
❤️ **ini hanyalah fiktif belaka
Jangan emosi ya baca part ini......
yuk tinggalkan jejak**.......
PLAKKK........
Sebuah tamparan keras mendarat di pipi Dita.Adit seketika membulatkan mata melihat kejadian di depannya.Tatapannya mendadak terasa nyeri melihat bekas tamparan yang terlihat sangat jelas di pipi kekasihnya itu.Tiara terlihat begitu nyalang, emosinya kian meledak ledak. Nafasnya terdengar terengah engah tidak beraturan.Wajahnya nampak menahan amarah yang begitu besar,tangannya masih mengepal dengan luapan emosi yang seakan tak tertahan .Sedangkan Dita wajahnya terlihat kesakitan ,pipinya masih memanas akibat tamparan keras dari Tiara.
"Oh....ternyata ini alasan kamu selama ini menjauhiku"suara Tiara mulai bergetar.
"Hanya karna gadis ABG ini kau mengabaikanku,mengabaikan rencana pernikahan kita,apa karna gadis murahan ini kau tega mencampakkan rencana pernikahan kita",akhir kata Tiara menarik jilbab Dita.
"Aww..lepaskan "Dita berusaha melepaskan tangan Tiara.
Melihat Dita kesakitan Adit menarik tangan Tiara.
"Lepaskan Tiara,kau sudah membuat ia kesakitan,gila kamu.."Wajahnya terlihat memanas melihat Tiara menyakiti Dita.
"Gadis seperti dia pantas mendapatkannya" Tiara menunjuk Dita masih dengan mata nyalang.
"Jaga bicaramu,kamu bukan tiara yang aku kenal"
"Sebesar itukah cintamu pada gadis murahan ini hah"amarah Tiara kian membuncak mendengar kenyataan calon suaminya lebih membela Dita.
"Tidak ada yang berhak menyakiti gadis kecilku,apalagi menyentuhnya"
"Gadis kecil pembuat onar seperti dia tak pantas untuk kamu"
Plakkk..sebuah tamparan mendarat di pipi mulus Tiara.Dita tak menduga Adit akan melakukannya,selama ini mengenal Adit yang sabar dan tidak sekalipun ia berlaku kasar pada perempuan,meskipun seringkali mereka beradu mulut,bahkan beberapa kali Adit sempat cemburu melihat kedekatannya dengan Adrian,tetapi ia tetap menjadi Adit yang sabar dan lembut.
"Wow.....hebat sekali gadis murahan ini,bisa mengubahmu menjadi sosok yang menyeramkan" tersenyum sinis pada Dita.
"Berhenti memanggilnya dengan sebutan murahan,atau aku menamparmu sekali lagi"Adit makin tersulut emosi mendengar Tiara berungkali mengatai Dita.
"Silahkan..."Tiara menawarkan pipinya agar Adit segera menamparnya.ia terlihat sangat geram melihat tingkah calon tunangannya yang terkesan kasar dan tidak ada etika sama sekali.Ia merasa menyesal termyata ia telah salah menilai Tiara dan mengambil lanhkah yang bodoh dengan memutuskan bertunangan dengannya.
"Kamu benar benar gila"Adit berusaha menahan emosi melihat tingkah Tiara.
"Asal kamu tahu,rasa sakit di pipi tidak lebih besar dari rasa sakit yang aku rasakan,dihianati oleh kalian berdua,benar benar pasangan yang memuakkan.".Tiara menatap mereka gantian.
"Harusnya kamu tahu,kalau hubungan kita memang tidak bisa dipertahankan.Dan dari awal aku sudah jujur padamu ,bahwa aku tidak bisa melanjutkan hubungan ini.Tapi kau yang selalu memaksaku agar aku bertahan denganmu,hingga kamu tega memfitnah Dita saat itu."Adit mulai menunjukkan emosinya.Melihat gadis yang disayangi tersakiti membuat hatinya membuncak amarah.
__ADS_1
"Kau yang memberiku harapan,kau yang membuatku merasakan cinta,dan kau yang membuatku merasa bahwa kau juga mencintaiku,dan dia hanyalah penghancur hubungan kita."
"Bukankah waktu itu aku telah mengatakannya padamu,hatiku telah berpaut dengan seseorang,dan kau terus saja mendesakku dengan membawa orangtuamu,dan asal kamu tahu,Dita bukanlah penghancur hubungan kita,justru kamu yang telah datang di hubungan kami dan kau yang merusaknya,bodohnya aku terpedaya oleh perempuan licik sepertimu "
Dita terkejut mendengar perkataan Adit pada tunangannya.Ternyata yang selama ini ia lihat yang selama ini ia tahu ,tidaklah semuanya benar,Adit tidaklah sepenuhnya mencintai Tiara,ia hanya merasa kasihan pada gadis itu yang memohon cinta padanya.Sebenarnya merasa tersanjung om Adit begitu membelanya,tapi tidak sampai hati juga melihat Tiara yang sudah seperti orang kesetanan saat ini.Tiara yang ia kenal meakipun tidak terlalu kenal juga sih,malam ini benar benar berupah menjadi mak lampir yang siap memporak porandakan resto molik Adit.
"Adit....apakah rasa cintaku padamu tak ada artinya bagimu?hanya karna gadis murahan ini kau tega membatalkan rencana pernikahan ini"Tiara mendekati Adit, mencoba menggenggam tangannya berharap lelaki di depannya itu luluh dengan perkataannya"
"Ra...kamu berhak bahagia,ada banyak lelaki yang akan mencintaimu lebih,"Adit menyingkir
kan tangan Tiara.
"Aku tulus mencintaimu,...Adit tidak yang lain,aku tidak menginginkan hal ini terjadi,kita bisa mulai dari awal lagi,aku tahu dia hanyalah pelampiasanmu kan."Tiara menatap mata Adit mencoba meminta jawaban.
"Maafkan aku Ra,dan asal kamu tahu Dita bukan pelampiasanku,tapi dia memang cinta sejatiku"
Adit menjatuhkan tubuhnya lemas di kursi tatapannya kosong menatap Dita yang masih shock dengan kejdian tadi.Ternyata dia benar benar lelaki yang payah tidak bisa melindungi gadis kecilnya itu dari amukan Tiara.
"Sebaik apa sih gadis ABG ini hingga kau mengabaikanku,apa dia sudah memberikan segalanya yang dia punya buat kamu heh"Tiara menatap nanar Dita.
"Cukup tante"Dita menggebrak meja.
"Aku pikir aku adalah yang paling bersalah disini,dari awal kita bertemu aku pikir kamu adalah wanita yang tepat untuk menjadi pendamping om adit.Dan ternyata aku salah besar,tante tidak sebaik yang aku kira dan bisa aku pastikan, aku tidak akan membiarkan omAditku ini akan bersanding dengan wanita sepertimu."ujar Dita penuh penekanan di akhirnya.
"Wow....."Tiara bertepuk tangan.
"Jangan pikir aku takut dengan tante"
"Dan kau pikir aku takut dengan gertakan bocah sepertimu?" Tiara tersenyum mengejek.
"Lihat ini !!!"menunjukkan cincin pertunangan yang tersemat di jari manisnya.
"Kita lihat siapa yang akan menang,dan kemana akan Adit kembali,dan asal kamu tahu,Adit itu hanya bersenang-senang denganmu gadis kecil."Tiara menyeriangai puas.
"Ok we will see"
"Jangan sampai kamu menangis jika dia akan kembali padaku"
"Aku kira bukan aku yang menangis,tapi lebih tepatnya kamu"Dita tak kalah sengit.
"Sial..beraninya kamu" Tiara sudah melambungkan tangannya ke atas hendak menampar kembali Dita.
"Tiara hentikan,,,aku kira hubungan kita berakhir sampai disini,kita batal menikah"mereka sama sama terhenyak mendengar ucapan Adit.
__ADS_1
"Its ok...kita lihat saja boy ,permainan ini baru kita mulai,dan aku pastikan kamu akan menyesal telah memperlakukanku seperti ini"dengan tersenyum sinis Tiara meninggalkan mereka .
Adit langsung mendekati Dita yang sudah terlihat kacau.ia hampir tak bisa bernapas saat melihat Tara yang hendak menamparnya lagi
"Kamu baik baik saja"menyodorkan minuman kepada Dita.
Dita segera menghabiskan minumnya,perasaannya sudah sedikit lega,ingin menangis tetapi rasanya masih malu jika ia menangis di hadapan Adit.
"Aku ingin segera pulang om"ucap Dita lemas.
"Ok ok kita akan segera pulang..."Adit segera memapah Dita keluar.
"Om,Dita bisa jalan sendiri"ditaenepis tangan Adit,.malam ini pikirannya begitu kacau.
"Dit.....are okey?"Adit memastikan.
"Om aku mohon ,aku bisa sendiri"Dita mempercepat langkahnya menuju mobil melihat Adit yang masih tidak enak atas kejadian tadi.
Adit kemudian berbicara kepada pegawai restonya,mereka terlihat serius saat berbicara,setelah selesai Adit segera menyusul Dita yang sudah menunggunya di mobil.
Selama perjalanan pulang suasana dalam mobil begitu hening,tak ada satu percakapanpun yang tercipta disana.Dita masih memikirkan kejadian barusan,sehina itukah dirinya ? Hingga tiara memperlakukannya seperti itu,inikah resiko jika berani mengambil keputusan menjalin kasih dengan orang dewasa,begitu pelik.Ini adalah pertama kalinya Dita merasakan yamg namanya cinta,bahkan ini adalah pertama kalinya ia menjalin hubungan yang seriu,tapi kenapa malah serumit ini,meskipun ia bisa mengambil kesimpulan,bahwa Adit tulus mencintainya,tapi....ini benar benar tidak mudah.Rasanya Dita ingin segera berendam dalam kamar mandi agar pikirannya menjadi dingin.Ia pun baru mengetahui fakta,bahwa selama ini Tiara lah yang selalu mengejar ngejar om Adit,dan Om Adit aku baru melihat sisi galaknya malam ini,dia bisa terlihat menakutkan jika sedang marah.Meskipun ia seringkali membuatnya marah,tapi malam ini dia sangat menakutkan.
"Sudah sampai..."suara Adit membuyarkan lamunan Dita.
"Oh...terima kasih om"Dita langsung membuka pintu mobil,Adit menahannya.
"Dit,om antar sampai dalam ya,om akan menjelaskan semuanya"Adit memohon.
"Maaf om,kali ini Dita ingin sendiri"menepis tangan Adit dan membuka pintu mobil.
Adit merasa bersalah melihat Dita seperti ini,tapi apa boleh buat itu sudah menjadi pilihan Dita,membiarkannya sementara sendiri mungkin bisa membuatnya sedikit tenang.
Dita memasuki rumahnya masih dalam keadaan kacau,kebetulan Pak Hendarto berada di ruang tengah yang tempatnya tepat disamping tangga.Melihat keadaann anaknya yang kacau bahkan tidak mengetahui kebradaannya. pak Hendarto menegur putrinya.
"Dita...mana Adit?kamu pulang sendiri?"tanya pak Hendarto yang berhasil membuat Dita tertahan langkahnya di tangga.
"eh papa,maaf Dita yidak tahu kalau ada papa disitu,Om Adit udah pulang pa,tadi dia buru buru,jadi tidak bisa mampir" bohong Dita.
"Oh..ya sudah,tapi apa yang terjadi denganmu?"
"Aku gak papa, pa,,cuma kecapekan aja,aku hanya butuh istirahat saja"
"Baiklah,,,istirahatlah yang cukup,sebaiknya kamu besok off dulu dari kantor agar kamu tidak jatuh sakit"
__ADS_1
"Ok pa terima kasih,aku ke kamar dulu ya"
Dita langsung menuju kamar tercintanya.yang ia butuhkan hanya kasur yang empuk dan bantal sebagai tempatnya temannya.