
Happy Reading temen temen 💙
Hari kedua di rumah sakit, Cery masih sama. Ia tetap memejamkan matanya.
Sementara keadaan mamah Emil sudah membaik, jadi di perbolehkan pulang tadi pagi.
"Pah, ayo kita ke rumah sakit!" ajak mamah Emil kepada sang suami Jemi Sanjaya.
"Baiklah!" balas papah Jemi menuruti kemauan sang istri.
Sore hari pukul 04.00, papah Jemi beserta mamah Emil pergi ke rumah sakit di antar oleh bang Ucup.
Sesampainya di sana, keluarga Sanjaya berpas-pasan dengan besannya yaitu keluarga Arengga.
"Jem, bisakah kita berbicara sebentar?" tanya papih Arengga.
"Tentu bisa!" balas papah Jemi santai.
"Hm baiklah, kalian bicara saja dulu! Biar aku pergi sama Emil!" kata mamih Santhi.
"Hm, iya betul!" respon mamah Emil.
"Ya udah, yuk Mil!" ajak mamih Santhi.
"Hayuk San!" jawab mamah Emil.
Mamah Emil dan mamih Santhi pun pergi untuk masuk ke dalam rumah sakit, tanpa di dampingi oleh sang suami.
Mereka nampak akur, dan mengobrol satu sama lain.
Meskipun keadaan mamah Emil maupun mamih Santhi yang kacau, karena kepikiran Cery.
-
Di lain tempat, tepatnya di sebuah cafe depan rumah sakit. Nampak dua bapak-bapak sedang berbicara dengan serius.
Mereka tak lain adalah papah Jemi Sanjaya dengan besannya sekaligus rekan kerja yaitu Arengga Permana.
"Kita langsung ke intinya saja!" kata papih Arengga.
Flashback on
"Hm, kan ku habisi kau!" guman papah Jemi menyeringai.
"Siapa yang akan kau habisi?" tanya seseorang yang sudah berdiri tepat di belakang papah Jemi.
Sontak papah Jemi pun menoleh ke sumber suara, karena suara itu sangatlah familiar di telinganya.
"Tidak ada, hanya seekor tikus!" balas papah Jemi.
"Jangan mencoba menyembunyikan dari ku!" tegas orang itu.
"Baiklah, aku sudah menemukan pelakunya!" jawab papah Jemi.
"Benarkah?" tanya orang itu tak percaya.
"Sejak kapan aku pandai berbohong, hm?" tanya papah Jemi.
"Yayaya, aku percaya pada mu!" kata orang itu. "Lebih baik kita bicarakan masalah ini besok lagi, karena aku begitu tertarik dengan bocah itu!" imbuh papih Arengga.
Ya orang itu adalah papih Arengga, yang sedang mengantarkan istrinya untuk mengambil ponselnya yang tertinggal di ruang inap Emil.
"Apalagi aku! Tangan ku rasanya gatal, jika tidak melakukan sesuatu ke bocah itu!" balas papah Jemi.
"Ingat, jangan sampai kau menghabisinya Jem! Kasihan perjakanya hilang begitu saja!" kekeh papih Arengga.
"Kau ini, ada ada saja Ngga!" balas papah Jemi.
"Pih, ayo kita pulang!" ajak mamih Santhi.
"Baiklah, kita sambung besok lagi Jem! Aku pergi dulu!" pamit papih Arengga.
"Iya, kau berhati-hati lah!" pesan papah Jemi.
Flashback off
"Bagaimana dengan bocah itu?" tanya papih Arengga tanpa berbasa-basi.
"Bocah itu sudah ku awasi! Mungkin sebentar lagi aku akan bertindak!" sahut papah Jemi santai, sambil meminum coffenya.
"Jangan sampai kau menghabisinya, dan jangan sampai Reyhan tahu masalah ini!" tutur papih Arengga.
"Mengapa?" tanya papah Jemi.
"Aku hanya takut, dia tidak bisa mengontrol emosinya." balas papih Arengga.
"Biarkan saja!" tutur papah Jemi tenang.
"Kau ini! Aish terserahlah!" pasrah papih Arengga.
"Nyawa bocah itu, akan ku serahkan kepada Reyhan! Jika Reyhan peka dan datang sendiri ke markas ku!" imbuh papah Jemi.
"Yayaya, aku percayakan kepadamu!" jawab papih Arengga yang sudah menyerah jika harus berdebat dengan Jemi.
Selesai bercakap-cakap, mereka pun kembali ke rumah sakit.
Cukup lama kedua keluarga itu berada di rumah sakit, sampai akhirnya mereka pun memutuskan untuk pulang.
***
Keesokan harinya, suasana di ruang inap Cery nampak ramai.
Pasalnya seluruh keluarga maupun para sahabatnya sedang berkumpul.
"Sayang, apa kamu tidak merindukan ku?" bisik Reyhan.
Namun lagi-lagi Cery masih memejamkan matanya.
Tak lama kemudian,
Drtttt... Drtttt... Drtttt...
Ponsel papah Jemi berdering.
Papah Jemi segera keluar dari ruangan itu, untuk mengangkat teleponnya.
"Halo, ada apa Mike?" tanya papah Jemi langsung pada intinya.
__ADS_1
"Maaf king, sepertinya target kita akan berangkat pindah ke luar negeri!" lapor Mike.
"Ch.. Dasar bocah kecil! Gagalkan rencananya!" perintah papah Jemi tegas.
"Baik king!" jawab Mike patuh.
"Oh iya, langsung kau tangkap saja dia, setelah itu ikat di ruang bawah tanah markas DD!" sambung papah Jemi.
"Siap laksanakan king!" balas Mike tegas.
Tuttt...
Panggilan telepon pun di matikan sepihak oleh papah Jemi.
"Cih.. Setelah melukai anak ku, kau malah mencoba kabur! Bukannya meminta maaf, malah lari dari kesalahan!" geram papah Jemi.
Tanpa dugaan, dari tadi Reyhan mendengarkan semua pembicaraan sang mertua.
Awalnya Reyhan keluar kamar ingin menemui dokter yang menangani Cery, namun ia urungkan tatkala mendengar pembicaraan papah Jemi yang sangat serius itu.
"Ohohoho.... Mungkin aku akan ikut papah!" batin Reyhan mengeluarkan senyuman sinis, saat mengingat pelaku yang menembak istrinya.
Dengan segera Reyhan berbalik masuk ke ruangan Cery, sebelum papah Jemi memergokinya.
Hari semakin lama semakin siang, papih Arengga beserta mamih Santhi memutuskan untuk pulang.
Sedangkan tante Erni dan om Panji akan mengunjungi Cery sore nanti.
"Bos!" panggil Dony yang baru tiba di ruangan inap Cery.
"Ada apa?" tanya Reyhan langsung.
"Ini, aku perlu tanda tangan mu bos!" kata Dony.
"Owh, baiklah!" jawab Reyhan.
Ya selama Cery masih belum sadar, Reyhan tidak mau pergi ke kantor.
Ia tidak mau meninggalkan Cery jauh-jauh, selama bocah tengil itu masih berkeliaran.
"Terimakasih bos, kalau begitu aku permisi dulu!" pamit Dony.
"Apa kau sudah makan siang?" tanya Reyhan seketika mengehentikan langkah Dony.
"Ya, belum bos!" jawab Dony.
"Jangan pentingkan kantor, pentingkan kesehatan mu juga!" kata Reyhan tegas.
"Hm, baiklah bos!" jawab Dony patuh.
Dony benar-benar merasa bersyukur telah di pertemukan dengan keluarga Arengga, karena Dony di perlakukan layaknya seorang anak di keluarga itu.
Dony juga sangat menyayangi Reyhan, seperti saudaranya sendiri.
Orang tua Dony telah berpulang pada yang kuasa, saat ia masih kecil. Dan sampai akhirnya ia di asuh oleh keluarga Arengga.
-
Di lain tempat, tepatnya di desa yang terpencil.
Nampak seorang anak muda sedang menarik tas ranselnya.
"Sekarang!" aba-aba yang di berikan oleh Mike.
Dengan kesitnya, seluruh anggota papah Jemi langsung menghadang pemuda itu, baik dari depan, belakang maupun samping.
Tak lama kemudian, sebuah mobil hitam pun datang.
"Hay anak muda! Cepatlah kau masuk ke dalam, sebelum aku yang akan menyeret mu secara paksa!" perintah Mike tegas.
"Apa maksud mu?" tanya pemuda itu, seakan-akan tidak berbuat salah sebelumnya.
"Jangan banyak tanya! Cepat ikuti perintah dengan baik, sebelum kami bertindak kasar kepada mu!" gertak Mike.
"Kenapa kau mau melawan anak kecil seperti ku?" tanya pemuda itu dengan sinisnya.
"Kau bukanlah anak kecil! Singa yang sedang tidur, tidak akan terbangun jika kau tidak mengusiknya!" jawab Mike santai, namun aura kematian telah ia tunjukkan.
Pemuda itu nampak kesulitan saat menelan savilanya, dan juga keringat dingin sudah keluar membasahi keningnya.
"Om jangan berbelit-belit! Katakan apa mau mu?" kata pemuda itu dengan beraninya.
"Aku bukan om mu! He, apa kau tuli? Aku tidak suka mengulang perintah! Namun kali ini, aku akan memperlakukan mu dengan baik, sebelum seseorang akan melenyapkan nyawa mu!" tegas Mike.
"Siapa kau sebenarnya?" tanya orang itu sambil membanting tas ranselnya.
Melihat hal itu, seluruh anggota mafia DD sudah siap ingin mengeluarkan senjatanya.
Namun Mike mencoba sabar, ia memberi aba-aba kepada rekannya untuk tidak mengeluarkan senjatanya terlebih dahulu.
"Kau tak perlu tahu siapa aku! Lebih baik kau segera ikut masuk ke dalam mobil!" titah Mike.
"Apa aku akan aman jika di dalam sana?" tanya pemuda itu nampak menantang.
"Jika bukan karena king, mungkin aku sudah merobek mulut mu itu nak!" batin Mike. "Pertanyaan yang bagus! Tentu!" jawab Mike menyeringai. "Tentu, untuk sementara waktu!" imbuh Mike tetapi dalam hatinya.
"Baiklah, aku akan ikut dengan mu!" kata pemuda itu dengan mantap.
"Pilihan yang bagus!" sahut Mike, sambil memerintahkan anak buah papah Jemi untuk membawa target itu masuk.
Setelah memastikan targetnya masuk mobil dengan penjagaan yang ketat, Mike langsung mengeluarkan ponselnya.
"Halo king!" kata Mike.
"Iya, bagaimana? Apa kau sudah berhasil menangkapnya?" tanya papah Jemi di seberang sana.
"Cukup gampang membujuk remaja itu king! Hanya dengan sebuah omongan ia akan luluh!" balas Mike.
"Kerja bagus! Aku akan ke markas sekarang!" kata papah Jemi lalu mematikan panggilan teleponnya sepihak.
-
Di tempat Cery di rawat, papah Jemi dengan segera langsung berbicara.
"Maaf, sepertinya aku harus pergi! Kalian jaga Cery baik-baik!" pamit papah Jemi sebelum benar-benar pergi.
Mamah Emil yang mengerti kemana perginya papah Jemi, hanya bisa menatapnya dengan raut wajah yang khawatir.
__ADS_1
Sementara Reyhan, ia sangat yakin jika papah Jemi akan pergi menemui pelakunya.
Namun tidak dengan para sahabat Cery dan juga Enjii, yang hanya bisa mengangguk patuh.
Aura menakutkan keluar dari wajah papah Jemi.
Dengan langkah yang panjang dan penuh semangat, ia langsung menuju parkiran.
Menaiki mobilnya dengan kecepatan penuh.
Lama kelamaan hari semakin sore, dan perjalanan yang akan di tempuh pun cukup jauh.
"Tikus masuk kandang singa! Hahaha, perumpamaan yang bagus!" kata papah Jemi dengan sinis. "Tunggu kedatangan ku anak muda!" seringai papah Jemi pun muncul.
-
Kembali lagi di ruang inap Cery.
Reyhan tengah memikirkan cara agar ia bisa keluar dari ruangan itu.
Sebelumnya, Reyhan telah mengetahui jika papah Jemi adalah seorang ketua mafia DD.
Jangan di ragukan lagi pengetahuannya, karena ia merupakan orang terkaya nomer 1.
"Aha! Ide yang bagus Reyhan!" batin Reyhan setelah menemukan idenya.
Dengan segera ia langsung mengeluarkan ponselnya dan mengotak-atik, lalu menempelkannya di telinga.
"Iya halo Don! Ada apa kau tiba-tiba menelpon ku?" tanya Reyhan yang aslinya sedang berpura-pura.
Sontak seluruh orang yang berada di ruang itu pun menoleh ke arah Reyhan, kecuali Cery yang masih senantiasa tidur di ranjang pasiennya.
"Oh tuhan! Apa apaan ini? Mengapa semua melihat ke arah ku?" batin Reyhan yang sebisa mungkin menyembunyikan kebohongannya.
"Oh, baiklah! Aku akan ke perusahaan sekarang!" titah Reyhan dan langsung menutup teleponnya.
"Ada apa kakak ipar?" tanya Enjii.
Sedangkan yang lain tengah memandangi keduanya menunggu sebuah jawaban.
"Oh itu, aku harus ke perusahaan! Karena ada masalah yang genting!" jawab Reyhan cepat selagi mendapatkan ide gilanya.
"Owh, apa perlu aku ikut kak?" respon Enjii.
"Tidak tidak perlu, biar aku sendiri aja!" balas Reyhan cepat.
"Ya sudah, kamu pergi aja Rey! Tangani perusahaan dengan baik, masalah Cery biar kami yang menjaganya!" tutur mamah Emil memberikan solusi.
"Baiklah makasih mah! Kalau begitu Rey pergi dulu ya!" pamit Reyhan kepada sang mertua. "Enjii, tolong jaga Cery! Jika ia sudah sadar, cepat hubungi aku!" titah Reyhan sebelum pergi meninggalkan ruang Cery.
"Baik kakak ipar!" balas Enjii patuh dan percaya begitu saja.
Setelah terbebas dari ruang sang istri, Reyhan masih harus menunggu mobilnya yang sedang di antar oleh pak Tejo.
Beberapa menit kemudian pak Tejo pun sampai, dengan membawa mobil milik Reyhan sendiri yang berwarna hitam.
"Tuan, ini kunci mobilnya!" kata pak Tejo sembari memberikan kuncinya.
"Terimakasih pak! Oh iya nanti jika Dony datang, suruh saja dia untuk mengantarkan bapak pulang!" perintah Reyhan.
"Baik tuan!" jawab pak Tejo patuh.
"Tunggu! Sebenarnya yang tuan itu Dony atau pak Tejo sih? Argh... Bodoamat lah!" batin Reyhan lalu masuk ke dalam mobilnya.
Reyhan mengendarai mobilnya dengan kecepatan penuh.
Karena sudah tahu jalan menuju markas, jadi ia tidak sedikit pun merasa kesusahan dalam mencarinya.
Berbanding terbalik dengan Reyhan yang baru saja berangkat, papah Jemi pun juga baru demikian.
Tetapi bedanya, papah Jemi bukan baru berangkat.
Melainkan baru sampai di tempat tujuan, setelah berkendara selama puluhan menit.
Brakhh...
Pintu mobil di tutup secara keras oleh papah Jemi.
"Selamat datang king!" kata Mike yang menyambut kedatangan papah Jemi sebagai kingnya mafia DD.
"Hm, dimana dia?" tanya papah Jemi tanpa berbasa-basi.
"Dia di sekap di ruang bawah tanah king!" jawab Mike tegas. "Mari saya antar!" imbuh Mike.
Dengan penuh semangat yang membara, papah Jemi hanya mengiyakan omongan yang di lontarkan oleh Mike.
Sesampainya di ruang bawah tanah, papah Jemi sudah di sambut dengan adanya penampakan tubuh seorang pemuda yang sedang meringkuk.
Ia meringkuk karena terjatuh dari kursi. Kondisi pemuda itu juga cukup memprihatinkan, tangan yang di ikat dengan rantai serta kaki yang di ikat bersama dengan kursi.
"Hay, apa kabar anak muda? Lama kita tidak berjumpa!" kata papah Jemi dengan lembutnya.
Setelah menyapa anak itu, sang ketua mafia DD segera duduk di kursi yang berada di hadapan pemuda itu.
Mendengar suara yang pernah ia dengar, secara refleks pemuda itu pun mengangkat wajahnya.
"Om Jemi!" katanya dengan kaget setengah mati.
"Kenapa? Kaget?" tanya papah Jemi dengan sinis.
"Ti.. Tidak om!" jawab pemuda itu dengan terbata-bata.
"Hahahaha.. Aku sudah lama tidak bermain-main dengan tikus pengganggu!" seringai papah Jemi pun kembali muncul.
"Apa maksudnya om?" tanya pemuda itu mencoba menghilangkan rasa takutnya.
"Mike, apa yang telah kau lakukan sehingga pemuda ini jadi hilang ingatan?" tanya papah Jemi mengejek pemuda itu.
#Hayo, mau tau bagaimana kelanjutannya? Simak terus ya:) Maaf aku lama up nya, karena maklumlah pelajar jadi di kejar deadline 🙏 Dan untuk menebus rasa bersalah ku, hari ini aku up nya lebih dari 2000 kata loh:) jangan lupa apresiasinya ya#
Setelah membaca jangan lupa untuk selalu dukung aku ya 🙏
Ayo tinggalkan jejak kalian, Like, Vote, Komen and favoritnya jangan lupa 😍
Satu jejak dari kalian adalah semangat ku kak🤗
Jangan lupa mampir di karya keduaku "Ada Apa dengan Tentara v/s Hakim" dan karya ketiga ku "Cinta Remaja SMA"
__ADS_1
😘