
Selesai makan diluar, Caroline dan lukas memutuskan untuk segera kembali kerumahnya.
"Momi, kapan aku mulai sekolah...?"
Ujar Lukas bertanya kepada Mominya, karna seharusnya, memang ia hari ini mulai pergi kesekolah barunya, namun karna Caroline masih takut, jadi ia sedikit menundanya, dan memutuskan untuk diundur dalam beberapa hari kebelakang.
Menyadari siapa itu sosok Andrew, ia takut kalau mereka akan kembali diikuti oleh bawahannya. Perasaannya benar-benar sangat tidak enak, semua fikirannya berkecamuk menjadi satu, ia takut kalau Lukas akan diambil secara paksa darinya.
"Momi, sudah menghubungi kepala sekolah Lukas untuk meminta Ijin, mungkin dalam beberapa hari kebelakang, dan kepala sekolah Lukas telah menyetujuinya...."
Ujar Caroline menjelaskan kepadanya seraya mereka berjalan keruangan tengah rumahnya.
Ding Dong....
Belum juga sempat mereka duduk, tiba-tiba sebuah bel rumahnya berbunyi.
Sontak Caroline mengerutkan dahinya, dan bertanya-tanya dalam hatinya seraya mengerutkan dahinya, siapa yang datang? sementara Joel dan Hellio, mereka telah kembali ke Negaranya masing-masing, dan Vernita saat itu, ia pasti tengah berada dikantornya, untuk mengurus segala macam hal pekerjaannya.
Ia menatap Lukas panjang, sebelum ia mulai menyuruhnya untuk segera kembali kekamarnya terlebih dahulu.
"Sayang, kamu kembali kekamarmu terlebih dahulu ya, Momi akan melihat siapa yang datang...."
Ujarnya seraya mengelus ujung kepala dari putranya dengan lembut.
"Baik Momi...."
Ia segera berlari kecil, untuk meninggalkan lantai 1 dan pergi menuju kelantai dua.
"Siapa yang datang? jangan-jangan mereka benar telah menemukan keberadaanku disini...?"
Ucapnya dalam hati seraya mencoba melihat siapa yang datang dari kaca lantai 2.
"Nyonya apa saya harus membukakan pintunya...?"
Tanya bibi pengurus rumah kepadanya, yang saat itu hanya melihat Nyonya berdiri seraya menatap tajam kearah pintu keluar.
"Ah sebenarnya siapa yang datang...?"
Ucapnya dalam hati seraya menghela napas panjang.
"Biar saya saja, Bibi kembalilah...!"
"Baik Nyonya...."
Ia segera berjalan menuju pintu keluar, untuk melihat siapa datang kerumahnya. Betapa terkejutnya ia, ketika melihat sosok seorang pria yang gagah dan berwibawa tengah berdiri dihadapannya dan ditemani oleh para bawahannya.
"Tuan, apa yang anda lakukan disini...?" Ujarnya bertanya, seraya wajahnya menujukan ekspresi terkejutnya.
"Aku datang untuk menemui kamu..." Sahutnya tanpa basa-basi seraya ia langsung masuk melangkah kedalam rumah Caroline.
"Maaf anda ada keperluan apa ya...?" Ujarnya bertanya dengan perasaan dalam hatinya, yang sangat tidak karuan.
__ADS_1
"Apa kamu tidak akan mempersilahkan aku untuk duduk...?"
Ucapnya seraya memberikan kode, agar bawahannya masuk kedalam rumah wanita itu.
"Baiklah, Silahkan duduk tuan...!"
Jelas sekali raut wajah Caroline sangat kesal, dan ia tengah mencoba mengendalikan dirinya sendiri.
"Duduk dan temani aku...!"
Seraya ia langsung menarik paksa lengan Caroline, sehingga wanita itu sontak terduduk tepat disamping Andrew.
Caroline kaget seketika menatap tajam kearah Andrew yang berada tepat disisinya, tatapan dari andrew sangat jelas sekali, mata seperti itu sangat mengintimidasi dan juga penuh dengan aura kepemimpinan.
Ia tetap memegang pergelangan tangan Caroline seraya menatap kedua bola mata wanita cantik itu.
Selama ini ia tidak pernah menyadari perasaannya sendiri kepada sosok wanita tersebut, entah itu rasa bersalah semata, atau ketertarikan sementara, karna ia telah menghabiskan malam yang panjang bersama wanita tersebut.
Namun saat ini, ia jelas sekali dengan apa yang tengah ia rasakan, ia merasakan detak jantungnya semakin cepat, seolah-olah tengah berlarian.
Wajah dan ekspresi wanita itu, membuat ia tidak bisa mengendalikan dirinya, dan tanpa sadar mulai menyentuh pipi itu dengan lembut dan hangat.
"Caroline, kamu sudah tumbuh menjadi sosok wanita yang sangat kuat dan tangguh...."
Ucapnya seraya membelai rambut wanita itu dengan lembut, seketika rasa bersalah terukir jelas dari kedua bola matanya, ia menatapnya tajam dengan tatapan lembut, dan penuh penyesalan yang tergambar jelas dari ekspresinya.
"Ada apa dengan pria ini? apa yang sedang ia fikirkan...?"
Seketika ia tersadar, dan mencoba segera bangkit dari tempat duduknya, namun sebelum ia berhasil, Andrew langsung melingkarkan kedua tangannya dipinggang milik wanita itu.
"Jangan melarikan diri lagi, Caroline...!" Ujarnya seraya menarik tubuh wanita itu, agar semakin mendekat kepadanya.
"Tuan, lepaskan aku, apa yang sedang kamu lakukan...?"
Ucapnya seraya tetap mencoba melepaskan dirinya dari dekapan pria tersebut.
Ia tidak ingin orang lain melihat kejadian itu, terutama anaknya, terlebih lagi, kedua bawahan pria itu tengah berdiri tepat disamping mereka, dengan wajah yang tanpa ekspresi.
"Dimana anakmu, biarkan aku bertemu dengannya...."
Ujar andrew, mencoba untuk meminta Ijin terlebih dahulu dengan sopan.
Sontak kedua mata bawahannya saling melirik satu sama lain dengan ujung matanya masing-masing.
"*Apakah* *dia* *masih* *bos* *besarku* *yang* *akuh*, *sombong* *dan* *juga* *kejam* *itu*...?"
Ucap Liam dalam hatinya
"*What? apakah yang aku lihat ini adalah bos mafia yang sangat kejam dan tidak berperasaan yang berhati batu itu*...?"
Ucap Roland dalam hatinya dengan seringai tipis diujung bibirnya.
__ADS_1
"*Tidak menyangka, mengikutinya hari ini, bisa membuat aku melihat pemandangan yang sangat langka, ha... ha*...."
Menyadari ada perasaan aneh disampingnya, sontak andrew menatap tajam kearah kedua bawahannya. Liam dan Roland sontak terkejut dan seketika mematung kembali tanpa ekspresi.
"*Apa kalian berdua ingin mati*...?"
Ucap dalam hati Andrew dengan tatapan tajam dimatanya.
"*Haih... kami tidak bicara apapun Bos*...." Sahut Liam dan Roland dalam hatinya menjawab.
"*Apa menurut kalian berdua aku bodoh*...?" Tegas Andrew dalam hatinya mengerti dari kontak mata tatapan mereka.
"*Maafkan kami Bos*...."
Caroline seketika mengerutkan dahinya, tidak mengerti dengan apa yang difikirkan ketiga orang tersebut, yang hanya berkomunikasi lewat mata mereka saja.
"Tuan, lepaskan saya... bagaimana kalau orang lain berfikir yang tidak pantas.?"
Ujar Caroline seraya kembali berusaha melepaskan diri.
"Kau boleh coba, apakah bisa melarikan diri lagi dariku...!" Tegas Andrew dengan dengan tatapan liriknya.
Degh... Degh...
Caroline sontak terdiam mematung, menatap dalam wajah pria tersebut, tidak menyangka dengan apa yang ia telah ia dengar.
"Panggil aku dengan namaku, maka aku akan melepaskan ikatan tanganku dari pinggangmu yang \*\*\*\* ini...."
Tegas Andrew dengan seringai dibibirnya.
"Tuan kamu...?"
Sontak andrew semakin mengeratkan lingkar tangannya dari pinggang Caroline dan menarik tubuhnya agar semakin mendekat kearahnya.
"Panggil aku Andrew...!"
Tegasnya menatap tajam kearah wanitanya tersebut, dengan ekspresi nakal dibibirnya.
"Aku, tapi---"
Ucap Caroline ragu, sementara ia belum menyelesaikan ucapannya, dia segera kembali menarik tubuh Caroline semakin mendekat kearahnya, sehingga membuat kedua wajah orang itu berhadapan dengan sangat dekat.
"*Apa otak dia kemasukan air? itu memalukan*...."
Ucap Caroline dalam hatinya, namun melihat ekspresi pria yang ada dihadapannya, ia tidak ada cara lain, selain mengikuti permintaannya.
"An, Andrew...."
Bersambung.....
__ADS_1