
Happy Reading temen temen 💙
Aw... Aaa... Argh... Awhh...
Jeritan seluruh tamu undangan menggema di acara pernikahan Reyhan dengan Cery.
Dengan langkah kesitnya, Reyhan berlari menghampiri Cery yang kini sudah resmi menjadi istrinya.
Mata yang selalu memancarkan kesenangan, tiba-tiba berubah menjadi merah padam.
"Ceryyyy!!" teriak Reyhan histeris dan segera memeluk istrinya.
Seluruh keluarga berkumpul di depan panggung pelaminan, tatkala mendengar teriakan Reyhan.
Sementara para tamu undangan sudah berhamburan keluar lokasi.
"Cery bangun!" ucap Reyhan sambil menepuk pipi Cery dengan pelan. "Cery bangun sayang!" ujar Reyhan yang sudah sangat khawatir. "Sayang bangun lah!" kata Reyhan lagi. "Ceryyyy!!" teriak Reyhan sambil mengeluarkan air matanya.
Tak lama kemudian, seluruh keluarga maupun rekan baik Reyhan atau Cery datang menghampiri.
"Bos, istri anda masih bernapas!" ujar Dony setelah mengecek keadaan Cery.
Dengan segera Reyhan langsung membopong tubuh Cery, masuk ke dalam mobil di ikuti Dony dan para sahabat Cery.
Ya terjadi tiga kali penembakan dan tembakan pertama mengarah ke lampu dekorasi.
Sementara tembakan ke dua baru melesat ke arah Cery, tepatnya di bagian perut.
Dan untuk tembakan terakhir, di layangkan ke arah langit.
***
Seorang Jemi Sanjaya, tatkala melihat putri semata wayangnya terluka parah tidak tinggal diam.
"Bre****k! Kan ku bunuh kau!" teriak papah Jemi menggelar.
Tanpa basa-basi, ia segera mengeluarkan ponselnya dan menghubungi seseorang.
"Halo king, ada yang bisa kami bantu?" jawab seseorang di seberang sana.
"Bodoh! Bagaimana bisa kau mengirim anak buah yang tidak dapat menjaga keamanan ini?" gertak papah Jemi.
Seluruh penghuni yang ada di acara itu pun bergendik ngeri, saat melihat aura sebenarnya seorang Jemi Sanjaya.
"Maaf king, apakah terjadi sesuatu di acara pernikahan nona?" tanya seseorang itu dengan nada takut.
"Jangan banyak tanya! Siapkan 50 anak buah, saya akan ke markas sekarang!" kata papah Jemi dengan tegas.
"Baik king!" jawab orang itu dengan patuh.
Papah Jemi pun langsung mematikan panggilan tanpa menyahuti anak buahnya.
"Kalian ke rumah sakit sekarang! Temani putra putri kita." ucap papah Jemi tegas tak ingin ada bantahan.
Setelah mengatakan itu, ia segera keluar menuju mobil yang telah terparkir di sana.
Sedangkan sang istri hanya menatap kepergiannya dengan rasa khawatir dan terus mengeluarkan air mata.
__ADS_1
"Lebih baik kita ke rumah sakit sekarang!" titah papih Arengga.
"Iya, mari Mil kita ke rumah sakit bersama!" ajak mamih Santhi.
"Baiklah." kata mamah Emil yang sudah tak kuasa menahan kepedihannya.
"Yang tenang mbak!" ujar Erin, ibunda dari Enjii.
***
Di lain tempat, nampak Reyhan tengah membopong tubuh Cery masuk ke dalam rumah sakit.
"Dokter! Suster!" teriaknya menggelegar. "Dokter! Suster! Cepatlah kemari! Jika tidak, kan ku ledakkan rumah sakit ini!" teriak Reyhan semakin menjadi-jadi.
"Bos, tenanglah!" ujar Dony memberanikan diri.
"Dokter! Suster! Apa kalian tuli ha!" teriak Reyhan semakin kencang.
Tak lama kemudian, dokter beserta para suster berkumpul dan langsung mengambil alih Cery.
Cery di bawa oleh para tenaga medis masuk ke dalam ruang UGD. Sedangkan yang lain terpaksa menunggu di luar.
Seluruh sahabat Cery yang ikut pun, tak kuasa menahan tangisnya.
Termasuk Enjii, adik ponakan yang sudah Cery anggap seperti adiknya sendiri.
"Bre****k! Siapa yang sudah membuat kakak ku menderita, kan ku balas dengan setimpalnya!" batin Enjii seraya mengepalkan tangannya.
Selang beberapa menit, orang tua Reyhan dan juga mamah Cery serta kerabat datang menghampiri.
"Bag... Bagaimana kondisi Cery?" tanya mamah Emil.
"Nona...Nona bos, masih di tangani di dalam nyonya!" jawab Dony menunduk.
Brugh...
Mamah Emil pun pingsan.
"Mil, bangun Mil!" ujar mamih Santhi khawatir.
"Cepat panggilkan dokter!" titah Reyhan.
Dengan sigap, Enjii langsung berlari mencari dokter.Tak butuh waktu lama, dokter Radit pun datang.
Papih Arengga beserta yang lain turut membantu mengangkat tubuh mamah Emil ke atas brankar.
***
Kini tinggal lah Reyhan, Enjii dan Dony yang tengah menunggu Cery di depan ruang UGD.
"Argh! Lama amat sih!" teriak Reyhan frustasi.
"Sabar bos, tenanglah!" ujar Dony berusaha menenangkan bosnya.
Sementara Enjii menatap Reyhan dengan prihatin.
Pasalnya keadaan Reyhan sudah seperti orang gila saja.
__ADS_1
Rambut yang acak-acakan, air mata yang terus mengalir. Belum lagi kondisi baju yang sudah berantakan dan kusut.
"Kayak ada yang kurang?" guman Enjii pelan, namun masih bisa di dengar oleh Dony.
"Ada apa tuan?" tanya Dony.
"Panggil aku Enjii saja!" ucap Enjii yang merasa aneh, saat di panggil tuan.
"Baiklah, ada apa Nji?" tanya Dony mengulang.
"Kayaknya papah Jemi nggak ada deh!" kata Enjii khawatir.
"Oh iya, bener kamu!" celetuk Dony. "Bentar, biar saya cari tau dulu!" imbuhnya.
Dony pun merogoh ponselnya dan mencari kontak seseorang.
"Halo, ada tugas buat kamu!" kata Dony tegas.
"Baik, apa bos tugasnya?" tanya seseorang itu, yang di duga adalah anak buah dari Reyhan dan Dony.
"Cepat cari tau, keberadaan papah mertuanya master!" perintah Dony.
Ya dalam hal ini Reyhan di juluki sebagai master.
"Baik bos!" jawab anak buah patuh.
Setelah berbicara dengan salah satu anak buahnya, Dony langsung memasukkan ponselnya kembali.
***
Satu jam sudah Reyhan, Dony dan Enjii menunggu. Namun dokter belum juga keluar.
Reyhan pun berdiri, berjalan ke arah pintu UGD dan menggebraknya dengan berkala.
"Cepatlah dok!" teriak Reyhan semakin frustasi.
Dony dan Enjii membelalakkan matanya melihat tingkah Reyhan.
Mereka langsung berdiri, menarik tangan Reyhan menjauh dari pintu.
Setelah membaca jangan lupa untuk tinggalkan jejak ya🤗
Satu jejak dari kalian adalah semangat ku😍
Terimakasih sudah mau mampir dan berbagi di lapak ku🙏
*Tetep semangat baca ya♥️ Jangan lupa mampir di karyaku satunya :
Ada Apa dengan Tentara v/s Hakim
Cinta Remaja SMA*
Tetep jaga kesehatan ya para sahabat ✨
__ADS_1
😘