AKU MASIH ABG

AKU MASIH ABG
jaga Hatimu


__ADS_3

"Dita,papa harap kamu bisa lebih dewasa"pak Hendarto kini menasehati anaknya.


"Iya pa"Jawab Dita singkat,ia mengerti bila papahnya sudah marah seperti ini,ia pun tak berani membantah.


"Kamu tahu,karena keegoisanmu banyak klien yang marah,mana Dita anak papa yang punya loyalitas tinggi. Papa sudah mempercayakan pekerjaan ini padamu. Harusnya kamu bisa menjaganya."Pak Hendarto masih nampak marah karna ulah putrinya mengcancel semua meeting hari ini.


"........"Dita terdiam tertunduk,rasanya benar-benar sesak sekali dadanya kali ini.Disaat sedang rindu malah mendapatkan amarah dari papahnya.


Melihat keadaan Dita,pak Hendarto tidak kuasa meneruskan kemarahannya. Didekati putri bungsunya itu.


"Dita,papa harap kamu lebih bisa mengontrol perasaan kamu,papa paham apa yang kamu rasakan. Tapi meskipun seperti itu kamu harus profesional. Adit punya masalah yang harus ia selesaikan,dan kamu sebagai istrinya harus tetap mendukung."pak Hendarto memeluk tubuh putrinya.Ia bisa merasakan bahwa kali ini Dita sedang rapuh.


"Pa...aku hanya khawatir,dari kemarin mas Adit sama sekali belum ada kabar,"Dita mulai menjelaskan duduk permasalahannya.


Pak Hendarto mengusap punggung Dita,berusaha menenangkannya. Mungkin Dia hanya belum terbiasa saja berjauhan dari Adit. Dulu almarhum mamahnya juga seperti itu,bila pak Hendarto tugas ke luar kota pasti sering merajuk Dan itu persis sekali dengan yang Dita rasakan kali ini.


"Kamu tenang saja,papa sudah menyuruh orang kepercayaan papa untuk membantunya,"Dita terlihat lega mendengar kabar baik dari papahnya.


"Benarkah?"wajahnya kembali berbinar.


"Papa memang sengaja tidak memberitahunya,karena Adit pasti menolak."


"Mungkin ini akan sedikit alot,tetapi papa minta kamu percaya sama Adit. Karena papa yakin Danu akan melakukan segala cara. Papa sangat mengenal om nya Tiara itu."tutur pak Hendarto.Danu adalah kawan lama pak Hendarto jadi ia sangat mengenal karakternya.


"Pa,aku hanya takut.Jika om Adit kembali lagi dengan tante Tiara"


"Ssssssttt,bicara apa kamu.Adit sudah menjadi suamimu.Dan papa yakin dia pasti akan memperjuanglan semuanya untuk kamu.Percayalah,papa lebih mengenalnya dari pada kamu"pak Hendarto tersenyum berusaha menguatkan putrinya itu.


"Papa......"Dita kembali memeluk pak Hendarto.Rasanya hari ini ia memang benar-benar kelewatan.Hatinya kembali menguat,meskipun rindu ia berusaha untuk memahami Adit.Mungkin suaminya sedang sibuk sehingga belum sempat untuk menelponnya.


Bagaimanapun juga Adit adalah imamnya,dan Dita harus menghormati dan menjaga pernikahannya.Meskipun jauh Dita harus mampu menempatkan dirinya.Dan proses pendewasaan itu perlu,karena manusia tidak ada yang sempurna. Semua butuh proses,layaknya Dita seorang gadis ABg yang telah berumah tangga. Ia harus berusaha menjadi pribadi yang lebih baik.


Hari berganti hari,Adit masih saja belum bisa dihubungi. Meskipun sebenarnya ada rasa marah dan khawatir.Tetapi Dita berusaha meredamnya saat mengingat nasehat papahnya yang diberikan untuknya.Tidak mudah baginya menjalani semuanya tanpa Adit disampingnya.Tapi ia akan berusaha agar Adit tidak mengkhawatirkan dirinya disana.


Taman kota selalu menjadi pilihan baginya melepas penat disaat pulang kantor. Baginya liburan kali ini ia ingin memfokuskan dirinya di kantor.Sebelum ia mulai fokus belajar di semester dua untuk bisa masuk di universitas favorit.

__ADS_1


Ia melihat anak-anak kecil yang sedang tertawa dan bermain bersama kedua orangtuanya. Mereka sangat bahagia memiliki orang tua yang lengkap. Dan mempunya banyak waktu luang untuk mereka.


"Kalau mau menangis,menangis aja gak usah ditahan."Seseorang menyodorkan tisu pada Dita.Ia langsung mengambilnya tanpa tahu siapa yang memberi.


"Ternyata gadis galak sepertimu sangatlah cengeng".Perkataan seseorang itu sontak membuat Dita menoleh ke asal suara.


"Kamu?ngapain Disini?"seketika mimik wajah Dita berubah saat mendapati Reynan disampingnya.


"Sudahlah,aku tak ingin berdebat denganmu.Dan aku pun sudah tidak tertarik padamu lagi"Reynan kini terlihat lebih cuek dan tidak se agresif saat pertama mereka bertemu.


Dita masih tak merespon,rasanya ia enggan berbicara.Apalagi dengan lawan jenis,Karena ia hatus menjaga pernikahannya disaat berjauhan dengan suami.Yang ia takutkan hanyalah apabila timbul fitnah bila ia berduaan dengan lelaki lain.


Dita beranjak dari tempat duduknya,tapi dengan cepat Reynan mencegahnya.Dita langsung menepis tangan reynan yang menyentuhnya.


"Maaf,tapi aku hanya tidak ingin timbul fitnah bila ada yang melihat kita berdua,"ujar Dita.


"Hei,ayolah.Bukankah kita saudara.Aku tahu kamu pasti kangen sama kak Adit."Reynan mencoba terlihat biasa.


"Sepertinya itu bukan urusan kamu"ketus Dita.Hatinya sepertinya belum bisa berdamai dengan perlakuan Reynan kala itu.


"Kamu ini,benar-benar jutek dan keras kepala.Aku iri dengan kak Adit,bisa mempunyai pasangan sepertimu"ujar Reynan.


"Bisakah kita berteman?"Reynan mengungkapkan keinginannya.Tetapi Dita sama sekali tidak merespon.


"Maaf,ada hati yang harus aku jaga di jauh sana."Dita berlalu tanpa memperdulikan Reynan yang duduk dan berharap bisa menjadi temannya.


Reynan semakin kagum dengan sosok Dita.Dibalik sifat jutek dan keras kepala,ia mempunyai sisi lain yang membuat reynan kagum dibuatnya.Ia tersenyum melihat punggung Dita yang mulai menghilang,tetapi seketika senyumnya memudar saat menyadari kenyataan bahwa Dita adalah istri dari sepupunya sendiri.


****


Dita melihat terdapat mobil terparkir di halaman rumahnya,seketika bibirnya menyungginkan senyuman. Melihat kakaknya berkunjung ke rumahnya,tak lupa ada Sesil dan dareen yang turut serta.


"Sesil..."Dita turun dari mobil dan langsunh menghambur memeluk keponakan kesayangannya itu.


"Aunty...sesil kangen nih"ucap sesil dengan manja.

__ADS_1


"Sama aunty juga kangen nih,"Dita menggendong sesil dan mempersilahkan mereka masuk. Rumahnya tampak berantakan sekali. Beberapa hari ia tidak sempat merapikan rumahnya,semalaman ia menghabiskan waktunya menonton drakor dan paginya ia akan bangun untuk sholat dan kembali tidur lagi sebelum berangkat ke kantor.


"Maaf ya kak,rumahku berantakan"Dita merasa tidak enak karena rumahnya yang berantakan.


"Gak apa-apa dek,kakak tahu kamu pasti capek"ujar vira yang menggendong dareen.


"Dek,kenapa kamu gak ambil ART aja buat bantuin kamu"tanya dilan yang sebenarnya prihatin melihat keadaan adiknya.


"Tadinya mau pakai ARt Lama yang menunggu rumah ini kak,tapi sampai sekarang belum ada kabar.alasannya sih masih ada urusan luar kota.Jadi aku pikir aku bakal rapihin sendiri.Tidak tahunya itu adalah pekerjaan yang melelahkan"Dita menghempaskan tubuhnya duduk disamping sesil.


Dilan yang paham melihat kondisi adiknya sangat prihatin.Ia tahu dari kecil Dita tidak pernah mengerjakan pekerjaan rumah.


"Biar mbok Nah menemanimu dek,jadi kamu tidak kesepian dan ada yang membantu pekerjaan rumahmu."Usul Dilan.


"Gak usah kak,aku masih bisa sendiri kok.Lagian kan cuma aku yamg tinggal dirumah ini belum ada anak kecil juga"sejenak Dita malah teringat kejadian kejadian saat mereka gagal memadu kasih.Ia malah tersenyum sendiri.


"Lha kok malah senyum,hayo.."goda Vira.


"Apaan sih kak,oh iya kapan kalian balik ke luar negri?kata papa kak Dito udah balik duluan ya"Dita mengalihkan pembicaraan mereka.


Sesil dan dareen bermain bersama di karpet bawah,Dilan kemudian menemani kedua anaknya bermain.


"Rencana besok dek,makanya kami berkunjung kesini"


"Aku pasti akan merindukan kalian"Dita memeluk kakak iparnya ,baginya dia istri yang baik bagi Dilan.Tidak pernah membedakan status meskipun Dita hanya adik iparnya tetapi ia memperlakukannya seperti adiknya sendiri.


"Dan rencanay tahun depan kami akan menetap disini,setelah mas Dilan mengurus semuanya"Mendengar itu Dita sangat bahagia.


Mereka pun larut dalam obrolan wanita,sementara Dilan asyik menemani Sesil dan Dareen bermain.Banyak nasehat yang vira berikan kepada Dita.Bahkan ia menguatkannya agar bisa menjaga hatinya saat sekarang ini ketika Adit jauh di sana.


Suasana rumah kembali sepi disaat keluarga kecil Dilan pulang.Dita merapikan rumahnya yang sudah seperti kapal pecah. Meskipun lelah ia mengerjakan semuanya sendiri. Setelah selesai ia membersihkan diri dan memasak mi instan untuk makan malam,kali ini Dita tidak ingin ribet.


Selesai makan,ia merebahkan tubuh di kasur dan mengecek semua pekerjaannya hari ini. Ia sangat gembira ketika melihat sebuah nomor yang menghubunginya adalah orang yang ia nanti-nantikan.


"Om Adit..."Dita tampak girang orang yang selama ini ia rindukan akhirnya menelponnya.

__ADS_1


hai..jangan lupa like,comment,vote.


♥️♥️♥️♥️♥️


__ADS_2