Anak Genius: The Next Heir

Anak Genius: The Next Heir
Bab 76 - Blood Casino


__ADS_3

Caroline terdiam, dia menatap Andrew dengan tatapan curiga.


'Apakah dia juga harus cemburu kepada seorang wanita?' batinnya.


"Dia memanggilku begitu, karena dia sudah menganggap aku sebagai adiknya. Dia juga yang selama ini mengurus Lucas." Caroline hanya bisa menenangkan Andrew dengan sedikit kisah sedih.


Andrew yang semula berekspresi kesal karena rasa cemburu yang menghamburnya, kini raut wajahnya terlihat menyimpan rasa sedih.


Caroline tertegun. Dia merasa bersalah. 'Ahh ... tidak seharusnya aku menggunakan luka lama untuk membuatnya berhenti cemburu. Aku tidak boleh begini' batinnya.


Luka lama yang akan selalu membuat wajah Andrew muram. Bukan hanya dirinya yang terluka, melainkan Andrew juga, bagaimana pun, ke dua anaknya telah menderita. Mereka juga terpisah dengan waktu cukup lama.


"Andrew, aku tidak bermaksud begitu. Kenapa kamu harus cemburu? Kamu bahkan sudah tinggal di kediamanku, apa yang kamu khawatirkan?" ujarnya lembut.


Andrew menatap ke dua bola mata indah wanita yang di cintainya. "Aku hanya takut, takut akan kehilangan kamu lagi, Caroll," tukasnya.


"Apa kamu tahu? Jika aku sembarangan dekat dengan pria lain, atau pun wanita. Lucas akan menatapku dengan tatapan tajamnya yang menghujam, dia sangat pemilih. Anakmu yang satu itu, ahh ... dia terlalu posesif terhadap ibunya." Caroline menghela napas kasar dengan penuturannya.


Andrew mendengarkan, dan memperhatikan Caroline dengan seksama. Pria itu sedikit memasang senyum tipis di ujung bibirnya.


"Lucas begitu?" tanya Andrew penasaran.


"Tentu saja. Tidak jauh beda dengan sifatmu. Ck ... mungkin karena dia titisanmu," ujarnya pasrah.


Andrew tersenyum puas. Sepertinya anaknya yang satu itu, selain pandai membuat orang naik darah, dia juga bisa di andalkan untuk menjaga Caroline dari incaran pria lain.


Andrew yang merasa puas terhadap sikap anaknya, dia terdiam dengan berbagai pemikirannya.


"Kenapa diam?" tanya Caroline, ketika tidak mendapatkan jawaban apa pun dari Andrew.


"Tidak. Kalau begitu kamu sudah boleh pergi," ujarnya.


"Sungguh? Kamu tidak marah lagi?" tanya Caroline sedikit girang. Namun tanpa sadar Caroline hampir menghamburkan dirinya ke dalam dekapan Andrew. Andrew menatapnya sedikit canggung.


Deg!


"Aku tidak sengaja," ujarnya Caroline, ketika dia tidak sengaja memegang sesuatu yang masih terasa keras.


Caroline menarik tangannya, dia bersiap-siap melarikan diri.


"Setelah memegangnya, kamu langsung ingin melarikan diri?" tutur Andrew menahan tubuh Caroline.


Caroline mengerjap, dengan cepat dia mengedipkan matanya kaget beberapa kali.

__ADS_1


Jantung Caroline berdegup kencang, dia semakin lama semakin di buat tidak menentu hatinya. Namun Caroline masih malu dan enggan untuk mengakui apa yang dia rasakan dengan gamblang.


Seringai Andrew membuat Caroline terpaku sejenak. Tangannya tanpa sadar bergerak bergerilya meraba dada bidang Andrew yang masih duduk dengan tubuh tegapnya.


Andrew mengerutkan dahi, menatap Caroline dengan rona wajah memerah.


"Apa yang sedang kamu lakukan?" tanyanya.


Caroline abai, dia masih mengagumi otot dada Andrew, dan bergerak meraba-raba tanpa sadar.


"Wow ...." Caroline sungguh kagum dengan otot dada yang Andrew miliki.


Andrew yang sudah berpikir liar, dia menahan tangan Caroline. Terlihat Andrew begitu berusaha mengendalikan dirinya.


"Jangan memancingku, jika kamu tidak ingin bertanggung jawab," ujarnya tegas.


Caroline terdiam, dia menarik lengannya dan bangkit terperanjat.


"Aku akan pergi sekarang." Caroline berbalik, dan berlari cepat meninggalkan ruangan. Andrew hanya bisa menghela napas. Namun dia sedikit terkekeh, dia merasa lucu ketika melihat ekspresi malu Caroline.


Caroline terlihat meninggalkan kediaman dengan menggunakan mobilnya. Andrew merogoh ponsel dan melakukan panggilan.


"Ikuti Caroline pergi! Pastikan dia aman!" Tegas Andrew dalam panggilan teleponnya.


Lucas yang tengah mengintip di balik pintu, dia bergegas pergi ke ruangan Luxi. Langkah kaki bocah kecil itu sedikit tergopoh-gopoh.


"Ada apa?" tanya Luxi menatap mimik wajah Lucas yang terlihat khawatir.


"Momi pergi ke luar. Sepertinya menemui tante Joel," terangnya.


Deg!


Luxi langsung menyalakan peralatan canggihnya. Dia dengan serius melacak keberadaan mominya.


"Arah ini menuju ke tempat apa?" tanya Luxi kepada Lucas.


"Aku tidak tahu," jawabnya seraya menggerakan bahu.


Caroline melaju dengan cepat, membelah luasnya jalan. Dia sedikit terburu-buru untuk bertemu Joel di tempat yang sudah seharusnya.


Roki sedikit menjaga jarak kemudi, dia tidak ingin Caroline menyadari jika dia tengah diikuti. Namun mata legam Roki mengerut, ketika menyadari arah yang tengah di tuju oleh calon nyonya muda kediaman Alexander tersebut.


"Lebih baik kamu periksa dari ponsel tante Joel!" ujar Lucas memberi saran.

__ADS_1


"Dia akan curiga, tante Joel bukan wanita biasa seperti dugaan kamu," jawab Luxi sedikit masam.


"Tapi aku khawatir terhadap momy," ujar Lucas. Luxi menoleh dan menatap Lucas. "Apakah aku tidak?" ujarnya.


Caroline yang sudah sampai di tempat tujuan, dia memparkirkan mobilnya di tempat parkir tempat tersebut. Caroline keluar dan memasuki sebuah bangunan megah.


"Selamat sore, Nona." Seorang pria berpakaian jas serba hitam menyambutnya.


Caroline hanya mengangguk, dia melenggang, berjalan masuk. Pria itu menekan tombol lift. Angka nomber lantai dua puluh tiga menjadi tujuan Caroline.


"Apa dia sudah sampai?" tanya Caroline di dalam lift.


"Iya, dia sudah sampai. Mereka juga sudah tiba di sini," jawab pria berpakaian rapih jas serba hitam itu.


Caroline mengangguk kecil. "Baiklah."


Lift berhenti tepat di lantai dua puluh tiga. "Silahkan, Nona," ujar pria itu seraya menggerakan tangan, mempersilahkan Caroline keluar dari lift.


Caroline kembali berjalan melenggang, dengan langkah kakinya yang terlihat santai dan berkarisma.


Klik ....


Pintu ruangan dua puluh tiga terbuka. Pintu tersebut hanya bisa di buka dengan akses khusus.


"Ikuti saya, Nona." Pria itu menunjukan di mana Joel berada. Caroline mengangguk dan berjalan mengikuti arah yang di tuju.


Di luar pintu lantai dua puluh tiga, Roki mengernyit sedikit kesal.


"Sial, harus pakai akses." Roki sedikit mendengus geram.


"Tuan, saya ada di 'BLOOD CASINO' hanya yang memiliki akses khusus yang bisa masuk ke sini," terangnya memberi laporan lewat telepon, kepasa Andrew.


Andrew sedikit tersentak, dia bangkit dari duduknya dengan wajah terkejut.


"Apa yang dia lakukan di sana?" ujarnya bertanya.


"Saya tidak bisa masuk, Tuan. Saya bisa menjawab pertanyaan anda, jika saya sudah berada di dalam." Roki memijat dahinya. Dia bahkan tidak bisa melihat apa yang di lakukan Caroline di dalam. Bagaimana bisa dia menjawab pertanyaan Andrew.


"Aku mengerti. Tunggu sebentar!" tegas Andrew. Dia langsung mematikan sambungan telepon Roki.


Andrew mencari kontak seseorang. "Bantu aku!" pintanya ketika orang yang di hubungi sudah mengangkat panggilan darinya.


"Apa yang bisa aku bantu?" tanya orang itu dengan nada santai.

__ADS_1


"Aku harus masuk 'blood casino." Andrew langsung mengatakannya, tanpa basa-basi lebih lama.


__ADS_2