AKU MASIH ABG

AKU MASIH ABG
Mencoba melupakan


__ADS_3

Dita masih merasa nyaman dengan pelukan itu,matanya terpejam menikmati setiap detik kebersamaan yang sangat ia rindukan.Aroma yang sangat ia kenal,lengan kokoh yang selalu merengkuhnya kini mendekap erat tubuhnya.


Apakah ini mimpi atau kenyataan?. Dekapan itu memang terasa nyata,Dita tersadar dengan apa yang terjadi. Ia berputar dan menatap sosok yang wajahnya tengah mendekat. Sorot mata itu tampak ia kenal, wajahnya kian mendekat membuat Dita terpaku kehilangan akalnya.


Pelan bibir itu mulai menempel,hingga Dita sadar bahwa yang didepannya adalah Reynan.


Plakkk


Dita mendorong jauh tubuh Reynan yang mendekat.Diusap berkali-kali bibirnya,ia merasa bodoh telah tertipu dengan Reynan.Hatinya remuk,bayangan Adit mulai muncul dalam pikirannya.Kenapa semua bisa seperti ini.Ia merasa kehadiran Adit,tapi justru Reynan yang muncul.


"Brengsek...ternyata kamu sama saja,pembohong.Memanfaatkan kesempatan"Wajah Dita tampak diselimuti amarah.Tubuhnya terasa memanas karna perlakuan Reynan.


Reynan berusaha mendekat,ia memegang kedua pundak Dita.


"Dit,harusnya lo sadar kak Adit udah gak ada,ada gue yang siap buat lo kapanpun"


"Shit...jangan pernah bilang kalau mas Adit udah meninggal.Sampai kapanpun hanya dia yang ada di hatiku"Dita memghempas tangan reynan dengan nyalang.


"Bagaimana dengan mrs.Tiara?apa lo yakin tidak terjadi apa-apa antara mereka berdua.Lelaki manapun tidak akan bisa menolak bila ada wanita cantik bersamanya"Reynan semakin berusaha mendekati Dita.


"Stop! asal lo tahu. Ini terakhir kita ketemu,gue udah kecewa sama lo"Dita meninggalkan Reynan dengan tangis yang tumpah.Dengan perasaan yang kacau ia segera memesan taksi dan kembali ke penginapan.


Sepanjang perjalanan, Dita menangisi kebodohannya yang tidak bisa menjaga diri. Hampir saja ia berciuman dengan laki laki yang jelas bukan suaminya. Dan Reynan pemuda itu benar-benar telah membuatnya kecewa.


"Maafin aku om,aku sudah gagal menjaga diri ini" air matanya luruh,Dita menyandarkan kepalanya yang terasa berat. Tidak peduli dengan sopir taksi yang memperhatikannya dari spion mobil.


Adrian dan Sonya khawatir melihat kondisi Dita yang menagis saat turun dari mobil. Mereka mencoba bertanya tetapi Dita langsung masuk kedalam kamar dan menguncinya.


Dengan langkah gontai Dita masuk kedalam kamar mandi dan mengguyur tubuhnya dibawah shower. Dita benci dengan apa yang terjadi. Dirinya merasa hina karena disentuh oleh Reynan. Tak sepantasnya ia melakukan itu.


Dita bersimpuh, memeluk kedua kakinya, tangisnya belum juga reda. Guyuran Shower membuat tubuhnya terasa dingin, setidaknya mampu membuat dirinya tenang setelah kejadian di saung bersama Reynan.


Adrian dan Sonya khawatir dengan apa yang terjadi pada Dita,berulang kali mengetuk pintu kamar. Tetapi tak ada sahutan dari dalam.


"Yan, gue khawatir nih. Dita kenapa ya?"


"Huft...aku harus bertemu dengan Reynan" geram Adrian.


Belum sempat beranjak, Adrian melihat Reynan berjalan ke arah mereka.Wajahnya nampak kusut,ada raut penyesalan disana.


"Katakan, apa yang udah lo lakuin"Adrian menatap tajam Reynan mengintrogasi pria di depannya.

__ADS_1


"Tenang bro, gue juga khawatir sama Dita"Reynan masih berusaha tenang.


"Sialan lo, dari awal gue udah gak percaya sama lo. Lo cuma modus bantuin Dita"ucap Adrian menunjuk Reynan dengan amarahnya.


"Huh, lo kira gue gak tahu kalau lo juga ada rasa sama Dita, dasar pecundang"


Adrian menatap nyalang Reynan,tangannya sudah mengepal ingin meninju pria di depannya. Ia tidak terima jika sahabatnya dipermainkan oleh siapapun.


"Hei cukup! sampai kapan kalian seperti ini.Kita semua khawatir dengan keadaan Dita,jangan egois" sentak Sonya yang jengah melihat kedua pria di depannya berdebat.


🥀🥀🥀🥀🥀🥀


Dengan telaten Sonya mengganti kompresan Dita. Suhu tubuhnya mencapai 38 derajat celcius. Sonya begitu panik melihat sahabatnya yang tergolek lemah.Ia memanggil dokter untuk memeriksa keadaan Dita sekarang.


Menurut pemeriksaan Dita hanya mengalami depresi dan kelelahan.Pikirannya yang terlalu berat akhir akhir ini membuat dirinya gampang sakit.


Perlahan Dita mulai membuka mata. Kepalanya terasa berat. Samar-samar ia melihat Sonya dan Adrian disamping mereka. Dita baru tersadar bila ia terkulai di kamar mandi dan tidak sadarkan diri dibawah guyuran shower.


"Dit,lo istirahat aja gak usah mikir aneh-aneh"Sonya mendekati Dita yang tengah sadar.


"Nya,kok gue ada disini"suara Dita terdengar berat.


Dita tersenyum kecut,teringat kejadian bersama Reynan tadi. Ia merasa menjadi wanita kotor yang dengan gampangnya disentuh oleh lelaki lain.


"Dit,kalau ada masalah jangan seperti ini. Perbuatanmu sangatlah bodoh. Ayolah Dita,semua belum berakhir. Om Adit gak akan suka melihatmu seperti ini" Adrian menasehati sahabatnya itu.


"Yan,lo jangan ngomong kaya gitu donk, Dita baru aja sadar"


"Gak apa-apa nya, gue sadar gue emang salah"


"Dit, kita selalu ada buat lo"Sonya mendekap tubuh Dita menguatkan sahabatnya yang tengah rapuh.


Untung Reynan tidak terlambat menemukan Dita yang tergolek tidak sadarkan diri dibawah guyuran shower.Tubuhnya dingin dan bibirnya membiru.


Reynan segera mengangkatnya dan meminta Sonya untuk mengganti pakaian Dita yang basah. Setelah dokter memeriksa keadaan Dita, Reynan memutuskan pergi agar saat sadar Dita tidak melihatnya.


Reynan benar-benar menyesal dengan apa yang ia lakukan pada Dita. Pikirannya seolah beku hanya dibutakan oleh obsesi semata.


🥀🥀🥀🥀🥀


Semenjak kejadian itu, Dita lebih memilih tinggal bersama papahnya. Ia tidak ingin terlarut dengan kenangannya bersama Adit. Tinggal dirumahnya membuat bayangan Adit selalu memenuhi pikirannya.

__ADS_1


Kejadian bersama Reynan cukup membuat ia sadar, bahwa ia harus tetap berpikir realistis untuk menjalani hidup. Ia tidak mau terlalu larut memikirkan Adit hingga membuat kesalahan lagi.


Sepulang dari kantor, Dita memutuskan mampir ke resto milik suaminya, sebenarnya ia enggan karna hanya akan mengingat saat mereka pertama kali berciuman. Tetapi perasaan Dita mengatakan ingin pergi kesana.


Suasana resto terlihat lengang, sepertinya hari ini resto ditutup untuk umum. Dita mengayuhkan langkahnya masuk dan bertemu Adam manager resto. Mereka menyambut kedatangan Dita dengan ramah, Adam mempersilahakan Dita duduk dan menyuruh waitress menyiapkan makanan untuk Dita.


Dita berbincang dengan Adam tentang perkembangan resto. Semenjak menghilangnya Adit, Profitnya lumayan meningkat. Bahkan bulan depan ada seseorang yang membooking resto untuk acara pertunangan.


Dita tersenyum lega, ia melihat suasana di sekitar taman, ada pemandangan yang menyita perhatiannya. Sebuah paviliun yang dibangun disamping resto. Di halamannya terdapat seorang pria yang tengah duduk di kursi roda. Dita tidak begitu jelas melihat wajah pria itu. Tetapi cukup membuatnya sangat penasaran, karena sepengetahuannya tidak ada bangunan paviliun di samping resto.


"Adam,sejak kapan ada paviliun disitu"Dita menunjuk kearah paviliun.


"Eh...itu sudah lama bu Dita"


"Tapi sepertinya aku baru melihat sekarang," Dita masih tidak percaya.


"Itu hanya perasaan bu Dita."


"Lantas siapa pria yang di kursi roda itu?"


"Tidak ada siapa-siapa bu Dita, paviliun itu hanya untuk mess karyawan." Benar saja,Dita sudah tidak menemukan pria berkursi roda itu.


Dita meminta ijin untuk masuk kedalam ruangan pribadi milik Adit . Di dalam Dita mulai mengenang saat itu,saat dimana mereka pertama berciuman, saat dimana sesil mengganggu kebersamaan mereka, masa dimana mereka pertama kali sah menjadi suami istri.


Semuanya terasa singkat, Dita tidak bisa menolak takdir yang telah terjadi. Yang hanya bisa ia lakukan pasrah dan tetap menjalani hari-harinya dengan baik.


Ia menghidupkan pemutar musik dan memutar lagu classic favorit mereka.


Celline dion "my heart will go on" mengalun memenuhi ruangan.


Entah kenapa lagu itu terasa membuat hati Dita menjadi kian tenang.


Dita berjalan membuka jendela,ia masih penasaran keberadaan paviliun di sebelah resto. Dari tempatnya berdiri, Dita dapat melihat dengan jelas paviliun tersebut. Ia kembali melihat seorang pria yang tengah duduk dan menyirami bunga, ia semakin penasaran. Apa ada karyawan yang baru saja kecelakaan? Dita bertambah penasaran. Tidak ingin kehilangan jejak lagi, ia buru-buru keluar dan menuju paviliun tersebut.


Dita mendapati seorang pria yang bergumam menyanyikan lagu yang sedang ia putar. Pria itu sangat menikmati setiap alunan nada lagu classic tersebut. Bahkan suara deheman itu sangat Dita kenal.


**yuk wajib.like vote,tinggalkan jejakmu 😘


ada yang mau nebak,bagaimana selanjutnya?


hehehe tinggalkan komentarmu sayang...😘**

__ADS_1


__ADS_2