Anak Genius: The Next Heir

Anak Genius: The Next Heir
Bab 35: Aku muak mendengar nama itu


__ADS_3

"*Ada* *apa dengan* *anak ini*.?"


Ujar Andrew dalam hatinya bingung, untuk sesaat ia berfikir, bagaimana bisa sikap dan sifat anaknya tersebut berubah 90 derajat.


Biasanya anak ini selalu memperlihatkan sikap tegasnya, dan juga sangat dingin, cuek, bahkan enggan sekali berdekatan dengan orang lain, selain ibunya, atau orang terdekat baginya.


Ia sedikit menggaruk kepalanya sendiri yang tidak gatal, seraya dahinya berkerut hebat.


"Baiklah, ayah akan menemani kamu disini." Ujarnya seraya menghela napas berat.



"Tidak, aku ingin Momi, aku ingin bertemu Momi, kau jahat."


Ujarnya tegas, dengan nada suaranya yang sedikit ketakutan.


"Andrew, pergilah jemput ibunya, bagaimanapun juga, anak kamu masih kecil, apa kamu tega melihatnya seperti ini.?"


Ujar ayahnya berkata, seraya ia menghembuskan napas berat, dengan tatapan dan sedikit kecewa, dan juga tidak percaya terhadap kelakuan anaknya.


"Benarkah.?"


Sontak Andrew terperangah kaget, dengan apa yang telah ia dengar, ayahnya mengijinkan ia membawa wanita itu kerumah keluarga besarnya, mungkinkah kedua orang tuanya akan menerimanya.?


"Tentu saja, memangnya apa yang ada dalam otak kecilmu itu.?"


Pekik ayahnya dengan ekspresi sedikit bingungnya, seraya ia menggelengkan kepalanya pelan.


"Ah... baiklah, Lukas, tunggu ya! ayah akan menjemput ibu kamu sekarang."


Ucapnya dengan segera merapihkan jas miliknya, dan ia segera bangkit meninggalkan kediaman keluarga besarnya, ia tanpa sadar berjalan dengan sangat terburu-buru, sehingga ia melupakan kunci mobilnya.


"Ah sial, kunci mobilku tertinggal."


Pekiknya kesal setelah ia hampir melangkah jauh dari ruangan tadi.


"Liam, bawakan kunci mobilku kemari segera.!"


Teriaknya Andrew dengan suara kerasnya dari luar pintu.

__ADS_1


Sontak Liam menengok kearah kanan dan kirinya, mencari dimana letak kunci mobil tuannya berada, ia jelas sekali, tadi ia melihat tuannya telah membawa kunci mobilnya, oh tuhan, apakah tuannya sekarang telah lupa ingatan, dan kehilangan kesadarannya sendiri.


Sambil menghela napas panjang, ia segera bergegas mencoba menghampiri tuannya, tanpa berkata apa-apa kepada yang lainnya, diruangan keluarga tersebut.


"Tuan, anda memasukannya kedalam saku jas anda tadi."


Ucapnya berkata, tetap dengan ekspresi sopannya, bagaimanapun juga, ia tetaplah bos besarnya, kalau ia melakukan kessalahan, maka nyawanya akan melayang, dan kalau bosnya yang salah, dia sendirilah yang harus tetap meminta maaf.


Bos tidak pernah salah, sesalan apapun atasan, yang salah tetaplah bawahannya, seperti itulah kata-kata yang selalu dipegang teguh oleh Liam, dan semua bawahan Andrew yang lainnya.


"Aishh... sudahlah, kau saja yang menyetir, kepala pusing menghadapi anak itu."


Ujarnya sedikit berdecik kesal, ia melemparkan kunci mobilnya kepada liam, seraya ia memijat dahinya sendiri pusing.


Tanpa menghiraukan tuannya, liam langsung menancap gas mobilnya, melaju dengan kencang, membelah jalanan yang luas, yang ketika malam itu sedikit sepi, dan tidak terlalu banyak kendaraan lain yang lalu lalang.


Hanya dalam waktu setengah jam, mereka sampai dirumah Caroline, dari sebuah perumahan termewah yang tepat berada di ujung kota tersebut, sampai disebuah perumahan elite tepat dipusat kota, dimana seorang wanita dari ibu anaknya, menetap disana untuk sementara waktu.


Ding... Dong....


Suara bel yang berbunyi malam-malam, sontak membuyarkan fokusnya Caroline saat itu, ketika ia tengah berada diruangan tamunya, sambil mengecek beberapa laporan pekerjaan dilaptop miliknya.


"Siapa yang datang malam-malam begini.?"


Gumamnya seraya ia sedikit berfikir dengan penuh tanya.


"Bi, tolong lihat siapa yang datang.!"


Ujarnya kepada pembantu rumah tangganya, seraya ia kembali berfokus kepada pekerjaannya.


Ia duduk dengan santai disebuah kursi ruangan tersebut, seraya ditemani dengan sebuah makanan ringan, juga teh segar kesukaannya, dan hansdfree yang menggantung ditelinganya, dengan sayup-sayup alunan musik dari ponselnya, sambil ia memeriksa beberapa laporan yang belum ia selesaikan.


Kaget dengan apa yang ia lihat, bibi itu terperangah tanpa berucap, ia masih ingat dengan jelas siapa pria yang ada dihadapannya, terlebih lagi ia tahu, siapa sosok besar tersebut, ia adalah seorang pengusaha terkenal yang sangat hebat, dimana ia berpijak maka semua orang akan langsung tunduk hormat kepadanya, tapi hal yang tidak ia sangka, pria itu adalah ayah kandung dari tuan kecilnya.


"Dimana Caroline.?"


Sontak Andrew seketika bertanya ketika ekspresi bibi itu kaget setengah mati saat melihatnya.


"Nyonya, dia---dia---"

__ADS_1


Bibi itu ragu-ragu untuk berkata, paktanya dia tahu, bahwa lelaki ini yang telah merampas anak nyonyanya dengan paksa, sehingga membuat mood dari Caroline sedikit berubah saat ia kembali kerumahnya.


"Bi, siapa yang datang.?"


Ujarnya bertanya dengan sedikit suaranya yang setengah berteriak.


"I-itu nyonya---"


Karna sebuah penekanan yang terasa sangat besar, sehingga setiap kata yang ingin ia ucapkan terasa berat dan hanya bisa menggantung diujung lidahnya, apalagi sosok pria itu menatapnya dengan sangat tajam tanpa berekspresi sedikitpun.


Tanpa basa-basi, merasa kesal karna tidak juga dipersilahkan masuk, ia langsung menerobos kedalam rumah tanpa permisi, seraya ia diikuti oleh asisten pribadinya.


Sehingga tepat beberapa detik kemudian, ia telah sampai, diruangan dimana Caroline berada tepatnya ia telah berdidi tepat dibelakang kursinya.


"Kenapa bibi lama sekali? ah... mungkinkah Hellio yang datang? aku harus menyambutnya segera."


Ujarnya bergumam sendiri, seraya ia melepaskan hansdfree dari telinganya, dan menutup laptopnya, dengan suara yang terdengar bahagia, dan juga ekspresi cerianya, yang terlihat jelas, dari ia yang langsung terburu-buru akan menyambutnya, seraya mengucapkan kata Hellio.


Sontak mata Andrew langsung menatapnya tajam, ia mengepalkan lengannya sendiri, dengan ekspresi wajahnya yang langsung terlihat suram.


Entah itu anaknya, bahkan sekarang ibunya juga, Hellio, Hellio dan Hellio yang selalu mereka sambut dan mereka banggakan, apakah dia sehebat itu, apakah kekayaan dan kejayaannya bisa melebihi dirinya.


Liam yang menyadari ekspresi dari wajah bosnya, hanya bisa terdiam tanpa berucap sepatah katapun, bahkan untuk bernapas saja ia rasa tidak punya keberanian itu.


Menyinggung bosnya ketika ia sedang kesal dan marah, dalam kondisi moodnya pria itu yang sangat jelek, sama saja ia menyerahkan nyawanya sendiri, untuk segera pergi kealam baqa.


Caroline beranjak dari tempat duduknya, seraya ia langsung melangkahkan kakinya berputar kebelakang.


"Aww... sakit."


Seketika ia mengelus dahinya perlahan, ketika dahinya telah bertabrakan dengan dagu seseorang, yang saat itu ekspresinya sangat terlihat jelas begitu menakutkan, dan pria itu tak merubah ekspresinya sama sekali, walau sebelah tangannya tengah menahan pinggang wanita tersebut, karna ia hampir jatuh, akibat rasa kagetnya yang berlebihan.


"Kau, apa yang kau lakukan dirumahku malam-malam begini? singkirkan tanganmu dariku.!"


Pekiknya kesal penuh emosi dan amarah, seketika wajah senangnya yang tadi, menghilang dalam sekejap mata, ketika ia melihat sosok Andrew dihadapannya.


"Hellio, Hellio, dan Hellio, bisakah kalian berdua berhenti menyebutkan nama orang itu! aku muak mendengarnya."


Ujarnya dengan nada dan suara kesalnya, tergambar jelas dari wajahny, tanpa menghiraukan ucapan Caroline, dan ia masih mencengkram erat pinggang ramping itu.

__ADS_1


Bersambung.....


__ADS_2