
Di Negara ini, keluarga Nan, memiliki pengaruh yang cukup lumayan, termasuk salah satu keluarga terkemuka yang bisa memberi dukungan dalam berkembangnya dunia hiburan. Tidak sedikit, banyak para selebritis menggunakan cara untuk menjalin hubungan dengan keluarga Nan, menaiki tangga sosial, supaya bisa naik ke status dan posisi yang lebih tinggi.
"Cukup ramai juga ya."
Caroline berjalan menyusuri ruangan tempat perjamuan keluarga Nan. Matanya sedikit menyipit heran, mungkinkah ada selebritis kelas atas.
"Tuan, saya benar-benar sangat bersyukur dan berterimakasih atas kehadiran anda," ujar seorang pria paruh baya diujung meja perjamuan.
"Anda terlalu sopan."
Seorang pria gagah berdiri tegak, menjawab dengan dingin, seraya dia menggoyang-goyangkan gelas yang berisi anggur ditangannya.
"Maaf tuan, saya telat untuk menyambut anda, saya benar-benar minta maaf," ujar pria paruh baya itu membungkuk penuh hormat.
Andrew, selama ini ia sangat jarang sekali menghadiri perjamuan seperti ini, namun kedatangannya kali ini, benar-benar membuka mata. Seorang presiden yang selalu menolak undangan seperti ini, angin apakah yang merasuki tubuhnya.
"Tuan,"
Liam yang saat ini berdiri tepat disampingnya Andrew, ia berbisik seraya menatap kearah lain.
Mengerti dengan maksud dari ucapan dan tatapan asisten pribadinya, ia seketika menatap arah itu, "Ternyata dipakai juga."
Andrew tersenyum tipis dengan lembut, menatap dalam seorang wanita cantik yang saat ini tengah berjalan dengan anggun seraya mengenakan gaun yang telah ia persiapkan.
Wajah pria paruh baya, seketika tertuju kepada arah pandangan dari seorang Andrew, ia sedikit tertegun dengan pemandangan yang ia lihat.
"Apakah saya salah lihat, tuan Andrew tersenyum dengan lembut, siapa wanita itu?" ujarnya dalam hati.
Semua mata tertuju pada sosok cantik yang seketika menarik perhatian disekitar ruangan.
"Cantik sekali, dengan gaun mewah, indah, yang ia kenakan, membuatnya terlihat sangat sempurna." bisik semua orang yang ada disana.
"Tidak mungkin, aku tidak mungkin salah lihat."
Seorang wanita yang saat ini diapit oleh ayah dan ibunya, ia begitu terkejut ketika melihat sosok seorang Caroline. Matanya membulat tidak percaya, bagaimana mungkin. Sherry, yang tidak lain adalah kakak tiri Caroline.
__ADS_1
"Ayah?" ujarnya bertanya, seraya menatap tajam kepada pak Waldo.
"Dia memang mirip, tapi adikmu sudah meninggal." Sahut pak Waldo, mencoba menepis kecurigaannya.
Putri yang ia kenal, tidak memiliki aura seperti wanita ini, walau memang jika putrinya meninggal, bukankah seharusnya jasad wanita itu dapat ditemukan, ah... mungkin saja ada hewan buas didalam lautan itu, karena itu, jasadnya tidak dapat ditemukan sama sekali. Dua kali ia bertemu sosok wanita cantik itu, pikirannya selalu berkecamuk tak tentu arah.
"Tapi ayah, bagaimana jika--"
"Diam! itu tidak mungkin." Sentak Waldo kepada Sherry, seketika memotong pembicaraan anak tirinya.
"Oh... kebetulan sekali."
Caroline menyeringai tipis, menatap jijik, kepada ketiga orang yang tengah menatapnya penasaran.
"Jadi, siapa wanita ini? Suamiku, kenapa kamu sedikit tersirat rasa takut?" ujar istrinya bertanya menelisik.
"Jangan membuat ulah untuk saat ini, dia adalah pemilik yang baru, di perusahaan kita." Jawabnya seraya menatap Caroline tidak senang.
"Apa? bukankah ini begitu kebetulan," sahut istrinya menjawab kaget, wajahnya sedikit tercengang tak percaya.
"Sepertinya akan ada hal menarik, tapi kalau orang tua itu tidak tahu diri. Liam, kau tahu harus apa!" tegas Andrew, ia melirik kearah Liam seraya menunjukan ekspresi tidak senang.
"Saya mengerti." Sahut Liam sigap.
..............................................................................
"Malam ini, saya sebagai kepala keluarga Nan, sengaja mengadakan penyambutan, bagi kembalinya penerus utama keluarga Nan, selanjutnya,"
Seorang pria tampan bernama Reyhan Nando Saputra, ia adalah putra satu-satunya dari kepala keluarga Nan saat ini, selama ini, ia menjalankan bisnis diluar Negeri, mengembangkan keterampilan dirinya, dan memperdalam pengetahuannya.
Sebagai penerus selanjutnya, keahlian dan keterampilan dirinya, adalah kunci utama bagi kelangsungan keluarganya dimasa depan.
"Saya baru menyelesaikan, pendidikan, pelatihan, dan berbagai keterampilan diluar Negeri, supaya saya, benar-benar pantas menyandang gelar kepala pemimpin keluarga Nan, selanjutnya," ujarnya Rey, memberikan keterangan dihadapan semua orang yang hadir.
"Niat kepulangan saya juga, kembali kedalam Negeri ini, karena mendengar kabar yang sangat tidak sedap."
__ADS_1
Rey, menatap dingin dan tegas, kepada semua orang dihadapannya. Ia menelisik satu persatu, memandang remeh semua orang, dihadapannya, status keluarga Nan tentu begitu istimewa, siapa yang berani menyinggungnya, ia tidak akan berbelas kasih.
Semua orang terdiam tak bergeming, beberapa menundukan wajahnya ke lantai, mereka tahu jelas siapa keluarga Nan, terlebih lagi, seorang tuan muda, bernama Reyhan Nando Saputra ini. Ia telah melambungkan namanya diluar Negeri, siapa yang tidak tahu sosok hebat pria yang saat ini berdiri dihadapan mereka.
"Oh... ternyata teman lama." Gumam Caroline dengan santai.
"Teman lama?"
Andrew seketika sudah berdiri dibelakangnya, ia bertanya kepada Caroline dengan wajah sedikit tidak senang.
"Kamu, mengagetkan saja, berjalan tanpa suara, seperti hantu saja," sahut Caroline berbalik kearah Andrew, ia menatap santai wajah pria itu.
"Istriku, kamu menyamakan suami kamu dengan hantu? Apakah ada hantu yang tampan dan gagah seperti diriku?" goda Andrew kepada Caroline, seraya berbisik lembut diujung telinganya.
Wajah Caroline sedikit merah padam, hembusan napas milik lelaki itu sangat terasa hangat, ada rasa tidak nyaman yang membangkitkan sesuatu dalam dirinya, ia hanya bisa memalingkan wajahnya kearah lain, seraya mendorong perlahan tubuh Andrew.
"Kau terlalu dekat, jaga sopan santunmu! Lagipula siapa yang mau menjadi istrimu." cetusnya mengelak, seraya menyembunyikan rona merah wajahnya.
Andrew hanya tersenyum tipis, sepertinya sedikit demi sedikit hati wanita ini mulai tergerak olehnya.
"Baiklah, aku hanya bisa menunggu, seperti yang aku lakukan selama ini." tegasnya dengan yakin.
Ya, Andrew memang selama ini selalu berusaha mencari keberadaan sosok Caroline kecil, seraya menunggu dan berharap, keajaiban datang, dan ia bisa menemukan kembali, sosok wanita yang berhasil meruntuhkan Pengendalian dirinya. Membuat ia tidak bisa tahan untuk tidak menyentuhnya.
Wanita yang ia lihat seperti teratai putih ini, tentu saja tidak akan ia lepaskan dengan mudah.
"Menunggu? Tuan Andrew yang terhormat, apa aku tidak salah mendengar? jangan bercanda!" cibir Caroline.
Jelas dahulu ia pernah berharap, dimasa tersulitnya dalam keuangan, ia berharap agar lelaki itu mencarinya, dan sedikit bisa meringankan beban hidupnya. Namun ketika harapan itu muncul, semua hancur dalam sekejap.
"Kamu tidak percaya aku menunggumu?"
Ujung alis milik Andrew sedikit naik keatas, matanya menyipit sedikit heran, dari ekspresi Caroline, apakah dia mengetahui hal lain.
"Hah... sudahlah, menjauh dariku! Aku tidak ingin menjadi pusat perhatian." tegasnya.
__ADS_1