AKU MASIH ABG

AKU MASIH ABG
Sakit


__ADS_3

"Om, udah donk geli ini." Adit masih saja menggoda Dita, meniupi leher Istrinya bagian belakang.


Tak menurut, Adit masih saja menggoda istrinya yang tengah serius di depan laptop.


"Om, tugas dari pak Dika gak selesai nanti. Besok sudah harus dikumpulkan, bulan depan sudah ujian akhir. Aku gak mau ya nilaiku jelek karena keseringan diganggu sama kamu." Dita berbicara panjang lebar. Wajahnya sudah jengkel karena belum satu halaman pun ia kerjakan.


Dita mengerjakan tugasnya bersama Adit di paviliun dekat resto. Mereka duduk di karpet dan Dita fokus pada laptopnya, sedangkan Adit malah asyik mengganggu Dita dari belakang.


Lengan kokohnya melingkari perut Dita. Ia masih meniupi leher Dita membuat sang istri merasa geli.


"Mas,udahan donk. Aku gak bisa konsentrasi nih. " Dita tampak kesal. Bahkan satu halamanpun ia belum menyelesaikannya.


"Aku masih kangen sayang ... " Kali ini Adit menciumi leher Dita.


"Ish ... Om!!!!" Dita semakin kesal, ia menutup laptopnya dan berbalik melihat suaminya dengan kesal. Wajahnya sudah merah padam, kali ini ia benar-benar jengkel karena ulah suaminya.


"Hei, kamu marah sayang?" Tanya Adit, ia menangkupkan tangannya pada pipi chuby Dita. Dipandangi wajah yang tengah kesal. Wajah imut itu hanya mengerucutkan bibirnya karena kesal.


"Maafin aku ya, its okey aku akan tunggu di depan. Kamu selesaikan tugasmu, aku tidak akan mengganggu." Adit membelai pipi Dita dan beranjak dari tempat duduknya.


"Mas ... " Dita menarik tangan Adit, ia khawatir suaminya tersinggung karena ucapannya.


"Kenapa?" Adit kembali berjongkok dan menopang dagunya. Ia tersenyum memandangi Dita.


"Kamu gak marah kan?" Ragu, Dita memberanikan diri bertanya.


"It's okey sayang, aku paham ujian ini sangat penting untukmu."


"Terima kasih." Tanpa aba-aba Dita mencium pipi sang suami malu-malu. Adit pun tersenyum melihat Dita yang malu-malu. Adit beranjak dan membiarkan Dita mengerjakan tugasnya.


Di dalam resto, Revan telah menunggu Adit. Masih berpakaian rapi,duduk sambil menyesap secangkir kopi. Baru saja Revan pulang dari Tasik, menyelesaikan beberapa urusan yang belum beres. Revan langsung menemui Adit di Resto. Banyak hal yang akan ia laporkan pada bos sekaligus sahabatnya.


"Hai bro, gimana kabarnya? Ada yang lagi bahagia nih." Revan menyapa sahabatnya yang tengah datang memghampirinya.


"Biasa aja deh." Adit menarik kursi sebelah Revan.


"Kayaknya udah ada yang berhasil jebol gawang istri nih, wajahnya adem bener." Revan sengaja menggoda Adit yang tidak tampak seperti biasa.

__ADS_1


"Ish, kepo kamu. Udah pulang aja sana kalau cuma mau bilang kaya gitu. Ogah aku punya teman kayak kamu" Adit menonjok lengan Revan.


"Hahhaha, santai bos ... " Mereka pun tertawa bersama.


Revan kembali menyesap kopinya menikmati sensasi pahit dari kopi yang ia minum.


"Oh iya nyonya bos dimana dit?" Tanya revan.


"Di paviliun, sedang menyelesaikan tugas sekolahnya. Gimana apa ada perkembangan?" Tanya Adit pelan. Ia takut bila ada yang mendengar. Rasanya ia paham apa yang akan disampaikan Revan.


"Untuk proyek kita aman bos, om Hendarto emang pengusaha handal. Lo mesti belajar banyak dari dia. Kredibilatasnya sebagai pengusaha sukses patut gue acungi jempol. Om Danu kalah set, dia gak bisa berkutik. Bahkan sekarang dia malah yang tersandung masalah." Revan begitu semangat.


"Iya gue tahu, papa memang handal. Sejak pertama mengenal beliau aku sudah kagum. Single dady dan mengurus ketiga anaknya sendirian. Bahkan ketika Dita masih kecil tidak enggan mengajaknya."


"Hahah, dan akhirnya anak gadisnya lo embat juga setelah gede." Revan tertawa lepas.


"Tapi van, aku belum tenang. Bayang-bayang Tiara masih menghantuiku. Foto itu, aku takut bila Dita mengetahuinya. Jujur aku belum siap kalau harua kehilangannya." Adit tampak ftustasi.


"Gue turut prihatin bro, tapi Om Hendarto tahu kalau itu hanya jebakan dit, tetapi beliau memang sengaja agar kamu bisa menyelsaikan semuanya dengan Dita secara baik-baik."


"Udah lo tenang aja,kalau memang ada kesulitan gue pasti akan bantu lo. Kemarin Tiara memang sempat menanyakan keberadaan lo. Dia mengancam akan berbuat nekat kalau lo gak nemuin dia." Revan menghela napas. Sebenarnya ia pun tak tega menyampaikannya.


"itulah yang aku takutkan, aku berada disini dan tidak kemana-mana agar Tiara tidak mengetahui keberadaanku. Wanita itu sudah benar-benar gila."


"Dia gila karena mu bro, hahaha aku gak nyangka, lo udah matahin hati banyak wanita dari dulu. Dan yang terakhir Tiara yang sangat tergila -gila padamu."


"ish.. sialan lo, jangan sebut nama dia. ilfeel tahu gak, mengingat kegilaan dia hampir membuatku gila." Adit benar-benar tidak bisa berpikir jernih saat mengingatnya.


🥀🥀🥀🥀


Semalaman Adit tidak bisa tidur membayangkan Tiara, entah kenapa bayangan foto itu mulai muncul kembali dalam ingatannya. Ia hanya takut bila Dita berpikiran yang negatif. Bila suatu saat Dita melihat foto-foto itu. Baru saja ia merasa bahagia, tetapi bayang-bayang foto itu makin jelas terbayang.


"Mas, badanmu panas banget. Aku telpon dokter ya?" Dita panik mendapati tubuh suaminya yang panas.


"Gak usah sayang, aku buat istirahat pasti sembuh. Aku hanya merasa pusing saja. " Adit menggeserkan pungungnya bersandar di bahu ranjang.


"Iya mas, tapi aku khawatir. Aku tidak tega bila meninggalkankanmu sendirian hari ini. " Dita cemas, hari ini ia harus mengumpulkan tugas kemarin. Sementara suaminya malah sakit.

__ADS_1


"It's okey gak apa-apa, tugas itu sangat penting bagimu. Aku tidak ingin nilaimu jelek hanya karna kekhawatiranmu"


"Baiklah, aku akan siapkan bubur untukmu. Setelah itu aku akan siap-siap."


Dita beranjak ke dapur menyiapkan bubur untuk suaminya. Adit merasa Dita adalah gadis yang baik, beruntungnya ia memilikinya. Sifatnya yang terkadang manja. Tetapi ia memiliki sisi kedewasaan.


Kepalanya masib terasa pusing, bayangan foto itu terasa berputar. Ketakutannya begitu besar. Kehilangan Dita adalah hal yang tidak diinginkannya. Gadis kecil yang dari dulu ia jaga kini telah mendampingi hidupnya.


Dita kembali dengan semangkuk bubur yang ia masak lengkap beserta minum dan obat. Ia sudah bersiap untuk pergi ke sekolah mengumpulkan tugas. Berjalan memghampiri Adit dan duduk di tepi ranjang.


"Dimakan dulu mas," Dita membangunkan pelan suaminya yang tengah tertidur.


Adit baru sadar bila ia tertidur saat merasakan kepalanya pusing.


"Aku suapin ya, aku pastikan perutmu tidak kosong. Setelah itu minum obat untuk meredakan pusing"


Adit menggelengkan kepala, rasanya ia hanya ingin tidur untuk meredakan sakit kepalanya.


"Mas, kamu harus makan meskipun sedikit" paksa Dita.


Perlahan Dita mulai menyuapkan bubur kedalam mulut Adit, mulut adit terasa pahit.Rasanya enggan ia untuk makan,tetapi dengan telaten Dita menyuapinya hingga habis.


Akhirnya semangkuk bubur pun habis, Dita mengambil obat pereda pusing dan segelas air minum. Adit meminumnya, ia kembali merebahkan tubuhnya. Dita menutupinya dengan selimut. Ia mencium kening sang suami dan mentapnya hangat.


"Mas, kamu istirahat ya. "


"Iya, kamu tenang aja. Aku pasti baik-baik aja. Kamu gak usah khawatir."


🥀🥀🥀🥀🥀


Dita telah selesai mengumpulkan tugasnya, ia bergegas meninggalkan ruang guru dan sehera pulang. Perasaannya tidak enak meninggalkan Adit sakit di paviliun.


Saat menghadap Dika perasaannya sudah tidak enak. Ia membuka pintu mobil tergesa-gesa. Tak disadari sebuah amplop coklat terjatuh dan isisnya berserakan.


Dita terkejut dan tak menyangka melihatnya. Tubuhnya bergetar hebat, wajahnya memanas hingga tidak menyadari tasnya terjatuh ke tanah.


♥️♥️♥️

__ADS_1


__ADS_2