Anak Genius: The Next Heir

Anak Genius: The Next Heir
Bab 11: Jadilah wanitaku, dendam kamu akan aku balaskan


__ADS_3

Saat itu juga terjadi sebuah suasana yang menegangkan diantara ketiganya, Caroline berdiri diantara kedua laki-laki tampan, yang secara bersamaan menggengam erat masing-masing sebelah tangan Caroline.


Ketika semua orang menyadari apa yang akan terjadi, mereka semua hanya saling berbisik tanpa bisa melakukan apapun, paktanya, dinegara ini, siapa orang yang berani menolak perintah dari seorang Andrew.


Dia yang terkenal dengan kedudukan tingginya, bahkan bisa dengan gampang melenyapkan segala hal yang menyinggungnya.


Menyadari semua orang tengah memperhatikan mereka, Caroline saat itu hanya bisa mengalah terhadap Andrew, karir dan citra baik yang telah ia rintis dengan susah payah selama kurang lebih 3 tahun, tidak ingin hancur begitu saja hanya dalam hitungan detik.


"Hell, tunggu aku sebentar! mungkin saja tuan ini ada yang mau dibahas mengenai masalah pekerjaan untuk kedepannya...." Ujar Caroline seraya tersenyum lembut kepada Hellio, bagaimanapun, sosok seorang Hellio baginya sangat berharga, ia adalah pria yang sangat berjasa dalam kehidupannya, seorang penyelamat sekaligus teman terdekatnya.


Hellio menatap panjang wajah Caroline dengan ekspresi tidak senangnya, Sedetik kemuduan ia hanya bisa menarik napas dalam, ia memang tidak berhak mengatur kehidupan Caroline lebih jauh lagi, atas dasar status apa ia melarang Caroline menjaga jarak dengan pria lain, apakah atas dasar status seorang penyelamat, atau seorang teman, tapi bukan hal itu yang ia harapkan, ia ingin lebih dari sekadar itu, bisa menjaga wanita tersebut dengan segala kemampuan yang ia miliki.


Tentu saja jika Caroline menyadari apa yang ia rasakan selama ini, ia akan sangat rela mempertaruhkan segalanya, untuk menjadi sandaran bagi wanita yang ada dihadapannya.


Namun hingga sekarang, sosok wanita tersebut sangat sulit untuk ia gapai, entah itu karna cerita kelam masalalunya, atau memang wanita itu hanya menganggapnya sebagai teman biasa, yang hanya sekadar seseorang yang telah menyelamatkan hidupnya.


"Baiklah, kalau ada apa-apa, panggil saja aku, kamu tahukan, apa artinya dirimu dalam hidupku...."


Ujar Hellio seraya menatap lembut kearah Caroline, mungkin Caroline hanya menganggap semua ucapan Hellio adalah sandiwara semata, atau ia hanya menganggap ucapan Hellio tertuju bahwa ia adalah teman baiknya. Namun semua yang dikatakan Hellio padanya memilik arti lain bagi dirinya, entah Caroline tidak peka, atau ia sengaja tidak ingin menanggapi semua itu.


"Tentu saja aku tahu, aku tidak akan lama, tunggu aku kembali...." Ujar Caroline seraya menepuk lembut punggung tangan Hellio, sedangkan pria itu hanya bisa mengangguk dengan tidak rela.


"Ikut denganku, ada hal yang harus kita bicarakan...!"

__ADS_1


Tegas Andrew seraya melangkah pergi meninggalkan ruangan tersebut dan menuju lantai 2, dimana terdapat sebuah ruangan khusus istirahat.


"Tuan semuanya, saya tinggal sebentar, mungkin tuan yang tadi ingin membicarakan masalah kerjasama kedepannya seperti apa...." Ujar Caroline mencoba menghilangkan kecurigaan lain dari orang-orang yang berada diatas tersebut.


"Silahkan, Nona...." Angguk orang-orang tersebut seraya tersenyum sopan.


Namun kejadian tadi telah menyita perhatian mereka semua, sosok Andrew yang sangat anti bersentuhan dengan orang lain didepan khalayak ramai, ia tanpa ragu, bahkan dengan ekspresi memaksa menahan kepergian wanita tersebut. Pastinya diantara keduanya, kalau bukan mereka saling mengenal, kemungkinan presdir sombong dan angkuh tersebut, tertarik kepada wanita yang bernama Caroline itu.


Caroline segera melangkahkan kakinya menuju lantai 2, dengan perasaan was-was dan gundah yang ada dalam fikirannya, rasanya sangat terasa berat, ketika langkah kakinya telah sampai disebuah ruangan istirahat tersebut, dan sangat jelas sosok pria itu tengah dalam keadaan kesal.


"Nona, Silahkan masuk...!" Ujar liam yang sudah berdiri sigap didepan pintu, menunggu kedatangan wanita itu.


Tanpa menjawab, Caroline menatap tajam kearah liam, bayangan sebuah malam yang seketika telah menghancurkan hidupnya, sontak berlarian didepan matanya.


Dengan terpaksa dan berat hati, ia melangkahkan kakinya memasuki ruangan tersebut menghampiri seorang pria yang tengah berdiri tegap, dengan sebatang roko ditangannya, seraya menatap jauh keluar arah jendela dengan aura gelapnya.


Fikiran Caroline seketika berkecamuk tidak karuan, ia tidak tahu apa yang akan dilakukan pria itu terhadapnya.


"Tuan, apa yang akan anda bicarakan...?" Sontak kata-kata itu keluar dari mulutnya tanpa sadar, ia sangat ingin segera meninggalkan ruangan tersebut secepatnya.


"Caroline Renata, kemana saja kamu selama 6 tahun ini...?" Ucap pria tersebut tanpa membalikan badannya.


"Tuan, nama saya Renata, bukan Caroline Renata, mungkin anda salah mengenali saya sebagai orang lain...." Sahut Caroline seraya mengepalkan tangannya, ia tidak pernah ingin ditanya siapapun mengenai cerita hidupnya selama membesarkan seorang anak sendirian di negara asing yang baru ia kenal.

__ADS_1


Mendengar perkataan Caroline yang masih sangat berusaha keras menyembunyikan jati diri dia yang sesungguhnya, dari pria yang berada dihadapannya, seketika andrew berbalik kepadanya dengan menatapnya tajam.


"Kau bisa membohongi semua orang, tapi bukan berarti bisa membohongiku Caroline...." Ujarnya tegas seraya melangkahkan kakinya mendekat kearah dimana wanita itu berdiri.


"Lagian, bocah laki-laki itu adalah darah dagingku sendiri, apa kau berniat selamanya untuk menyembunyikan kenyataan bahwa dia masih memiliki seorang ayah...?" Ucapnya dengan ekspresi kesal seraya terus melangkah maju semakin mendekat kearah tubuh Caroline.


Wanita itu seketika mundur selangkah demi selangkah kebelakang, ketika laki-laki yang ada dihadapannya selangkah demi selangkah mendekatinya dengan tatapan tajamnya yang mampu membekukan seluruh darah ditubuhnya, dan mampu membuatnya kesulitan untuk bernapas.


Ia merasakan dirinya terjatuh kedalam sebuah pusaran ombak yang menerjang keras tubuhnya, ia mulai merasakan kakinya gemetar, seluruh pandangannya gelap ditutupi kabut hitam yang selama ini ia rasakan.


BRUK....


Seketika tubuh belakang Caroline menabrak dinding diruangan tersebut dengan keras, tidak mungkin hal yang sama akan terjadi lagi kepadanya, saat itu ia benar-benar sadar bahwa pria yang sekarang berada dihadapannya, adalah sosok pria yang selalu menghantuinya selama ini, sosok pria yang sangat ganas, bahkan walau dalam keadaan mabuk dan sedikit kesadaran yang tersisa, kejadian yang dia anggap adalah mimpi semata, tergambar jelas diingatannya.


Bagaimana pria tersebut memperlakukannya ketika itu, dengan buas ia menyusuri seluruh bagian lekuk dari tubuh polosnya, disertai dengan gigitan ganas layaknya srigala, yang mencabik-cabik kesuciannya hanya dalam waktu satu malam, sehingga meninggalkan bekas-bekas merah yang menjijikkan baginya.


Trauma, sebuah kata itulah yang bisa digambarkan dalam kisah perjalanan kehidupannya, walau ia telah mendapatkan pelatihan khusus dari Joel dan kakek tua itu, untuk mengendalikan dirinya sendiri, dan terlepas dari bayang-bayang masalalu yang menghantuinya, tapi sebuah pertemuan yang spontan yang sama sekali tidak direncanakan itu, tetap saja membuatnya kaget dan syok, terasa seperti seluruh tubuhnya seketika dilemparkan kedasar kurang yang terjal.


Menyadari ekspresi Caroline yang saat itu seperti ketakutan setengah mati, Andrew sontak menghela napas dalam, dugaannya benar, kalau wanita dihadapannya, adalah wanita yang telah menghabiskan malam bersamanya waktu itu.


"Caroline, jadilah wanitaku, dan aku akan membantumu untuk membalaskan dendam...!"


Bersambung....

__ADS_1


__ADS_2