Akhir Yang Bahagia

Akhir Yang Bahagia
bab 44


__ADS_3

Hana berdiri di depan pintu, melihat Arif yang akan mengantar Alwi ke sekolah sekalian berangkat ke kebun.


Mas Arka pasti sudah berangkat kerja juga, batin Hana


Disaat Hana baru masuk ke rumah, ponselnya berbunyi.


Hana melihat nama si pemanggil dengan senyuman bahagia.


Hana langsung mengangkatnya.


"Assalamu 'alaikum Mas Arka," ucap Hana dengan nada ceria.


Arka menarik nafas baru menjawab salam Hana.


"Wa'alaikumussalam sayang," ucap Arka juga dengan nada ceria


"Mas Arka sudah berangkat?" tanya Hana


"Ini lagi di jalan sambil nelpon," ucap Arka


"Gak baik lo nyetir sambil nelpon, matikan dulu nanti baru nelpon lagi," ucap Hana


"Cuma bentar kok, ini juga nyetirnya pelan," ucap Arka


"Ya sudah hati-hati," kata Hana


"Bisa dengar suara kamu saja sudah cukup, assalamu 'alaikum," ucap Arka


"Wa'alaikumussalam," balas Hana


Hana mematikan sambungan sambil tersenyum.


Membuka hati untuknya tidaklah salah batin Hana


Hana kembali melangkahkan kaki menuju dapur.


Di jauh sana Arka melepaskan ponselnya.


Saat Aisya lihat foto itu, mau dijelasin bagaimanapun gak akan mungkin Ia percaya, jadi lebih baik menjauhkan Aisya dari Cantika sementara waktu batin Arka


Arka menghentikan mobil di tepi jalan, Ia menyandarkan kepalanya di stir mobil.


Arka memejamkan matanya.


Kenapa aku bisa sepengecut ini batin Arka


*


2 bulan pun berlalu, Hana sudah sampai di bandara.


Hana sengaja tidak mengaktifkan ponselnya, Ia berjalan keluar bandara lalu menghentikan taxi.


Saat taxi berhenti, Hana langsung memasukkan kopernya lalu langsung duduk di samping koper itu.


"Pak ke jalan kemuning nomor 66," ucap Hana pada supir taxi.


"Baik Mbak," kata supir taxi yang mulai menjalankan mobil.


Mas Arka pasti sudah pulang dari kantor batin Hana


Sepanjang perjalanan Hana terlihat bahagia dan gak sabar untuk sampai ke rumah.


Saat hampir sampai, Hana melihat Arka dan Cantika bicara di depan pagar rumah.

__ADS_1


"Pak saya turun di sini saja," ucap Hana


Taxi pun berhenti sekitar 50 meter dari rumah Hana.


"Ini Pak ongkosnya, kembaliannya ambil saja," ucap Hana


"Terima kasih," ucap supir taxi


Hana mengangguk lalu turun membawa kopernya, Hana berjalan pelan, suara Arka dan Cantika semakin terdengar jelas.


"Ini sudah lebih dari 2 bulan, seberapa hebatnya kau menyembunyikan ini dari Hana pasti akan ketahuan juga," ucap Cantika


Arka menarik foto di tangan Cantika, satu foto terjatuh.


Hana melihat mereka, Ia melangkah semakin dekat.


"Foto ini masih banyak dan sudah pasti akan sampai ke tangan Hana Aisya," ucap Cantika dengan suara lantang.


Cantika menarik tangan Arka untuk mengambil foto itu lagi.


Hana berjalan semakin dekat.


"Foto apa?" tanya Hana langsung


Arka dan Cantika kaget dan langsung menoleh ke arah Hana.


Arka panik dan tidak bisa mengelak lagi.


Hana berjongkok dan mengambil foto yang terjatuh, Ia mengambil foto itu lalu membaliknya.


Hana menatap lama foto itu dengan kaget tapi pura-pura tenang, lalu Ia menatap ke arah Cantika. Ia mendekat dan langsung menepis tangan Cantika dari tangan Arka yang sedari tadi belum lepas


"Jangan menyentuh suami orang sembarangan," ucap Hana dengan wajah tenang.


Cantika kaget dengan ekspresi Hana yang terlihat tenang tidak seperti yang selama ini dibayangkannya.


"Kau tidak bisa menghancurkan rumah tangga orang lain hanya dengan foto sampah seperti ini," ucap Hana masih dengan sikap tenang.


Cantika tidak bisa berkata apa-apa.


Hana langsung berjalan masuk, Arka langsung ikut masuk juga.


Arka melihat Pak Tejo, "Pak tolong bawa mobil saya masuk,"


Cantika langsung masuk ke mobil dengan kesal.


Hana membuka pintu rumah lalu masuk, Arka ikut masuk mengikutinya.


"Aisya foto itu...!" ucap Arka terhenti


Hana hanya diam dan langsung berjalan menuju kamar, tangan Hana mengepal erat foto tadi hingga remuk. Ia langsung masuk ke kamar melepaskan kopernya.


Arka yang mengikutinya menarik tangan Hana.


"Kumohon dengarkan dulu," ucap Arka pelan dan lembut


"Apa lagi yang perlu didengar, fotonya sudah terlihat jelas," kata Hana lalu berjalan menuju kamar mandi.


Hana duduk di dalam kamar mandi masih dengan mengepal foto itu.


Hana memegang dadanya yang terasa sesak, perlahan air matanya menetes karna tidak bisa ditahan lagi, Tangis Hana pecah, Ia menangis sesegukan dengan tangan yang masih memegang dadanya dan tangan satunya masih meremas foto itu.


Apa yang terjadi selama aku tidak ada, tidak mungkin Mas Arka melakukan dosa seperti itu, dia sangat menghargai dan menghormati wanita batin Hana

__ADS_1


Arka di luar kamar mandi mendengar tangisan Hana.


"Aisya," panggilnya


Hana menghapus air matanya tapi pandangannya langsung kabur, Hana langsung berdiri tapi tubuhnya tidak kuat untuk jalan. Ia berjalan bertahan ke dinding kamar mandi, Ia buru-buru membuka pintu kamar mandi dan berjalan pelan sambil memegang kepalanya.


Arka memegang Hana yang langsung terjatuh pingsan di pelukannya.


"Aisya," ucapnya sambil memegang wajah Hana dengan panik.


Arka langsung mengangkat Hana dan berjalan cepat ke luar kamar.


Bu Lastri yang baru keluar dari dapur ikut panik.


"Bu, tolong panggil Pak Tejo antar saya ke rumah sakit," ucap Arka


Bu Lastri berlari panik mencari Pak Tejo.


Arka sudah keluar rumah dan langsung memasukkan Hana ke dalam mobil, Arka duduk memangku kepala Hana.


Pak Tejo berlari dan langsung masuk ke mobil.


"Pak kita ke rumah sakit terdekat," ucap Arka


Pak Tejo langsung menghidupkan mobil, sedangkan Bu Lastri membukakan pagar.


Arka memegang kening Hana yang penuh keringat, Ia menyeka keringat Hana beserta air mata.


Maafkan aku batin Arka saat melihat air mata Hana yang masih menetes.


Walau mata Hana terpejam tapi terlihat jelas bengkak di daerah matanya karna menangis.


Arka mencium kening Hana dengan sedih.


Sesampainya di depan rumah sakit, Arka langsung mengangkat Hana masuk.


Arka langsung minta perawat menyiapkan langsung kamar rawat.


*


Saat Hana diperiksa, Arka menelpon Mamanya menyuruhnya datang.


Tidak berapa lama Linda datang.


"Apa yang terjadi?" tanya Linda


"Aisya pingsan tadi saat baru pulang" ucap Arka


"Terus kata Dokter sakit apa?" tanya Mamanya


"Gak sakit Ma, kata Dokter dia lagi hamil," ucap Arka dengan wajah sedih


Linda tersenyum senang tapi senyumnya hilang saat melihat Arka terlihat tidak bahagia.


"Kenapa kamu terlihat gak bahagia?" tanya Mamanya


"Aku bahagia kok Ma, hanya masih khawatir saja takut Aisya kenapa-kenapa," ucap Arka


"Ayo masuk kita temani dia," ucap Mamanya


"Mama saja, aku masih shock jadi tunggu diluar saja" kata Arka


"Ya sudah Mama masuk dulu," ucap Linda dengan wajah sangat senang.

__ADS_1


Linda langsung membuka pintu, terlihat perawat sedang memasang infus.


Arka masih di luar duduk dengan sedih sambil memegang kepalanya sambil menunduk.


__ADS_2