
Aku sebenarnya tidak tega harus meninggalkan Dita dalam keadaan kakinya yang sakit. Pagi ini aku melihat raut wajahnya yang kecewa, tetapi ia berusaha menutupinya dan menyemangatiku. Aku mencium ceruk lehernya, kuhirup aroma wangi tubuhnya yang pasti akan sangat ku rindu. Ia menggeliat geli, ku putar tubuhnya dan mencium bibir mungilnya. Ia berusaha menolak, tapi aku tak menggubrisnya.
"Sayang,maafin aku ya, " aku tersenyum melihat bibirnya yang mungil. Beberapa hari kedepan aku tidak akan bersamanya, setidaknya aku tidak mau menyia-nyiakan kesempatan bersamanya pagi ini.
Aktifitasku terhenti saat pintu diketuk, mbok Nah memanggil dari luar, memberitahu kedatangan Revan dan Cindy. Aku menatap wajah sendu didepanku. Hatiku benar-benar berat meninggalkannya.
"yank, kamu baik-baik dirumah ya, kasih labar kalau terjadi sesuatu." Kucium pipi,kening, dan mengecup bibirnya yang masih basah.
ia mengangguk dan mengantarku ke depan, aku lega bisa melihatnya tersenyum melepasku. Meskipun terkadang sikapnya kekanak-kanakan tetapi aku sangat suka saat sisi kedewasaannya muncul. Inilah yang membuatku makin cinta dengan istriku. Seorang Dita mampu menjerat hatiku, mampu membuat hariku lebih indah bersamanya.
Sepanjang perjalanan aku tak henti memikirkan Dita, apalagi bayangan malam naas yang membuatnya terpeleset. Aku mengulum senyum mengingat tingkahnya. Revan yang melirikku tersenyum dan menggodaku.
"Hei, kita hanya pergi sebentar bro. Jadi tenang saja, Dita gak bakalan diambil orang." Aku meninju lengan Reynan. Sahabatku ini memang senang sekali menggodaku.
"Bukannya apa, Dita masih dalam keadaan sakit kakinya, aku hanya tidak tega meniggalkannya.
"By the way, kakinya kenapa sampe kaya gitu. lo mainnya terlalu keras bro, Dita itu masih polos. Jangan pake gaya yang aneh-aneh" Revan terkekeh melihatku menahan malu.
"Ngawur lo, gaya apaan. Ngelakuinnya aja belum udah pake gaya segala" aku menonyor kepala Revan agar pikiran mesumnya pergi.
"Apa? gila gue gak percaya Adit, cewek secantik Dita lo anggurin gitu aja"
"Gue gak kaya lo Revan, yang mesum aja pikirannya. "
"hahahaha, gue beneran heran" Revan menertawaiku.
"Terserah lo" Aku kembali memejamkan mata tanpa menggubris omongan Revan kemana-mana. Cindi dan Budi hanya tersenyum geli mendengar ocehan Revan tentang bosnya.
Perjalanan kali ini sungguh melelahkan. Di Tasik aku menyewa sebuah home stay untuk aku tempati bersama staff yang lain. Baru saja sampai ponselnku sudah bergetar, ah ternyata dari Tiara, aku malas menanggapinya. Aku jadi semakin heran. Kenapa dulu aku bisa bertunangan dengan wanita semacam dia.
Drrtt ... Drrttt
π± Tiara
Adit, besok kita ketemu di kantor om Danu.
__ADS_1
Aku malas membalasnya. Kubiarkan dan hanya kubaca saja.
πΌπΌπΌ
Pagi ini aku mulai dengan rencanaku, sepertinya ini akan berjalan sangat alot. Aku cemas, Revan menenangkanku. Ia seakan mengerti apa yang sedang aku pikirkan. Tiara sekarang bukanlah Tiara yang dulu.
"Kamu tenang saja, semalam Om Hendarto menelponku. Ia berjanji akan mengirim orangnya untuk membantu kita agar urusan ini cepat selesai."
"Papa?" aku heran, dari mana mertuaku bisa tahu masalah ini.
"Ayo kita jalan, bukannya mantan kekasihmu sudah menunggu? " Revan lagi-lagi menggodaku.
"Sialan lo," kutinju lengan Revan. Ia tertawa melihat raut mukaku yang tegang.
"Santai bro, Dita juga gak bakalan tahu" aish benar-benar ingin ku tonjok Reynan saat ini.
Kami telah sampai di kantor om Danu, ada Tiara yang telah menunggu kami. Aku yakin ini pasti rekayasa mereka.
Kami memasuki ruangan meeting, disana hanya ada om Danu, Tiara, Revan dan aku. Kami duduk melingkar. Ku utarakan maksud kedatangan kami. Om Danu malah tertawa lepas, ia menyerahkan semua keputusan ada di tangan Tiara.
Aku benar-benar putus asa tak kusangka semua akan jadi seperti ini. Tiara menginginkan agar aku mendampinginya. Haha benar-benar sial, aku tak punya pilihan lagi untuk menolak. Sembari menunggu orang suruhan papa, aku akan mengikuti permainan Tiara.
Aku mulai bernapas lega, Tiara sudah pulang. Aku segera mengambil ponselku dan menghubungi Dita.
Aku melihat wajahnya yang lesu,bahkan terlihat lingkaran hitam dimata indahnya. Seperti biasa ia merajuk padaku. Aku pun sama sangat merindukannya. Ah...semua ini gara-gara Tiara.
Ia menutup telponnya kesal, aku merasa bersalah padanya.
Cindy menelpon Revan memberi kabar, orang suruhan papa telah berhasil mengembalikan proyekku. Om Danu kalah. Aku tersenyum menang. Besok pagi rasanya aku sudah tidak sabar untuk memberi kejutan pada Dita.
Pagi-pagi sengaja aku membeli buket mawar putih yang akan kuberikan pada istriku. Ia pasti akan suka.
Sebelum pulang aku sengaja Mengecek semua persiapan dokumen yang akan dibawa Revan untuk perijinan ulang.
Aku mempercayakan semuanya pada Revan, selang beberapa menit ada sebuah telpon masuk dari nomor tak dikenal. Aku mengangkatnya.
__ADS_1
"Dit, aku mohon kamu kesini, " ternyata Tiara yang menelponku.
"Maaf, aku harus segera pulang. Dita sudah menungguku. "
"Cih, gadis itu lagi. Apa istimewanya sih dia? "
"Dia istriku, jadi sudah seharusnya aku mengistimewakannya. "
"Adit, kalau kamu tidak kesini aku akan bunuh diri. " Tiara mengancam.
Adit kaget mendengarnya, "jangan bodoh kamu !"
"Aku bodoh karna kamu, please datang kesinj untuk terakhir kali. Aku tidak minta apa-apa darimu. " Aku tak punya pilihan. Aku memutuskan menyimpan buket mawar itu dan mengajak Budi mengantarku ke rumah Tiara.
Sebelumnya aku ijin pada Revan. Ia sempat ragu, tapi aku meyakinkannya bahwa semua akan baik- baik saja.
Aku sebenarnya was-was, tapi aku berusaha menenangkan hatiku bahwa semua akan baik-baik saja. Ada Dita yang sudah menungguku di rumah.
Rumah om Danu terlihat sepi, aku melangkah masuk sementara Budi menungguku di mobil.
Aku melihat Tiara yang tergeletak di lantai sambil memegang pisau di tangan.Aku panik,aku menghampirinya mengambil kotak p3k dan membalut tangannya dengan perban yang sempat tergores sedikit.
"Tiara! Jangan bodoh kamu, apa yang kamu lakukan."
"Aku udah gak punya siapa siapa lagi Dit, kamu udah ninggalin aku." Aku merasa bersalah melihat Tiara yang seperti ini.
"Ra, sadarlah. Banyak lelaki yang menginginkan kamu. Aku tidak pantas untukmu. Aku sudah punya Dita. " Aku duduk berusaha tenang menghadapinya.
"Kenapa harus dia adit? Kenapa harus gadis Abg itu? Apa aku kurang cantik? Apa aku kurang menarik bagimu?" Tiara mendekatiku,ia menatapku tajam. Aku gelagapan menangkap sinyal buruk dari Tiara.
Tangannya mulai menggerayangi dadaku, membuka kancing kemejaku dan menjelajah kedalamnya. Aku merasa risih, bukan hal ini yang aku inginkan.
"Bukankah aku lebih pantas untukmu? Kamu belum pernah merasakannya kan? " Tiara semakin brutal, ia mencium ceruk leherku dan memegang erat kerah kemejaku. aku mendorongnya kasar. Napasku tak beraturan, sungguh ini kejadian terburuk yang aku alami.
"Adit, bukannya ini yang tidak pernah kamu dapatkan dari gadis Abg itu bukan?"
__ADS_1
Tiara bertambah menggila, ia merobek bajunya dan mengacak-acak rambutnya.
Wanita ini memang gila, aku terjebak dalam permainannya, aku terpojok . Ia menyudutkanku. Tingkahnya sudah semakin liar.