
"Tuan, nyonya sudah tiba."
Sebelum Lukas melakukan panggilan telepon kepada ibunya, Liam segera menghampiri Andrew, seraya ia berbisik pelan, mengetahui bahwa calon nyonya masa depannya telah sampai ditempat itu.
"Oh, ok."
Andrew segera kembali ketempat duduknya, ia tidak ingin bahwa wanita itu melihat sikap anehnya.
"Cih, ayah, apa kamu sedang berpura-pura agar terlihat tenang?" pekik Lukas dengan nada meledek.
"Diamlah nak, bisakah kamu mendukung ayahmu?" ucapnya setengah berbisik.
"Ayah, kalau aku tidak mendukung kamu, aku tidak akan duduk disini," sahut Lukas dengan nada santai.
"Baiklah, aku mengalah," jawabnya seraya menghela napas berat.
Seketika mata Andrew dan Lukas tertuju, kepada seorang wanita yang menghampiri mereka.
"Aih .... Momi, ada apa dengan gaya kamu?" ujar Lukas bertanya, saat melihat gaya kasual ibunya.
"Memangnya kenapa? justru kalian berdua yang sangat terlihat repot, apa kalian mau pergi kondangan?"
Sebenarnya Caroline sengaja berpakaian seperti itu, ia tau kalau kedua orang itu tidak mungkin mengajaknya makan malam, ditempat yang sangat mewah, kalau tidak merencanakan sesuatu, mengatakan bahwa ingin membicarakan soal tua bangka itu, melainkan hanya sebuah alasan semata yang dibuat oleh Andrew.
Andrew bangkit dari tempat duduknya, ia segera mempersilahkan Caroline agar duduk disampingnya.
"Duduklah!" ujar Andrew dengan nada suara lembut.
"Lukas, seperti apapun gaya dan penampilan ibu kamu, dia tetap saja sangat cantik dan menawan, kamu tidak perlu protes!" ujarnya seraya kembali duduk.
"Orang jatuh cinta memang aneh."
Lukas memalingkan wajahnya, seraya dengan santai ia menikmati minuman yang ada dihadapannya.
"Ehem .... Apa yang ingin kamu katakan?" ujar Caroline bertanya kepada Andrew, mencoba mengalihkan pembicaraan Lukas yang ia dengar.
"Sebaiknya kita makan terlebih dahulu, kamu pasti sudah lapar bukan?" ujar Andrew menjawab, seraya ia memanggil pelayan, untuk membawakan makanan spesial restoran tersebut.
"Tuan, nyonya, tuan muda kecil, Silahkan nikmati makan malamnya, kami permisi."
Selesai membawakan semua makanan, para pelayan itu, segera undur diri meninggalkan tempat tersebut.
"Kalau tidak sesuai dengan selera, aku bisa memanggil para pelayan untuk menggantinya," ujar Andrew seraya menatap Caroline dengan lembut.
"Ah, tidak perlu, ini sudah lebih dari cukup," sahutnya mulai sedikit canggung.
__ADS_1
Seorang Andrew yang selama ini ia tau, kepribadian dirinya yang sekarang sangat bertolak belakang, ekspresi, tatapan, bahkan nada suaranya selalu terlihat dan terdengar sangat lembut.
Caroline sadar, pria itu memang tidak sepenuhnya bersalah, mungkin dirinya yang hanya tidak bisa melupakan dan melepaskan rasa trauma malam itu.
"Hah ...."
Caroline hanya bisa menghela napas berat, haruskah ia mulai belajar menerima kehadiran sosok seorang Andrew, ia terdiam sesaat menatap dalam makanan yang ada dihadapannya, ia terlihat berpikir sangat dalam.
Caroline juga sedikit mengerti, bahwa Andrew tidak berniat untuk merebut Lukas darinya, melainkan hanya bertujuan untuk menjerat dirinya, Lukas hanyalah sebuah alasan agar Andrew bisa mendekati dirinya.
Sebuah alunan indah melodi, mengiringi acara makan malam mereka, Caroline sedikit tertegun dengan semua yang telah Andrew siapkan, hanya untuk menyambutnya makan malam. Terutama pemandangan yang sangat indah itu, membuat ia merasa sedikit terbuai.
*******
*******
Setelah mereka selesai makan, Caroline menatap Andrew dengan canggung, paktanya ia tidak pernah mendapatkan perlakuan seperti ini, Hellio memang beberapa kali memberikan sebuah kejutan istimewa untuknya, namun ia selalu menjaga jarak, karna selama ini, ia masih banyak yang harus diselesaikan, mengenai masalah pribadi masa lalunya.
"Lukas, anak momi yang tampan, bisakah pergi bermain sebentar dengan paman Liam?" ujarnya seraya melirik kearah Liam.
"Baik momi."
Lukas segera bergegas meninggalkan meja makan, dan pergi menghampiri dimana Liam berada.
"Apa lagi yang tua bangka gila itu minta dari kamu?" ujar Caroline bertanya seraya menatap tajam wajah Andrew.
"Kenapa ditolak? bukankah dia akan menawarkan sesuatu yang menarik kepadamu."
Caroline tau, kalau ayahnya, pasti akan mengirim kakak tirinya untuk menemani Andrew, seperti yang dulu terjadi kepada dirinya, apalagi tidak ada alasan bagi sherry saat ini untuk menolak. Namanya kini sudah mulai hancur, seperti yang ia rencanakan.
"Apa menurutmu aku akan selalu tertarik dengan hal itu?" sahutnya balik bertanya.
"Mungkin saja, aku tidak mengenal kamu, bahkan dulu, tanpa ragu, kau meniduri seorang wanita yang tidak kau kenal, seorang wanita yang setengah sadar dalam pengaruh alkohol," cetus Caroline menyindir pria yang saat ini berada dihadapannya.
Mendengar perkataan Caroline, Andrew hanya terdiam, ia tau, dirinya dahulu memang tidak berpikir panjang, menyadari betapa menawan dan polosnya Caroline, ia bahkan tidak bisa mengendalikan dirinya saat itu.
"Caroline, maafkan aku, tapi aku katakan sekali lagi, hal yang membuatku menyesal, bukan karna aku meniduri kamu, melainkan, aku tidak menemukan kamu lebih cepat, dan aku tidak bisa menjaga kamu dengan baik."
Jawaban Andrew seketika membuat Caroline tertegun, ia seketika memalingkan wajahnya kearah lain.
Sebuah permintaan maaf yang selalu Andrew lontarkan, kini benar-benar membuat hatinya sedikit demi sedikit goyah, jantungnya sedikit berdegup tak karuan.
Apa-apaan ini, kenapa jantungku berdegup kencang seperti ini? sadarlah Caroline, sadar.
Ujarnya dalam hati, yang masih memalingkan wajah.
__ADS_1
"Caroline?"
Melihat Wanita itu masih terdiam tanpa menjawab, Andrew kembali memanggilnya.
"Uhuk, uhuk, sudahlah, itu artinya kamu tidak akan membantu tua bangka itu bukan?" sahutnya menjawab, seraya bertanya, ia kembali menngarahkan tatapan kepada Andrew.
"Untuk apa aku membantu orang, yang sudah membuat hidupmu menderita," sahut Andrew dengan tegas.
"Oh, baiklah, kalau begitu aku ucapkan terimakasih."
Caroline bukan lagi wanita lugu dan naif seperti dulu, ia jelas sangat paham dengan maksud ucapan dari Andrew.
"Apa hanya ucapan terimakasih saja?" ujar Andrew seraya tersenyum tipis dari ujung bibirnya.
Seketika dahi Caroline berkerut, seraya menatapnya dengan tajam, apalagi melihat ekspresi licik Andrew, hal apa lagi yang akan ia rencanakan terhadap dirinya.
"Saya akan mentraktir anda makan lain kali," ujarnya yang masih menelisik kedalam wajah Andrew.
"Haih .... apa aku terlihat sangat rakus Caroline?" sahutnya bertanya.
"Kau tidak bermaksud, agar aku membalas dengan tubuhku bukan?" tanya Caroline dengan nada sedikit kesal.
"Hei, apa yang sedang kau pikirkan, atau, justru kamu yang dengan suka rela akan memberikan tubuhmu kepadaku?"
Andrew seketika terkekeh, melihat ekspresi Caroline yang kesal, ia memang sedikit berpikiran liar, namun bukan hal itu yang ada dalam benaknya.
"Andrew, lalu apa yang kau maksud, berhenti bermain-main!" pekiknya
Caroline sedikit membentak, dan ia bangkit dengan sedikit kesal dari tempat duduknya.
Melihat wanita itu kesal, Andrew pun bangkit dari tempat duduknya, seraya ia mendekat kearah Caroline berada.
"Caroline aku masih ingat dengan jelas, malam ini, adalah dimana kita bertemu pertama kali," ucapnya dengan lembut, kemudian ia berlalu pergi kearah Liam, ia mengambil buket bunga mawar yang telah ia siapkan sebelumnya.
"Untukmu, aku harap kamu mau memaafkan aku, dan mengijinkan aku untuk mengejar kamu."
Andrew memberikan bunga mawar tersebut seraya ia memasang wajah melas, sementara Caroline masih tertegun dengan apa yang dilakukan Andrew kepadanya.
"Kamu, aku-"
Caroline seketika tidak bisa berkata apa-apa, mulutnya seperti terkunci, apalagi saat Andrew semakin mendekat kepadanya.
"Ambilah Caroline! ini permintaan maaf yang tulus dariku."
"A-aku, sudah memaafkan kamu, tidak perlu sampai seperti itu," ucapnya sedikit gelagapan, dan ia hanya mengabaikan bunga yang Andrew pegang.
__ADS_1
"Kenapa kamu begitu menjaga jarak denganku Caroline.?"
Bersambung.....