
Deghh....
Mendengar perkataan pria yang ada dihadapannya, sontak ia terdiam karna kaget, menjadi wanitanya? hal konyol apa yang sedang ia katakan, aku selama ini mencoba segala cara agar bisa terlepas dari semua bayang-bayang cinta satu malam itu, dan sekarang pria tersebut mengatakan dengan gampangnya, agar aku jadi wanitanya? dan akan membantuku untuk membalas dendam, konyol sekali, apa menurutnya aku masih wanita lugu, naif seperti yang ia tahu dulu.
Kau adalah salah satu dari orang yang sangat ingin aku balas atas semua derita yang terjadi dimasalalu, bagaimana mungkin aku harus menjadi wanitanya, hidup dalam bayang-bayang derita masalalu dan menjalani kehidupannya dengan orang yang aku benci, gila, sungguh ucapan yang sangat gila.
"Tuan, mengenai kehidupan pribadiku, semua tidak ada hubungannya denganmu, aku bisa mengurus masalah diriku sendiri.!"
Ucap Caroline menegaskan, seraya menyingkirkan tangan pria itu dari dirinya.
"Caroline, kalau kau menjadi wanitaku, kau tidak akan pernah kehilangan putramu, sebaliknya, jika kau bersikeras bertentangan denganku, aku bisa mengambil anak itu secara paksa, bagaimanapun dia adalah pewaris keluargaku, dan aku sebagai ayahnya, berhak atas anakku sendiri...!"
Deghh.....
Tubuh Caroline secara langsung berasa tersambar petir diatas teriknya matahari, bagaimana mungkin dia akan menerima kenyataan itu.
Aku yang telah mengandungnya selama 9 bulan, melahirkannya sendirian dengan susah payah, membesarkannya dengan seluruh kemampuanku, dia bilang ingin merebut cahaya hidupku yang telah memberimu kekuatan selama ini, aku tidak akan pernah membiarkan hal itu terjadi.
"Tuan besar yang terhormat, atas dasar apa anda bilang ingin mengambil putraku dari ibu kandungnya sendiri...."
Tegasnya dengan ekspresi sangat kesal, laki-laki yang telah menghancurkan kehidupannya, sekarang untuk kedua kalinya ingin kembali menghancurkan kehidupannya.
Sungguh cerita yang sangat konyol, lelaki itu bahkan tidak pernah tahu, seperti apa kehidupannya selama ini, dari hasil sebuah benih yang ditanam olehnya.
"Atas dasar aku adalah ayahnya...!" Sahut andrew menegaskan, bahwa ia juga berhak atas hak asuh bocah laki-laki kecil itu.
"Tuan, kenapa anda sangat yakin, bahwa dia adalah anakmu, dia adalah anakku dari hasil hubunganku dengan seorang pria berengsek dan liar...."
Caroline masih berusaha sekuat kemampuannya menyembunyikan kenyataan tersebut, ibu yang mana yang akan rela dipisahkan dari anaknya sendiri. Sementara laki-laki yang ada dihadapannya, tidak pernah ikut berperan sedikitpun dalam membesarkan bocah laki-laki itu.
__ADS_1
Seorang pria berengsek dan liar, tentu saja itu adalah Andrew, sosoknya memang sudah terukir sangat buruk dalam benaknya sendiri.
"Kalau begitu, lakukan tes DNA maka kita akan tahu dengan jelas, aku adalah ayahnya atau bukan...!" Tegas Andrew seraya tersenyum tipis dengan seringai dibibirnya yang terlihat jelas.
Bagaimana bisa wanita ini mengatakan dengan gampang kalau bocah itu adalah hasil hubungannya bersama pria lain.
"Tes DNA...?" Ucap Caroline dalam hatinya, dan sontak membuat seluruh tubuhnya bergetar seketika, seluruh tubuhnya terasa seperti tengah disengat beribu-ribu aliran listrik.
Deghhh.... Deghh....
Walau ia tidak yakin bahwa anaknya adalah anak dari laki-laki yang berada dihadapannya, tapi bagaimanapun wajah mereka memang benar-benar sangat mirip sekali. Lalu bagaimana jika hasil tes DNA itu benar adanya, mungkinkah dia akan kehilangan putra semata wayang satu-satunya.
Tidak, tidak ada yang boleh merebut anaknya dari dirinya, tidak ada yang berhak memisahkan hubungan antara ibu dan anak.
"Bagaimana, apa kau setuju untuk melakukan tes DNA bersamaku...?" Andrew kembali menegaskan keseriusan ucapannya sendiri, dengan seringai licik dan sangat yakin akan hasilnya.
"Tidak, aku tidak bersedia...!" Sontak tanpa sadar Caroline menolaknya dengan tegas.
"Kenapa, apa kau takut Caroline...?" Ujarnya seraya menghela napas panjang seraya melangkah menjauh dari tubuh wanita yang ada dihadapannya, dan ia segera duduk dikursi seraya menyalakan rokok miliknya.
"Walau tidak melakukan tes DNA, aku sudah sangat jelas dengan semuanya, maka, aku bisa langsung membawanya kerumah keluarga besarku...!" Ujar andrew dengan santai, seraya menatap tajam wanita yang tengah berdiri tersebut, dengan seluruh tubuh wanita itu yang tengah bergetar hebat.
Caroline terdiam tanpa bisa berkata apa-apa lagi, sosok pria yang ada dihadapannya sangat sulit untuk ia hadapi, ia sangat ingat dengan jelas, status pria itu bukan hal yang main-main, dan tidak sembarangan orang bisa menyinggung atau mempropokasinya.
Dia bahkan dengan mudahnya mengeluarkan sebuah dana bermilyar-milyar besarnya, hanya dengan satu lambaian tangannya, selama perjanjian dan hasil itu memuaskan baginya, uang bukan masalah besar baginya.
Termasuk dirinya yang telah menjadi korban perjanjian pria tersebut dengan ayahnya sendiri.
Salah sedikit saja ia bicara, ia akan kehilangan segalanya, terutama putranya sendiri yaitu lukas.
__ADS_1
"Tuan, bagaimana kalau hasilnya menunjukan bahwa dia bukan putramu, aku sangat tahu jelas, siapa pria yang sudah tidur bersamaku...!"
Ujarnya seraya mengepalkan kedua tangannya sendiri.
"Kalau dia bukan putraku, aku akan melepaskan bocah kecil itu, dan tidak akan pernah merebutnya darimu...."
Sahut Andrew dengan yakin, tapi ia sedikit menyeringai dengan ujung bibirnya, tergambar jelas bahwa ada rencana licik dari dirinya, tapi ia tidak bisa menebak, apa yang sedang difikirkan oleh pria tersebut.
Kedalaman hatinya, tidak bisa ia telusuri, begitu sangat kuat sebuah tembok penghalang itu, agar tidak ada orang lain yang bisa menebak isi fikirannya.
Caroline terdiam sesaat, menatap tajam wajah pria tersebut, mencoba menelusuri aoa yang ada dalam fikirannya, namun tetap saja, ia tidak bisa menebak hal itu sama sekali, ia hanya bisa menghela napas dalam dengan berat.
"Aku mengenal seorang dokter hebat di Negara ini, bagaimana kalau melakukan tes DNA itu ditempatnya saja...?"
Ia mencoba untuk bernegosiasi, agar, jika hasilnya tidak seperti yang ia harapkan, ia bisa menyembunyikan kenyataannya dari pria tersebut.
"Caroline Renata, jangan melakukan trik denganku! aku tahu dengan jelas apa maksud dari ucapanmu...!" Tegas Andrew seraya tersenyum tipis dengan wajah tegasnya.
Degghhh....
"Sialan, benar-benar pria yang sangat sulit untuk dihadapi, dia bahkan sepertinga bisa menebak apa yang tengah aku fikirkan...."
Carolin hanya bisa menggigit bibirnya sendiri, tidak tau harus berkata apalagi, dan tidak tau harus dengan cara apa untuk melawan keinginan pria tersebut.
"Aku akan menjemputnya besok, mengenai rumah sakitnya, aku tahu tempat yang keamanannya sangat terjaga dengan ketat, jadi tidak akan ada orang yang bisa melakukan manipulasi apapun hasilnya nanti...!"
Tegas Andrew dengan tersenyum puas, seraya ia bangkit dari tempat duduknya, dan langsung melangkah mendekati dimana wanita tersebut masih berdiri seperti patung tanpa bergerak.
"Caroline, kau sangat cantik malam ini, apa kau tidak berniat mengulang kembali malam yang panas diantara kita...?"
__ADS_1
Deghh... Deghh.....
Bersambung.....