Anak Genius: The Next Heir

Anak Genius: The Next Heir
Bab 21: Bercerita kepada lucas


__ADS_3

Hari itu antara Caroline, Lukas, dan Andrew, sama-sama dalam keadaan emosi mereka yang tidak stabil, sama-sama berkecamuk dengan fikirannya masing-masing, Lukas yang sedikit takut kalau keberadaannya diketahui, Caroline yang sibuk dengan bayang-bayang masalalunya, sedangkan Andrew, rasa kesalnya sangat memuncak saat itu.


Ia kesal karna belum mendapatkan informasi keberadaan Caroline tepatnya dimana, disertai dengan sistem keamanan perusahaannya yang berhasil disusup virus asing, sedangkan wanita yang selama ini ia cari dengan susah payah keberadaannya, saat ini sudah ada dinegara ini, namun dengan kenyataan bahwa ia membawa seorang anak laki-laki.


Bagaimana, kalau ternyata kenyataannya bahwa anak itu bukan anaknya, itu tandanya, wanita tersebut sudah menjalin kasih dengan pria lain, seperti yang ia ucapkan, dan semua hal itu menjadi satu dalam benaknya, sehingga membuat kepalanya seakan mau meledak.


******


******


PAGI HARI PUKUL 10.00


"Sayang, bangunlah, ayo mandi, kita akan pergi untuk makan diluar.!" Seraya Caroline menghampiri kamar anaknya, seraya menciumi pipi putranya dengan lembut.


"Ya, sebentar lagi Momi...." Sahut Lukas yang masih menggeliat diatas kasurnya,


Malam itu Lukas sudah mulai tidur sendiri dikamar pribadinya, karna memang semuanya telah ditata rapih oleh Bibi pengurus rumahnya.


"Apa Lukas belum lapar.?"


"Belum Momi, lukas masih sedikit mengantuk...."


"Sayang ini sudah siang, nanti menjadi kebiasaan bangun siang loh...." Ujar Caroline yang memang sedikit keras dalam mendidik putranya, tujuannya agar ia tahu aturan, dan belajar tatakrama kesehariannya dengan benar.


"Baiklah momi...." Lukas akhirnya menyerah, dan bangun dari tidurnya, ia duduk diatas kasurnya, seraya mengucek kecil matanya yang masih terasa kantuk yang sangat berat.


"Apa semalam Lukas bangun ditengah malam dan menonton televisi, atau bermain game...?" Ucapnya bertanya seraya menatap wajah putranya, karna tidak biasanya ia terlihat sangat mengantuk, sedangkan hari sudah mulai terik.


"Tidak Momi, aku hanya bermain game sebentar, karna memang terbangun ingin buang air kecil saja...."


Tegas Lukas sontak menjelaskan, agar Mominya tidak mencurigai dirinya.


"Baiklah anak Momi yang pintar, sekarang bergegaslah untuk mandi.!"


Caroline seraya mencium kening putranya dengan lembut.


"Untung saja momi tidak curiga, tapi sepertinya aku harus lebih berhati-hati lagi...."


Ucap Lukas dalam hati, seraya melangkah pergi menuju kamar mandinya.


Terlebih ia tahu, kalau sekretaris Mominya juga saat ini masih menyelidiki, siapa orang yang telah membantu perusahaannya waktu ada pembobolan sistem perusahaanya kala itu.


Sementara itu, Caroline pergi kelantai satu, untuk menyeduhkan susu untuknya dan juga putranya.


Beberapa saat berlalu, Lukas yang telah selesai mandi dan berpakaian, ia segera menyusul Mominya kelantai satu, dan menuruni anak tangga dengan pelan.


"Apa Momi sudah sangat lapar.?"


Tanya Lukas kepada Mominya, yang terlihat tengah meneguk susu hangatnya.


"Tidak terlalu, tapi Momi harus menjaga dengan baik kesehatan Momi dan putra kesayangan Momi...." Sahutnya seraya menyerahkan satu gelas susu hangat kepada putranya.


"Apa Lukas tidak mau pergi keluar.?"


"Selama ini, aku tahu kalau Lukas selalu memperhatikan anak-anak yang lain ketika mereka bersama ayahnya, walau dia tidak pernah menanyakan siapa ayahnya, tapi dia selalu menghindar untuk pergi keluar...."


Ucapnya berbicara dalam hatinya dengan memandang dalam wajah putranya.

__ADS_1


"Momi, apa yang sedang kamu lamunkan.?"


"Tidak ada, apa Lukas bahagia dengan kehidupan Lukas yang sekarang.?"


Ia bertanya dengan raut wajah sedih, mengerti kalau seorang anak pasti mengharapkan orangtua mereka secara utuh, sedangkan dirinya, hanya memiliki seorang ibu semata, bahkan teman-teman TK putranya suka bertanya siapa ayahnya, dan dimana ayahnya sekarang berada, karna lukas selama ini tidak pernah terlihat dijemput oleh ayahnya.


"Tentu saja momi, Lukas sudah cukup bahagia punya Momi yang sangat menyayangi Lukas, Momi tidak perlu berpikir yang tidak-tidak...."


Seraya menghela napas dalam, ia tahu kalau mominya pasti mempunyai kesulitan tersendiri.


"Lukas memang putra momi yang akan selalu menjadi kesayangan momi...."


"Baiklah ayo, pasti momi juga sudah sangat lapar bukan.?"


"Tentu saja sayang...."


Ia menggandeng tangan putranya keluar dari rumahnya, dan pergi untuk mencari sebuah restoran mahal untuk mereka sarapan.


Sesampainya disebuah restoran, Caroline memesan hidangan kesukaan Lukas dan menu untuk dirinya sendiri.


"Momi, lain kali kita bisa makan ditempat yang lebih sederhana, Lukas bosan dengan menu masakan yang mewah seperti ini...."


"Momi selama ini selalu bekerja dengan sangat keras sendirian, untuk memberikan semua yang terbaik untukku, dia sering bekerja dengan keras untuk menghasilkan banyak uang...."


"Aku tidak tegak melihat Momi harus menghamburkan uangnya, hanya agar aku hidup dengan mewah...."


Ucap Lukas dalam hatinya.


"Lukas sayang, Momi bekerja keras selama ini untuk membuat Lukas hidup dengan baik, Lukas tidak perlu memikirkan hal yang lainnya, Lukas cukup jadi anak yang baik buat Momi, apapun akan Momi lakukan untuk membuat Lukas bahagia dan bangga punya Momi...."


Tegas Caroline yang sudah bisa menebak isi fikiran dari putranya.


"Sayang jangan tumbuh dewasa dengan cepat, nikmati masa kecilmu dengan bahagia, semua itu akan membuat Lukas tumbuh dengan sehat dan pintar...." Ia sadar kalau pemikiran putranya berbeda dadi seusia anak pada umumnya.


"Lukas tahu momi, Lukas mengerti...."


Tegasnya.


Saat makanan telah datang kemeja mereka berdua, Lukas sesaat memperhatikan meja makan yang ada disampingnya.


Seorang anak dengan kedua orang tuanya yang lengkap, dengan senyuman bahagia anak tersebut, disuapi oleh ayahnya sendiri, Lukas yang merasa sedikit sedih melihatnya, ia pun menundukkan kepalanya dan segera menyantap hidangan makan dimejanya.


Bagaimanapun ia berpikir dengan sangat dewasa, ia tetaplah seorang anak kecil yang ingin mendapatkan perhatian dari seorang ayahnya, ia beberapa kali bertanya dalam hatinya sendiri, siapa sebenarnya ayahnya.


"Lukas, apa Lukas sangat ingin mengetahui siapa ayah Lukas.?"


Caroline sadar setiap kali melihat pandangan Lukas terhadap sebuah keluarga yang komplit, pandangannya selalu sedikit terlihat menaruh kesedihan.


"Tidak Momi, dengan adanya Momi, bagi Lukas itu sudah cukup...."


Ia sadar kalau Mominya selalu terlihat sedih walau ia berusaha menyembunyikan ekpresinya.


"Lukas sayang, karna Lukas sudah cukup bisa mengerti posisi Momi, Momi akan sedikit menceritakan sebuah pengalaman Momi...."


"Momi, Lukas tidak bermaksud seperti itu...."


Sela Lukas ditengah pembicaraan serius Mominya.

__ADS_1


"Tidak apa-apa, Lukas sudah waktunya sedikit mengetahuinya...."


Tegas Renata seraya menghela napas dalam yang panjang.


"Momi dan papimu, bertemu karna sesuatu yang sangat tidak diharapkan dalam hidup Momi...." Ia terdiam sesaat menatap wajah putranya dengan dalam.


"Saat Momi meninggalkan tempat dimana Momi dulu tinggal, Momi tidak mengetahui kalau Momi akan mempunyai Lukas...."


"Hanya setelah beberapa bulan kemudian, Momi mengetahui kalau dalam perut Momi ada sebuah nyawa yang tidak bersalah, selama ini, Tante Joel yang selalu menjaga Momi...."


"Didunia ini, Momi hanya punya Lukas, kakek, dan Tante Joel yang sangat berharga dalam hidup Momi...."


"Kalaupun suatu hari mungkin Lukas bisa bertemu dengan papinya Lukas tapi---"


"Mungkin papi Lukas tidak pernah tahu kalau dia punya seorang anak, dan---"


Ia terdiam menghentikan ucapannya sesaat, kemudian ia melihat keluar ruangan, memandang sebuah langit dari kaca restoran tersebut. Ia menghela napas yang panjang sangat dalam.


"Dia bukanlah orang biasa yang bisa digapai oleh sembarangan orang, identitasnya, keluarganya, tentu saja sangat tidak sederhana...."


Sambung Renata berucap dengan menatap langit biru lewat jendela kaca.


Kemudian ia mengarahkan kembali pandangannya kepada Lukas yang ada didepannya.


"Sayang, walaupun pertemuan Momi dan papimu, adalah sebuah kesalahan terbesar yang tidak Momi inginkan, tapi Lukas harus tahu, melahirkan Lukas adalah kebanggan bagi Momi, dan bukanlah sebuah kesalahan...."


Seraya ia mengelus wajah putranya dengan lembut.


"Lukas adalah penyembuh bagi Momi, Lukas adalah penyelamat Momi, cahaya momi, kekuatan bagi Momi untuk bertahan dan terus melangkah didunia ini...."


Tatapan Renata yang menyimpan segala luka, terlihat jelas oleh Lukas.


"Lukas paham Momi, Momi tidak perlu hawatir dengan Lukas, saat besar nanti, Lukas akan menjaga Momi dengan baik, melindungi Momi dari orang-orang yang jahat itu...."


Tegas raut wajah putranya dengan yakin, membuat Caroline tertawa dengan ucapan putranya.


"Apa menurut Lukas, Momi yang sekarang mudah dibully oleh orang jahat.?"


Ia sontak terkekeh karna mendengar ucapan dari putranya.


"Tentu saja tidak, Momi sangat kuat, Momi sangat hebat...."


Tegas Lukas.


"Jadi....kalau ada orang yang berniat jahat pada kita, kita harus melakukan apa menurut Lukas.?"


"Tentu saja Momi harus membalasnya, Momi tidak boleh membiarkan orang jahat mengganggu Momi.!"


"Ha... ha... ha... baiklah, seperti yang Lukas katakan...."


Ujar Renata.


"Lanjutkan makananmu sayang.! Ketika Lukas dewasa, Momi akan menceritakan semua masalah Momi kepada Lukas."


"Benarkah.?"


"Tentu saja, tapi Lukas harus tumbuh dengan sehat dan baik....ok.!"

__ADS_1


"Baik Momi...."


Bersambung....


__ADS_2