Akhir Yang Bahagia

Akhir Yang Bahagia
62. Bingkisan Misterius


__ADS_3

Happy Reading temen temen 💙


Hari Sabtu yang biasanya Cery memakai seragam sekolahnya, kini berbeda. Ia sekarang menggunakan baju kebaya wisuda dengan perpaduan make up yang sangat tipis.


Bahkan di bibirnya saja, ia menolak untuk menggunakan lipstik dan memilih menggunakan pelembab saja.


Karena pada dasarnya bibir Cery memang sudah berwarna ping alami yang ia peroleh dari menggunakan madu.


"Wah putri mamah terlihat cantik sekali!" puji mamah Emil.


"Oh, jadi selama ini Cery nggak cantik gitu?" ucap Cery dengan akting merajuknya.


"Bukan begitu sayang." balas mamah Emil tak enak hati.


"Hahaha, iya iya mah. Cery hanya bercanda, ya udah ayuk turun mah!" ajak Cery.


Sementara di bawah selepas mendapat telepon dari seseorang, papah Jemi terlihat kesal pasalnya sudah hampir setengah jam menunggu, Cery dan mamahnya tak kunjung turun.


"Cery, mamah ayo keburu telat nanti!" teriak papah Jemi.


Cery yang tengah berjalan menghampiri papahnya, nampak mengerutkan keningnya.


"Ch, pah yang wisuda kan Cery. Kenapa papah yang takut telat?" decak Cery.


"Waw, putri papah sangat cantik!" selimur papah Jemi.


"Udahlah pah, jangan ngeles mulu. Ayo berangkat!" ajak Cery.


Sesampainya di gedung sekolah, Cery segera menghampiri sahabatnya.


"Ck, susah banget sih jalannya kalo gini!" guman Cery kesal.


Tanpa pikir panjang, Cery sedikit mengangkat rok kebaya wisudanya dan berjalan menghampiri sahabatnya yang tengah menunggu.


Sementara orang tua Cery ikut bergabung dengan orang tua sahabat anaknya dan terlihat sangat akrab.


"Wadidaw, ini dia! Princess kita akhirnya datang!" ucap Vina ngasal.


"Apaan sih Lo?" balas Cery.


"Lo cantik bener Cer, sumpah!" puji Meryana menatap kagum ke arah Cery.


"Haah, pangling guanya!" imbuh Reisa.


Mereka juga sama sama memakai kebaya, namun tidak dengan yang laki-laki.

__ADS_1


Ya iyalah, masa iya laki-laki pakek kebaya:v Emang mau jadi begituan hihihi


Untuk yang laki-laki kini tampil dengan menggunakan balutan jas hitam dengan kemeja putih.


"Udah mujinya? Gue capik nih!" gerutu Rama dan langsung di tabok oleh Meryana.


"Ya udah yuk duduk! Acaranya juga mau mulai tuh!" timpal Enjii yang langsung di anggukin setuju oleh sahabatnya.


Acara pun di mulai, sambutan demi sambutan telak terlaksana dan sekarang adalah pengumuman yang lulus dengan predikat terbaik.


"Dan kini, langsung saja saya panggil lulusan dengan gelar predikat terbaik jatuh kepada ananda.... Ananda Cery Angesta Sanjaya, putri dari bapak Jemi Sanjaya!" ucap Bu Nunik. "Kepada ananda Cery, silahkan naik panggung untuk mengucapkan sepatah dua patah kata." tambah Bu Nunik yang juga ikut menjadi MC.


Cery pun mulai beranjak dari kursinya. Melangkah dengan sangat anggun, dengan mata yang terlihat tenang.Meskipun hatinya bergetar sangat kencang.


Cery mulai menaiki panggung dan mengambil mikrofon yang telah di sediakan.


Ia mulai mengeluarkan kata katanya dengan ekspresi datarnya.


"Pah, ayo cepet foto dan kirimkan kepada menantu kita!" rengek mamah Emil.


"Sebentar, ah mamah ini!" kesal papah Jemi karena terus di desak oleh sang istri.


"Udah pah?" tanya sang istri yang tak sabaran.


"Udah mah." jawab papah Jemi dengan suara berat.


"Iya iya ini udah! Lagian masih calon mah." peringat papah Jemi.


"Ah, serah papahlah!" balas mamah Emil malas.


Mamah Emil beserta sang suami merasa bangga kepada Cery.


Cery yang telah selesai menyampaikan pesan kesannya segera turun dari panggung dan kembali bergabung dengan sahabatnya.


Wisuda yang di mulai pukul 08.00 pagi, kini selesai pukul 11.00 siang dan berlanjut dengan sesi foto kenang kenangan.


"Pah, mah ayo kita foto!" ajak Cery.


"Ayuk sayang!" jawab mamah Emil.


Cery berfoto sangat manis dengan di apit kedua orang tuanya. Begitu juga dengan murid yang lain yang tengah berfoto dengan orang tua masing-masing.


"Guys, ayo foto bareng!" ajak Rama dengan senyum sumringah.


"Gas kuy!" balas Enjii.

__ADS_1


Geng Peyek pun memulai foto dengan urutan Rama, Meryana, Vina, Cery, Reisa dan Enjii di pinggir.


Mereka berpose dengan banyak gaya. Dirasa cukup, mereka pun menyudahi foto grupnya dan mulai berfoto lagi dengan pasangan masing-masing.


"Cer, Lo mau ikut gue nggak? Gue mau ngambil minum nih!" ajak Vina yang aslinya sudah muak melihat dua sepasang kekasih yang sedang berfoto mesra.


"Kagak! Gue mau duduk di bangku taman sono aja!" tolak Cery dan segera melangkah pergi.


Cery duduk sendiri sambil menikmati indahnya pemandangan.


Papah Jemi dan mamah Emil tengah memperhatikan Cery dari kejauhan.


"Coba aja dia kesini, mungkin Cery nggak sendirian!" ucap mamah Emil.


"Mah, papahnya itu sakit jadi mendadak dia harus gantiin meeting papahnya." jelas papah Jemi mencoba menenangkan istrinya agar tidak sedih.


Sementara Cery yang tengah duduk sendiri, tiba-tiba ada seorang adik kelas perempuan tengah menghampirinya.


"Permisi kak Cer, ini ada bingkisan untuk kakak dari seseorang!" ucap gadis itu.


"Siapa?" tanya Cery heran, namun ia tetap menerimanya.


"Aku ga tau namanya kak! Yang jelas tadi pria itu memakai seperti baju kantoran kak." jelasnya.


"Oh, makasih!" sahut Cery.


Setelah gadis itu pergi, Cery segera membuka paper bag pemberian dari orang misterius tersebut.


"Ck, perasaan gue juga nggak beli ginian! Ngapain di kasih paper bag, mana gede lagi!" guman Cery.


Setelah membaca jangan diem diem baek dong:( Ayo ramein novelku kakak 😍


Jadilah pembaca yang baik, hargai kerja keras penulis oke! Ngetik itu juga butuh tenaga kakak:)


Ayolah jangan cuman baca doang kak😭 Like, Vote, Komen and favoritnya jangan lupa ❤️ Kan itu juga gratis 😫 Hitung hitung saling berbagi, karena itu sangat berarti bagiku yang masih pelajar kak 😌


Terimakasih bagi yang sudah mau mampir 🙏


Ini novel pertamaku jadi harap maklum 😉


Tangan terluka kena belati


Kaki terluka karena salah pijak


Hey readersku yang baik hati

__ADS_1


Jangan lupa tinggalkan jejak


__ADS_2