AKU MASIH ABG

AKU MASIH ABG
Misi Mempunyai Baby


__ADS_3

Dita masih dalam berada dekapan Adit. Lelaki itu


terlihat sangat bahagia. Entah apa yang membuatnya bahagia. Peleburan hasrat


yang telah lama ia tahan akhirnya mencair. Gadis di dalam dekapannya menuruti


keinginan Adit untuk segera mempunyai buah hati. Toh, Dita sebentar lagi akan


lulus. Untuk masalah pekerjaannya. Adit bisa membantu sang istri untuk


meng-handle-nya.


Berulang kali Adit menciumi pucuk kepala Dita. Gadis


itu memeluk erat tubuh sang suami hanya dengan balutan selimut yang membungkus


keduanya. Ya, rasanya dunia begitu indah dan dunia terasa milik berdua. Tinggal


hanya berdua membuat mereka tidak harus malu pada siapapun. Tidak akan ada yang


mengganggu saat mereka telat bangun atau tidak keluar rumah.


Ia memejamkan mata merasakan kebersamaan yang beberapa


hari ini menghilang. Kesibukan membuat mereka menjauh satu sama lain. Terutama


Adit, pekerjaannya semakin menumpuk dan Dita sibuk dengan urusannya. Mereka tidak


mempunyai waktu walau hanya untuk berdua.


Banyak kisah yang sudah mereka lalui, bahkan Adit yang


pernah menghilang membuat Dita tidak menyangka bisa bertemu dan bersama lagi.


"Dit, kamu maunya punya anak berapa?" Adit


kembali mencium pucuk kepala sang istri. Kebahagiaan yang amat besar begitu


tersirat di wajahnya.


Dita membuka matanya, mendongak melihat Adit yang


tersenyum kepadanya."Mas, positif aja belum. Kenapa harus tanya punya anak


berapa?"


"Enggak apalah." Adit merapikan rambut Dita


yang berantakan."Apa kita kejar target lagi biar cepat positif


hasilnya?" Adit malah mengoda sang istri.


Seketika Dita malu mendengar ucapan sang suami. Ia


menggigit bibir bagian bawahnya. Bingung bagaimana harus mengimbangi perkataan


Adit.


Lelaki dalam dekapannya mengendurkan pelukannya.


Merubah posisinya hingga wajah mereka berhadapan. Wajah cantik yang selalu


membuatnya rindu. Gadis kecil yang dulunya selalu bersamanya kini menjadi


pendamping hidupnya.


Jari tangannya membelai pipi sang istri, membuat darah


Dita berdesir kembali. Sentuhannya yang lembut membuat sang istri hanya mampu


memejamkan matanya.


"Kamu tahu, aku sudah tidak sabar dengan


kehadiran baby di rumah ini."


Pipi Dita bersemu merah. Ia berpikir lama. Apa memang


sudah saatnya ia memenuhi keinginan sang suami. Toh ia sudah menyelesaikan

__ADS_1


pendidikannya. Dan usia Adit yang terbilang tak lagi muda membuatnya berpikir


ulang untuk menunda keberadaan baby dalam rumah tangganya.


"Kenapa? Kamu masih teringat semalam?" Adit


mencubit pipi Dita gemas.


"Mas ... bicara apaan, sih. Pagi ini aku mau di


rumah. Aku mau istirahat. Nanti aku telepon Mbak Nadine biar atur ulang


jadwalku.


"Kalau kamu di rumah, aku juga mau di rumah. Aku


mau nemenin istriku yang cantik ini. Kita habisin waktu bareng, biar cepet


punya baby."


"Ish, nggak boleh gitu, bukannya hari ini kamu


ada meeting?"


"Nggak peduli. Aku maunya sama kamu." Adit


kembali mengeratkan pelukannya.


Dita merasa geli dan merasa suaminya terasa sangat


genit pagi ini. Ia terus mendekap tubuh Dita dan membuat sang istri tersipu


malu. Niat ingin memiliki semakin besar. Adit tidak akan melepaskan istrinya


sebentar saja. Terlebih rasa itu sudah terkumpul bagaikan gunung.


Adit tidak akan membiarkan kesempatannya terlewat


begitu saja. Sehari penuh bersama Dita akan membuat istrinya menyerah dan Adit harus


berhasil melakukannya.


***


aktivitasnya. Ia mengambil cuti satu tahun sebelum masuk kuliah. Ia sengaja


mengambil jeda satu tahun untuk memenuhi permintaan Adit yang menginginkan anak


darinya. Ia merasa ingin membuat Adit bahagia sebelum kepincut wanita lain yang


lebih darinya. Terlebih Adit sering di luar karena pekerjaan. Dita hanya bisa


berharap suaminya tidak akan tergoda wanita lain dan melupakannya.


Dita sudah chek up beberapa kali ke dokter bersama


Adit, memastikan bahwa keduanya dalam keadaan sehat untuk melakukan program


hamil. Semua hasilnya pun menunjukkan baik. Tidak ada masalah di antara keduanya.


Adit meminta Dita untuk beristirahat di rumah dan


mengurangi aktivitasnya. Sesekali Dita meminta berkunjung ke rumah ayahnya. Bahkan


saat Adit berada di luar kota, Dota memilih menginap di rumah ibu mertuanya.


Bayangkan saja jika Adit di luar kota dan Dita harus


sendrian di rumah selama beberapa hari. Bosan, Dita menawar Adit agar


mengijinkannya ke Kantor dua kali di akhir pekan. Ia tidak mau seperti orang


gila yang setiap hari memikirkan sang suami. Ia juga butuh aktivitas.


Kesibukan Adit yang semakin padat membuatnya kesepian


jika harus di rumah sendirian. Ia butuh aktivitas yang membuatnya tetap waras.


“Mbak Dita enggak makan siang?”

__ADS_1


Nadin sekretaris Dita masuk ke dalam ruangan


atasannya. Sejak pagi tadi gadis itu memang belum juga keluar. Ia agak khawatir


karena ayahnya Dita selalu berpesanpadanya untuk melihat kondisi Dita.


“Malas, Mbak.”


“Lho kenapa malas? Besok bukannya Pak Adit udah pulang


dari Semarang? Enggak boleh lemes gitu.”


“Justru itu, besok Mas Adit udah pulang, sedangkan aku


belum juga hamil.”


Dita hanya bisa menghela napas panjang. Ia merasa


takut jika Adit akan kecewa jika harapannya belum juga terkabul untuk memiliki


anak. Terlebih sudah berbulan-bulan belum menunjukkan hasil positif.


“Mbak Dita kurang agresif, sih. Coba Mbak Dita yang


duluan agresif.”


Nadine malah tertawa. Sepertinya mengerjai atasannya


yang masih bocah itu akan menyenangkan.


“Agresif? Aku yang mulai duluan gitu?”


“Iya, besok kalau Pak Adit pulang jangan lupa keluarin


jurus pamungkas biar Pak Adit luluh. Habis pulang kerja pasti capek. Apa lagi


beberapa hari tidak bertemu.”


“Ish … enggak mau, ah. Masak aku harus


genit sambil pakai baju seksi gitu. Gak mau, gak mau.”


Dita tidak bisa membayangkan jika semua itu terjadi.


Apalagi memakai baju dinas para wanita saat berada di ranjang.


“Yakin? Enggak mau?”


Dita terdiam berpikir apa yang dikatakan Nadine memang


benar, tapi bagaimana ia harus memulainya saat Adit pulang. Semuanya pasti akan


terasa sangat aneh. Terlebih Dita juga tidak terbiasa melakukannya.


Belum tentu juga Adit akan menerimanya. Tapi …sepertinya


Dita memang harus melakukannya agar cepat memiliki anak. Selama ini ia masih


malu-malu dan Adit yang selalu agresif. Dita hanya memilih menurut karena masih


merasa malu melakukannya terlebih dulu.


“Udah, Mbak Dita enggak usah bayangin yang tidak-tidak.


Langsung telepon Pak Adit minta segera pulang.”


Nadine tersenyum melihat tingkah Dita. Bos ABG-nya ini


memang belum sama sekali berpengalaman. Gadis itu menganggap dunia rumah tangga


tidak berbeda jauh dengan dunianya. Padahal sebuah rumah tangga memiliki masalah


yang jauh lebih kompleks saat keduanya tidak memahami satu sama lain.


“Gimana? Bener, kan?”


“Ih … Mbak Nadine apaan, sih.”


Dita tersipu malu. Ia meminta Nadine untuk keluar

__ADS_1


karena ingin segera menelepon Adit sesuai perintah Nadine. Ia berusaha


mencobanya dan berpikir Adit akan menangapinya dengan baik.


__ADS_2