Anak Genius: The Next Heir

Anak Genius: The Next Heir
Bab 09: Wanita miliku tidak bisa direbut orang lain


__ADS_3

Deg... Deg...


Seketika seluruh tubuh Caroline terpaku tanpa bisa bergerak, ketika mendengar perkataan yang keluar dari mulut pria tersebut, ia tak bergeming tanpa bisa menggerakan kakinya.


Ia hanya bisa menatap tajam kearah pria yang ada dihadapannya, setiap ucapan yang dilontarkan pria tersebut selalu mengandung arti dan makna yang tersembunyi, perkataan sarkasme seperti itu, bagaimana mungkin ia tidak menyadarinya.


Dan terlihat seringai tipis diujung bibirnya, ia berbicara dengan santai, dan ekspresi yang tanpa ragu untuk mengucapkan kalimat yang akan menusuk dirinya selanjutnya.


"Tuan, apa maksud perkataan anda...?" Perkataan itu akhirnya keluar dari mulut Caroline yang bibirnya setengah bergetar.


"Nona Renata bercanda, apa yang saya maksud...." Sahut pria itu dengan santainya.


Caroline menatap tajam kearah Andrew, ia sadar bahwa ada cerita dibalik semua ucapan pria tersebut terhadap dirinya.


"Wanita yang semula bak teratai putih, sekarang telah tumbuh sangat indah, dan terlihat seperti seekor rubah kecil, aroma itu, rasa itu, tentu saja aku masih mengingatnya dengan jelas...."


Ucap Andrew dalam hatinya seraya menatapnya sangat dalam.


"Apa menurutmu kau bisa selamanya menyembunyikan bocah kecil itu dariku...?"


Beberapa saat kemudian, seorang pria yang nampak asing menuju menghampiri mereka berdua, sontak mata Caroline terbelalak menatap tajam kedua pria tersebut.


"Presdir...?" Ucap liam kepada Andrew seraya berbisik ditelinganya.


"Baiklah, aku mengerti...." Ucap Andrew dengan santai tanpa menananggapi serius bisikan asisten pribadinya.


"Kamu...?"


Ucap Caroline menatap tajam kearah Liam, ia ingat dengan jelas, pria itu adalah pria yang juga berpapasan dengan lukas dibandara, dan ia juga yang telah mengikutinya beberapa kali.


Mendengar pria tersebut memanggil pria yang berada dihadapannya dengan sebutan presdir, ia menyadari bahwa pria itu adalah, anak buah seorang pria yang sangat agung, yang sedari tadi memberikannya banyak tekanan.

__ADS_1


Caroline menatap tajam kearah Liam dan Andrew dengan aura bermusuhan yang seketika terlihat jelas diwajahnya.


"Apa jangan-jangan pria itu sengaja mengikuti kami, dan mencoba mencari tahu keberadaan Lukas.?"


"Apa mungkin, pria yang ada dihadapanku ini, adalah pria yang dulu telah merenggut kesucianku, dan dia adalah ayahnya Lukas...?"


"Kalau itu benar, tidak, aku tidak akan pernah menyerahkan Lukas kepadanya, aku melahirkannya dan membesarkannya dengan susah payah, bahkan diantara hidup dan mati, tidak boleh ada yang mengambil anakku dari hidupku...!"


Ucapnya dalam hati, seraya ia segera mencoba mengendalikan dirinya.


"Tuan, dunia ini sangat sempit sekali ya, saya tidak menyangka, kalau dia adalah orangmu...." Ucap Caroline dengan senyum sinis dibibirnya.


"Nona Renata, maaf kalau bawahan saya telah bersikap tidak sopan, dan telah menyinggung anda...." Ucap Andrew yang mengerti, bahwa Caroline telah menyadari keberadaan liam saat ia mengikutinya waktu itu.


"Saya hanya ingin memastikan satu hal, dulu sekali, saya mengenal seorang wanita polos yang lugu, dan diantara saya dengannya, telah terjadi sebuah malam yang menakjubkan, dan anda sangat mirip sekali dengan wanita itu...."


Ujar Andrew seraya menatap tajam kearahnya, dengan senyuman tipis diwajahnya, dan terlihat


"Tuan, anda pasti bercanda, saya baru kali ini, bertemu dengan anda, mungkinkah anda salah mengenali orang...?" Ujar Caroline mencoba mengelak, dan mencoba menyembunyikan cerita lamanya.


Seketika Andrew menyodorkan tubuhnya, mendekat kearah Caroline seraya ia berbisik lembut.


"Caroline Renata, wanita yang telah aku tiduri, selamanya tidak akan bisa lepas dari genggamanku...!" Ujar Andrew berbisik kecil ditelinganya, sehingga tarikan napas pria tersebut, terdengar jelas olehnya.


"Aroma ini, aku masih mengingatnya dengan jelas, huh...." Tambahnya berucap seraya meniup lembut daun telinga milik Caroline.


Deg... Deg...


Caroline hanya bisa mematung tanpa bergeming, ia merasakan seketika otaknya mendidih, ia menggertakan giginya, seraya mengepalkan tangannya.


Dan pria itu, segera kembali kepada posisinya semula, menatap wajah Caroline yang hampir pucat pasi, seluruh badannya bergetar tanpa bisa ia kendalikan.

__ADS_1


"Maaf tuan, seprtinya anda salah orang, saya sudah punya suami, dan tolong jaga prilaku anda...!" Ujarnya seraya memundurkan kakinya selangkah kebelakang.


Hanya alasan itulah, yang saat itu terbesit dalam benaknya.


"Menikah? didunia ini tidak ada hal yang bisa disembunyikan dariku Caroline...!" Sahut Andrew dengan sedikit kesal diwajahnya, ketika ia mendengar ucapan wanita yang telah ia cari selama bertahun-tahun itu.


Menikah, wanita yang telah menjadi miliknya, tidak boleh direbut siapapun darinya, apalagi wanita tersebut, dialah pria pertama yang telah membobol kesucian itu.


Dan ketika ia tahu, bahwa wanita yang telah menghabiskan malam dengannya, mencoba melarikan diri, dan mengakhiri hidupnya sendiri, rasa bersalah seketika menghantuinya.


Seorang Wanita lemah saat itu, telah dihancurkan masa mudanya, oleh perjanjian gila bersama ayah dari wanita itu, yang kesuciannya telah ia renggut, sehingga memutuskan untuk melakukan hal bodoh.


Disatu sisi, ia menyadari bahwa wanita itu, telah mendapatkan perlakuan yang sangat buruk dari keluarganya, terutama ayah bejatnya.


Dan disatu sisi, ia sangat terbuai dengan rasa dan aroma gadis polos ketika itu, ia tidak pernah bisa melupakan sensasi indah yang telah ia rasakan saat itu, bayangan-bayangan malam indahnya, selalu muncul dibenaknya, sedangkan seumur hidupnya, ia tidak pernah bisa menyentuh wanita manapun, dan tidak pernah tertarik untuk melakukan hal istimewa dengan wanita-wanita yang dikirim kepadanya.


Kata-kata menikah yang terdengar keluar dari mulut wanita yang selama ini ia cari-cari keberadaannya, sontak membuatnya emosi, dan kesal setengah mati, apalagi mereka berdua telah memiliki seorang anak laki-laki yang telah berumur hampir 6 tahun.


Membayangkannya saja, itu membuatnya merasa sangat sakit, kehidupan seperti apa yang saat itu dia hadapi, mengandung seorang bayi, melahirkan anak sendirian di negri orang yang baru dikenalnya, tanpa uang, tanpa kekuasaan, dan kedudukan, wanita itu pasti mengalami kehidupan yang sangat sulit diluar negri, hingga anak laki-laki itu hampir menginjak usia 6 tahun, dan dengan posisi Caroline yang sekarang, tidak terbayangkan, seperti apa ia jatuh bangun, menitik karirnya sendiri seraya membesarkan seorang anak, tanpa suami yang menemani disisinya.


Setelah kemunculan Caroline dan lukas disebuah bandara, fikirannya selalu berkecamuk tak karuan, dan ia tak tahan untuk membayangkan betapa menderitanya wanita tersebut, akibat ulah dari dirinya.


Sehingga sering sekali ia mengutuk dirinya sendiri, dan kebodohan yang telah ia sebabkan.


Seandainya ia lebih bekerja keras lagi untuk mencari keberadaan wanita itu, mungkin ia bisa menjadi sandaran wanita dan anaknya, menjadi laki-laki hebat, dengan kebanggannya tersendiri.


Namun, bagaimana bisa, seorang pria hebat sepertinya, membiarkan wanita dan anaknya terlantar, dan teunta-lunta begitu saja.


Apalagi sekarang wanita itu telah tumbuh menjadi sosok wanita hebat, mandiri, kuat dan sangat menawan, dengan aura dinginnya yang terpancar.


Ia tidak bisa membayangkan bagaimana kalau wanita miliknya, menjadi milik orang lain, sedangkan ia sama sekali tidak bisa melupakan sosok indah yang telah ia jamah dengan buasnya.

__ADS_1


Bersambung....


__ADS_2