Anak Genius: The Next Heir

Anak Genius: The Next Heir
Bab 47: Sarapan pagi


__ADS_3

Andrew hanya tersenyum tipis, ketika wanita itu mengartikan bahasa dirinya yang ambigu, walau ia tahu apa maksud dari andrew bukan sesuatu yang salah, namun ketika kalimat itu keluar dari mulut seorang pria, itu terdengar sangat aneh ditelinga.


Lukas yang baru saja kembali dari kamar mandi, ia hanya menatap wajah ayahnya dengan bingung.


"Kenapa ayah tersenyum aneh seperti itu.?" seraya ia naik keatas ranjang, dan seketika duduk tepat disampingnya.


"Tidak, kamu tidurlah.!"


Andrew mengelus lembut kepala putranya, dan ia segera bergegas pergi untuk berganti pakaian.


Menyadari waktu yang sudah semakin larut, Andrew dan lukas memutuskan untuk segera tidur.


********


Pagi hari tepat pukul 06.00


Caroline sudah sibuk membantu bibi untuk mempersiapkan sarapan untuk mereka.


Lukas dan Andrew datang menghampiri Caroline, dengan wajah mereka yang masih terlihat sedikit mengantuk.


"Kalian berdua, sebaiknya pergi mandi terlebih dahulu! setelah itu baru kembali untuk sarapan...."


Tegasnya seraya ia menoleh lembut kepada kedua orang itu.


"Baik Momi."


Lukas segera kembali kekamar sesuai perintah dari ibunya, namun Andrew hanya terdiam seraya membaca sebuah koran yang tersedia dimeja tersebut.


"Kenapa kau masih diam disitu? kau bukan anak kecil yang harus aku perintah bukan.?"


Ia menatap wajah Andrew seraya menarik napas panjang.


"Aku tengah menunggu asisten pribadiku untuk membawakan baju, tidak mungkin setelah mandi aku harus bertelanjang bukan.?"


Seringai tipis Andrew, membuat Caroline sedikit mengerutkan dahi. Setiap ucapan dan ekspresi yang ditunjukan pria itu, selalu terdengar dan terlihat aneh baginya.


"Oh, baiklah."


Caroline kembali berfokus dengan apa yang tengah ia kerjakan, tanpa ingin menghiraukan lagi Andrew.


Tidak berselang lama, sebuah bel berbunyi, Caroline segera pergi dari ruangan tersebut untuk membukakan pintu, sementara Andrew hanya terdiam menikmati secangkir teh ditemani sebuah koran yang ada ditangannya saat itu.

__ADS_1


"Liam, masuklah! tuan kamu sudah menunggu."


Liam hanya mengangguk sopan kepada Caroline, dengan ekspresi ramah, seraya ia menengteng sebuah paper bag ditangannya.


"Terimakasih Nyonya."


Ujar Liam seraya mengikuti dari belakang.


Nyonya? sesaat Caroline menghentikan langkah kaki, ia berbalik menatap wajah Liam penuh tanya. Sebuah kata Nyonya, jelas ia sangat mengerti, bahwa itu menandakan, ia adalah calon Nyonya dari atasannya sendiri.


"Panggil saja saya Nona, atau nama saya!sepertinya kata itu kurang nyaman."


Senyuman tipis Caroline yang sedikit terlihat canggung, ia segera melanjutkan langkah kakinya, dengan helaan napas berat yang masih terdengar oleh Liam. Tanpa menjawab, Liam hanya terdiam, bagaimanapun dia memang adalah calon Nyonya dimatanya, hal yang wajar kalau ia mulai memanggil dengan sebutan tersebut.


Disisi hati terdalam, ia sedikit ragu dengan harapan tersebut, takut-takut kalau suatu hari nanti, ada hal yang tidak bisa dihindari, dan kedua orang itu tidak mampu untuk bersatu. Ia sangat tahu dengan jelas seperti apa sosok Andrew dimatanya.


Liam melangkahkan kaki dengan sedikit berat.


"Sudahlah, aku tidak perlu ikut campur...."


Gumam Liam seraya menghampiri bosnya yang terlihat tengah santai, namun matanya sedikit menyipit, ketika melihat baju tidur yang saat ini Andrew kenakan, membuat ia sedikit menahan tawa.


"Apa kau membawa semua yang aku minta.?"


"Tentu saja bos."


Menyadari wajah kesal bosnya, ia segera menyerahkan paper bag yang ada ditangannya.


"Kalau begitu, saya permisi bos."


Tidak ingin kena amuk, ia mencoba segera melarikan diri dari tempat tersebut, namun belum juga ia melangkah, Caroline telah memanggilnya.


"Liam, sarapan dulu saja disini.!"


Sontak Liam segera melirik kearah Andrew, bermaksud bertanya apa yang harus ia lakukan.


"Nyonya besar meminta kamu seperti itu, bukankah kau harus menuruti ucapannya.!"


Tegas Andrew dengan wajah acuh, seraya ia bangkit dari tempat duduk, meninggalkan ruangan tersebut untuk mandi dan berganti pakaian.


"Baik, terimakasih Nyonya."

__ADS_1


Sahut Liam mengangguk sopan, ia segera pergi keruangan tamu, walau ia telah diijinkan oleh bosnya, bukan sebuah hal baik kalau ia tetap menunggu diruangan tersebut, bisa-bisa sebuah nyawa yang akan menjadi taruhannya.


Caroline meminta bibi menyajikan teh hangat, untuk Liam, dan beberapa camilan ringan yang mereka miliki. Disaat yang bersamaan, Vernita juga telah tiba dirumah Caroline, karna ia memang diminta untuk menjemputnya, sekaligus sarapan pagi bersama.


*******


Sarapan bersama.


Tepat disebuah meja makan, mereka telah berkumpul untuk sarapan, Vernita beberapa kali memperhatikan wajah Andrew dan juga Lukas, ia tersenyum tipis dengan ekspresi bahagia yang terukir diwajahnya, ketika melihat sebuah kedekatan ayah dan anak tersebut.


Vernita yang sudah lumayan lama mengikuti seorang Renata, selama ini ia selalu melihat ekspresi dingin dari wajah Lukas, bahkan anak itu jarang sekali memperlihatkan senyuman, apalagi wajah bahagia dihadapannya, namun saat ini, ia bisa melihat kebahagiaan dari anak laki-laki tersebut.


Mata Vernita sedikit teralihkan, ketika melihat atasannya hanya terdiam tanpa ekspresi apapun, seraya ia menyantap sarapan yang ada dihadapannya.


Menyadari Vernita tengah menatap, Caroline segera menatap balik.


"Apa sarapannya tidak enak.?"


Sontak Caroline bertanya. Mencoba untuk mengalihkan pokus lamunan Vernita, karna ia sangat mengerti dengan jelas, apa yang ada dalam pikiran sekretarisnya saat ini.


"Tidak Nona, ini sangat enak...."


Sahutnya dengan sedikit canggung.


"Kalau begitu habiskan sarapannya.!" walau ia memperlihatkan senyuman, namun Vernita juga bisa mengerti apa yang dimaksud oleh atasannya.


"Terimakasih Nona."


Sahut Vernita, dan segera melanjutkan sarapan.


Lukas hanya melirik wajah ibunya, yang saat ini sering selalu terlihat suram, ia mengerti, mungkin ibunya tengah memikirkan seseorang yang telah lama ia rindukan. Sesaat, ia juga hanya menatap makanan yang ada dihadapannya.


"Lukas, ada apa.?"


Andrew sontak bertanya, ketika menyadari perubahan ekspresi dari kedua orang tersebut.


"Tidak apa-apa ayah."


Tanpa menoleh, ia segera melanjutkan sarapan.


"Ada apa lagi dengan kedua orang ini, kenapa menatap makanannya seperti itu? seolah-olah mereka mengingat seseorang.?"

__ADS_1


Andrew menatap mereka bingung, ia kemudian mengalihkan pandangan kepada Liam, dengan sigap Liam mengangguk pelan, mengerti arti dari tatapan bosnya tersebut.


Bersambung.....


__ADS_2