Anak Genius: The Next Heir

Anak Genius: The Next Heir
Bab 55: Gaun mewah


__ADS_3

Setelah 3 hari berlalu, sekembalinya Caroline dari Negara X, Andrew menerima kabar kalau wanita yang tengah ia perjuangkan hatinya, yang tidak lain ibu dari anaknya sendiri, telah kembali kedalam negeri.


"Tuan, anda ada undangan dari keluarga Nan, nanti malam?" ujar Liam mengingatkan, sekaligus ia bertanya, apakah akan datang menghadiri acara tersebut.


"Tidak."


Wajah dan ekspresi Andrew, jelas sangat enggan, ia tidak tertarik dengan acara tidak penting seperti itu. Selama ini, Andrew memang paling anti dengan acara membosankan seperti itu.


"Tapi tuan, sepertinya Nona Caroline," ujar Liam melanjutkan sedikit ragu.


"Ada apa?"


Seketika Andrew berbalik kepada Liam dengan penuh penasaran.


"Nona Caroline sepertinya menghadiri acara tersebut." Pangkas Liam.


"Oh."


Dengan ekspresi sedikit bingung, Andrew bertanya-tanya dalam hati, Caroline yang ia tahu saat ini, tidak akan menghadiri acara apapun tanpa ada niat dibalik semua itu.


"Informasi yang saya dapat, kalau keluarga Nan, ada hubungannya dengan kejadian waktu itu tuan."


Berdasarkan perintah yang telah diberikan Andrew kepadanya, siapapun yang berkaitan dengan kisah kelam Caroline, ia harus menyelidiki sampai tuntas, bagaimanapun, ia harus membantu dan menjaga wanitanya, agar tidak mengalami derita seperti dinas lalu.


"Baiklah, siapkan semuanya, aku akan datang, kalau mereka berani membuat masalah,"


Andrew menatap tajam kepada Liam.


"Saya mengerti tuan." Sahutnya.


"Oh iya, kirimkan beberapa gaun edisi terbatas ke kediaman Caroline, wanitaku, tidak boleh ada yang meremehkan!" tegas Andrew.


"Baik tuan."


.........................................................................


"Momi, Momi cepat turun!"


Lukas berteriak memanggil ibunya, ketika ia melihat beberapa orang datang, dengan bermacam-macam barang mewah bermerek kelas tinggi yang dibawa. Lukas segera membuka pintu seraya mempersilahkan semua masuk.


"Tuan muda, selamat sore, maaf mengganggu waktu anda, apakah Nyonya ada?"


Salah seorang pria berwajah tampan itu, bertanya dengan nada lembut dan sangat sopan, dengan pakaian mewahnya.

__ADS_1


Orang ini jelas terlihat seperti seorang designer ternama, apakah dady yang menyuruh mereka? Lukas menatapnya dengan sedikit penasaran. di Negara ini, siapa lagi yang bisa mengirim orang-orang ini.


"Silakan duduk, sebentar lagi Momi akan turun." Ujarnya.


"Terimakasih tuan muda." Sahut pria itu.


"Ada apa sayang, kenapa berteriak?"


Caroline seketika mengerutkan dahi, siapa orang-orang ini, kenapa begitu ramai, perasaan, dia tidak meminta siapapun untuk datang ke kediamannya, matanya langsung membulat, ketika ia melihat beberapa gaun mewah yang telah berjejer sisipan mereka.


"Maap?" ujar Caroline bertanya dengan bingung.


"Nyonya, saya diperintahkan tuan, untuk merias anda, dan semua ini, barang yang telah tuan siapkan untuk anda Nyonya." Sahutnya menjelaskan dengan sopan.


"Tuan?"


Caroline sebenarnya sadar betul, siapa lagi kalau bukan Andrew.


"Momi, itu pasti dady,"


Wajah Lukas seketika berubah sangat bahagia dan penuh semangat.


"Hai bocah kecil, kamu sekarang memanggilnya dady, sepertinya otak kamu benar-benar telah dicuci olehnya?"


"Momi, bagaimana juga, dia adalah ayahku, hal wajar kalau aku memanggilnya dadu bukan? lihatlah, dady begitu tulus kepada Momi, kenapa Momi seperti itu?"


Lukas seketika memasang wajah dan ekspresi sedih diwajahnya, ibunya ini, memang harus ada seseorang yang mendorong, agar ia sedikit demi sedikit, melihat kesungguhan ayahnya, terlebih lagi, semua kejadian saat itu, jelas bukan pelaku utama, dan bukan seratus persen salah ayahnya.


Mendengar ucapan dan ekspresi anaknya, Caroline terdiam sesaat, ia mengerti apa maksud dari ucapan anaknya tersebut.


"Hah... baiklah, karna ayahmu begitu tulus, mana mungkin aku menolak barang yang sangat mewah, bukankah sangat disayangkan," ujarnya seraya mengelus ujung kepala Lukas.


"Benar, lihatlah Momi, kamu pasti akan sangat jauh lebih cantik dengan gaun-gaun itu," ujar Lukas dengan wajah menggoda ibunya.


"Baiklah, bantu momi pilih ok, bocah licik!"


Caroline tidak bisa berdebat hal kecil dengan anaknya sendiri, bagaimana pun, anaknya selalu terlihat sangat bahagia dan antusias, jika hal itu mengenai ayahnya.


"Nyonya mari," ujar designer itu.


"Terimakasih, mohon bantuannya." Sahut Caroline.


............................................................................

__ADS_1


Setelah ia selesai memilih gaun, dan telah selesai dengan riasan wajahnya, semua orang begitu terpana, benar-benar seperti, bahwa pakaian itu, memang di khususkan untuk dirinya, wajah cantik itu, benar sangat cocok dengan seorang Andrew.


Ketika semua orang tengah sibuk memuji Caroline, Lukas terpokus kepada ponsel miliknya, ia mengirimkan poto kepada ayahnya.


"Dad, lihat, bukankah Momi aku sangat cantik,"


Lukas tidak sabar dengan tanggapan ayahnya, dan apa yang akan pria itu katakan.


'Ting'....


Sebuah pesan balasan masuk, yang tidak lain dari Andrew ayahnya.


"Tentu saja dia sangat cantik, karna dia adalah istriku," balas Andrew dengan emoticon love.


"Dad, kau tidak tahu malu, kau dengan Momi itu belum menikah, sadarlah!"


Lukas kembali membalas pesan dari ayahnya, seraya ia tersenyum diujung bibirnya.


"Hei bocah, bagaimana pun, dia akan menjadi istriku."


Andrew yang tidak mau kalah dengan cemoohan anaknya tersebut, ia dengan sangat pd, membalas pesan tanpa berpikir panjang.


"Aih, dad, bagaimana kau bisa bicara begitu, kau bahkan sampai sekarang belum bisa mendapatkan hati Momi, tidak berguna."


Lukas sedikit tidak sabar dengan balasan dari ayahnya, kalau seandainya ia bisa melihat ekspresi ayahnya, itu akan lebih menyenangkan.


"Lukas, aku ini ayahmu, kau bilang aku tidak berguna? ayahmu ini adalah pria paling berpengaruh di Negara ini, tentu juga sangat tampan, lihat saja nanti!"


"Ketampanan kamu, dan posisi istimewa kamu, bukankah tidak berpengaruh terhadap Momi?"


Lukas dengan sengaja, terus menerus mempropokasi ayahnya.


"Kamu, bocah kurang ajar," dengan ekspresi kesal Andrew disana, ia memang sangat sulit berdebat dengan anaknya sendiri.


"Dad, kalau terlalu lamban, Momi akan direbut oleh pria lain."


Pria lain, Andrew sangat sadar jelas, Hellio, pria itu selama ini selalu menemani Caroline dan Lukas, seketika Lukas menutup ponselnya, ia tahu bahwa ayahnya tidak akan membalas lagi, pria itu pasti tengah menahan emosinya, terlebih lagi, saat ini, ibunya tengah menatap tajam kearahnya.


"Lukas, mengobrol dengan siapa?" tanya Caroline dengan penuh curiga.


"Tidak, Momi, aku hanya mengirim pesan kepada Luxi." Sahutnya beralasan.


Bersambung.....

__ADS_1


__ADS_2