Anak Genius: The Next Heir

Anak Genius: The Next Heir
Bab 33: Janji Andrew


__ADS_3

"Bocah sialan, berani sekali kau mempermalukan aku."


Ucap Elliana dalam hatinya geram, ia mengepalkan tangannya dibawah meja, dengan sangat kesal, namun ia tetap mencoba mengendalikan diri dan ekspresinya, dan ia melanjutkan makananya.


Sementara Andrew merasa senang, karna saat itu ia mendengar anaknya menyebutnya dengan kata ayah, karena beberapa waktu kebelakang, anak itu sangat terlihat bermusuhan dengannya, bahkan seperti enggan untuk dekat dengannya.


Acara makan malam bersama telah selesai, mereka tengah berada diruangan tamu, dan Andrew memutuskan segera berpamitan untuk pulang kerumahnya, ia tidak ingin berlama-lama lagi berada dikediaman orang tuanya.


DERT... DERT....


Sebuah panggilan telepon masuk milik Lukas, sontak membuat semua yang tengah berbincang terdiam, dan melirik kearahnya.


"Apakah saya boleh mengangkat telepon saya.?" Ujar Lukas bertanya, seraya menatap layar ponsel miliknya.


"Tentu saja, angkat saja sayang." Ujar Neneknya sedikit penasaran, siapa yang menghubungi anak tersebut, mungkinkah ibunya.


"Baik, terimakasih." Sahut Lukas sebelum mangangkat panggilan telepon miliknya.


"Halo papih...." Sahut Lukas menjawab telepon masuknya.


Sontak mata Andrew membulat dan menatapnya tajam, ia mengerutkan dahinya bingung, begitu juga dengan semua orang yang berada diruangan tersebut.


Papih? anak itu menjawabnya dengan sangat lembut dan sopan, dengan ekspresi senangnya yang terlihat jelas diwajahnya, ia bahkan sedari tadi tidak menujukan ekspresi seperti itu kepada ayahnya sendiri.


"Lukas, apa kamu baik-baik saja.?" Tanya seseorang itu diujung teleponnya.


"Aku baik-baik saja papih, bagaimana denganmu, apa papih masih sangat sibuk?kenapa lama sekali tidak menghubungi aku." Ujar Lukas menjawab dan bertanya tanpa ragu.


"Ya, papih akhir-akhir ini sangat sibuk, akhir bulan nanti, papih akan kembali bertugas di Korea, jadi bisa punya banyak waktu denganmu." Ujar pria itu menjawab diujung teleponnya.

__ADS_1


Mendengar ucapan anaknya yang sangat akrab, dengan orang yang tengah melakukan panggilan telepon dengannya, ekspresinya mulai menghitam, raut wajahnya seketika terlihat sangat geram, bagaimana bisa anaknya sendiri menunjukan ekspresi hangat seperti itu kepada orang lain.


"Benarkah? agar banyak waktu denganku atau dengan Momi.?" Ujar lukas kembali melontarkan pertanyaannya yang sengaja ia ucapkan.


"Hei bocah kecil, kamu ini jangan berkata sembarangan.!" Sahut pria itu diujung teleponnya.


Ya dia adalah Hellio, seseorang yang sangat dekat dengan dirinya, dan dia yang selama ini selalu menjaganya, bahkan ia telah menggantikan sosok seorang ayah yang selama ini ia dambakan, namun Caroline tidak menanggapi perlakuan istimewa dari Hellio, karna ia selama ini selalu dibayang-bayangi dendam masa lalunya semata.


Wanita itu hanya berfokus, bagaimana ia menjadi sosok yang lebih baik, kuat, tangguh, memiliki kemampuan, dan juga harta yang banyak, agar suatu hari bisa membuktikan pada dunia, seberapa bejat ayahnya, dan seberapa tidak bersalah ibunya.


"Papih, bukannya aku sudah bilang, aku sangat setuju kalau papih menikah dengan Momi, selama ini papih selalu menjaga kami dengan sangat baik, aku sangat mendukung hubungan kalian papih."


Ujar Lukas dengan tegas, berbicara kepada Hellio dalam panggilan teleponnya.


Sementara Lukas yang saat ini tengah asik mengobrol dengan Hellio, ia tidak menujukan ekspresi apapun diwajahnya, berbeda dengan Andrew yang mulai merasa kebakaran jenggot, terutama ketika ia mendengar ucapan anaknya sendiri, bahwa ia sangat mendukung hubungan pria itu dengan Caroline, dia merasakan otaknya seketika mendidih, entah apa yang terjadi, dadanya sangat terasa sesak dan begitu panas, ia menggertakan giginya dengan geram, sontak ia langsung berdiri dari tempat duduknya.


Andrew melangkahkan kakinya mendekat kearah lukas, dan seketika ia mengambil ponselnya, ia menatap layar ponsel anaknya seraya mengerutkan dahinya, dengan wajahnya yang menujukan aura kematian, hal itu jelas semakin membuat otaknya yang mendidih, semakin bergejolak hebat, ketika sebuah tulisan tertera dengan kata papih Hellio, dilayar ponsel milik anaknya.


Sebelum ia berucap, Andrew sudah terlebih dahulu menutup sambungan telepon tersebut, ia mencengkram ponsel itu dengan sangat erat.


"Apa yang kau lakukan, kembalikan ponselku.!" Ujarnya berkata dengan wajah bermusuhannya.


"Hah...."


Andrew hanya bisa menghela napas dalam yang berat seraya ia kemudian berjongkok dilantai.


"Lukas, kamu adalah anakku, bagaimana bisa kamu memangil orang lain dengan sebutan papih, dan bagaimana bisa kau mendukung pria itu agar bersama dengan Momi kamu."


Ujar Andrew dengan wajahnya yang masih terlihat sedikit kesal, namun dia sangat berusaha mencoba mengendalikan dirinya sendiri.

__ADS_1


"Dia adalah papihku, dia selalu menjaga kami dengan sangat baik, dia telah menggantikan sosok ayah yang tidak aku punya selama ini, saat aku dibully sebagai anak haram, saat Momi menangis karna menghawatirkan aku, dan merasa bersalah kepadaku, papih selalu menjadi sandaran buat aku dan Momi, dia selalu berdiri paling depan untuk menjaga kami, kamu tidak bisa dibandingkan sama sekali dengannya."


"Walau aku adalah anak kandungmu, tapi yang bersikap dan berlaku layaknya seorang ayah adalah papihku, dan sekarang kamu datang memisahkan aku dengan Momi, dan akan memberikan ibu tiri kepadaku, apa kau masih layak disebut sebagai ayah kandung."


"Semua penderitaan kami, bermula dari keserakahan dan perbuatanmu sendiri.!"


Semua yang ingin diucapkan oleh Lukas akhirnya terlontar keluar dari mulutnya, ia dengan ekspresi kesal dan juga bercampur kesedihan, luka yang dalam, menjadi satu dalam raut wajahnya.


Semua orang hanya terdiam tak bergeming, dengan semua ucapan yang dilontarkan anak tersebut, mereka tidak bisa mengelak, terutama Andrew yang menjadi sumber derita bagi keduanya.


Begitu juga sang Nenek, ia yang semula selalu menjodohkan Andrew dengan Elliana, ia terdiam menundukan kepalanya malu, ia tidak memikirkan sampai kearah sana, bahkan ketika anak laki-lakinya tidak terlihat menyukai wanita itu.


Namun hati kecilnya berkata, karna selama ini, ia tidak mengetahui, kalau anaknya telah memiliki putra bersama perempuan lain, diusianya yang sudah matang, bagaimana mungkin anaknya belum mempunyai istri dan juga anak, sedangkan ia sangat ingin memiliki seorang cucu.


Andrew terdiam lemas, sekujur tubuhnya bergetar hebat, ia sadar dengan semua kesalahannya, ia sadar dirinyalah yang sangat harus disalahkan, bagaimana bisa anaknya dan wanitanya harus menjalani hidup dengan sangat menyedihkan dan begitu berat, dengan cacian dan juga hinaan, sementara dirinya hidup dengan damai diatas penderitaan mereka berdua.


Hukuman, hukuman seperti apa yang harus ia dapatkan, agar dapat menebus semua kesalahannya, dan menggantikan penderitaan Lukas dan Caroline.


Ia seketika ambruk dilantai, bertumpu kepada dua lututnya, seraya meneteskan air matanya, ia menarik Lukas kedalam pelukannya dengan sangat erat, dadanya sangat terasa sakit dan merasa seperti tengah dicabik-cabik, ia tidak tahu harus berkata apa.


"Maaf, maafkan aku, semua memang karna kesalahanku, tolong jangan biarkan Momi kamu bersama pria lain, tolong kalian berdua jangan meninggalkan aku lagi, aku tidak akan pernah memberikanmu ibu tiri."


"Biarkan aku menebus semua dosa-dosaku terhadap kalian berdua, sampai matipun selain Momi kamu sendiri, tidak akan pernah ada Momi lain lagi untukmu, tidak akan pernah, aku berjanji diatas bumi dan langit, seluruh nyawaku taruhannya."


Ujar Andrew seraya semakin memeluk erat tubuh anaknya, air matanya terasa membasahi pundak baju Lukas.


"He... He..."


Ujar Lukas tertawa puas dalam hatinya.

__ADS_1


Bersambung....


__ADS_2