
"Mas Adit! " Dita berseru memanggil pria di depannya.
Pria itu menoleh dan sedikit kaget melihat Dita yang tengah berdiri di depannya. Keadaannya yang memakai kursi roda cukup membuat dirinya kesulitan untuk mendekati Dita.
"Mbak Dita sejak kapan ada disini? " Dita seolah tak percaya pria yang di depannya adalah pria yang dikenalnya sebagai sopir perusahaan Adit. Kecewa pasti,karena lagi-lagi dia hanya berhalusinasi. Tapi kehadiran Budi di paviliun dengan memakai kursi roda membuat Dita semakin penasaran.
"Pak Budi, sejak kapan tinggal disini?" Tanya Dita menyelidik, ia mengamati supir suaminya yang sepertinya baru pulih dari lecelakaan.
"E...sejak dari dulu saya memang sudah tinggal disini mbak, karena jarak rumah saya yang jauh. Apalagi kondisi saya sekarang tidak memungkinkan untuk pulang ke rumah" ucap Budi yang terlihat gusar.
Dita melihat keanehan pada Budi, pikirannya masih belum menerima penjelasan Budi.
"Apa yang terjadi pada Pak Rudi? kursi roda itu... ?" Dita menggantung ucapannya.
"Saya kecelakaan mbak, karena kaki saya patah saya harus memakai kursi roda sementara waktu.Dan tidak memungkinkan saya untuk pulang. Jelas Budi. Wajahnya terlihat putus asa dengan keadaannya yang sekarang. Dita turut prihatin apa yang menimpanya. Pikirannya kembali terpecah pada paviliun tersebut.
"Pak, apakah saya boleh masuk ke paviliun?" tanya Dita.
"E...jangan mbak, paviliunnya berantakan." Budi mencoba mencegah Dita.
"Tidak apa-apa pak,aku hanya ingin melihatnya saja" Dita berjalan dan menuju paviliun. Rasa penasaran yang besar mendorongnya untuk mengecek paviliun. Dengan keadaan Budi yang terbatas membuatnya tak bisa mencegah Dita.
Sebuah paviliun yang tidak begitu luas berdiri disamping resto, terdapat tiga kamar, dapur, ruang santai. Lantai yang terbuat dari vinyl menambah kesan klasik tempat ini. Dita berjalan memasuki paviliun lebih dalam, ia melihat tempat ini sangat rapi. Berbanding terbalik dengan apa yang disampaikan Budi. Sepertinya tempat ini selalu dibersihkan. Dita yakin Budi pasti tidak tinggal sendiri.
Dita tertarik dengan kamar yang di depan pintu terdapat tulisan "Mr.Boss".
Ia mendekat dan membuka pintu, betapa takjubnya ia melihat kamar ini. Semua foto Dita dan Adit terpajang rapi di dinding kamar. Bahkan ada satu foto besar yang terpajang di dinding kamar, Foto pernikahan mereka. Tampak kebahagiaan yang terpancar pada foto mereka.
Hatinya benar-benar sakit mengingatnya, ia melangkah dan menyusuri setiap foto yang terpajang di dinding. Diusapnya berkali-kali foto Adit untuk mengobati rasa rindunya. Sampai kapan ia akan bertahan. Hidup tanpanya saja sudah terlalu lemah.
"Mas, jika kamu memang masih jodohku. Aku mohon mendekatlah padaku. Tetapi bila kita tidak berjodoh, menjauhlah dariku. Aku sungguh sakit bila terus-menerus seperti ini. Mungkin aku akan memutuskan menyusul kak Dilan dan meneruskan pendidikanku disana." Dita berbicara pada foto Adit, hingga tidak menyadari ada seseorang yang tengah mendekapnya dengan erat. Bahunya terasa basah oleh air mata.
"Sayang, maafkan aku. " Suara itu terdengar lirih di telinga Dita.
Air mata terus membasahi bahu Dita. Tubuhnya terasa menghangat, otot-ototnya terasa kaku. Ia mencoba mengumpulkan kesadarannya takut kejadian itu terulang untuk kedua kalinya.
__ADS_1
Dita berusaha melepas tangan itu dan memutar badannya. Tetapi Lengan itu semakin erat melingkarkannya pada tubuh Dita.
"Sayang, biarkan seperti ini. Aku ingin tetap memelukku." Dita semakin nyaman, pelan ia memutar tubuhnya.
"Mas Adit?" suara Dita terdengar serak. Pria dihadapannga mengangguk dan mengusap air mata yang tumpah.
Dita benar-benar tidak percaya dengan apa yang dilihatnya. Lelaki yang kini di depannya adalah Adit, suaminya yang selama ini ia cari.
"Mas,ini beneran kamu kan?"
Adit mencubit pipi Dita memastikan kalau ini bukan mimpi.
"Awww,sakit mas. Ya tuhan ini nyata " Dita sangat gembira dan kembali memeluk suaminya.
"Dit, pelan-pelan dadaku sakit nih. Apa kamu sudah tidak sabar heh?" Adit mencoba menggoda istrinya itu, tetapi Dita tak memperdulikannya. Hatinya terlampau bahagia bisa bertemu lagi dengan suaminya.
🥀🥀🥀🥀🥀
"Mas,kamu kemana aja?aku khawatir tahu" Dita duduk dipangkuan Adit,rasanya ia ingin bermanja-manja dengan suaminya setelah sekian lama menguras emosi.
"Huum, aku sangat bahagia hari ini"
Mereka bercengkrama setelah sekian lama tak bertemu,Tak bisa digambarlan betapa bahagianya Dita bertemu sang suami. Rasanya waktu tak ingin berlalu cepat. Ia masih saja duduk dalam pangkuan Adit, tingkahnya yang manja membuat Adit semakin bersalah.
"Ehem..." Suara deheman itu mengagetkan mereka berdua. Dita segera beranjak dari pangkuan Adit.
"Mama, mengganggu saja" Adit terlihat kesal ternyata tante Kirana yang mengagetkan mereka.
"Kalian ini kalau mau bermesraan jangan disini, kasihan Budi. Mau masuk istirahat sampai tidak berani" Tante kirana terkekeh melihat keduanya yang tengah bermesraan.
Dita memgerutkan dahinya berpikir, bagaimana mama mertuanya bisa tahu Adit ada disini.
"Dita,maafin mama ya. Ini semua permintaan suamimu" seakan mengerti Tante kirana mencoba menjelaskannya.
Dita beralih menatap suaminya dengan beribu pertanyaan, " kamu hutang penjelasan sama aku."
__ADS_1
Adit tersenyum menanggapi istrinya, masih butuh waktu baginya untuk menjelaskan semua yang terjadi.
"Dit, mama senang kalian bisa bersama lagi" tante kirana memeluk menantunya. Dita hanya diam, pikirannya terlalu jenuh memikirkan semuanya.
Sekelabat bayangan Reynan muncul dalam pikirannya, ia merasa tidak pantas untuk Adit. Seorang istri yang tidak bisa menjaga kehormatannya.
Dita menangis dalam pelukan mertuanya, Adit bingung melihat istrinya. Tak menyangka efek menghilangnya dirinya berdampak sangat besar bagi istrinya.
Dita terlihat sangat rapuh, Adit mendekati Dita yang tengah sesengukan. Hatinya sakit bila harus melihatnya menangis.
Dielusnya pundak Dita hingga tangisnya mulai mereda.
Adit memapah Dita kembali duduk, sedangkan tante kirana membiarkan mereka kembali berdua untuk membicarakan semuanya baik-baik.
Adit membuatkan istrinya jasmine tea agar lebih tenang. Adit memandangi mata yang sembab, mata itu memancarkan kesesihan yang mendalam.Melihatnya Adit tidak tega menjelaskan semuanya kepada Dita.
Setelah menyeruput jasmine tea buatan Adit, Dita merasa tenang. Ia menyenderkan kepalanya di bahu suaminya. Rasanya tidak ingin jauh darinya saat ini.
"Yank,maafin aku ya. Untuk sekarang ini aku memang harus tinggal di paviliun ini"
"Kenapa?" Dita mendongakkan kepalanya.
"Ada satu hal yang belum kamu tahu, dan aku harap kamu bisa mengerti." Jelas Adit tersenyum memandang Dita.
Dita mengangguk seolah mengerti permintaan Adit.
"Maukah kamu menemaniku malam ini?"
Semburat merah tampak muncul di pipi Dita, ia membalasnya dengan anggukan tanda menyetujui permintaan Adit.
**author dah kabulin nih buat Adit dan Dita ketemu.
part selanjutnya author bakal munculin pov Adit. biar nantinya jelas banget apa yang terjadi selama ini.
jangan bilang kalau Adit dibawa kabur mak author ya.🙈
__ADS_1
thanks for All . Tinggalkan jejakmu ♥️**