
Happy Reading temen temen 💙
Cery menaruh baskom yang berisikan air hangat.
"Pak Joko dan bibi bisa membantu tangan kanan beres beres di ruangan tadi." kata Cery setelah mendudukkan dirinya di sebelah Reyhan.
"Baik nona." jawab keduanya kompak lalu pergi untuk membantu Dony.
Cery mencelupkan kain halusnya ke dalam baskom lalu memerasnya.
Setelah di rasa airnya berkurang, ia pun mulai membersihkan darah di tangan kekar Reyhan yang sudah mengering.
"Maaf, apakah terlalu kasar?" tanya Cery khawatir saat melihat Reyhan nampak memejamkan matanya.
"Tak apa, lanjutkan!" balas Reyhan sambil tersenyum kecil.
Cery mengelap tangan Reyhan perlahan demi perlahan dengan penuh kesabaran.
Setelah selesai membersihkan sisa darah, Cery segera membuka kotak obat tersebut.Ia mengeluarkan antiseptik, tisu serta perban.
"Tahan sakitnya ya pak!" tutur sebelum mulai mengobati.
"Jangan memanggil saya pak, saya masih muda!" gerutu Reyhan kesal, namun bagi Cery itu sangat menggemaskan.
"Baiklah." balas Cery tersenyum sembari mencubit pipi Reyhan dengan gemas.
Reyhan yang menyadari hal itu langsung tersenyum lebar dan lagi, menurut Cery itu sangatlah imut.
"Udah mas Rey diem dulu ya, biar aku obatin bentar!" sahut Cery yang tidak mau sampai ke bawa suasana.
Reyhan hanya manggut-manggut mengijinkan Cery mengobati lukanya.
Dengan telaten Cery menuangkan antiseptik tersebut di tangan dan tisu , kemudian membungkusnya dengan perban.
Cery melakukannya sangat pelan agar Reyhan tidak merasakan sakit.
Sungguh Cery menyesal telah mengatakan hal itu kemarin. Tanpa Cery sadari ia begitu khawatir dan kagum dengan wajah tampan kekasihnya tersebut.
"Nah, sudah selesai!" ucap Cery lalu membereskan kotak obat.
"Terimakasih." ujar Reyhan sambil tersenyum.
Cery menghentikan aktivitasnya dan menatap Reyhan dengan begitu lekat.
"Maafkan aku, lupakan saja perkataan ku kemarin! Sungguh aku tidak serius mengatakan hal itu!" ucap Cery merasa sangat bersalah.
Grebbh...
Reyhan kembali memeluk tubuh Cery, dan dengan senang hati Cery pun juga membalas pelukan itu.
"Sudahlah, intinya jangan pernah tinggalkan aku lagi!" kata Reyhan semakin mempererat pelukannya.
"Iya." jawab Cery sambil mengusap punggung Reyhan pelan.
Ketiga orang yang tak lain Dony, bi Sumi, serta pak Joko pun mengintip di balik pintu.
"Tuan, apakah itu yang anda maksud pawang?" tanya pak Joko.
__ADS_1
"Hust, jangan asal bicara pak!" ketus bi Sumi.
"Iya itu pawang si bos, sekaligus wanita pujaan hatinya yang sangat ia sayangi!" jawab Dony tersenyum.
"Benarkah? Jadi itu calon nyonya muda kita?" tanya bi Sumi girang.
"Doakan saja." kata Dony dan kembali merapikan berkas berkasnya.
Sementara Cery dengan sangat terpaksa melepas pelukannya.
"Kenapa di lepas?" tanya Reyhan yang terlihat murung kembali.
"Nanti saja kita berpelukan lagi, sekarang waktunya makan!" jelas Cery.
"Tapi aku tidak mau!" tegas Reyhan.
"Diamlah! Bahkan semalam kau tidak makan, bagaimana dengan kondisi mu jika terus terusan begini!" ujar Cery kesal.
"Baiklah, tapi suapin!" jawab Reyhan.
"Mas makan sendiri aja ya!" tolak Cery halus.
"Tidak mau!" sahut Reyhan cepat.
Cery menghela napas kasarnya, ia pun segera mengambil sarapan untuk Reyhan dan menyuapinya dengan telaten.
"Bagaimana dia mau makan? Orang tangannya saja di balut perban!" batin Cery meneriaki kebodohannya saat tadi menyuruh Reyhan makan sendiri.
Satu suap...
Tiga suap...
Satu piring pun ludes...
Cery meletakkan kembali piringnya dan berganti mengambil air putih untuk Reyhan.
"Apa bap-eh mas tidak mandi dulu? Biar lebih segar gitu!" tanya Cery.
"Tidak! Nanti kalau aku mandi, kamu kabur!" balas Reyhan.
"Tidak akan, percayalah! Gih sono mandi dulu!" ujar Cery.
"Antarkan aku ke kamar!" pinta Reyhan memelas.
"Baiklah." kata Cery menurut saja.
Reyhan segera bangkit lalu menarik tangan Cery agar mengikutinya.
Sesampainya di kamar, Reyhan langsung masuk ke dalam kamar mandi dan meninggalkan Cery di sofa kamar.
"Mas Rey, perbannya jangan sampai basah!" teriak Cery.
"Baiklah." jawab Reyhan sedikit berteriak.
Reyhan segera mengisi bathubnya dengan air hangat, tak lupa ia juga menambahkan sabun yang sangat harum.
Reyhan langsung melakukan ritualnya mandi selama kurang lebih 30 menit. Ia menatap sekelilingnya.
__ADS_1
"Astaga, piyama ku ketinggalan!" guman Reyhan.
Tokkk... Tokkk... Tokkk...
"Mas Rey, kau tidak apa apa?" tanya Cery berteriak pasalnya sudah 30 menit Reyhan tidak kunjung muncul.
"Cer, kau bisa tolong aku?" tanya Reyhan ragu.
"Minta tolong apa?" tanya Cery cepat.
"Tolong ambilkan piyama ku di situ!" ujar Reyhan.
"Tunggu sebentar, jangan keluar dulu!" sahut Cery mulai mencari piyama milik Reyhan.
***
"Mas Rey, ini piyama mu!" ujar Cery sambil mengetuk pintu.
Ceklek...
Pintu pun terbuka.
Reyhan segera mengambil piyama yang di sodorkan tanpa memperlihatkan tubuhnya.
Reyhan keluar dari kamar mandi dan langsung masuk ke ruang ganti, sementara Cery duduk di sofa sembari memainkan ponselnya.
"Mas Rey, aku pulang dulu ya!" pamit Cery saat melihat Reyhan tengah berjalan ke arahnya.
"Tidak bisa!" jawab Reyhan cepat sambil memegang tangan Cery erat.
"Ada apa lagi sih?" tanya Cery malas.
"Keringkan rambut ku dulu!" ujar Reyhan nampak cemberut.
"Baiklah." jawab Cery pasrah dengan permintaan Reyhan. "Ch.. Serasa di perlakukan menjadi istri, suruh sana sini!" batin Cery kesal.
Setelah membaca jangan diem diem baek dong:( Ayo ramein novelku kakak 😍
Jadilah pembaca yang baik, hargai kerja keras penulis oke! Ngetik itu juga butuh tenaga kakak:)
Ayolah jangan cuman baca doang 😭 Like, Vote, Komen and favoritnya jangan lupa ❤️ Kan itu juga gratis 😫 Hitung hitung saling berbagi, karena itu sangat berarti bagiku yang masih pelajar kak 😌
Terimakasih bagi yang sudah mau mampir 🙏
Terimakasih juga bagi yang sudah mau berbagi:) Lovyu✨
Ini novel pertamaku jadi harap maklum 😉
Masak air biar mateng
Airnya mateng di siram ke rambutan
Hay readersku yang cantik dan ganteng
Jangan lupa untuk jaga kesehatan
😘
__ADS_1