Anak Genius: The Next Heir

Anak Genius: The Next Heir
Bab 23: Panggil anak itu


__ADS_3

Degh....


Seketika Andrew terdiam tanpa bergeming, ia menatap tajam wajah wanita cantik yang saat itu posisi mereka sangat berdekatan, hingga hembusan napas mereka, sangat terasa jelas oleh keduanya.


"Apa yang sedang kau pikirkan andrew, hentikan fikiran gila kamu, atau kau akan menyesal untuk kedua kalinya...."


Ucap andrew dalam hatinya, yang masih tidakk berpaling dari arah pandangannya.


Uhuk... Uhuk...


"Sekarang lepaskan aku! aku sudah mengikuti apa yang kamu mau...." Ujar Caroline berkata, setelah ia berpura-pura terbatuk untuk mengalihkan kecanggungannya.


"Baiklah...." Seraya pria itu melonggarkan cengkraman kedua tangannya dari pinggang Caroline.


Wanita itu sontak seketika segera menjauh dari dekat pria tersebut, ia merasakan sebuah bahaya akan menimpanya, kalau ia tidak menjaga jarak dengan pria yang tengah berada dihadapannya, ia bahkan sontak langsung berdiri untuk menjaga jarak aman.


Pria itu menatapnya tajam seraya mengerutkan dahinya, merasa bahwa wanita yang selama ini ia cari-cari, begitu terlihat sangat ingin menjauh darinya, ia saat itu merasakan sedikit kekecewaan, paktanya, ia tidak pernah dijauhi wanita dengan cara seperti ini, tapi wanita yang ada dihadapannya sekarang, tanpa ragu ia menunjukan ekspresi takutnya, dan terlihat sangat ingin menjauhi dirinya.


Apa lagi wanita tersebut, dengan sangat berani, ia telah melarikan diri selama bertahun-tahun lamanya, hanya karna rasa kecewanya.


Namun saat itu, Andrew memang berniat untuk menjerat wanita itu, agar ia bersedia untuk tinggal disisnya, namun saat itu, ia masih berfikir untuk menjadikan wanita tersebut sebagai mainannya semata.


Tapi tanpa diduga, wanita itu tanpa ragu mencoba mengakhiri hidupnya sendiri, hingga sampai menghilangnya ia selama 6 tahun lamanya.


Disaat mengetahui bahwa wanita tersebut telah melakukan hal bodoh, bahkan sampai pada waktu dimana ia tahu, cerita hidup wanita itu seperti apa saat ia bersama keluarga ayahnya, ia merasa telah melakukan hal yang sangat bodoh, ia telah menghancurkan kehidupan seorang gadis lugu yang sangat polos dan sangat tak berdaya ketika itu.


Kalau saja waktu itu, ia tidak menyetujui sebuah permohonan perjanjian dari pak waldo, mungkin ia tidak akan pernah merasakan, sebuah penyesalan yang sangat dalam selama bertahun-tahun itu.


Ia sontak menghela napas panjang dan melirik kearah Liam dan Roland. "Berikan semua hadiah itu kepada caroline dan anaknya...!"


"Baik Tuan...."


Ujar Liam dan Roland, seraya mereka meletakan bawaan mereka, yang sedari tadi tidak dilepaskannya, sebelum sang bos memerintahkan mereka untuk meletakan semua barang tersebut.

__ADS_1


"Nona Caroline, semua barang ini dari bos, semua ini untuk menyambut kedatangan anda kembali kenegara ini, silahkan diterima Nona...!" Ujar Roland dengan senyuman tipis dibibirnya, namun ekspresi itu jelas sekali seperti sebuah perintah, kalau ia harus menerimanya, dan tidak boleh menolaknya.


"Tersenyum dengan cara seperti itu, bukankan sangat jelas bahwa itu adalah perintah mutlak, dan aku tidak boleh menolaknya...." Ujar Caroline dalam hatinya, seraya ia menatap tajam wajah Roland dengan ekspresi tidak senangnya.


"Nona, kalau anda tidak menerimanya, maka kami yang akan mati...."


Sahutnya dalam hati Roland, yang ia saat itu seperti mengetahui apa yang tengah difikirkan oleh wanita tersebut.


Ia hanya bisa menarik napas panjang yang pelan, dengan tetap memasang sebuah ekspresi senyuman yang sangat menakutkan bagi wanita tersebut.


"Baiklah terimakasih...."


Ujar Caroline seraya menarik napas panjang, yang merasa sangat melelahkan dengan apa yang sedang terjadi kepadanya saat ini.


"Caroline aku ingin bertemu dengan anak itu, suruh dia segera turun...!" Tegas Andrew yang belum melihat batang hidung anaknya.


Sementara maksud dari kedatangan pria tersebut adalah, tidak lain untuk membawa Lukas melakukan tes DNA pada hari ini, ia menunggu kabar dari Caroline, namun ia malah seperti tengah menghindari ajakannya tersebut.


Hingga ia tidak ada cara lain lagi, selain mencari tahu, dimana rumah wanita dan anak tersebut sekarang.


Degh....


Ujar Caroline sontak mematung tak bergeming, ia tidak bisa melakukan hal itu, ia takut Lukas akan segera direbut oleh pria tersebut dari tangannya.


"Kalau dia benar adalah anakku, bagaimanapun juga kamu adalah ibunya, aku tidak akan memisahkan kalian berdua...."


Tegas andrew seraya menatap tajam kearahnya.


"Namun, jika kamu menolak, dan terus berusaha menyembunyikan kebenarannya dariku, bagaimanapun juga, kau yang telah melarikan diri saat itu, dan aku bisa melakukan hal yang tegas terhadap kamu..."


Ucapnya sedikit mengancam, namun pada kenyataannya, ia memang tidak berniat untuk merebut anaknya dari ibunya sendiri.


Ia hanya ingin mempertahankan keduanya disisinya, dan ia tidak ingin kembali kehilangan wanita tersebut.

__ADS_1


Caroline hanya bisa terdiam tanpa berbicara, ia sekarang benar-benar yakin, walau tidak melakukan tes DNA juga, pria yang dihadapannya saat ini, memang pria pada malam itu, dan dia adalah ayah dari anak laki-lakinya.


Namun bagaimana jika ucapan pria tersebut tidak dapat dipercaya, bagaimana jika ucapannya adalah sebuah kebohongan semata, bagaimana jika ia mengambil dengan paksa anak laki-laki itu dari tangannya, apa yang harus ia lakukan selanjutnya, ia tidak akan bisa untuk menghadapi dunia ini lagi, dan dia akan merasakan kembali jalan kematian yang tengah menantinya, untuk yang kedua kalinya.


"Caroline, jangan membuat aku bertindak hal yang tidak bisa kamu bayangkan...." Ujarnya dengan ekspresi yang sangat tegas.


Sosok Andrew bukanlah orang sembarangan, identitas lain pria tersebut sangat misterius, hal itu menunjukan bahwa ia tidak akan main-main dengan ancamannya.


Wanita itu tidak ada cara lain, selain mengalah dan tidak keras kepala, mungkin benar, bagaimanapun juga, dia adalah ayahnya, dia tidak bisa selamanya memutuskan ikatan sebuah hubungan antara anak dan ayah.


Mungkin saja, ini memang sudah waktunya bagi Lukas untuk mengetahui, siapa ayah kandung dia sebenarnya, yang selama ini selalu ia rindukan, dan selalu ia pertanyaan dalam hatinya.


"Baiklah, aku setuju untuk melakukan tes DNA, tapi kamu perlu ingat, aku adalah ibunya, yang telah melahirkan dia, membesarkan dia dengan seluruh kekuatanku, siapapun tidak berhak untuk memisahkan ikatan antara anak dan ibu...!"


Ujar Caroline dengan tegas, ia tidak mempunyai cara lain lagi untuk mundur, selain ia mengalah pada pria tersebut, kalau tidak, mungkin saja ia akan mengambilnya dengan paksa, hanya ada satu cara, mungkin bernegosiasi dengannya, tidak akan membuat ia kehilangan anak semata wayangnya.


"Ok, aku berjanji...." Sahut Andrew dengan tegas.


"Bibi, tolong panggilkan lukas kemari...!" Ujarnya meminta pengurus rumah, agar memanggilkan lukas yang tengah berada dilantai dua.


"Baik Nyonya...." Seraya ia segera pergi kelantai dua, seperti yang diperintahkan oleh Caroline.


Beberapa saat kemudian, Lukas turun dari lantai dua, dan ia telah sampai dilantai satu, ia berjalan kecil, menatap orang-orang dewasa yang sudah menantinya, seraya ia menatap mereka bergantian.


"Momi...?" Ujar lukas seraya menatap bingung wajah Mominya.


"Sayangku, kemarilah...!" Ujar Caroline seraya tersenyum tipis dengan hangat.


Andrew terdiam menatap wajah anak laki-laki itu, ia sekarang bisa melihat dengan sangat jelas, betapa mirip sekali anak itu dengan dirinya.


"Momi, ada apa, kenapa banyak orang...?"


"Siapa mereka itu...?"

__ADS_1


Bersambung....


__ADS_2