
"Baiklah, ayah harus kekantor lagi, nanti malam aku akan mengantarmu kembali."
Andrew hanya bisa menarik napas panjang, ia mengelus lembut ujung kepala anaknya, sementara lukas hanya menganggukan kepalanya tanpa menyahut, ia pun berpamitan dan segera bergegas pergi meninggalkan kediaman keluarga alexander.
Tepat saat ia sampai diperusahaannya, ia kembali menyaksikan berita yang sangat menghebohkan tersebut.
"Apakah dia akan melibatkan dirinya dalam sebuah kubangan hitam? apakah dia sudah yakin dengan keputusannya? hal itu, suatu hari akan menyeret namanya lebih jauh lagi."
Tukas andrew bergumam sendiri dimeja kerjanya, ia mengetuk-ngetukan jarinya dengan sedikit mengernyitkan dahinya.
Seorang wanita yang tumbuh ibarat sebuah kelinci, bak teratai putih yang sangat elok, sekarang ia harus menjalani kehidupannya layaknya setangkai mawar berduri, ia akan berubah dalam sesaat menjadi seekor rubah ganas, ketika ada orang yang mendekatinya.
Tapi disisi lain, sifat dan sikapnya sekarang, justru membuat ia semakin hawatir, memiliki sebuah nama, tekenal dengan kemampuannya, berapa banyak lelaki yang akan terpikat olehnya, hati kecilnya berkata, seandainya kemunculan ia saat ini, masih seperti sosok yang dulu dikenalnya, mungkin saja ia bisa menjadi seorang pria satu-satunya yang bisa ia andalkan.
Tapi untuk sekarang, bermacam-macam alasan harus ia susun dengan rapih, hanya agar bisa bertemu dengan wanita itu, walau begitu, tetap saja dengan tegas ia masih selalu berusaha menghindarinya.
Saat ia larut dalam fikirannya sendiri, terdengar seseorang mengetuk ruangannya, sehingga langsung membuat ia tersadar.
"Masuklah.!"
"Presdir, informasi yang anda minta semua ada disini."
Tegas Liam seraya menyerahkan hasil penyelidikannya.
Perlahan ia membuka informasi yang diberikan Liam kepadanya, ia mengerutkan dahinya seraya sesekali melirik kearah wajah Liam.
"Apa kau yakin orang yang berada dibelakang Elliana, adalah wanita itu.?"
"Itu informasi yang saya dapatkan presdir, bagaimana selanjutnya presdir.?"
Ujar Liam bertanya, tugas apa yang harus ia lakukan selanjutnya.
__ADS_1
"Selidiki lebih detail lagi, siapa yang bekerja sama dengannya saat itu! aku ingin secepatnya seluruh rekaman saat itu musnah.!"
Tegas Andrew kepada Liam.
"Baik presdir."
"Dan, kalau masih saja ada yang tersisa, lebih baik kau kembali keluar negri."
Tegasnya mengingatkan, beberapa kali mereka memusnahkan bukti tersebut, selalu saja ada yang tersisa, dan selalu menjadi bahan untuk mengendalikan dirinya.
Luar negri, sebuah kata yang sangat menakutkan bagi Liam, bukan sesuatu yang baik untuknya, saat mendengar ucapan itu keluar dari mulut Andrew, jelas bukan untuk berlibur, melainkan ia akan dikirim kesebuah negara terpencil, yang hanya ada sebuah peperangan tak berujung, sebagai salah satu yang berhasil selamat dengan bantuan Andrew, tentu saja ia tidak ingin kembali ketempat terdahulunya, dimana seorang manusia tidak memiliki rasa kemanusiaan sama sekali, mereka akan diperlakukan layaknya seekor hewan peliharaan, yang harus selalu tunduk dibawah kaki pemimpin dinegara tersebut.
Kekurangan pakaian, makanan, tidak bisa tidur dengan cukup, setiap detiknya nyawa mereka yang ada disana terancam. Bagaimana ia bisa lolos dari tempat mengerikan tersebut, tentu saja ia sangat ingat dengan jelas, walau sekarang kemampuannya telah meningkat pesat dibawah kepemimpinan Andrew, namun tetap saja, ia tidak akan pernah sudi kembali, dimana sebuah awal semua mimpi buruknya terjadi.
"Saya mengerti presdir."
**********
Malam hari tiba, tepat pukul 07.00
Ia memutuskan untuk menyudahi pekerjaannya, ia segera bergegas pergi untuk menjemput Lukas, dan mengantarkannya kepada Caroline, sesuai apa yang telah ia janjikan kepada Lukas.
Malam yang terasa sangat sunyi, jalanan yang biasanya ramai dipadati kendaraan yang lalu lalang, tepat pada malam ini, semua terasa begitu mencekam, seolah-olah memberikan kesan seperti apa yang tengah ia rasakan, suasana yang sangat hampa dan begitu dingin, memberikan rasa kesepian yang dalam menyeruak kedasar jiwanya.
Semua hal yang ia selidiki selama ini, sedikit demi sedikit menenuju titik terang, namun hal yang tidak ia sangka adalah, beberapa orang yang ikut andil dalam kejadian masa lalu dirinya, ternyata semua adalah rencana busuk orang-orang yang ia kenal. Semua masalah berkaitan satu sama lain, disaat ia telah berniat untuk memperjuangkan anak dan wanitanya, ia sedikit mulai ragu, takut masalahnya akan menyeret mereka berdua kedalam lubang hitam, dan mengancam keselamatan mereka.
Tapi perasaan yang ia sadari semakin tumbuh dengan cepat terhadap wanita itu, membuatnya takut, bahwa ia akan kembali mengambil keputusan yang salah, dan justru berakhir dengan kehilangan dua sosok penting dalam hidupnya saat ini.
Selama diperjalanan menuju rumah Caroline, ia hanya terfokus pada kemudinya tanpa berkata sepatah katapun, hanya tarikan dan hembusan napas beratnya saja, yang terdengar jelas oleh Lukas.
"*Setelah pulang dari kantornya, ekspresi ayah berubah, apakah terjadi sebuah masalah yang besar*.?"
__ADS_1
Sesekali Lukas melirik ayahnya yang saat ini ada disampingnya, ia bisa melihat perubahan sikap ayahnya saat ini. Tanpa berniat untuk bertanya, ia hanya menebak-nebak sendiri dalam hatinya.
Beberapa waktu berlalu, sebuah perjalanan panjang yang tanpa percakapan sedikitpun dari keduanya, akhirnya mereka sampai dirumah Caroline.
"Ayah, apa kau sudah makan malam.?"
Ujar Lukas bertanya, saat langkah kaki mereka telah sampai, tepat didepan pintu rumah tersebut.
"Saat nanti ayah sampai dirumah, ayah akan langsung makan malam, sekarang kamu temui ibumu, dan jangan lupa jaga dia dengan baik boy.!"
Tukasnya seraya ia mengelus kepala anaknya, sembari membunyikan bel rumah itu.
"Lukas? Momi kira kamu akan menginap dirumah ayahmu."
Tanya Caroline yang membukakan pintu, dan saatini tengah berdiri dihadapan mereka.
"Ayah bilang, ayah belum meminta ijin kepada Momi, jadi menginapnya lain kali saja, kalau Momi mengijinkan."
Ujar Lukas menjawab, seraya ia berusaha sedikit menunjukan sikap baik ayahnya, bahkan saat itu, ia menggengam erat tangan milik ayahnya.
Andrew yang mendengar perkataan anaknya, ia hanya terdiam, dan melirik dengan ujung matanya saja. Apalagi yang direncanakan anaknya tersebut? ia memang selalu memiliki ide aneh untuk kedua orang tuanya. Ia sedikit mulai mengerti karakter, sifat dan sikap anaknya seperti apa, jadi ia hanya membiarkan anaknya saja, dengan segala ide aneh miliknya.
"Oh...."
Caroline tidak ingin membahasnya dan mempertanyakan lebih jauh lagi, apalagi ekspresi Andrew saat ini sangat kusut, seperti ia tengah memikirkan banyak hal, dan memiliki masalahnya sendiri.
"Ayah, ayo masuk! bukankah dari tadi kau bilang ingin buang air.?"
Lukas kembali berkata dengan omong kosongnya, dan hal itu membuat dahi Andrew semakin mengerut, bisakah dia mencari alasan lain? buang air? itu salah satu alasan yang memalukan. Ia hanya bisa menggelengkan kepalanya pelan, seraya ia menarik napas beratnya.
"Baiklah, kalau ibumu mengijinkannya."
Bersambung.....
__ADS_1