
hai author kembali lagi ya, semoga saja masih ada yang menanti kisah ini.
💕💕🙈🙈
Seharian Adit panik memikirkan istrinya yang belum juga pulang dari sekolah. Berulang kali melihat ponsel, tetapi masih saja belum ada kabar dari Dita.
Mencoba menelpon Sonya untuk memastikan, tetapi jawaban Sonya makin membuatnya khawatir. Dita sudah pulang dari jam 1 siang.
Adit memastikan lagi dengan menelpon Nadia dikantor. Siapa tahu Dita mampir ke kantor, tetapi hasilnya juga sama, tidak ada Dita disana.
Adit mencoba menghubungi Dita. Namun, telponnya tidak aktif. Adit semakin khawatir, tidak biasanya Dita seperti ini. Apakah terjadi sesuatu pada Dita? pertanyaan itu terus muncul di dalam pikiran Adit.
Selang beberapa menit ponsel Adit bergetar,Ternyata telpon dari papa mertuanya. Adit segera mengangkatnya, jikalau ada yang penting.
"Assalamu'alaikum," sapa Adit.
"Waalaikumsalam," jawab Pak Hendarto.
"Adit, malam ini Dita tidur di rumah papa. Kamu tidak usah khawatir, dia baik-baik saja, besok kamu bisa datang kerumah untuk membicarakan semuanya dengan Dita."
"Pa, apa yang terjadi pada Dita? kenapa dia tidak menelponku? aku khawatir memikirkannya."
"Maafkan papa dit, kali ini Dita sangat terpukul, papa mohon pengertianmu." Berulang kali Adit menghembuskan napasnya mendengar penjelasan mertuanya.
"Baiklah aku paham,Pa. Besok aku akan menemui Dita."
"Baiklah, kamu jangan terlalu memikirkannya, semua akan baik-baik saja." Pak Hendarto menutup telponnya, Adit mengacak rambutnya frustasi. Pikirannya mulai berpikir yang tidak-tidak, apakah terjadi sesuatu pada istrinya? atau Dita malah mengetahui tentang foto itu.
Adit mencoba berpikir dengan tenang. Yang ia butuhkan saat ini hanyalah tidur, agar kepalanya tidak terasa berat.
💕💕💕💕
"Tuhan kenapa engkau selalu memberi ujian padaku? Rasanya aku benar-benar sulit untuk menerima ini. Melihat foto itu, aku hanya bisa membayangkan apa yang mereka lakukan waktu itu." Air mata Dita luruh membahasi foto pernikahannya.
Sepulang dari sekolah Dita mendapati foto Adit bersama Tiara. Seketika dunia terasa runtuh, langit terasa gelap, pikirannya sangat kacau. Hati Dita berteriak, kenapa Adit tega melakukan semuanya. Padahal baru saja ia merasakan manisnya cinta, setelah sekian lama mereka tak bertemu. Foto itu seakan menjadi jawaban atas pertanyaan-pertanyaan Dita selama ini.
"Dita, kamu baik-baik saja kan, Nak?" Pak Hendarto mendekati Dita yang tengah duduk di pinggir kolam.
Dita hanya terdiam, mengayunkan kaki di dalam kolam hingga timbul suara gemericik air.
"Papa tahu kamu pasti kecewa, tapi bukan berarti kamu harus seperti ini. Semua bisa dibicarakan baik-baik."
"Tapi pa, foto itu sudah menjelaskan semuanya."
__ADS_1
"Dita, berumah tangga itu memang tidak semudah yang dibayangkan. Akan banyak timbul masalah di dalamnya. Dan mulai sekarang kamu harus bisa mengatasinya dengan kepala yang dingin. Jangan memakai ego dan emosi." Dita hanya menundukkan kepalanya. Baginya foto itu benar-benar menjadi bukti dari semuanya.
"Pa, apakah urusan orang dewasa serumit ini?" tanya Dita. Matanya mengisyaratkan perasaan yang pilu.
"Hahahahaha." Pak hendarto tertawa mendengar pertanyaan Dita. Mendekati putrinya dan menyenderkan kepala Dita di dadanya. Membelai lembut rambut putrinya yang terurai.
"Dita, menghadapi situasi seperti ini kamu harus bisa berpikir jernih. Jangan pernah mengambil keputusan sesaat karna pikiranmu sedang dipenuhi emosi," ucap Pak Hendarto dengan kelembutan.
"Dita berusaha berpikir jernih. Akan tetapi hatiku menolak pa, foto itu ... Memikirkannya saja membuatku jijik."
"Kamu kan belum mendengarkan penjelasan dari suami kamu. Bersikaplah dewasa, bijaklah dalam menyikapi suatu Masalah. Papa yakin ini hanya rekayasa semata. Adit menantu papa tidak akan berbuat seperti itu." Dita melepas pelukannya melihat papanya yang terlihat tenang.
"Makdud papa?" tanya Dita.
"Papa sudah tahu semuanya. Orang suruhan papa sudah menyelidiki kejadian ini."
"Benarkah?" Bibir Dita mulai menerbitkan senyumnya.
"Saran papa, besok kalian harus bicara dan selesaikan semuanya secara baik-baik," pinta Pak Hendarto.
Dita mengangguk dan tersenyum, mendengar penjelasan papahnya membuat hatinya sedikit lega. Ia bergegas beranjak dan memilih tidur agar pikirannya menjadi tenang.
Pagi-pagi sekali Dita sudah rapi memakai setelan rok dipadu blazer berbahan jeans. Ia mematut dirinya di depan cermin memoles tipis wajahnya. Kali ini Dita mencoba liptstik dengan warna yang agak berbeda. Ia memilih warna soft pink yang membuat wajahnya terlihat berbeda. Memakai blush on dan membubuhkan maskara pada bulu matanya yang lentik, penampilannya terlihat sangat berbeda. Wajahnya terlihat lebih segar dan dewasa.
Suara pintu diketuk, Mbok Nah memberitahu bahwa Adit sudah di bawah menunggunya.
Dita berusaha sewajar mungkin, kali ini ia memang ingin menyelesaikan semuanya hari ini. Benar kata Papahnya, semua masalah bisa dibicarakan baik-baik, tidak perly menggunakan emosi ataupun ego.
Dita berjalan menuruni tangga, tampak Adit yang sudah menunggunya, ditemani Pak Hendarto yang sudah siap berangkat ke kantor.
Adit tersenyum melihat istrinya, pagi ini Dita terlihat cantik. Riasan wajahnya membuat Dita tampak lebih cantik dari biasanya
"Adit, papa tinggal ke kantor dulu. Ingat pesan papa, jinakkan merpatimu yang sedang ngambek" Pak Henarto menepuk punggung Adit dan tersenyum menggoda melihat putrinya yang berbeda.
"Dita, kamu baik-baik saja kan? Aku mengkhawatirkanmu," ucap Adit dengan nada lirih.
"Aku baik-baik saja, tidak perlu ada yang dikhawatirkan." Dita terkesan cuek dan masa bodoh.
"Dita, bisakah kita bicara sebentar?"
"Om, bukankah kita ini sedang berbicara?" tanya Dita sinis.
Adit berulang kali menghela nafas, menghadapi Dita seperti ini benar-benar melatih kesabarannya. Bukan satu dua kali Dita seperti ini, tetapi Adit berusaha menanggapinya dengan tenang. Istrinya ini memang terbilang gadis yang unik.
__ADS_1
"Ikutlah denganku, aku akan menjelaskan semuanya." Adit mengajak Dita pergi keluar,sementara Istrinya masih tampak ragu untuk menerima ajakannya.
"Tenang, aku tidak akan menculikmu,Tidak ada pasal yang menyebutkan kejahatan menculik istri sendiri." Adit menarik tangan Dita yang masih mematung.
"Om ... Dita bukan anak kecil lagi!" seru Dita.
"Kalau bukan anak kecil seharusnya kamu menurut kali ini." Adit tersenyum menanggapi seruan istrinya.
"Disaat seperti ini om masih saja menyebalkan," gerutu Dita.
Adit terkekeh melihat ekapresi Dita, hatinya senang melihat istrinya kembali seperti semula.
"Baiklah, aku tunggu di mobil atau aku akan menculikmu." Adit tersenyum nakal dan meninggalkan Dita yang tengah kesal.
Dita menyusul Adit yang tengah duduk menunggunya di dalam mobil. Dengan wajah yang masih datar, Dita berusaha cuek dan yifak menghiraukan Adit.
"Sudah siap tuan putri?"
"Hmmm," Dita berdehem.
Adit melajukan mobilnya dengan kecepatan sedang. Suasana di dalam mobil hening, tidak ada pembicaraan satu pun keluar dari mereka. Mobil masih melaju membelah jalanan, sepertinya Adit membawa Dita keluar kota.
"Hei, kamu mau membawaku kemana?"
"Sudahlah tuan putri kamu duduk manis saja, sebentar lagi kita akan sampai dan aku pastikan kali ini aku yang menang." Adit melirik Dita berbicara penuh keyakinan.
"Terserahlah," ketus Dita.
Adit tersenyum menang, menaklukkan istrinya merupaka kesulitan sendiri baginya. Gadis ABG ini terbilang unik dan langka. Pantas saja banyak pemuda yang tergila-gila,tetapi semuanya bernasib tragis.
bersambung.
**ada yang mau jawab mereka mau kemana?tinggalkan di kolom komentar ya..
notes from author,
hai reader mohon maaf sebelumnya. sekedar pemberitahuan ya ... mulai kedepannya insyaallah author akan sempatin up 2 hari sekali. Dikarenakan kesibukan author yang mulai kembali seperti biasa, so ... tetap setia ya sama Adit dan Dita.
yuk follo ig dan fb author.
instagram on @naili_clarista
fb on @hikaru san**.
__ADS_1