
Setelah selesai acara malam itu, semua orang segera pergi meninggalkan tempat tersebut.
Caroline hanya bisa menghela napas panjang berkali-kali, dengan seluruh fikirannya yang berkecamuk, Joel dan lukas menyadari ada yang tidak beres dengan ekspresi Caroline.
Saat itu Caroline berusaha mengecoh pengawasan dari Liam dan Andrew, ia bertukar pakaian dengan Joel, dan bertukar mobil, agar mereka tidak diikuti oleh pria tersebut, dan sengaja tidak kembali kerumahnya.
Mereka memutuskan untuk tinggal sementara waktu disebuah hotel dari kenalan Hellio.
Caroline dan Lukas memutuskan untuk secepatnya beristirahat, karna esok harinya, mereka akan mempersiapkan segala keperluan, dan kebutuhan rumah, selama belum mendapatkan pembantu dirumahnya.
PAGI HARI, pukul 07.00
"Momi, apa yang sedang kamu lakukan.?"
Lukas melihat Mominya, tengah bersiap-siap dan sedikit berdandan.
"Sayang, kamu sudah bangun.?"
"Ya, Momi akan pergi kemana pagi-pagi begini...?" Ujar Lukas seraya mengucek kedua matanya.
"Apa sayangnya Momi masih mengantuk.?"
"Tidak..."
"Baiklah kalau begitu, ayo.! Ibu akan membantumu untuk mandi.!"
Caroline segera menghampiri Lukas yang masih berada diatas kasur.
"Tidak perlu Momi, aku bisa sendiri...."
"Baiklah, kalau begitu, sekarang Lukas mandi, kita akan pergi berbelanja segala kebutuhan rumah kita.!"
"Baiklah...."
Lukas segera bangkit dari tempat tidurnya, ia segera pergi kekamar mandi.
"Hah, putraku itu sangat dewasa, walau umurnya baru akan menginjak 6 tahun...."
Caroline merasa sangat sedih, dan menatap panjang punggung dari putranya tersebut.
Ia tahu selama ini Lukas selalu patuh, dan tumbuh menjadi anak yang penurut, diusia yang masih sangat muda, ia sudah bisa mengurus dirinya sendiri.
Terkadang Caroline merasa sedih, dan merasa sangat bersalah kepada putranya.
Ia harus tumbuh tanpa kasih sayang dari kedua orang tuanya, disaat dirinya tengah sibuk dengan pekerjaannya, Lukas hanya bisa berdiam dirumah dengan ponsel dan komputer miliknya.
"Maafkan ibu nak, kalau saja, ibu dulu tidak terlalu naif, mungkin cerita hidup kamu tidak akan seperti sekarang...?"
Ia merasa hatinya sangat sakit, ketika harus menyadari anak semata wayangnya, bahkan, tidak mengetahui siapa ayah kandungnya, dia dituntut untuk tumbuh dewasa, diluar usia anak-anak pada umumnya.
"Lukas, Momi akan selalu menjaga kamu, apapun yang terjadi, Momi akan selalu memberikan yang terbaik untukmu, Momi bisa menjadi ibu, sekaligus ayah untuk kamu...."
"Lukas akan hidup baik-baik saja, walau tanpa sebuah keluarga yang utuh.!"
Disaat ia bergelut dengan pikirannya sendiri, ia sedikit berlinang air mata, namun, tanpa disadari, Lukas sudah berdiri didepannya seraya menatapnya tajam penuh curiga.
"Momi, apa yang sedang kamu pikirkan? Kenapa melamun dengan wajah seperti...?"
"Ah, Lukas sudah selesai mandinya, Nak.?"
"Iya Momi..."
Lukas masih menatapnya dengan sangat dalam.
"Momi hanya--- memikirkan sesuatu, mungkin untuk sementara, Lukas akan melanjutkan TK di negara ini, apa Lukas tidak keberatan.?"
Ia tidak ingin membuat putranya khawatir, jadi dia mencoba untuk mengalihkan pembahasannya dan pertanyaan dari putranya.
"Tentu saja tidak apa-apa, selama Momi berada disamping Lukas, Lukas akan selalu bahagia...."
"Ah, anak Momi sangat manis sekali, kamu memang anak kesayangan Momi...."
__ADS_1
Caroline segera memeluk erat tubuh kecil anaknya dengan hangat.
"Momi aku tahu, kamu tengah memikirkan hal lain, percayalah Momi, aku tidak akan pernah meninggalkan Momi sendirian dan aku akan melindungi Momi sebisa mungkin...!"
Ia tahu dan sangat sadar dengan jelas, kalau Mominya tengah memikirkan hal lain, mungkin ia hanya tidak ingin membuat Lukas hawatir saja kepadanya.
"Baiklah sayang, ayo berpakaian terlebih dahulu, nanti Lukas masuk angin...!"
Lukas hanya menurut seraya menganggukkan kepalanya.
"Ayo kita berangkat sayang.!"
"Kita akan pergi kemana dulu Momi.?"
"Kita akan pergi ketempat dealer mobil dulu sayang...."
"Momi, bukankah, kau terlalu banyak menghamburkan uang kamu.?"
"Tidak, uang ini diberikan oleh kakek buyut kamu, dia tidak ingin, Lukas kesusahan tanpa kendaraan disini.!"
"Benarkah.?"
"Tentu saja." Caroline seraya menggandeng lengan putranya untuk memanggil sebuah taxi, "Kakek buyut kamu banyak sekali mentransfer uang loh...."
"Ah Momi, kamu sangat senang sepertinya.?"
"Ha, ha, ha, Lukas memang paling mengerti Momi ya...."
Setelah mendapatkan taxi, mereka akhirnya sampai disebuah dealer mobil ternama, sementara Joel dan Hellio, pagi-pagi sekali mereka sudah kembali ke Negara mereka masing-masing.
"Ayo masuk sayang.!"
"Sebaiknya Lukas saja yang pilih, mobil apa yang Lukas sukai, bagaimanapun juga, uang dari kakek itu sangat banyak, dan ini semua untuk Lukas.!"
"Momi, aku ini masih kecil...."
"Hah, bukankah Lukas selalu bilang kalau Lukas sudah dewasa.?"
"Momi, berhenti menggodaku.!"
"Selamat pagi Nona, apa ada yang bisa kami bantu.?"
Seorang karyawan dealer menyambutnya dengan ramah, bagaimanapun mereka terlihat sangat mewah, tidak mungkin kalau mereka tidak memiliki uang yang sangat banyak.
"Tolong tunjukan mobil yang cocok untuk saya.!"
Ujar Caroline kepada karyawan dealer tersebut.
"Baik Nona, mari.!"
Karyawan tersebut segera bergegas untuk menunjukan berbagai mobil mewah kepada Caroline.
Pandangan Caroline sontak langsung tertuju kepada sebuah mobil mewah Mercedes Benz.
"Yang ini, berapa harganya.?"
"Yang ini adalah, Mercedes-AMG GLC 63S Coupe, Harganya sekitar, 3.449.000.000 Nona."
"Sayang, apa kamu menyukainya.?"
Ia bertanya tentang pendapat anaknya, kalaupun dia menyukai mobil tersebut, dia tidak akan membelinya kalau Lukas tidak menyukainya.
"Tentu saja...."
Ujar Lukas cuek, santai, dan tegas tanpa ekspresi.
"Haih, putra ku ini sangat dingin sekali, kalau bertemu orang baru, dari mana dia memiliki sifat seperti ini.?"
"Ah, baiklah, saya ambil yang ini saja.!"
Ujar Caroline sedikit canggung.
__ADS_1
"Nona, apakah dia adalah putra anda.?"
"Ya, dia adalah putra saya, maaf dia tidak terlalu mudah untuk bergaul...."
Jawab Caroline dengan raut wajah dan ekspresi canggung yang terlihat jelas.
"Tidak apa-apa Nona, putra anda sangat tampan sekali, dia begitu sangat lucu...."
"Ah, terimakasih Nona...."
Disaat Caroline tengah mengobrol, dan membahas kelebihan mobil tersebut, disisi lain, pandangan mata seorang pria langsung tertuju kepadanya dan menatapnya tajam, dengan seringai dibibirnya
"Ah, aku tidak menyangka, nasib baik berpihak kepadaku, disaat mencari mobil baru untuk Bos, aku malah tidak sengaja, bertemu targetku...."
Ujar pria tersebut memandang kearah Caroline dan Lukas.
"Aku harus segera melaporkannya kepada Bos...." Ucapnya seraya mengetik sebuah pesan.
"Bos, aku melihat wanita itu tengah berada didealer mobil, dimana saat ini saya berada...."
"Kirimkan alamatnya, dan tetap awasi mereka.!"
Balas Andrew secepat kilat, dan ia langsung segera bergegas meluncur ketempat tersebut.
"Baik Bos...."
"Tuan, apa yang mengganggu pikiran anda.?"
Tanya manager dealer tersebut kepada Liam.
"Tolong, kamu layani dulu wanita tersebut dan anak kecil itu, jangan lupa, untuk mengecek nama wanita tersebut secara mendetail.!"
"Hah.?"
Manager tersebut hanya bingung dan penuh tanda tanya dengan apa yang diucapkan oleh Liam.
"Lihatlah wanita berbaju merah itu.!"
Liam menunjuk Caroline yang tengah sibuk memperhatikan detail mobilnya.
"Aku akan menghampirimu nanti.!"
"Baik tuan...."
Manager itu segera melangkah pergi, menghampiri Caroline dan menyapanya dengan sopan.
"Selamat pagi Nona, saya adalah manager disini, apa anda tertarik untuk membeli mobil ini.?"
"Selamat pagi, iya saya tertarik kepada mobil ini...."
"Kalau begitu silahkan tanyakan apapun yang anda butuhkan Nona.!"
"Terimakasih Tuan, karyawan anda sangat teliti dalam menjelaskan detail mobilnya, jadi saya akan langsung saja membayarnya.!"
Ujar Caroline dengan senyum ramahnya diwajahnya yang cantik dan elegan itu.
"Baiklah Nona, kalau begitu silahkan ikuti saya, untuk melakukan pembayaran.! Mari.!"
Ujar manager dealer tersebut seraya mempersilahkan Caroline.
"Terimakasih."
Selesai membayar, Caroline berusaha untuk segera undur diri, ia merasa ada yang aneh, karna manager tersebut seperti tengah mencoba untuk menahannya, dengan bermacam-macam pertanyaan yang kurang penting.
"Ada yang tidak beres dengan manager ini, orang ini seperti tengah mencoba untuk menahan kami, aku harus segera meninggalkan tempat ini...."
"Maaf, kalau begitu saya permisi, ayo sayang.!"
Caroline langsung segera berusaha pergi untuk meninggalkan tempat tersebut dengan langkah kaki yang cepat, ia segera memasuki mobilnya, dan membawa Lukas segera meninggalkan tempat tersebut.
"Ah sial, sepertinya dia curiga, aku tidak bisa menahannya terlalu lama...."
__ADS_1
Ucap manager itu seraya menghela napas panjang.
Bersambung....