Anak Genius: The Next Heir

Anak Genius: The Next Heir
Bab 45: Makan malam istinewa


__ADS_3

Lukas dan Andrew turun bersama-sama, menghampiri Caroline yang sudah berada di ruangan meja makan, namun Andrew seketika berlalu pergi meninggalkan ruangan tersebut, dengan sedikit wajah muramnya. Sementara Lukas hanya menatapnya dalam dengan ekspresi kecewa terukir dari wajahnya.


"Andrew, makan malam saja disini terlebih dahulu.!"


Caroline menatap lembut wajah anaknya, ia tahu bahwa Lukas ingin ayahnya menemani makan malam.


Lelaki itu menghentikan langkah kaki sejenak, ia berbalik menatap wajah Caroline dan juga Lukas.


"Baiklah."


Ia pun berbalik, dan kembali menghampiri meja makan tersebut, dengan wajah yang masih lesu, ia duduk tepat disamping Lukas.


"Maaf kalau menu tidak sesuai dengan selera kamu."


Seraya Caroline mengambilkan piring, dan mengisinya dengan nasi.


"Makanan mana yang kau suka? atau mau aku buatkan yang lain.?


Caroline berusaha agar tidak menunjukan ketegangan yang terjadi diantara mereka, tetap saja dia adalah ayah dari anaknya, bukan hal baik jika Lukas melihat pertikaian kedua orang tuanya.


"Tidak perlu, itu sudah cukup, kebetulan aku juga tidak terlalu menyukai daun bawang."


Ia merasakan perasaan hangat dalam dirinya, sebuah keluarga, kata yang sangat ingin ia ucapkan kepada kedua orang yang ada dihadapannya saat ini.


"Baiklah, biar aku ambilkan untukmu."


Tanpa ragu, Caroline mengisi piring itu dengan lauk dan teman nasi lain untuk Andrew.


"Apa ini sudah cukup.?"


Ujarnya seraya ia menatap Andrew dan melirik isi piring yang ada ditangannya.


"Terimakasih.


Sahutnya tersenyum tipis, seraya mengambil piring tersebut.


"Sama-sama."


Caroline kembali duduk di kursi, tepat disamping Lukas.


"Selamat makan Momi, ayah."


Dengan senyuman bahagia yang terpancar dari wajah anak laki-laki tersebut, untuk pertama kali, ia merasakan sebuah makan malam yang istimewa, seorang ibu, ayah, kini tengah duduk bersama, menemaninya makan malam.


"Selamat makan juga sayang."


Elus lembut Caroline kepada putranya, tidak terasa, ia hampir meneteskan buliran air matanya, melihat kebahagiaan sang anak, mungkinkah ia terlalu egois dan terlalu keras kepala.

__ADS_1


Walau hidup dengan bergelimang harta, tentu saja Lukas merindukan kasih sayang yang utuh dari kedua orang tuanya.


"Seandainya dia ada bersama kami, mungkin akan lebih menyenangkan lagi."


Caroline sesaat terdiam, ia menatap makanannya dengan sedih, ia tertunduk mencoba menahan ekspresinya sendiri.


Lukas seketika mengelus lembut lengan milik ibunya, ia tersenyum tipis dengan riang, hal yang belum pernah ia lihat selama ini. sepertinya ia tau apa yang tengah dipikirkan ibunya.


"Makan yang banyak sayang.!"


Ujar Caroline tersenyum lembut kepada anaknya.


'Seperti inikah rasanya memiliki keluarga? seorang istri, dan juga anak, aku harap ini bukan mimpi."


Seraya menyantap makan malam, ia sedikit terhanyut dalam pikirannya. Ia beberapa kali menatap wajah Caroline dan juga Lukas.


"Minum terlebih dahulu! jangan sampai kamu tersedak."


Wanita itu memberikan Andrew sebuah gelas yang berisi air putih.


"Ah... ok, terimakasih."


Lelaki yang kini berada dihadapannya, seperti bukan orang yang ia ingat dalam benaknya, berkali-kali ia mengucapkan kata maaf, berkali-kali juga ia mengucapkan kata terimakasih.


Caroline menatap dalam kedua orang tersebut, haruskah ia menerima Andrew? bisakah ia melepaskan rasa trauma yang dulu. Kebahagiaan bagi seorang anak, tentu saja ia sangat menginginkannya, ia tidak ingin lukas mengalami seperti yang ia rasakan, hidup semasa kecil, tanpa kasih sayang seorang ayah.


"Caroline, kenapa tidak melanjutkan makananmu.?"


Suara dalam laki-laki itu seketika menyadarkan dirinya dari lamunan. Ia menatap sedikit canggung kedua orang yang tengah melihatnya dengan bingung.


"Ah tidak, aku hanya merasa kalian sangat cepat sekali akrab."


Jawabnya seraya ia kembali memalingkan wajahnya dari dua orang itu, dan kembali melanjutkan makannya.


"Tentu saja momi, dia adalah ayahku, bukankah itu hal yang seharusnya."


Dengan tersenyum lembut dan rasa bahagia, Lukas menjawab ibunya tanpa ragu.


"Momi, ayah, terimakasih, aku sangat senang sekali." Tambahnya.


Mendengar ucapan dari anaknya, Andrew dan Caroline saling melemparkan pandangan satu sama lain dengan ekspresi canggung yang tersirat dari keduanya.


"Tentu saja sayang, habiskan makannya.!"


Caroline mengerti dengan jelas, apa maksud dari ucapan anaknya, ia secara tidak langsung mengatakan, kalau ia akan sangat bahagia, kalau ayah dan ibunya bersama.


***********

__ADS_1


Selesai menghabiskan makan malam bersama, kini mereka berdua ada di ruangan keluarga untuk bermain game bersama, sementara Caroline sibuk membereskan pekerjaan dapurnya.


"Nyonya, biar saya yang mengerjakannya."


Bibi datang menghampirinya, karna tidak enak, jelas sekali itu adalah tugasnya.


"Tidak apa-apa Bi, saya harus menjernihkan pikiran saya."


Sahutnya seraya ia menghela napas berat.


"Baik, biar saya membantu nyonya."


Ujar bibi, seraya mencoba untuk menemani kegelisahan nyonya rumahnya.


"Bi, sepertinya Lukas sangat bahagia, dengan kehadiran ayahnya."


Caroline menghentikan pekerjaannya, ia menyandarkan tubuhnya disamping pengurus rumahnya.


"Nyonya, saya tidak ada hak untuk ikut campur masalah pribadi nyonya, maap jika saya lancang, tapi mungkin tuan kecil, sangat menginginkan sebuah keluarga yang utuh."


Ujarnya dengan sopan.


"Saya tau Bi, tapi saya bukan orang yang akan menjalani sebuah ikatan, apalagi hanya dengan alasan seorang anak, saya ingin sebuah ikatan yang didasari perasaan yang murni dan dalam, beberapa hal membuat saya takut Bi, apalagi kalau mengingat masa kelam saya."


Seketika mata Caroline menatap langit-langit atas dengan tatapan kosong, ia sangat ingat jelas, sosok lelaki yang ia tahu, semuanya bajingan, mereka sangat haus akan wanita dari sekelilingnya, terutama sosok ayah yang ia ingat, begitu menoreh luka dihatinya, sehingga memberikan rasa trauma yang mendalam, untuk sebuah kata pernikahan.


"Nyonya, pasti ada sesosok laki-laki yang tidak seperti itu, saya tidak tahu cerita nyonya, tapi biar semua menjadi pelajaran bukan sebuah trauma nyonya."


Bibi itu mengelus lembut punggung lengan Caroline dengan sopan, namun juga terpancar ekspresi kekhawatiran.


"Saya mengerti, terimakasih Bi, saya akan melihat mereka berdua sedang apa."


Ujarnya dengan sopan, dan juga lembut, ia melangkah pergi meninggalkan tempat tersebut, sementara bibi hanya menganggukkan kepalanya lembut, dan melanjutkan pekerjaannya.


Caroline terdiam menghentikan langkah kakinya, ketika ia melihat Lukas dan Andrew sedang asik bersenda gurau dengan permainan gamenya, dan beberapa kali lelaki itu merangkul lembut tubuh anaknya.


"Momi, kemari, lihat! aku berhasil mengalahkan ayah."


Lukas langsung berlari kecil menghampiri ibunya yang menatap mereka, seraya ia menarik lembut lengan ibunya, agar duduk bersama dengannya.


"Lukas memang hebat."


Tanpa bisa menolak, Caroline duduk disamping Andrew, dengan jarak ditengah, dengan antusias Lukas langsung duduk diantara keduanya tanpa ragu.


"Momi, ayah, ayo kita main gawe bertiga."


Sontak mata keduanya saling melirik satu sama lain dengan canggung, sementara Lukas hanya tersenyum tanpa beban dari wajahnya.

__ADS_1


Bersambung.....


__ADS_2