
Pov Adit.
“Shit ! bukan ini yang aku inginkan. ” umpatku dalam hati. Tiara sudah mulai menggila, ia membuka pakaian seperti orang kesurupan, ia mendorongku dan mencoba melancarkan aksinya. Aku bahkan sama sekali tidak bergairah melihat tingkahnya.
Aku mendorongnya kasar, rasanya aku sudah kesal melihat aksinya yang sudah keterlaluan. Ia
menangis sesengukan dan meraung-raung. Ia bersimpuh dan memeluk kakinya. Tangisnya pecah, aku sendiri tidak tahu apa yang membuatnya seperti itu. Hatiku merasa iba melihatnya.
Kudekati dia, kubuka jas dan menutup tubuhnya yang setengah telanjang.
“Ra, aku mohon maaf bila membuatmu seperti ini, tapi aku mohon jangan melakukan hal seperti ini lagi, masih banyak hal bermanfaat yang bisa kamu lakukan.” Ia masih terisak
bahkan ia menangis lebih kencang.
Iba, tapi aku masih sadar bahwa tidak semestinya aku berada disini. “Kamu jaga diri baik-baik, aku harap
suatu saat kamu akan menemukan orang yang pantas untukmu.”
Aku meniggalkannya dengan keadaan yang kacau, aku tidak peduli. Aku hanya memikirkan bagaimana Dita menungguku disana. Aku tidak ingin dia salah paham dengan kejadian yang terjadi saat ini. Aku yakin Dita pasti kecewa bila tahu kejadian barusan.
Aku bergegas menghampiri Budi yang menunggu di mobil, aku menyuruhnya segera meninggalkan
pekarangan rumah om Danu. Aku tidak ingin hal buruk terjadi dan membuat semuanya menjadi runyam karena ulah Tiara.
Sepanjang perjalanan aku terus was-was, aku memikirkan hal-hal yang tidak aku inginkan.
Perbuatan Tiara menyisakan ingatan buruk. Dan hampir saja aku terjebak olehnya.
Tiara benar-benar sudah berubah.
Drrrt.....drrrttt.....drrrtt.....
Beberapa notif pesan masuk, gambar ku bersama Tiara terpampang jelas di layar ponselku. Aku
terkejut bahkan tidak bisa berkata apa-apa. Aku telah dijebak, aku menelpon si
pengirim foto. Tersambung tetapi belum diangkat.
“Haloo sayang, bagaimana? Kamu kangen sama aku. Padahal baru saja kita bertemu.” Suara Tiara terdengar senang atas kemenangannya.
“wanita gila kamu!”
“kamu yang membuatku gila Adit,” mendengar suaranya aku semakin muak.
“pilihannya hanya satu, kamu kembali padaku atau foto-foto itu aku kirim pada gadis bodoh itu”
Tiara mengancamku.
“fuh... kamu licik, sampai kapanpun aku tak pernah akan kembali padamu! “ teriakanku membuatku Budi melirikku dari kaca depan.
“Hahahhahahha ... kita lihat sayang, bagaimana respon istrimu bila melihat gambar kita yang
sangat manis ini “ aku menutup telponnya, pikiranku benar-benar kacau. Bagaimana bisa Tiara selicik itu.
Disaat aku menerawang jauh, aku tidak sadar mobil yang dikemudikan Budi hampir menabrak
truk. Ia membanting setir dan malah membawa mobil kami masuk ke dalam jurang.
__ADS_1
Kami terperosok kedalam jurang, samar aku melihat bayangan budi yang terjepit, aku berusaha membawa tubuhku keluar mobil. Dengan lemah aku menyeret budi keluar. Lemas,
aku berusaha membawanya pergi dari tempat kecelakaan ini. Muncul ideku untuk
mengelabuhi Tiara, untuk sementara waktu aku akan bersembunyi.
Aku menelpon Adam, aku memintanya menyiapkan tempat. Aku rasa Resto milikku adalah tempat yang paling aman. Sembari menyiapkan keberanianku untuk menceritakan semuanya kepada Dita. Aku yakin Dia pasti akan terpukul bila melihat gambar itu.
Setelah menelpon Adam aku sengaja menghancurkan ponselku agar mereka mengira aku telah tiada.
“maafkan aku, Dita . Disaat yang tepat aku akan menemuimu. “ aku memapah Budi yang tengah terluka dan merintih kesakitan. Berjalan masuk kedalam hutan dan mencari perkampungan sekitar untuk meminta pertolongan.
Bulan berganti bulan aku bersama budi menempati paviliun yang berada di samping resto. Rindu pasti, apalagi mama selalu menceritakan Dita yang kehilangan semangat karna ku. Aku sengaja meminta mama untuk merahasiakan semua ini, bahkan aku yang meminta mama agar Dita lebih baik tinggal bersama papa. Aku tidak ingin dia terlarut dalam kesedihan.
Hingga aku mendapatkan kabar bahwa ia mencariku ke Tasik. Aku sempat khawatir dia akan mempercayai Tiara, aku menelpon orang kepercayaanku untuk mengawasi perjalanan
mereka. Dan satu hal yang tidak aku duga. Reynan sepupuku sendiri memanfaatkan
keadaan ini. Ia berusaha mendekati istriku, argh... aku tidak bisa berpikir jernih sekarang. Rasanya aku takut bila harus kehilangan Dita.
Siang ini aku melihat dari paviliun ada sebuah mobil berhenti di depan resto. Aku mengenali mobil itu, hadiah pernikahanku pada Dita. Aku meminta Adam ataupun lainnya untuk
merahasiakan keberadaanku.
Kutatap wajah yang selalu kurindukan dari kejauhan, ia bertemu Adam. Aku sempat khawatir ia akan menemukanku disini. Aku sengaja bersembunyi, aku melihatnya masuk kedalam paviliun. Masuk kedalam kamarku, Aku rindu padanya, aku rindu memeluknya. Aku berjalan pelan mengikutinya, melihatnya menangis membuat hatiku bertambah sakit. Aku tidak tega melihatnya seperti ini. Sapertinya ini akhir dari persembunyianku. Dan aku akan menceritakan semuanya padanya. Aku tidak peduli dengan semuanya, yang
penting aku bisa selalu bersamanya.
Aku mendekap tubunya dari belakang. Pelukan ini begitu nyaman, ia mencoba melepaskan tetapi aku semakin mendekapnya erat. Kuhirup aroma tubuhnya,kucium ceruk lehernya. Berbalik
dan menagis melihatku. Kudekap erat tubuhnya melepas rindu yang selama ini kami
****
Pagi ini aku melihat wajah polos itu tertidur nyenyak dalam pelukanku. Sisa-sisa wajah yang
lelah masih tampak akibat pergulatan semalam. Kubelai pipinya yang cuby, ku singkirkan rambut yang menutupi wajah cantiknya. Aku tersenyum melihat tubuh polosnya yang masih terbalut selimut. Air
matanya tumpah merasakan kesakitan semalam, aku mencoba menenangkan dengan memeluknya erat hingga ia teridur. Ia mulai menggeliat merasakan pergerakan tanganku, mata lentiknya mulai terbuka perlahan. wajah uang selama ini kurindukan mulai menampakkan senyum manisnya.
“Mas, kamu udah bangun? Aku kok gak dibangunin sih.”
“Aku gak tega sayang, melihatmu menangis semalam aku tidak tega membangunkanmu. “ pipinya memerah. Ia pasti ingat kejadian semalam. Saat kita mulai memadu kasih.
“makasih ya sayang. “ ucapku tepat di telinganya. Aku mencium pucuk kepalanya, ia membenamkan kepala di dadaku.
“Apa kamu masih merasa sakit?”
“Huum”
“Apa rasanya sesakit itu ya yank?”
“ish ... mas ini apaan sih, pagi ini aku harus ketemu pak Dika untuk membicarakan ujian
kelulusan. Bulan depan aku akan ujian sayang” Dita menggeser badannya.
“Oh ya ... berarti lama banget ya kita gak ketemu”
__ADS_1
“ish ... itu kamunya
aja yang jahat, udah ah aku mau mandi dulu. “ Dita berusaha bangkit sampai ia
lupa kalau tubuhnya masih polos.
Aku menarik tangannya dan kembali mendekapnya, “ Hei kamu lupa kalau kamu itu belum pakai baju?” aku sengaja menggodanya.
“ish... semua gara gara kamu” Dita menyempoutkan bibirnya. Makin gemas aku melihatnya. Tanpa aba-aba aku langsung menggendongnya dan membawanya kedalam kamar mandi. Ia berteriak dan
meronta-ronta aku bahkan tidak menggubris teriakannya.
Aktivitas kami di dalam kamar mandi lumayan lama hingga kami melakukannya untuk yang kedua kali. Setelahnya kami melakukan shalat subuh berjamaah untuk yang pertama kalinya
setelah bertemu.
“yank aku udah ganteng?” aku merapikan pakaianku. Sementara Dita masih sibuk mengurusi keperluannya.
Ia mendekatiku dan merapikan kemejaku, “ kamu mau ganjen siapa? Awas aja kalau genit nanti di sekolah” Dita melotot.
“wkwkwk ya ampun sayang, kalau aku ganteng kan kamu juga bangga punya suami kaya aku.” Aku mengedipkan mataku, belum puas aku menggodanya.
Ia geram, meninggalkankanku sendirian di kamar. Aku berlari mengejarnya, bisa-bisa jatahku di stop karna ngambek. Ampun...mulai lagi mode Abg nya,kalau begini aku yang repot.
Didalam mobil ia masih cemberut, aku mulai melajukan mobil dan meliriknya dengan senyuman menggoda.
“Mampir rumah dulu, materiku tertinggal disana” ucapnya datar.
“yank ... kok ngambek sih, kalau ngambek aku ngilang lho, “ Dita masih terdiam, wjahnya masih cemberut akibat ulahku tadi.
“kalau ngambek aku cium nih” ancamku
“om Adit ... !!!! “ aku mulai tertawa , melihat istriku yang kesal.
Ah rasa-rasanya bebanku pada Tiara mulai menghilang, aku akan mencari waktu yang tepat untuk membicarakan semuanya pada Dita. Dan berharap kebahagiaan ini tetap singgah di
hari-hariku.
Mencintai bukan perkara hanya memiliki, tetapi lebih untuk membahagiakan satu sama lain.
Melihatnya tersenyum,tertawa tanpa beban suatu kebahagiaan sendiri bagiku.
Aku tak pernah melihat seberapa besar cintanya padaku, cinta yang terlalu besar hanyalah
sebuah obsesi yang mematikan.
Aku hanya ingin melihatnya bahagia.itu sudah sangat cukup untukku.
**cie...cie....akhirnya.....
hummm apakah Adit akan terlepas begitu saja dari si nenek lampir...
kita tunggu aja ya...
btw yang jomblo jangan baper ya,,bukan maksud author bikin baper. tapi beneran emak author juga pengin ngelihat Adit dan Dita bahagia. Udah itu ajah gak lebih..
yang pasti emak berharap kalian tinggalin jejak jejak di kolom komentar...
__ADS_1
yang mau share boleh banget nih biar yang lain pada ikutan baca.
luph you all...😘😘😘**