AKU MASIH ABG

AKU MASIH ABG
Kegalauan


__ADS_3

Haloo...author back again neh setelah sekian purnama, beneran author galau bener.


langsung stay on ya...


♥️♥️♥️♥️


Semenjak kejadian di kantor, Tiara tidak pernah menampakkan diri lagi. Entah lelah atau menyerah, tetapi yang pasti kehidupan Adit dan Dita jauh lebih baik.


Dita tengah sibuk menjalani ujian akhir kelulusan. Sedangkan Adit fokus mengurusi perusahaan miliknya serta memantau pekerjaan Dita. Ia tidak ingin Istrinya terlalu banyak beban pikiran. Dita telah menjadi prioritas hidupnya sekarang.


"Yank, belajarnya sudah belum?" Adit mengganggu Dita yang tengah fokus membaca buku.


"Tanggung Mas, sebentar lagi, besok hari terakhir ujian." Dita tak menghiraukan Adit. Ia masih fokus menatap buku yang dipegang.


"Ini sudah jam 11 malam lho Dit, buat istirahat."


"Iya, tanggung nih mas, kamu duluan aja kalau mau tidur."


"Ya sudahlah, terserah kamu." Adit pergi dengan perasaan kecewa. Meninggalkan Dita yang masih asik membaca buku di ruang santai.


Adit berjalan masuk ke dalam kamarnya, merebahkan tubuhnya. Mencoba memejamkan mata, tetapi tetap saja tidak bisa. Perkataan teman-temannya kemarin sukses membuat pikirannya tidak tenang.


"Adit, kapan nih mau nyusul. Dika aja udah tiga anaknya. Kamu ini payah, selalu kalah set," ujar Bayu.


Adit hanya tersenyum kecut, kali ini mereka mengunjungi sukuran kelahiran anak ketiga Dika. Semua temannya pergi bersama pasangan masing-masing, sedangkan Adit, ia harus pergi sendiri karna Dita masih sibuk belajar.


"Weh،tenang bro gue belain nih. Tenang aja Om Adit ini bakalan langsung gas pol setelah pulang dari sini." Arka merangkul bahu Adit.


Semua temannga tertawa, Adit merasa gerah menjadi bahan candaan. Ia memutuskan pulang karna tidak tahan menjadi bahan gurauan.


Adit menatap layar ponsel miliknya. Melihat foto-foto kebersamaannya bersama sang istri. Sepertinya sudah lama mereka tidak menghabiskan waktu bersama karna kesibukan masing-masing.


Menarik napas, mencoba mengerti keadaannya sekarang. Setidaknya dia tidak ingin memaksakan kehendaknya pada Dita yang masih belum siap jika mempunyai anak.


Ceklek


Pintu terbuka, Dita berjalan menuju tempat tidur. Wajahnya terlihat sangat lelah sekali. Merebahkan diri menutupi tubuhnya dengan selimut tanpa menyapa Adit di sampingnya.


Matanya pun terpejam, Adit melihat istrinya kecewa. Rasanya hasrat yang muncul di ubun-ubun menghilang seketika. Yah...resiko punya istri Abg.


*****


Adzan subuh membangunkan Adit, bergegas membersihkan diri.Tak tega melihat Dita yang masih terlelap.Adit melakukan sholat subuh sendiri.


Setelah selesai, ia pergi ke dapur mencari sesuatu yang dapat menetralisir keadaan hatinya.

__ADS_1


Membuat secangkir coklat panas, bisa mencairkan hatinya yang beku semalam.


Duduk di meja makan sembari menikmati secangkir coklat panas.


"Pagi, Mas," sapa Dita.


Adit masih menikmati secangkir coklat miliknya, mengingat semalam, ia masih kecewa. Tak sepatah kata pun ia membalas sapaan Dita


Dita mulai mencari sesuatu di kulkas, mengeksekusinya menjadi sesuatu untuk sarapan mereka berdua.


Membuat omelete sayur menjadi pilihan Dita, selain mudah, makanan ini dirasa lebih praktis dan tidak memakan waktu dalam pembuatannya.


Dita menghampiri sang suami."Mas, hari ini aku pulangnya telat ya. Ada janji dengan Sonya dan Adrian."


Adit bergeming, tidak merespon perkataan Dita.


Dita heran melihat perubahan sikap Adit. Tak biasanya sang suami sedingin ini.


"Mas, kamu kenapa?" tanya Dita.


"Sudahlah, aku tidak apa-apa. Nanti sepulang kantor aku mampir ke rumah Mama." Adit berlalu meninggalkan Dita sendirian.


'Mas Adit kenapa ya?' batin Dita.


Dita melanjutkan aktivitasnya, setelah semua selesai, ia membersihkan diri dan mempersiapkan ujiannya hari ini.


"Aku bantuin ya." Dita membantu merapikan dasi Adit.


Adit melihat gadis kecilnya tumbuh menjadi dewasa, sebentar lagi ia akan tumbuh menjadi pribadi yang dewasa. Apakah hatinya akan tetap bertahan berasama dirinya. Tiba-tiba pikiran buruk menghampirinya.


"Sudah, aku bisa sendiri.Lebih baik kamu fokus smaa ujian terakhir kamu hari ini."


Adit berlalu meninggalkan Dita yang tengah kaget melihat perubahan sikap Adit.


Dita hanya bisa menghela napas, mengambil ransel dan perlengkapan miliknya. Menyusul Adit keluar.


Adit tengah duduk menikmati sarapan. Dita menghampirinya, tak biasanya sang suami mendahuluinya sarapan. Suasana terasa kaku, tidak ada satu percakapanpun tercipta.


Setelah selesai, Adit menunggu Dita di mobil. Setelah selesai merapikan meja makan, Dita berjalan tergesa-gesa menghampiri Adit.


Mereka berangkat bersama, semenjak Dita mengikuti ujian kelulusan. Mau tidak mau Dita harus ke sekolah. Setiap pagi mereka berangkat bersama, tetapi biasanya Dita lebih memilih pulang bersama Sonya dan menghabiskan waktunya bersama kedua sahabatnya.


"Kamu hati-hati di jalan ya." Dita mencoba meraih tangan Adit, tetapi lelaki di sampingnya bergeming.


Dita keluar mobil dengan perasaan bimbang, Adit langsung melajukan mobilnya tanpa berpamitan terlebih dahulu. Biasanya Adit akan membukakan pintu dan mengantarnya sampai gerbang sekolah.

__ADS_1


Tak mau pusing, Dita melangkahkan kaki masuk. Hari ini adalah hari terakhir ujian. Setidaknya pikirannya harus benar-benar jernih. Setelah itu, ia akan membereskan masalahnya bersama Adit.


*****


Dita masih merapikan perlengkapan sekolah miliknya, Sonya dan Adrian menunggunya di depan kelas. Teringat sang suami, Dita segera membuka ponsel miliknya, dibuka aplikasi chat berwarna hijau, tidak ada satupun chat dari Adit di sana.


Dengan langkah sedikit lemah, Dita menghampiri kedua sahabatnya.


"Lo kenapa Dit? Gak semangat kek gitu?" tanya Sonya yang melihat Dita muram.


"Bad mood. Ikut gue ngantor ya?" ajak Dita .


"Boleh sih, mumpung lagi free." Sonya menyetujuinya.


Meteka pun melangkahkan kaki keluar sekolah berbarengan menuju tempat parkir. Sonya dan Dita berbarengan masuk ke dalam mobil Adrian.


Jalanan yang macet membuat perjalanan mereka terasa lama. Waktu yang di tempuh hatusnya satu jam kini molor menjdi dua jam.


Sesampainya di kantor Dita dan kedua sahabatnya berjalan masuk, satpam menymbut mereka dengan ramah. Tampak Nadia yang menymbutnya di depan ruangan. Sepintas Adit dan Dita berpapasan, tetapi Adit tidak menyapanya. Dita merasa kecewa. Apa yang sebenarnya terjadi, berjalan masuk ke dalam ruangan dengan hati yang bimbang.


"Dit, Om Adit kenapa kok aneh gitu, kalian bertengkar?" tanya Sonya heran.


"Gak tahu, tiba-tiba aja sikapnya aneh kayak gitu." jawab Dita lemah.


"Mungkin lagi Pms kali," celetuk Adrian.


"Gila lo, emang lo yang suka PMS" Sonya menonyor lengan Adrian.


"Coba deh di ingat-ingat lagi, kali aja ada hal yang tidak ia suka Dit," saran Sonya.


"Apaan, beneran gue gak ngerti Nya."


"Kurang jatah kali Dit.Gitu aja gak tahu، jangan pura-pura **** deh."


"Nah bener tuh yang dibilang Adrian, lo kurang pinter nyervisnya." Sonya tertawa cekikikan.


"Ish kalian ngomong apaan sih? Gak penting banget." Dita cemberut mendengar candaan temannya.


Sonya tampak senang sekali menggoda Dita yang


tengah galau, apalagi mekihat ekspresi Dita yang taknkaruan wajahnya.kedua sahabatnya itu tak hentinya menggoda Dita.


Waktu semakin sore merek menghabiskan waktu bersama, candaan dan obrolan ringan menjadi pemghibur lara hati Dita. Sepertinya ia memang harus mencoba melunak, mencoba berbicara dengan suaminya.


sampe segini dulu ya buat ngobati rasa kangennya...

__ADS_1


yuk jangan lupa di like dong...biar semangat lagi nih buat eksekusi...


__ADS_2