
Dita berjalan beriringan, tangannya tak lepas menggamit lengan suaminya. Suasana hatinya sedang bebunga-bunga. Seakan tak mau lepas Dita masih saja bersikap manja pada Adit.
Banyak pasang mata yang tersenyum, yak sedikit pula mencibirnya. Dita hanya cuek, toh Adit sudah resmi menjadi miliknya.
"Pagi, Dita ... Pagi Pak Adit. " Nadia tersenyum melihat tingkah bosnya.
"Pagi mbak Nadia ... " Dita membalas Nadia dengan sumringah, sedangkan Adit merasa tak enak karena Dita tak melepaskan lengannya.
"Nadia, klien baru Dita udah datang ?" tanya Adit mengalihkan perhatian Nadia.
"Sudah pak, tapi ... " Nadia seakan ragu meneruskan ucapannya.
"Tapi apa?" Adit mengangkat sebelah alisnya heran.
"Tidak apa-apa Pak, beliau sudang menunggu di ruang tunggu."
"Oh baiklah, kami akan segera kesana." Adit melangkahkan kakinya bertemu dengan klien Dita.
Betapa kagetnya Adit melihat seseorang yang telah menunggu mereka, wanita yang selama ini telah mengacaukan rumah tangga mereka. Wanita yang telah berbuat nekat untuk menjebak Adit, wantia gila yang pernah hampir menjadi istri Adit, dia adalah Tiara.
"Hai, sepertinya kalian sangat berbahagia, tapi mohon maaf sekali hari ini kebahagiaan kalian akan hilang sepertinya." Nadia tersenyum sinis tatapan matamya seakan mengisyaratkan rencana licik.
Dita melepaskan tangannya, wajahnya tampak emosi. Kenapa ada Tiara disini, bukankah kliennya seharusnya bukan dia.
"Kalian pasti bingung ya? Kenapa aku ada disini?" Tiara tertawa terbahak-bahak seolah mengerti tanda tanya dalam pikiran Dita.
"Cepat katakan apa maumu? Kami tidak punya waktu untuk meladenimu," ketus Adit.
Dita mengeratkan kembali tangannya menggamit lengan Adit, ia paham situasi ini sangatlah buruk. Tiba-tiba saja hatinya bergemuruh merasakan sesuatu hal akan terjadi.
"Sabar Adit, aku akan pergi tetapi setelah melihat kalian bertengkar dan berpisah," ucap Tiara dengan tatapan licik. Sudut bibirnya tertarik keatas mengisyaratkan kelicikannya.
"Ish ... gak usah genit, pegang-pegang mas Adit." Dita melotot tidak suka. Baginya Tiara sudah seperti wanita gila yang nekat berbuat apa saja hanya karena cinta.
Adit menahan tangan Dita yang sudah terbawa emosi, ia mengertibke arah mana Tiara akan bermain. Adit tampak lebih tenang dan santai menghadapinya.
"Hahhaa, belum tentu setelah ini kamu bisa tersenyum Dita. Karena bisa kupastikan Adit akan ilfeel dan pergi dari gadis ABG sepertimu." Tiara menatap tajam Dita.
Dita terlohok mendengar ucapan Tiara, rasa-rasanya ia tidak mengerti apa maksud dari ucapan Tiara. Yang pasti ia merasakan rencana jahat dibaliknya.
__ADS_1
Tiara berjalan mendekati Adit, tatapannya seperti binatang buas yang siap menerkam mangsanya. Dita memasang ancang-ancang bila Tiara nekat berbuat sesuatu. Sorot matanya memancarkan kelicikan.
"Adit ... "
"Cepat katakan apa maumu, tak perly kamu basa-basi" Adit seketika emosi melihat Tiara yang tersenyum licik.
"Hei, sepertinya kamu memang sudah tidak sabar sayang."
Dita menarik Adit dari jangkauan Tiara, rasanya Dita tak akan rela wanita gila itu menyentuh suaminya.
Tiara melemparkan beberapa lembar foto kearah Adit. Dita dan Adit bersamaan mengambil lembaran foto yang berserakan. Betapa kagetnya Dita melihat fotonya bersama Reynan kala di Saung. Tubuh Dita terasa bergetar, bibirnya bungkam tak bersuara, ia tak tahu apa yang akan Adit lakukan setelah melihat semuanya.
Adit memandangi satu persatu-satu foto Dita dan Reynan, ia hanya tersenyum simpul tak berkata apapun. Dita merasa malu dan hina saat Adit mengetahui semuanya, rasa-rasanya ia ingin oergi sejauh mungkin dari hadapan Adit.
Dita beranjak dan berlari keluar, hatinya malu sungguh tak terkira. Rahasia yang ia jaga akhirnya terbongkar di depan Adit. Tiara sungguh wanita yang licik.
Adit beralih menatap Tiara yang tersenyum penuh kemenangan. Berjalan mendekati Tiara yang tersenyum puas.
"Bagaimana?munafik bukan istrimu itu?"
Plakk .....
Sebuah tamparan keras menghujam pipi Tiara, shock dan kaget mendapat perlakuan kasar dari Adit.
"Harusnya kamu berterima kasih padaku, karna aku membuka kebusukan istrimu yang berselingkuh dengan sepupumu." Tiara mencoba memprovokasi Adit.
"Ckckckck Tiara, aku lebih mengenal istriku dari siapapun. Dan asal kamu tahu, jauh dari sebelum ini aku telah tahu segalanya. Jadi jangan pernah campuri urusanku. Pergi dari sini !"usir Adit, amarahnya semakin memuncak karna ulah Tiara yang membuat Dita menangis.
"Kamu ..."
"Pergi !!!"
Tiara pergi dengan tatapan kecewa, apa yang ia lakukan gagal sudah. Adit bergegas mencari Dita. Ia yakin Dita pasti akan sangat terpukul karena ulah Tiara.
Adit mencarinya diruangan Dita, benar dugaannya Dita tengah menangis didalam. Adit memberi kode pada Nadia agar menyingkir, Dita tidak menyadari keberadaan Adit di belakangnya
Adit menelusupkan tangannya pada pinggang Dita, dagunya menempel bahu Dita.
"Sayang, udah nangisnya. Udah gede lho masa masih nangis." Dita terdiam tak menanggapi gurauan Adit.
__ADS_1
"Yank ... Tiara udah aku usir, kamu gak usah khawatir " Adit mempererat pelukannya. Dita bergeming, tangisnya terhenti ia melepas pelukan Adit, dirinya merasa kotor tak bisa menjaga diri.
"Dita ... " Adit memutar tubuh Dita, menatap manik matanya, menyusuri setiap sudut mata yang basah oleh air mata.
"Om, maafin Dita gak bisa jaga diri", Dita menundukkan wajahnya.
"Dita ... Kamu ngomong apaan sih?" Adit menatap lekat wajah Dita
"Fo_to i_tu ..." Dita menghembuskan napasnya kasar. Sesak rasanya jika harus mengingat kembali momen itu.
"Hei, sudahlah, aku sudah tahu sejak lama. Dan aku tahu kamu hanya terbawa perasaan saja. Karna aku yakin padamu." Adit menangkup pipi Dita. Menelisik setiap sudut wajahnya.
"Om ... Maafin aku .." Dita menggambur memeluk Adit, rasa-rasanya ia hampir mati saat melihat foto itu, tetapi Adit malah dengan santainya menanggapinya.
"Sudah-sudah tidak perlu menangis. Usap air matamu. Sekarang kita siapkan berkas untuk meeting nanti, ok"
"Makasih ya mas "
Adit merapikan penutup kepala Dita yang berantakan, "kamu tahu, bagiku kamu adalah nyawaku.Aku tidak ingin melihatmu menangis. Karena itu hanya membuatku sakit"
Dita merasa tersanjung, tetapi sekaligus malu. Adit sangat sabar dan percaya sepenuhnya pada Dita, sedangkan ia sempat meragukan ketulusan cinta Adit.
Yah sepertinya, saling mengerti dan memahami menjadi kunci menjalani suatu ikatan rumah tangga. Semua masalah akan datang silih berganti, tinggal bagaimana caranya dapat menghadapi semuanya dengan tenang.
Pendewasaan adalah sebuah proses, banyak hal yang kita dapatkan saat proses pendewasaan berlangsung. Hilangkan ego, rendahkan hati.
Umur bukanlah tolok ukur kedewasaab seseorang, tetapi hanyalah sebuah identitas. karena pada dasarnya kematangan cara berpikirlah yang menjadi tolok ukur keduanya.
TBc
**hai hai makasih udah nungguin di sini , ini beberapa part terakhir ya dari Aku Masih Abg.
author mengucapkan terima kasih buat kalian semua yang udah memgikuti dari awal tulisan receh say yang entah berantah ini.
jangan lupa baca karya baru author ya ...
jangan lupa yinggalin jejakmu disana.
ada My Name is Cleopatra yang bakalan launching ya..
__ADS_1
dukungan kalian sangat berarti buat author. .
makasih 😘**