
Dita masih dalam berada dekapan Adit. Lelaki itu
terlihat sangat bahagia. Entah apa yang membuatnya bahagia. Peleburan hasrat
yang telah lama ia tahan akhirnya mencair. Gadis di dalam dekapannya menuruti
keinginan Adit untuk segera mempunyai buah hati. Toh, Dita sebentar lagi akan
lulus. Untuk masalah pekerjaannya. Adit bisa membantu sang istri untuk
meng-handle-nya.
Berulang kali Adit menciumi pucuk kepala Dita. Gadis
itu memeluk erat tubuh sang suami hanya dengan balutan selimut yang membungkus
keduanya. Ya, rasanya dunia begitu indah dan dunia terasa milik berdua. Tinggal
hanya berdua membuat mereka tidak harus malu pada siapapun. Tidak akan ada yang
mengganggu saat mereka telat bangun atau tidak keluar rumah.
Ia memejamkan mata merasakan kebersamaan yang beberapa
hari ini menghilang. Kesibukan membuat mereka menjauh satu sama lain. Terutama
Adit, pekerjaannya semakin menumpuk dan Dita sibuk dengan urusannya. Mereka tidak
mempunyai waktu walau hanya untuk berdua.
Banyak kisah yang sudah mereka lalui, bahkan Adit yang
pernah menghilang membuat Dita tidak menyangka bisa bertemu dan bersama lagi.
"Dit, kamu maunya punya anak berapa?" Adit
kembali mencium pucuk kepala sang istri. Kebahagiaan yang amat besar begitu
tersirat di wajahnya.
Dita membuka matanya, mendongak melihat Adit yang
tersenyum kepadanya."Mas, positif aja belum. Kenapa harus tanya punya anak
berapa?"
"Enggak apalah." Adit merapikan rambut Dita
yang berantakan."Apa kita kejar target lagi biar cepat positif
hasilnya?" Adit malah mengoda sang istri.
Seketika Dita malu mendengar ucapan sang suami. Ia
menggigit bibir bagian bawahnya. Bingung bagaimana harus mengimbangi perkataan
Adit.
Lelaki dalam dekapannya mengendurkan pelukannya.
Merubah posisinya hingga wajah mereka berhadapan. Wajah cantik yang selalu
membuatnya rindu. Gadis kecil yang dulunya selalu bersamanya kini menjadi
pendamping hidupnya.
Jari tangannya membelai pipi sang istri, membuat darah
Dita berdesir kembali. Sentuhannya yang lembut membuat sang istri hanya mampu
memejamkan matanya.
"Kamu tahu, aku sudah tidak sabar dengan
kehadiran baby di rumah ini."
Pipi Dita bersemu merah. Ia berpikir lama. Apa memang
sudah saatnya ia memenuhi keinginan sang suami. Toh ia sudah menyelesaikan
__ADS_1
pendidikannya. Dan usia Adit yang terbilang tak lagi muda membuatnya berpikir
ulang untuk menunda keberadaan baby dalam rumah tangganya.
"Kenapa? Kamu masih teringat semalam?" Adit
mencubit pipi Dita gemas.
"Mas ... bicara apaan, sih. Pagi ini aku mau di
rumah. Aku mau istirahat. Nanti aku telepon Mbak Nadine biar atur ulang
jadwalku.
"Kalau kamu di rumah, aku juga mau di rumah. Aku
mau nemenin istriku yang cantik ini. Kita habisin waktu bareng, biar cepet
punya baby."
"Ish, nggak boleh gitu, bukannya hari ini kamu
ada meeting?"
"Nggak peduli. Aku maunya sama kamu." Adit
kembali mengeratkan pelukannya.
Dita merasa geli dan merasa suaminya terasa sangat
genit pagi ini. Ia terus mendekap tubuh Dita dan membuat sang istri tersipu
malu. Niat ingin memiliki semakin besar. Adit tidak akan melepaskan istrinya
sebentar saja. Terlebih rasa itu sudah terkumpul bagaikan gunung.
Adit tidak akan membiarkan kesempatannya terlewat
begitu saja. Sehari penuh bersama Dita akan membuat istrinya menyerah dan Adit harus
berhasil melakukannya.
***
aktivitasnya. Ia mengambil cuti satu tahun sebelum masuk kuliah. Ia sengaja
mengambil jeda satu tahun untuk memenuhi permintaan Adit yang menginginkan anak
darinya. Ia merasa ingin membuat Adit bahagia sebelum kepincut wanita lain yang
lebih darinya. Terlebih Adit sering di luar karena pekerjaan. Dita hanya bisa
berharap suaminya tidak akan tergoda wanita lain dan melupakannya.
Dita sudah chek up beberapa kali ke dokter bersama
Adit, memastikan bahwa keduanya dalam keadaan sehat untuk melakukan program
hamil. Semua hasilnya pun menunjukkan baik. Tidak ada masalah di antara keduanya.
Adit meminta Dita untuk beristirahat di rumah dan
mengurangi aktivitasnya. Sesekali Dita meminta berkunjung ke rumah ayahnya. Bahkan
saat Adit berada di luar kota, Dota memilih menginap di rumah ibu mertuanya.
Bayangkan saja jika Adit di luar kota dan Dita harus
sendrian di rumah selama beberapa hari. Bosan, Dita menawar Adit agar
mengijinkannya ke Kantor dua kali di akhir pekan. Ia tidak mau seperti orang
gila yang setiap hari memikirkan sang suami. Ia juga butuh aktivitas.
Kesibukan Adit yang semakin padat membuatnya kesepian
jika harus di rumah sendirian. Ia butuh aktivitas yang membuatnya tetap waras.
“Mbak Dita enggak makan siang?”
__ADS_1
Nadin sekretaris Dita masuk ke dalam ruangan
atasannya. Sejak pagi tadi gadis itu memang belum juga keluar. Ia agak khawatir
karena ayahnya Dita selalu berpesanpadanya untuk melihat kondisi Dita.
“Malas, Mbak.”
“Lho kenapa malas? Besok bukannya Pak Adit udah pulang
dari Semarang? Enggak boleh lemes gitu.”
“Justru itu, besok Mas Adit udah pulang, sedangkan aku
belum juga hamil.”
Dita hanya bisa menghela napas panjang. Ia merasa
takut jika Adit akan kecewa jika harapannya belum juga terkabul untuk memiliki
anak. Terlebih sudah berbulan-bulan belum menunjukkan hasil positif.
“Mbak Dita kurang agresif, sih. Coba Mbak Dita yang
duluan agresif.”
Nadine malah tertawa. Sepertinya mengerjai atasannya
yang masih bocah itu akan menyenangkan.
“Agresif? Aku yang mulai duluan gitu?”
“Iya, besok kalau Pak Adit pulang jangan lupa keluarin
jurus pamungkas biar Pak Adit luluh. Habis pulang kerja pasti capek. Apa lagi
beberapa hari tidak bertemu.”
“Ish … enggak mau, ah. Masak aku harus
genit sambil pakai baju seksi gitu. Gak mau, gak mau.”
Dita tidak bisa membayangkan jika semua itu terjadi.
Apalagi memakai baju dinas para wanita saat berada di ranjang.
“Yakin? Enggak mau?”
Dita terdiam berpikir apa yang dikatakan Nadine memang
benar, tapi bagaimana ia harus memulainya saat Adit pulang. Semuanya pasti akan
terasa sangat aneh. Terlebih Dita juga tidak terbiasa melakukannya.
Belum tentu juga Adit akan menerimanya. Tapi …sepertinya
Dita memang harus melakukannya agar cepat memiliki anak. Selama ini ia masih
malu-malu dan Adit yang selalu agresif. Dita hanya memilih menurut karena masih
merasa malu melakukannya terlebih dulu.
“Udah, Mbak Dita enggak usah bayangin yang tidak-tidak.
Langsung telepon Pak Adit minta segera pulang.”
Nadine tersenyum melihat tingkah Dita. Bos ABG-nya ini
memang belum sama sekali berpengalaman. Gadis itu menganggap dunia rumah tangga
tidak berbeda jauh dengan dunianya. Padahal sebuah rumah tangga memiliki masalah
yang jauh lebih kompleks saat keduanya tidak memahami satu sama lain.
“Gimana? Bener, kan?”
“Ih … Mbak Nadine apaan, sih.”
Dita tersipu malu. Ia meminta Nadine untuk keluar
__ADS_1
karena ingin segera menelepon Adit sesuai perintah Nadine. Ia berusaha
mencobanya dan berpikir Adit akan menangapinya dengan baik.