
Happy Reading temen temen 💙
Drtttt... Drtttt... Drtttt...
Ponsel Dony berdering.
Dengan sigap, ia menjauh dari Enjii dan juga Reyhan untuk mengangkat panggilan telepon itu.
"Iya halo, bagaimana?" tanya Dony langsung saat sudah menerima panggilan tersebut.
"Itu bos, papah mertua master sedang dalam perjalanan menuju markas terbesar!" lapor anak buahnya.
"Markas terbesar?" ulang Dony.
"Iya bos!" jawab anak buahnya dengan tegas.
"Maksud mu, markas DD?" tanya Dony lagi.
"Benar bos!" balas orang itu.
"Oke, terimakasih infonya!" ucap Dony sebelum mematikan panggilannya.
Sedangkan Enjii, ia sudah berdiri di belakang Dony untuk meminta penjelasan.
"Apa katanya?" tanya Enjii langsung karena penasaran.
"Apakah kamu, tahu sesuatu tentang papah mertua?" tanya Dony mengintrogasi.
"Maksud mu, papah Jemi kak?" ujar Enjii memperjelas.
"Hm." jawab Dony.
"Papah Jemi, hanya seorang pengusaha dan memiliki perusahaan sendiri yang bernama Sanjaya group, itu saja sih kak!" jelas Enjii.
"Apakah dunia luarnya kamu tidak tahu?" tanya Dony lagi.
"Dunia luar?" ulang Enjii tak mengerti.
"Haish, lupakan saja! Ayo kita kembali!" titah Dony.
"Baiklah!" jawab Enjii pasrah.
Dony dan Rendy kembali ke depan ruang UGD. Saat ia ingin menanyakan kepada bosnya, tiba-tiba pintu UGD pun terbuka.
Reyhan langsung berdiri dan menghadang dokter yang lewat.
"Bagaimana keadaan istri saya dok? Istri saya baik-baik saja kan dok? Apa saya boleh menengoknya?" tanya Reyhan bertubi-tubi.
"Hm, istri bapak baik-baik saja! Meskipun, akan lama siumannya." tutur dokter.
"Lama dok? Apa istri saya koma?" tanya Reyhan yang sudah lemas.
"Mungkin hanya beberapa hari saja! Dan untuk peluru yang di perutnya, juga sudah kami keluarkan!" jelas dokter itu.
Tanpa menjawab ataupun mengucapkan terimakasih, Reyhan langsung masuk ke dalam ruang UGD.
__ADS_1
"Hm, terimakasih dok!" ucap Enjii mewakili keluarga.
"Iya, segera di urus surat perpindahan ke ruang inap ya!" pesan dokter tersebut, sebelum pergi.
"Baik dok!" sahut Dony.
Dokter itu pun pergi meninggalkan Dony dan Enjii.
"Kakak kabari ke keluarga saja! Aku akan mengurus perpindahan kak Cery!" titah Enjii.
"Beres!" ucap Dony dan bergegas menuju ruang, dimana seluruh keluarga sedang menemani mamah Emil.
***
Di lain tempat, nampak papah Jemi melangkah dengan gagahnya menuju markas.
Brakkk...
Pintu di buka secara kasar oleh papah Jemi.
"Selamat datang King!" ucap salah satu orang kepercayaan papah Jemi yang bernama Mike.
"Hm, cepat kalian selidiki siapa pelaku di balik penembakan itu!" perintah papah Jemi.
"Baik king!" jawab mereka serempak.
"Jika sudah, pantau terus pergerakannya! Nanti saya sendiri, yang akan menghadangnya!" imbuhnya dengan sorot mata yang tajam.
"Siap king!" balas para anak buah.
DD adalah singkatan dari Dark Death, yang memiliki berpuluh-puluh anggota biasa serta 20 anggota inti.
Seluruh keluarga kecuali sang istri serta beberapa orang terkhusus, tidak ada yang mengetahui bahwa ia sebenarnya adalah ketua mafia DD.
Jemi Sanjaya tidak akan melakukan kekerasan, selama orang itu tidak mengusik dan mengganggunya.
Setelah mengatakan perintah, Jemi langsung keluar markas dan mengendarai mobilnya menuju rumah sakit.
Sebelum memastikan keadaan putrinya baik-baik saja, papah Jemi tidak akan bisa fokus dalam mencari pelaku penembakan.
***
Sesampainya di rumah sakit, ia memarkirkan mobilnya dengan asal dan bergegas masuk.
"Maaf permisi, mau numpang tanya. Pasien atas nama Cery Angesta Sanjaya, berada di ruang nomer berapa ya?" tanya papah Jemi sedikit ramah.
"Pasien atas nama Cery Angesta Sanjaya, telah di pindahkan ke ruang VVIP nomer 18 tuan!" jelas pegawai resepsionis itu.
"VVIP nomer 18 ya? Terimakasih!" ucap papah Jemi dan berlalu pergi tanpa menunggu balasan.
Papah Jemi berlari menuju lift, agar bisa cepat sampai ruang VVIP yang berada di lantai tiga.
Sesampainya di sana, ia terus berlari kesana-kemari mencari keberadaan nomer 18, dan tanpa sengaja papah Jemi menabrak seseorang.
"Dony!" panggil papah Jemi.
__ADS_1
"Eh tuan, maaf saya tidak sengaja!" ujar Dony sambil menunduk.
"Tak apa, oh iya! Apa kamu tau dimana ruang nomer 18?" tanya papah Jemi sesaat kemudian.
"Tuan mencari ruang inapnya nona bos?" tanya Dony balik.
"Jangan panggil aku tuan!" titah papah Jemi tidak mau di bantah.
"Baiklah, ooo...om!" ucap Dony sedikit canggung.
"Nah, gitu bagus! Sekarang, tunjukkan kamar Cery!" perintah papah Jemi.
"Baiklah, mari om!" ajak Dony.
***
Papah Jemi terus berjalan mengikuti Dony dari belakang.
Hingga kemudian, sampailah mereka di depan pintu yang bertuliskan angka 18.
Papah Jemi langsung masuk, meninggalkan Dony yang masih berada di luar.
Betapa sakitnya hati seorang papah, saat melihat putrinya tengah berbaring lemas dan tampak pucat.
Belum lagi tangannya yang di balut oleh jarum infus, serta alat bantu pernapasan yang melekat di hidung Cery.
Perlahan tapi pasti, papah Jemi mulai mendekat ke arah Cery.
"Bagaimana keadaannya?" tanya papah Jemi tiba-tiba.
Sontak seluruh orang yang berada di sana menoleh ke arah Jemi.
"Peluru yang ada di perutnya sudah di ambil dan kini, kita hanya menunggu kesadarannya kembali." jelas Panji mewakili yang lainnya.
Papah Jemi terus mendekat ke arah Cery dan mencium kening putrinya sekilas.
"Cepat lah sadar nak!" ucapnya pelan.
Kini pandangannya tertuju pada Reyhan, yang tengah duduk di samping Cery sambil terus menggenggam tangan milik istrinya.
"Yang sabar Rey, Cery pasti bisa menemukan jalan pulangnya!" tutur papah Jemi seraya mengelus pundak Reyhan.
Namun sesaat kemudian, ia baru menyadari bahwa ada sesuatu yang hilang.
Apa ya, kira kira yang hilang? Simak terus cerita season 2 ini ya:)
Setelah membaca jangan lupa untuk tinggalkan jejak 🤗
Like, Vote, Komen and favoritnya ya 😍
Terimakasih bagi yang sudah mampir dan mau berbagi di lapak ku 🙏 Lovyu ✨
Jangan lupa mampir di karya kedua ku "Ada Apa dengan Tentara v/s Hakim" dan karya ketiga ku "Cinta Remaja SMA"
😘
__ADS_1