
Happy Reading temen temen ๐
"Terimakasih pah, atas hadiahnya!" balas Reyhan sambil menatap Derin dengan senyuman devil.
Seketika Derin pun merinding.
Reyhan dengan segera, berjalan menuju meja yang lengkap dengan alat alat penyiksaan itu.
"Apakah ini boleh di gunakan pah?" tanya Reyhan berbasa-basi.
"Tentu boleh dong Rey!" jawab papah Jemi menyeringai.
Tangan Reyhan mulai bergerak mencari benda yang tepat untuk di gunakan sebagai alat penyiksaan.
"Ambil ini aja!" kata Reyhan sambil memegang pisau yang sudah berlumuran darah. "Ahh, tidak tidak! Ha, ini aja!" imbuh Reyhan berganti memegang pistol.
Ceklerk...
Reyhan sudah siap membidik Derin.
"Ch.. Jika langsung ku habisi, maka tidak ada permainan dong!" ujar Reyhan menunda-nunda.
"Br*****k! Tidak bapak, tidak menantu sama sama lelet!" teriak Derin yang sudah frustasi.
"Good boy!" balas Reyhan kembali tersenyum devil. "Omongan mu membuat ide ku seketika mengalir!" timpal Reyhan.
"Apa kau perlu bantuan Rey?" tanya papah Jemi yang sekarang tengah duduk manis di kursi di kursinya.
"Rey cuman minta tolong, buat ngrubah posisi bocah menjijikkan itu pah, apa boleh?" kata Reyhan tersenyum manis.
"Tentu, Mike!" panggil papah Jemi.
Seketika Mike pun paham, ia langsung membangunkan Derin yang sedang meringkuk.
Setelah di betulkan oleh Mike, kini kondisinya kembali duduk dengan berat.
Tangan serta kakinya masih terikat secara rapi.
"Nah, gini kan enak di pandang!" timpal Reyhan yang tersenyum girang.
Setelah puas memandangi Derin yang tengah kesakitan, Reyhan bergegas mengambil besi yang sudah di siapkan.
"He bocah! Ayo kita bermain!" ajak Reyhan yang seperti mengejek.
"Cih! Aku tak sudi!" balas Derin.
"Wow, penolakan yang menguntungkan! Padahal, aku ingin mengajak mu untuk duel loh! Tapi kau menolak, jadi ya aku sendiri saja yang bermain-main dengan mu!" seringai Reyhan pun muncul.
Sementara papah Jemi dan Mike hanya menyaksikan gerak gerik Reyhan.
"Mungkin papah sudah membalaskan dendam Cery selaku putrinya! Tapi, aku kan belum! Jadi bersiap siaplah, wahai bocah tengik!" kata Reyhan yang sudah mengeluarkan aura kematiannya.
"Cepatlah!" gertak Derin dengan lantang, seakan-akan pikirannya kalut dengan emosi.
Reyhan yang mendengar gertakan Derin, secara spontan langsung memukulkan besi itu ke arah Derin, tepat di bagian lehernya.
Uhukkk...
Derin batuk dan mengeluarkan darah.
"Ch.. Baru juga segitu!" gerutu Reyhan. "Kau punya penyakit ya?" tanya Reyhan kesal.
"Br*****k! Ini gara-gara pukulan itu bodoh!" balas Derin sedikit pelan, karena tenaganya mulai hilang.
"Shit! Kau berani mengumpat ku nak!" balas Reyhan tersenyum.
"Aku bukan anak mu!" tungkas Derin.
__ADS_1
"Jelas! Kau hanya anak dari orang gila yang tak tau di untung!" sahut papah Jemi.
"Diam kau, tua bangka bau tanah!" geram Derin.
Tlang...
Reyhan kembali memukul leher Derin, namun yang sebelahnya.
"Jangan pernah mengatai keluarga ku!" tegas Reyhan yang posisinya sedikit menjauh dari Derin.
Karena ia tidak mau terkena setetes darah pun dari Derin.
"Dasar menantu bodoh! Kau hanya menguras tenaga mu saja! Lebih baik cepat habisi saja aku!" teriak Derin tak kuasa menahan sakitnya luka-luka itu.
"Cih, kau mau membodohi ku anak tampan?" tanya Reyhan dengan sinis.
"Sialan!" batin Derin.
"Kau juga mengumpat ku anak tampan?" imbuh Reyhan tersenyum devil. "Bukannya meminta maaf, malah semakin bikin ulah! Kau sungguh membuat ku menjadi semangat!" tegas Reyhan.
Tanpa menunggu aba aba, Reyhan langsung menggerakkan besi itu ke arah Derin.
Ia terus membabi buta Derin dan melampiaskan semua emosinya yang tertahan.
Sedangkan Derin sudah menjerit kesakitan sambil sesekali memberontak.
Ia juga berharap bahwa malaikat agar segera datang mencabut nyawanya langsung.
"Eh, anak muda! Kau jangan mati dulu dong!" kekeh Reyhan saat berhenti menyerang Derin.
Reyhan nampak puas menatap hasil karyanya, sambil mengatur nafas yang tidak beraturan akibat olahraga itu.
Drtttt... Drtttt... Drtttt...
Ponsel Reyhan pun berdering.
"Halo!" ucap Reyhan nampak tegang.
"Halo, kakak! Cepat datanglah kesini!" perintah orang di seberang.
"Cery baik-baik saja kan?" tanya Reyhan was-was.
"Iya, cepatlah kemari! Lihat bidadari mu sudah sadar ini!" balas orang itu yang tak lain adalah Enjii.
"Baiklah!" respon Reyhan yang nampak senang.
Panggilan pun di matikan, dan seketika ekspresi Reyhan pun berubah.
"Apakah istri mu sudah di neraka?" tanya Derin dengan sinis, menahan rasa sakitnya.
Tlang...
Reyhan kembali memukul Derin.
"Asal kau tahu, istri ku masih hidup! Dan, yang akan ke neraka adalah kau! Remaja yang malang!" balas Reyhan sembari kembali ke meja untuk meletakkan besi itu.
Tangan yang masih bersih itu, beralih mengambil sebuah pistol.
"Ch.. Sepertinya kurang indah lukisannya!" celetuk Reyhan. "Oh iya, Mike!" panggil Reyhan.
"Iya tuan, ada yang bisa saya bantu?" tanya Mike.
"Apa kau ingin menyempurnakan karya ku itu?" tanya Reyhan.
"Apakah boleh tuan?" tanya Mike balik.
"Karena suasana hati ku baik, jadi ya silahkan! Tapi, jangan sampai dia mati dulu!" pinta Reyhan.
__ADS_1
"Baik tuan!" jawab Mike.
Dengan sigap, Mike mengambil pisau dan langsung menyayatnya sebanyak lima kali.
Tak berhenti di situ, Mike langsung mengambil cambuk dan mencambuk Derin sebanyak lima kali juga.
"Sudah tuan!" ujar Mike setelah puas menyiksa Derin.
"Kau hebat Mike!" puji Reyhan dengan senyum mengembang.
"Ah, tuan bisa saja!" kekeh Mike.
"Oh iya, papah! Apakah papah juga mau mengucapkan salam perpisahan untuknya?" tanya Reyhan.
"Apakah boleh Rey?" tanya papah Jemi.
"Tentu boleh dong pah!" balas Reyhan.
Tanpa menunggu lama, papah Jemi langsung mengeluarkan pistol di balik bajunya.
"Wah, kau sudah menyiapkannya pah!" ujar Reyhan menatap takjub.
"Tentu dong Rey!" sahut papah Jemi tersenyum.
"Oke oke, lanjutkan pah!" balas Reyhan.
Dorrr...
Papah Jemi menembak kaki Derin bagian kanan.
Dorrr...
Timah panas itu kembali meluncur ke arah kaki kiri Derin.
Erangan bertubi-tubi keluar dari mulut Derin.
"Sudah! Ku serahkan semuanya pada mu Rey!" ujar papah Jemi setelah meniup ujung pistolnya.
"Baik pak!" jawab Reyhan. "Hey anak muda!" panggil Rey kepada Derin yang tak kuasa menahan sakit. "Aku akan menyembuhkan mu dengan kasih sayang, jadi tenang saja oke!" imbuhnya.
"Ap.. Apa yang akan kau lakukan?" tanya Derin terbata-bata, karena sakit di kakinya.
"Kau akan segera tahu!" balas Reyhan kembali tersenyum devil.
Dorrr...
Reyhan menembak Derin tepat pada jantungnya.
Dan seketika pandangan Derin mulai gelap dan tak sadarkan diri.
"King! Target sudah tewas!" lapor Mike setelah memeriksa keadaan Derin.
"Oke, bereskan dan kubur secara layak!" balas papah Jemi. "Kerja bagus Rey!" puji papah Jemi.
"Hm, terimakasih untuk segalanya pah!" ujar Reyhan.
"Oh oke, ayo kita kembali!" ajak papah Jemi.
Jangan lupa untuk selalu dukung aku ya ๐
Jika kalian suka maka tinggalkan jejak kalian disini๐
Like, Vote, Komen and favorit dari kalian adalah semangat ku โจ
Terimakasih bagi yang sudah mau mampir dan berbagi di cerita ku ini๐ค Lovyu โฅ๏ธ
Jangan lupa baca juga cerita kedua ku "Ada Apa dengan Tentara v/s Hakim" dan cerita ketiga ku "Cinta Remaja SMA"
__ADS_1
๐