
Hamparan pasir putih terhampar luas. Deburan ombak yang menggulung dan terpecah dikarang, menggambarkan betapa kerasnya hidup. Kokohnya bebatuan di tengah pantai menggambarkan, bahwa kehidupan tidaklah selalu berjalan mulus sesuai keinginan. Banyak penghalang ataupun rintangan yang menghadang di tengah perjalanan hidup.
"Dita, masih ingatkah kamu tempat ini?" tanya Adit seraya menggenggam tangan Dita erat.
"Tempat ini adalah tempat dimana pertama kali aku mendengar isi hatimu. Di tempat ini sebuah harapan itu mulai muncul di dalam hatiku. Berharap orang yang aku cintai membalas rasa cinta yang tidak wajar ini." Dita menyandarkan kepala pada bahu Adit dan menikmati suasana pantai yang hanya terdengar suara deburan ombak pantai.
"Kamu tahu pada saat itu apa yang aku rasakan?"
"Tidak," jawab Dita singkat.
"Saat itu aku ingin memilikimu seutuhnya,tetapi tampak mustahil dengan situasi yang terjadi. Aku harus berusaha keras melupakanmu, tetapi bukannya semakin lupa malah bayanganmu semakin mendekat dan membuat hatiku selalu kacau."
"Benarkah? " tanya Dita.
"Buktinya kamu yang jadi istriku sekarang, bukan yang lain. Tiara maupun Emely. "
"Mas, aku berharap semua mimpi buruk ini akan cepat berlalu."
"Dita, aku harap kamu bisa menemaniku melewati semua ini. Aku harap kamu bisa menguatkanku dengan saling percaya." Dita mendongak, melihat mata Adit yang tampak berkaca-kaca. Baru kali ini ia melihat suaminya semelo ini.
"Mas, maafin aku ya? aku hanya terbawa emosi. Jujur hatiku sangat sakit sekarang, bahkan aku tidak bisa berpikir jernih saat melihat foto itu." Dita menatap lekat suaminya mencari celah dalam sorot matanya.
"Kamu lihat ombak di lautan sana, jalannya akan terhalang karang di tengah lautan. Begitu pula dengan kisah rumah tangga kita, akan banyak hal yang menghadang di depan. Aku ingin kita melewatinya bersama-sama."
Dita mengangguk dan tersenyum mendengar ungkapan suaminya yang terdengar bijak. Selama ini Dita jauh dari kata sempurna. Pikirannya yang labil membuat emosinya sering tersulut.
"Mas, aku harap kamu selalu sabar mendampingiku."
"Pasti,sayang. Sekrang ikut aku, akan kutunjukkan sesuatu padamu." Adit menggandeng Dita dan berjalan menyisiri pantai. Deburan ombak kecil menghantam kaki mereka yang tengah berjalan di tepi pantai.
"Mas, kita mau kemana?" tanya Dita.
"Udah, nanti kamu pasti tahu."
Adit membawa Dita ke sebuah tempat yang tidak asing baginya. Tempatnya yang indah menyuguhkan pemadangan laut, di beranda sebuah kamar resort dekat pantai.
"Mas, ini bukannya resort tempat kita menginap dulu?" tanya Dita setengah tak percaya.
"Iya, aku sudah memesannya kemarin, dan ini kunci kamar kita." Menunjukkan sebuah kunci dan tersenyum kemenangan.
"Mobilmu bagaimana? "
"Udah gak usah mikirin mobil, biar pegawai resort yang akan mengambilnya." Adit menggandeng Dita memasuki kamar yang ia pesan.
Dita takjub melihat kamar yang telah didesain begitu indah. Masih ingat dalam ingatannya dinkamar ini dulu ia bersama Adit.
"Kamu suka?" tanya Adit memandangi Dita yang terlihat bahagia.
__ADS_1
"Huum, mas, aku mandi dulu ya, habis ini kita cati makan, aku lapar." Dita beruvcap manja pada Suaminya.
"Siap bosku."
Adit bahagia bisa melihat Dita kembali tersenyum, ia tidak peduli apa yang akan terjadi esok. Yang pasti saat ini ia tidak ingin ada yang mengganggunya.
Suasana pantai di malam hari membuat makan malam pasangan ini terasa romantis. Adit sengaja mengajak Dita makan malam di pinggir pantai. Angin semilir menyertai hawa dingin yang menyergap.
Lilin lilin bertaburan menbah indahnya suasana malam ini. Dita menatap suaminya dengan gurat kebahagiaan. Banyak hal yang ia harus pahami. Kepercayaan adalah pondasi utama dalam membina suatu rumah tangga. Pelajaran kali ini sungguh berharga baginya. Pendewasaan dalam bersikap menjadi hal yang perlu ia tanamkan dalam dirinya. Menjadi seorang istri tidaklah mudah, masih banyak hal panjang yang akan ia lalui bersama Adit kedepannya. Dita hanya bisa berharap bisa menjalani semuanya bersama dengan saling menguatkan.
"Mas, maafin aku ya, selama ini terlalu egois dan kekanak-kanakan."
"Dita, kita bukanlah manusia sempurna, kamu mau menerimaku apa adanya aku sudah senang sekali." Adit tersenyum mencium punggung tangan istrinya.
"Aku janji akan berusaha jadi istri yang baik."
"Hahaha, sudahlah kamu sudah terlalu baik untukku"
Suasana malam ini membuat Dita bahagia, entah bagaimana Adit menyiapkan semuanya. Yang pasti hidupnya benar-benar sempurna.
💕💕💕💕💕💕
Dita menggeliatkan badannya, suara kokokan ayam membuatnya terbangun. Ia melihat Adit yang tengah tertidur. Dita mengukir seulas senyum, membayangkan perlakuan Adit semalam yang sangat manis kepadanya. Melihat tubuhnya yang hanya berbalut selimut membuatnya pipinya terasa panas. Ia bergegas membersihkan diri ke kamar mandi sebelum Adit bangun. Bisa bahaya bila suaminya bangun mendapati dirinya yang tengah malu.
Dita mengeringkan rambutnya yang basah menggunakan hair dryer, ia tersenyum memandangi wajahnya di cermin. Sebahagiakah itukah dia saat ini, ketika usianya yang baru menginjak dewasa ia mempunyai suami yang sangat menyayanginya.
"Sayang, udah bangun." Adit menyapa Dita dengan memeluknya dari belakang.
"Mas, udah ah, sana mandi." Dita berusaha melepaskan pelukan Adit.
"Gak, kamu curang, kamu sengaja kan tidak membangunkanku." Adit malah semakin menggoda Dita.
Dita nelepas pekukannya dari Adit, ia berlari menghindari Adit, bisa-bisa ia harus mandi lagi karena ulah suaminya.
"Hei, kamu curang, kenapa malah lari." Adit kalah start dari Dita yang telah lepas dari oelukannya.
"Udah mandi dulu,gak mau aku deket-deket sama oramg yang bau. Aku tunggu di resto ya buat sarapan." Dita mengerlingkan matanya dan meninggalkan Adit yang kesal. Dita tersenyum menang bisa lepas dari jeratan Adit.
Dita memilih tempat duduk yang menghadap pantai, suasana masih sepi pengunjung. Hanya ada beberapa orang yang sengaja melihat sunrise.
Pagi yang indah, matahari mulai menunjukkan sinarnya malu-malu. Sembari menunggu Adit, Dita memesan makanan terlebih dahulu. Perutnya terasa lapar, entah kenapa nafsu makannya bertambah. Pengunjung Resto mulai berdatangan, sednagkan Adit belum tampak. Dita masih termenung melihat pemandangan pantai di pagi hari. Banyak pemgunjung resort yang memilih berendam di pagi hari dengan alasan kesehatan. Rasanya Dita ingin berlama-lama disini, kalau saja tidak ada janji, Dita pasti akan tinggal lebih lama disini.
"Dita, sedang apa di sini? " Suara seseorang memecah lamunan Dita.
"Rey," Dita membulatkan melihat laki-laki yang menyapanya.
"Aku gak nyangka kita bakalan ketemu, kamu makin cantik saja."
__ADS_1
"Rey, tolong jaga ucapanmu. Tidak pantas rasanya kamu memuji wanita bersuami," ketus Dita.
"Its ok, sorry, aku hanya belum bisa move on dari kamu. Soal kejadian tempo itu aku minta maaf, aku tak bermaksud..."
"Sudahlah, tak perlu kamu mengingatkannya. Itu hanya kesalahan. Dan itu hanya akal-akalanmu saja yang menjebakku." Dita makin kesal karena Reynan mengungkit kejadian di Saung kala itu.
"Ok, ok , i am sorry, tapi masih bisakah kita berteman. " Dita terdiam tak menanggapi perkataan Reynan. Dalam hatinya ia hanya ingin Reynan segera pergi sebelum Adit datang.
"Wah ,ternyata kalian sudah akur ya." Adi datang menarik kursi sebelah Dita, mencium pipi Dita mesra di hadapan Reynan.
Reynan mengepalkan tangannya di bawah meja, meskipun ia berusaha melupakan Dita, tetapi perlakuan Adit seperti tamparan baginya.
"Hai, Rey, bagaimana kabarmu? lama tak bertemu. Terima kasih ya kamu sudah menjaga Dita selama aku tidak ada. Istriku ini memang punya pesona tersendiri, tetapi hatinya pasti untuk suami tercintanya" Adit tersenyum.
Reynan tertohok dengan ucapan Adit, entah apa maksudnya bebicara seperti itu dihadapan Reynan. Sedangkan Dita peakrsaannya bercampur was-was bila Adit mengetahui kejadian tempo itu.
"Iya kak, bukannkah Dita juga saudaraku, sudah sepatutnya aku menjaganya," ucap Reynan gugup.
"Permisi ... Makanan sudah datang, selamat menikmati masakan dari resto kami." Seorang pelayan membawa pesanan Dita. Suasana yang tegang mencair karna kedatangan waitress.
"Wah ... sayang kamu memang paling mengerti aku, tahu makanan favoritku," ucap Adit sambil membelai pipi Dita di hadapan Reynan.
Dita merasa aneh, tidak biasannya suaminya seperti ini dihadapan umum, sedangkan Reynan hayinya terasa panas terbakar cemburu perlakuan manis Adit pada istrinya.
"Kak, sapertinya aku mesti pergi dulu, teman-teman telah mencariku." Reynan berpamitan.
"Iya , gak apa-apa, selamat bersenang-senang ya ... " Adit tersenyum menang melihat Reynan pergi meninggalkan mereka.
"Mas,kamu ini apaan sih ... Malu tau diliatin orang," kesal Dita.
"Kenapa harus malu? kita kan suami istri, " ucap Adit cuek.
"Ya ampun mas, kan gak lebai juga."
"Sayang, aku gak suka Reynan deketin kamu," Adit menatap manik mata Dita. Mencari celah isi hatinya. Dita menunduk menunduk seolah takut dengan apa yang telah terjadi.
Adit mengangkat dagu sang istri, menjelajahi setiap paras cantiknya.
"Aku percaya padamu, tapi tidak dengannya," ucapnya penuh penekanan.
"Sudahlah, ayo kita makan. Bukannya kita harus segera kembali?" Adit memberi jeda agar Dita yidak terlalu memikirkan perktaanya.
hai..**maafin author ya, telat up nya, semoga masih ada yang nungguin ya..
kali ini hati author udah terbagi, maafin ya..
yuk follow akun fb author. @Hikaru san.
__ADS_1
banyak cerita menarik disana.
jangan lupa like,koment,and share ya 😘**