
Happy Reading temen temen 💙
"Apa apaan nih! Ngapain semua mandangin gue sih?!" gerutu Cery yang masih setia berlari.
Cery melihat tulisan lift khusus, yang biasa di pakai oleh papahnya. Tanpa pikir panjang, Cery langsung menekan tombol lift tersebut.
"Lama amat sih!" kesal Cery.
Pintu lift pun terbuka, Cery segera masuk dan menekan tombol angka tujuh. Karena ruangan papah Jemi berada di lantai tujuh.
Sambil menunggu lift berhenti, tanpa sengaja Cery memandangi kaca cermin di sampingnya.
"Alamak!" ucap Cery terkejut.
"Pantesan tadi karyawan papah mandangin gue. Shit dah!" umpat Cery.
"Masa iya rambut gue cuman gue iket cemol! Pakaian gue, Ha! Gue pakek sandal jepit, astaga!" ucap Cery saat baru sadar dengan apa yang ia kenakan.
"Ini kan kantor, aish bodoamat lah!" geram Cery.
Sekitar 5 menit Cery sudah menunggu dan menaiki lift. Sekarang hanya tinggal 10 menit lagi.
Saat pintu lift terbuka setengah, Cery segera berlari tanpa memandang ke arah depan. Karena ia hanya fokus pada kakinya saja.
"Brugh..." Cery menabrak seorang laki-laki.
"Haduh, ada ada aja sih!" gerutu Cery kesal lalu segera mengambil berkas berkas papahnya yang berserakan.
"Kamu nggakpapa kan?" tanya seseorang yang di tabrak Cery tadi.
"Gimana sih, kalau jalan tuh liat pakek mata! Ga tau orang lagi buru buru apa?!" ujar Cery ketus seraya memakinya.
"Loh, kok nyolot sih ni anak." batin seseorang tersebut. "Sini aku bantu." ucap laki-laki tersebut seraya mengulurkan tangannya.
"Diam Lo! Minggir!" sahut Cery ketus dan berdiri sendiri tanpa menerima uluran tangan itu. "Awas Lo, jangan pergi dulu!" ancam Cery.
Sementara yang di ancam hanya menganggukkan kepalanya sembari tersenyum tipis.
Cery segera berlari menuju ruangan papahnya dan tanpa mengetuk pintu ia langsung masuk begitu saja.
"Pah, ini." ucap Cery ngos ngosan sambil menyerahkan berkas berkas milik papahnya.
__ADS_1
"Makasih putri papah. Tuh ada minum, papah pergi dulu ya!" ucap sang papah sembari menepuk pundak Cery.
Karena merasa sangat lelah, Cery langsung menyambar air putih milik papahnya.
"Apaan sih papah nih! Enggak di kasih apresiasi apa? Udah gue pakai pakaian seadanya, belum lagi pala gue ke jedot." ujar Cery saat ngedumel.
"Apa? Gue tadi kan maki maki orang, nggak ngaca dulu lagi!" cerocos Cery tanpa henti.
"Aduhhh, gimana dong ini?! Tadi gue suruh nunggu lagi!" imbuh Cery dan terus menggigit bibir bawahnya.
Di lain tempat, papah Jemi tengah berjalan menuju lift di ikuti om Panji yang tak lain adalah ayah dari Enjii.
"Hm mas Jem, aku dapat kabar. Katanya klien kita akan telat selama 30 menit lagi." ucap om Panji.
"Okey, baiklah." jawab papah Jemi santai. "Loh Rey, ada apa kok duduk di sini?" tanya papah Jemi saat melihat Rey duduk di dekat jendela sebelah lift.
"Hm, itu om..." kata Rey terputus.
"Panggil apa Rey?" ingat papah Jemi.
"Ma-maaf pah." ucap Rey sambil menunjukkan senyum kecutnya. "Tadi Rey itu di tabrak cewek, kalau nggak salah itu anaknya papah Jemi. Terus Rey di salahin dan di suruh nunggu." jelas Rey.
"Si Cery maksudmu nak?" tanya papah Jemi memastikan.
Saat Cery keluar dari ruangan papahnya, setelah tadi membenahi rambutnya yang kini sudah ia kuncir kuda.
Cery melihat papahnya bersama om Panji tengah duduk mengobrol dengan laki-laki yang di tabraknya tadi.
"Pah, bukannya udah waktunya meeting ya?" sela Cery.
"Di undur 30 menit lagi Cer." balas om Panji.
"Hah!" pekik Cery. "Huft.. Udah capek capek lari, pakek di tabrak nih orang lagi! Ternyata meetingnya di undur." ujar Cery kesal sembari menunjuk Rey dengan dagunya dan tak ketinggalan sorot tatapan matanya yang tajam.
"Eh, nona yang nabrak tadi kan anda bukan saya." bela Rey.
"Ya seharusnya Lo mahami dong, kalo gue tuh buru buru!" pekik Cery keras.
Namun Rey tak menggubrisnya. Ia malah tengah menahan tawanya yang sudah hampir meledak.
"Lo ngapain ketawa?" tanya Cery ketus.
__ADS_1
"Hm, nggakpapa." balas Rey sambil mengulum bibirnya.
"Cer udah deh. Baikan aja gih!" ucap papah Jemi berusaha menengahi.
"Cery? Ogah banget pah." jawab Cery yang masih menatap Rey dengan tatapan tajam, namun hatinya tengah berdegup kencang.
"Cer, tumben ke kantor papahmu pakek jaket terus pakek sendal jepit lagi." celetuk om Panji tiba-tiba membuat Cery sadar akan pakaiannya.
Cery langsung melotot menatap ke sembarang arah.
"Oh itu om, Cery tadi tuh buru buru. Udah dulu ya pah om, Cery mau pulang aja." sahutnya.
Kemudian Cery segera berlari menuju lift dengan perasaan malu sekaligus dongkol.
"Cute!" ucap Rey tanpa sadar saat tengah memperhatikan Cery.
"Ekhem." deheman papah Jemi membuyarkan pandangan Rey.
"Hm, maaf pah om." ujar Rey ketahuan memperhatikan Cery.
"Papah tinggal dulu ya Rey!" pamit papah Jemi.
"Iya-iya pah." sahut Rey terbata bata.
"Sabar Rey." bisik om Panji seraya menggoda Rey.
Setelah membaca jangan diem diem baek dong:( Ayo ramein novelku kakak 😍
Jadilah pembaca yang baik, hargai kerja keras penulis oke! Ngetik itu juga butuh tenaga kakak:)
Ayolah jangan cuman baca doang 😭 Like, Vote, Komen and favoritnya jangan lupa ❤️ Kan itu juga gratis 😫 Hitung hitung saling berbagi, karena itu sangat berarti bagiku yang masih pelajar kak 😌
Terimakasih bagi yang sudah mau mampir 🙏
Ini novel pertamaku jadi harap maklum 😉
Manto hobi mengoleksi mesin ketik
Dan Mira hobi mengoleksi paku
Hey readersku yang tampan nan cantik
__ADS_1
Semangat ya baca cerita recehku
😘