito," ucap Arka sambil memencet hidung Hana.
"Hem...aku tu waktu itu seorang janda, gak cantik, gak kaya, jadi mana mungkin Mas Arka jatuh cinta," ucap Hana
"Kalau aku ditanya alasan kenapa jatuh cinta sama kamu tu, aku gak mungkin bisa jawab karna cinta datang tanpa alasan," kata Arka
Hana mengangguk mengerti.
"Sudah lama di rumah terus, mau jalan gak?" tanya Arka
Hana menggeleng, "Di rumah saja, kita ke halaman belakang,"
"Ya baiklah ayo bangkit," ucap Arka sambil memegang kedua tangan Hana.
Mereka berjalan keluar dari kamar.
"Pelan-pelan turunnya," kata Arka sambil memegang Hana.
Mereka berjalan menuju halaman belakang, mereka duduk di bangku yang menghadap ke arah kebun sayur.
"Mas saat anak kita besar nanti semoga bisa seperti Mas Arka, semoga nanti Alwi bisa seperti Mas Arka yang tau caranya memperlakukan wanita, dan kalau anak yang di kandung ini juga laki-laki semoga juga seperti itu," kata Hana
"Dan kalau perempuan semoga selembut Bundanya," kata Arka
*
Hana duduk di halaman belakang sambil mengelus perutnya yang sudah kelihatan agak besar.
"Bunda...!" panggil Alwi
Hana kaget mendengar suara Alwi, Hana berdiri dan berbalik melihat asal suara, betapa kagetnya Ia melihat Alwi datang bersama Arif adiknya.
Seketika air matanya tumpah saat melihat Alwi berlari ke arahnya.
Arka berjalan belakangan setelah menjemput mereka, Arka melihat Alwi yang sudah berlari ke arah Hana.
Hana ingin memeluk Alwi tapi Alwi mengelak.
"Kok Alwi gak mau meluk Bunda?" tanya Hana bingung
"Nanti dedeknya kesakitan," ucap Alwi
"Gak kok kan peluknya pelan," ucap Hana yang langsung memeluk Alwi.
Arif ikut mendekat sambil tersenyum.
"Kalian naik pesawat berdua?" tanya Hana
"Iya Kak, Mas Arka yang kirimin uang kemarin," kata Arif
Mas Arka selalu punya cara supaya istrinya bahagia, batin Hana
Hana tersenyum ke arah Arka dengan mata berkaca-kaca.
Arka mendekat ke arah mereka.
__ADS_1
"Besok Arif akan langsung daftar kuliah, gelombang pertama hampir habis waktunya," ucap Arka
"Kuliah?" tanya Hana kaget sambil melepaskan pelukan Alwi.
"Iya, Bang Arka mau biayain kuliah di sini," kata Arif
"Kok Mas Arka gak cerita?" tanya Hana saat menatap suaminya yang hanya tersenyum.
"Kejutan untuk kamu," ucap Arka
"Kan nanti Alwi sekolah bisa Arif yang antar kalau ayahnya ini gak sempat, ya kan Arif," kata Arka
"Ya," kata Arif
"Ya sudah pasti capek, langsung istirahat ke kamar kalian," kata Arka
Hana menggenggam tangan Alwi saat berjalan masuk.
Terpancar senyum indah diwajah Hana sambil sesekali melihat ke arah suaminya.
Arka ikut tersenyum melihat senyuman Hana.
Dengan melihat senyum kamu saja, hati ini sudah bahagia batin Arka
Arka menunjukkan kamar Arif dan Alwi.
"Gak apa ya sekamar," ucap Arka
"Ya gak apa-apa bang malah lebih bagus sekamar," kata Arif
Alwi langsung meloncat ke tempat tidur.
Hana tersenyum melihatnya, "Istirahatlah, nanti saat sholat Asar langsung bangkit,"
"Iya Bunda," kata Alwi
Hana duduk di dekat Alwi sambil menciumnya beberapa kali.
Arif memasukkan pakaian ke lemari.
"Alwi, Ayah harus ke kantor lagi, istirahat ya," ucap Arka
"Iya Ayah," kata Alwi
Arka berjalan keluar dari kamar, Hana melihatnya dan langsung mengikutinya keluar.
Arka sudah turun dari tangga.
"Mas...!" panggil Hana
Arka menoleh lalu menunggu Hana di bawah.
Hana turun dari tangga dan langsung memeluk Arka.
"Terima kasih banyak," ucap Hana
"Iya, sama-sama," kata Arka
Hana melepaskan pelukannya lalu mencium pipinya Arka.
"Hati-hati di jalan," ucap Hana
Arka mengangguk lalu berjalan pergi keluar rumah.
Hana tersenyum lalu kembali naik ke atas.
Hana kembali masuk ke kamar dan langsung membantu Arif merapikan pakaian.
__ADS_1