
Disisi lain.
Lukas kembali bangun dari tempat tidurnya, ia melanjutkan penyelidikannya terhadap andrew yang tidak lain adalah ayahnya sendiri. Ia menggunakan jaringan rahasia miliknya, bertekad untuk mengetahui semua hal tentang sosok Andrew.
Namun tanpa ia duga, ia mendapatkan informasi bahwa biodata dirinya dan ibunya juga, saat itu tengah diselidiki oleh seseorang, ia mengerutkan dahinya seraya tersenyum tipis.
"*Apakah yang menyelidiki identitasku adalah pria bernama andrew itu*...?"
Ia segera menutup akses dan memblokir orang tersebut, dan ia membalasnya dengan meretas sistem keamanan milik pria itu, yang tidak lain adalah Liam, ia diperintahkan oleh Andrew untuk mencari informasi dimana mereka berada.
"Tuan gawat, sistem keamanan kita telah diretas, dan jalur akses informasi mengenai Nona Caroline dan putra anda telah diblokir...." Ucap liam dengan kaget, yang saat itu tengah berada di perusahaan A.L.X milik Andrew.
"Apa...?"
Sontak Andrew segera menghampirinya, dan mengambil alih apa yang tengah dikerjakan oleh Liam.
"Minggir....!"
Tegas Andrew kepada Liam dengan nada kesalnya.
"Cih, bajingan gila, siapa yang berani menghalangiku? bahkan sangat lancang menyerang balik...."
Ujarnya seraya mengotak-atik komputernya dengan cepat, berusaha mengembalikan sistem keamanan informasi milik perusahaannya, yang saat itu telah berhasil disusupi sebuah virus asing.
"Sial, orang ini hebat juga, gawat aku harus segera berhenti, kalau tidak, lokasiku bisa ditemukan olehnya...."
Lukas segera merestart laptopnya, dan segera mematikan semua perangkatnya.
"Cih, cepat juga larinya dia...."
Ucap Andrew diruangan kantornya seraya menggebrak meja, dan mengepalkan tangannya.
"Suruh Roland segera datang menemuiku dalam setengah jam, kalau tidak, akan aku patahkan kakinya...!"
BAMM....
Tegas Andrew seraya meninggalkan ruangannya kerjanya dan menutup pintunya dengan sangat keras.
"Hah... Nasib bawahan...."
Gumam Liam seraya menghela napas panjang, dan segera menghubungi Roland seperti perintah dari atasannya.
"Segera temui Bos dalam waktu setengah jam, kalau masih mau kakimu utuh...!"
Ujar Liam dalam suara teleponnya kepada Roland, dan segera langsung menutup panggilannya.
"Haih... bos, hal apa lagi yang terjadi kepadamu...?"
Ujar Roland disuatu tempat, seraya bergegas pergi menuju kekantor Bosnya, tentu saja ia sangat tergesa-gesa, karna ia masih ingin hidup damai, dengan kedua kakinya yang utuh.
"Gawat, keberadaanku tidak ditemukan bukan? kalau itu terjadi, Momi akan dalam masalah besar...."
Ucapnya seraya menatap tajam laptopnya, dan berjalan mondar-mandir dengan sangat gugup.
Sementara Caroline masih tenggelam dalam lamunan panjangnya, ia berfikir bagaimana kalau pria itu benar-benar akan merebut anaknya, hal yang tidak akan pernah bisa ia terima dalam hidupnya.
Ia mengambil ponselnya, dan mencoba mencari tahu, mengenai informasi pria tersebut, sontak matanya terbelalak, ketika membaca sebuah artikel bahwa ayahnya sempat bekerjasama dengan perusahaan besar A.L.X yang terkemuka.
Ia segera mengetik disebuah pencarian, siapa pemilik perusahaan tersebut, dan benar saja, sosok Andrew muncul memenuhi layar ponselnya, sebuah berita itu, tepat mengatakan kalau ia telah menanam modal yang cukup besar dalam perusahaan milik ayahnya, yang waktunya sangat pas sekali, ketika saat itu ia diajak berbelanja oleh ibu tiri dan kakak tirinya.
"Aku sangat mengingatnya dengan jelas...."
Ujar Caroline seraya menggengam erat ponselnya dengan ekspresi marahnya yang sangat besar.
__ADS_1
\*\*\*\*\*\*\*\*\*\*
Flashback On
Kala itu, perusahaan ayahnya mengalami sebuah krisis besar, saham yang anjlok menurun sangat drastis, ia telah dikhianati oleh salah satu kepercayaannya, dan sebuah dana perusahaan raib dibawa kabur oleh orang tersebut
Dan saat itu, hanya ada satu orang yang bisa menyelamatkan perusahaannya tersebut, akan tetapi orang itu sangat terkenal dengan kekejamannya, sikapnya yang arogan, sombong, bahkan dengan sangat gampang melenyapkan orang yang telah menyinggungnya.
Pria tersebut juga sangat susah sekali untuk didekati, bahkan pernah ada sebuah kabar, seorang wanita yang mencoba menggodanya, tidak kembali dengan utuh, pria itu hanya mempertimbangkan seorang wanita yang masih terlihat begitu polos dan suci, yang belum pernah disentuh oleh siapapun.
Tapi tidak pernah ada berita bagaimana kabar wanita-wanita yang telah dikirim kepadanya, setiap setelah melakukan perjanjian, mereka seperti hilang ditelan bumi, wanita-wanita tersebut tidak pernah menunjukan batang hidungnya kembali.
Semula ayahnya saat itu yaitu waldo, meminta bantuan dari anak tirinya untuk menemani pria tersebut, akan tetapi, ibunya menolak dengan tegas, bahwa putrinya adalah wanita yang sangat baik-baik, pintar dan berbakat dalam segala bidang, bagaimana ia rela, suaminya merusak masa depan putri kesayangannya, ia tidak rela kalau putri tercintanya ternoda dengan cara yang sangat memalukan.
Akhirnya ia mengajukan saran, agar Caroline yang dikirim keatas ranjang pria arogan tersebut, untuk sekedar membalas budi, karna mereka telah mengurusnya dan memberinya makan dan pendidikan secara gratis menurutnya.
Pada awalnya, ayahnya terlihat seperti ragu untuk mengirim Caroline, mungkin bagaimanapun, dia adalah putri kandungnya, akan tetapi, dengan akting sang istri yang menangis tersedu-sedu, dan bersimpuh bersujud memohon kepada suaminya, ia sangat tidak tega melihat sang istri tercintanya memohon dengan ekspresi sangat menyedihkan, akhirnya ia menyetujui saran mereka, untuk mengirim Caroline kepada pria tersebut.
Sore hari ketika Caroline baru pulang dari kampusnya, tiba-tiba mereka menyambutnya dengan sangat hangat, tidak seperti hari-hari biasanya, yang sangat memperlakukannya dengan sangat buruk, bermula mereka semua mencoba membujuknya dengan sebuah ucapan permintaan maaf, kalau mereka selama ini telah melakukan kesalahan besar dan ingin memperbaiki hubungan keluarga mereka.
"Caroline, kamu sudah pulang nak.?"
Sambut ibu tirinya, seraya membukakan pintu rumahnya dengan ramah dan senyuman lembut palsunya.
"I-iya bu, maafkan aku kalau aku terlambat untuk pulang bu, a-aku akan segera berganti pakaian dan membereskan rumah...."
Ucap Caroline gelagapan dan penuh ketakutan.
"Tidak apa-apa sayang, ibu tidak marah ko, justru ayah, ibu dan kakakmu ingin mengajak kamu untuk makan malam bersama."
"Itu tidak perlu bu, aku, aku tidak pantas untuk itu bu...."
"Benarkan suamiku...?"
"Tentu saja, Caroline... ayah ingin meminta maaf atas perlakuan buruk ayah selama ini kepadamu, ayah sadar ayah banyak sekali melakukan kesalahan besar, tapi itu semua ayah lakukan agar putri ayah tumbuh menjadi wanita yang baik...."
Ucap ayahnya merayu putrinya, agar mereka dengan gampang menjadikan dirinya sebagai bahan pertukaran perjanjiannya nanti, dengan pria terkemuka itu.
"Aku juga meminta maaf dek, maaf selama ini tidak bisa jadi kakak yang baik untukmu, kakak benar-benar sangat menyesal...."
Seraya kakak tirinya menangis dengan wajah penuh penyesalannya.
"T-tidak apa-apa, aku tahu kalian melakukan ini untuk kebaikan Caroline...."
Ucapnya gadis polos nan lugu itu menjawab.
"Oh iya, karna ini masih sore, bagaimana kalau kita pergi membeli beberapa pakaian baru untukmu, kamu sudah lama tidak mempunyai baju baru Caroline...."
Ajak ibu tirinya kepadanya dengan rayuan dan rencana palsu besar mereka.
Caroline hanya menatap kearah ayahnya, berharap dia tidak mengijinkannya untuk pergi, namun ayahnya malah mengijinkan ia pergi bersama mereka, bagaimanapun, semua itu telah direncanakan dengan sangat hati-hati dan matang.
"Pergilah temani ibumu, benar apa kata ibumu, kau harus membeli beberapa pakaian baru yang cocok untukmu agar lebih terlihat cantik dan fresh...!"
"Baiklah ayah...."
Akhirnya ia hanya bisa menuruti semua apa kata mereka.
*****
__ADS_1
Ketika mereka telah sampai disebuah toko pakaian, ibu dan kakak tirinya memilihkan beberapa baju yang cocok untuknya.
Setelah puas berbelanja mereka segera kembali kerumahnya untuk acara makan malam keluarga.
"Suamiku, kita pulang...."
"Ya, bagaimana? apa kalian senang hari ini...?" Ucap ayahnya menatap wajah Caroline.
"Ya ayah, ibu, kakak, terima kasih untuk bajunya...."
Ucap Caroline dengan ragu, dan penuh ketakutan saat itu.
"Karna sekarang Caroline terlihat sangat anggun dan cantik bagaimana kalau kita berpoto bersama...?"
Ujar ibu tirinya memberi saran.
Mereka melakukan beberapa kali poto bersama, dan beberapa kali untuk poto untuk Caroline yang tengah sendiri.
Setelah selesai, mereka segera, mengadakan acara makan malam keluarga dirumahnya.
Ibu tirinya secara sengaja menggantikan Caroline untuk memasak hidangan makan malam.
Untuk pertama kalinya, ia makan dimeja makan, secara bersama-sama, setelah kurang lebih dari 20 tahun ia selalu dikucilkan, bahkan saat ia makan juga harus menunggu mereka selesai terlebih dahulu, dan itu juga tidak boleh dimeja makan.
Setelah mereka selesai makan bersama, Caroline mencoba untuk merapihkan dan mencuci peralatan bekas makannya.
"Tidak perlu sayang... biarkan ibu yang melakukannya, kamu istrahatlah terlebih dahulu.!"
"Selama ini kamu telah tersiksa dengan kelakuan kami, biarkan kali ini ibu mencoba untuk meminta maaf dengan cara ini...."
"Ibu tidak tahu harus dengan cara apa agar kamu dapat memaafkan kami Caroline...."
Dengan seraya memasang wajah sedih palsunya dengan air mata kemunafikan.
"Baiklah Caroline, kamu istrahatlah yang cukup malam ini, ayah tahu kamu lelah."
"Baik ayah, terima kasih...."
"Pergilah kekamarmu...!"
"Iya ayah...."
Caroline segera bergegas menuju kamarnya, ia memang merasa ada keanehan dalam semua itu, akan tetapi, ia yang tidak pernah mendapatkan kasih sayang ayahnya, ia mencoba menepis pikirannya sendiri, dan tidak mencoba memikirkan hal lain, sehingga sampai pada saatnya ia berakhir diranjang pria itu.
\*\*\*\*\*\*\*\*\*\*
"Cih, aku yang dahulu memang sangat menyedihkan, polos, bodoh, dan juga sangat naif...."
"Tapi untuk sekarang, aku tidak akan membiarkan semua orang menindasku kembali...."
Ucapnya seraya mengepalkan tangan, dan bangkit dari bethub tempatnya berandam.
Bersambung.....
__ADS_1