
Dita masuk rumah dengan lesu. Seharian ini tak ada satu pun chat atau kabar dari Adit. Sepertinya suaminya tengah marah, tetapi Dita sama sekali tak paham apa yang membuatnya marah. Akhir-akhir ini Dita memang terlalu fokus dengan kegiatannya, mengabaikan sang suami saat di rumah. Dita haya ingin mendapat nilai yang terbaik, tidak ingin mengecewakan sang ayah ataupun suami.
Membersihkan badan, Dita mengganti pakaiannya. Membuka lemari dan menemukan sebuah kotak yang tersimpan rapi di dalamnya. Kotak cokelat yang lumayan lama tidak pernah ia buka.
Dita tersenyum melihat lingerie merah yang terlipat rapi di dalamnya. Kado pernikahan dari kakak iparnya yang ia pakai hanya sekali.
Kejadian malam itu membuat Dita malu, ia jatuh terpeleset karena hanya ingin terlihat seksi di depan Adit. Akhirnya membuat Dita tak bisa berjalan selama beberapa hari.
"Apa aku harus memakai ini?" gumam Dita, bibirnya mengulas senyum membayangkan apa yang akan terjadi.
Dimasukkannya kembali lingerie ke dalam kotak, menyimpannya ke dalam lemari pakaiannya. Dita merapikan pakaiannya dan memakai parfume aroma melati yang menjadi favoritnya.
Deru mobil Adit terdengar, Dita merapikan rambutnya dan memoles tipis bibirnya menggunakan liptint. Berjalan keluar, Dita menyambut kepulangan Adit dengan senyum yang indah. Mencoba menawar amarah sang suami.
Mungkin akan sulit menaklukkan Adit yang sedang marah, tetapi tak ada salahnya Dita mencoba menggoda suaminya itu. Jarak usia mereka memang terbilang jauh, tetapi Dita sama sekali tak memperdulikannya. Baginya, Adit adalah suami sekaligus imam baginya. Tak peduli dengan omongan yang lain.
Membuka pintu, Dita menyambut Adit dengan senyum terbaiknya, lelaki itu tampak lelah dan tak berekspresi. Dita langsung menggaet lengan Adit dan mengambil alih tas laptop di tangan Adit.
"Capek, ya, Mas," ucap Dita manja.
Adit tak menyahut, wajahnya tak berekspresi menanggapi ucapan Dita. Melepas tangan Dita dan melenggang masuk.
Dita kesal, sulit sekali menaklukkan hati suaminya yang sedang marah."Mas Adit nyebelin." Dita menggeram kesal.
Menyusul Adit masuk ke dalam. Tampak Adit masuk ke dapur mengambil minum, Dita menyusulnya, masih berusaha menaklukkan Adit yang tengah marah.
Adit masih saja mengabaikan Dita yang tengah berdiri menunggunya, tak menyapa atau menanyakan kabarnya hari ini.
"Mas ... ." Dita merengek, berharap sang suami akan luluh.
Adit mencuci tangan dan berlalu meninggalkan Dita, masuk ke dalam kamar.
"Huft, aku harus bagaimana lagi?" Dita menghentakkan kaki. Melihat Adit yang masih saja mengabaikannya.
Dita mengambil ponsel di saku, menghubungi Sonya, berharap mendapat solusi dari sahabatnya, pikirannya benar-benar buntu kali ini.
Panggilannya tersambung, Dita masih menunggu telponnya diangkat. Duduk di meja dapur dan menuangkan sebotol jus yang baru saja diambil Adit dari kulkas.
"Halo..." Terdengar suara Sonya dari seberang.
"Nya ... ."
"Kenapa lo Dit? Kayak orang kesurupan aja."
"Apaan, sih. Bukannya prihatin malah ngatain." Dita malah semakin kesal.
Sonya malah terdengar terkekeh mendengar ucapan sahabatnya.
__ADS_1
"Iya, kenapa, tumben nelpon. Nggak berduaan sama Om Aditmu tersayang itu."
"Ish, justru itu aku mau curhat sama kamu."
"Ye... Kalau ada butuh juga larinya ke gue."
"Tega, lu. Ya udh ah gue tutup ni telpon kalau nggak ikhlas." Dita makin kesal. Bukannya mendapat solusi malah membuat tensinya makin tinggi.
"Gitu aja ngambek, nggak asik ah, emak-emak dasar lu. Ada apaan, sih? Masih marahan?"
"Iya ... ." Dita terdengar putus asa.
"Coba deketin, berlagak manja gitu, masak iya, Dita nggak bisa naklukin Om kesayangannya, sih. Tante tiara aja lewat." Sonya menggoda Dita.
"Ish, udah... Om Adit malahan cuek."
"Sekarang di mana Om Adit?"
"Di kamar."
"Nah itu waktu yang cocok, Dita." Sonya tertawa.
"Ih, kok tertawa, dasar omes."
"Ye.. nggak percaya, mentang-mentang aku belum nikah." Sonya semakin menggoda Dita.
Dita memikirkan ucapan Soya berulang kali, apa benar yang dikatakan Sonya? Ia bimbang apa harus ia melakukan hal itu. Pikirannya kembali tertuju pada lingerie merah miliknya.
"Its okey, this time for play."
Dita mulai membuka ponselnya, membuka youtube dan membuka beberapa channel dewasa, berharap ia bisa melihat adegan yang harus ia lakukan. Selama ini ia tak pernah bertingkah agresif, ia hanya mengikuti permainan Adit, namun kali ini Dita akan melakukan apa pun yang penting Adit tidak marah kepadanya.
****
Dita mengatur napasnya, sebelum mengetuk pintu kamar. Pikirannya sudah tak karuan. Bagaimana jadinya bila ia harus menggoda Adit lebih dulu.
Tak berpikir lama, Dita menarik handle pintu melihat Adit yang tengah bersiap dan berpakaian rapi. Aroma parfum maskulin menyeruak di dalam ruangan.
Melihat Adit yang sudah rapi membuat Dita menghampiri sang suami. Menyisir rambut dan merapikan kemeja, senyumnya terlihat mengembang.
"Mas, mau ke mana?" tanya Dita. Berharap sang suami mau menjawab pertanyaannya.
Adit menaruh sisir dan mengambil kunci mobil yang tergeletak di meja rias.
"Mas ... ." Dita merengek, pikirannya sudah berlarian tak jelas.
Adit melangkah, tangan Dita mencekal tangan Adit, wajahnya penuh harap Adit mau berbicara.
__ADS_1
"Kamu marah?" Pelupuk mata Dita mulai mengembun.
Adit hanya menatap wajah Dita yang sudah tidak karuan. Gadis di depannya terlihat penuh harap.
"Jangan kayak gini, Mas." Dita merasa putus asa. Berbicara sendiri tanpa sahutan.
Adit menarik tangan Dita dan menarik tangan yang satunya, mengecup lembut punggung tangan sang istri. Melihat Dita yang kacau membuatnya tidak tega mendiamkan sang istri ABG-nya.
"Aku hanya ingin keluar sebentar, bertemu dengan Bram. Ada hal penting, kamu nggak perlu khawatir." Kembali, Adit mengecup punggung tangan Dita.
Dita hanya menggeleng-gelengkan kepalanya, pertanda menolak dan ingin Adit menemaninya.
"Ikut ... ."
"Dita, ini urusan laki-laki, kamu di rumah aja, ya." Adit mengacak rambut sang istri, berusaha menenangkannya.
"Ya udah, sana pergi!" Dita berganti memanyunkan bibirnya, rencana yang sudah ia susun ternyata tidak sesuai harapan.
Adit malah tertawa melihat ekspresi Dita, niat hati ingin mendiamkannya ternyata tak berhasil. Gadis itu membuatnya tak bisa terlalu lama marah. Rasa sayangnya sudah terlalu melekat sejak Dita kecil.
"Jangan marah, bilang aja kalau mau ditemenin." Adit menautkan kedua alisnya.
Menggoda sang istri hingga membuatnya nampak malu, Dita tampak malu-malu dan hanya menundukkan wajahnya.
"Udah marahnya?"
"Siapa yang marah?" Adit terkekeh.
"Kamu, dari tadi pagi aku dicuekin, ngomong nggak dijawab," ujar Dita cemberut.
"Nggak enak 'kan dicuekin?" Adit menjapit hidung mancung Dita.
Gadis di depannya mengerang dan balas mencubit pinggang Adit, tergelak karena menahan geli.
"Balas dendam, nih."
"Hehehhe, Dit, udah datang bulan belum?" tanya Adit tiba-tiba, mengusap pucuk kepala sanga istri dan menarik pingganggnya. Mengikis jarak di antara mereka.
Wajah Adit yang tadinya datar, mulai menghangat, Dita merasa kikuk dengan pertanyaan Adit. Jadwal mestruasinya memang belum dicek, akhir-akhir ini Dita merasa kelelahan karena aktifitas yang semakin padat. Ujian akhir serta menyelesaikan semua pekerjaan.
"Kok, diam?" Tatapan Adit mulai menghangat mendengar jawaban Dita.
"Aku belum cek, Mas. Emangnya kenapa? Tumben tanya tamu bulanan." Dita menunjuk dada bidang sang suami,
mengalahkan rasa malunya. Bahkan rencana untuk memakai lingerie pun tak terpikir sudah.
"Aku ... ." Adit ragu mengucapkannya, takut bila Dita belum siap menerima keinginannya.
__ADS_1
hai...i am back again, jangan lupa tinggalin komentar kalian. sebenere nggak rela sib, ninggalin cerita ini begitu saja😘