
Pagi hari, pukul 06.00
Caroline yang sudah terbiasa bangun pagi, ia memutuskan untuk membantu bibi dirumah tersebut menyiapkan sarapan pagi, ia yang sudah selesai mandi, berpakaian rapih, dengan cekatan memasak bahan yang telah disiapkan bibi tersebut, dengan cekatan.
"Nona, biar bibi saja, ini masih sangat pagi, lebih baik anda kembali beristirahat.!" Ujar bibi tersebut yang merasa tidak enak, bagaimanapun dia adalah ibu dari anak tuannya.
"Tidak apa-apa bi, saya sudah terbiasa bangun pagi, ijinkan saya membantu." Jawabnya dengan suara lembut dan sikapnya yang sopan.
"Baiklah nona. "
Bibi itu hanya bisa pasrah, dan membiarkannya membantu, melihat wajah serius wanita itu.
Sementara Elliana, ia masih tertidur dengan pulas, karna memang ia terlahir dari keluarga yang cukup berada, sehingga kehidupannya sehari-hari sangat dimanja oleh keluarganya, sangat berbeda jauh dengan sosok Caroline yang sedari kecil, mendapatkan perlakuan buruk bahkan sudah biasa diperlakukan layaknya seorang pembantu, sehingga keterampilannya dalam mengurus rumah, memasak, sangat tidak perlu diragukan lagi.
Walau sekarang ia sudah menjadi seorang wanita yang kaya raya, sosok wanita yang sangat sukses dalam bidang dunia bisnis saat ini, tapi ia tidak pernah melupakan asal usul dirinya, yang penuh dengan luka dan penindasan dimasa lalu.
Ibu Andrew yang baru terbangun dari tidurnya, ia berniat mengambil minum keruangan dapur, sontak ia menatap wanita itu dengan kagum, ketika melihatnya sangat cekatan dalam menyajikan makanan, dan pribadinya yang sopan, walau berbicara dengan seorang pembantu rumah tangga, ia tersenyum tipis sambil berdiri diujung ruangan dapur tersebut.
"Wanita ini, walau hidupnya terbilang sukses, tapi karakter dan pribadinya sangat baik dan juga sopan, sepertinya dia bisa mengurus bocah tengik itu dengan benar." Gumamnya menatap kagum wanita tersebut.
"Siapa yang ibu maksud bocah tengik.?"
Sontak ibunya tersebut berbalik kebelakang dengan kaget, kearah dimana suara itu berasal, ia menatap tajam wajah anaknya kesal, yang tanpa ia sadari sudah berada tepat dibelakangnya, seraya menyilangkan lengan didadanya, bertanya dengan sangat santai.
"Tentu saja kau." Sahutnya seraya melangkah pergi meninggalkan tempat tersebut, dan mengurungkan niatnya untuk mengambil air minum.
"Tentu saja dia sangat cekatan, dia berbeda dengan wanita lain, wanitaku memang sangat hebat."
Ujarnya dalam hati, seraya ia menatap dalam wanita yang tengah sibuk itu.
*******
Saat semua orang telah terbangun dari tidurnya, dan mereka semua saat ini telah berkumpul untuk sarapan pagi, diruangan meja makan yang telah tersaji beberapa hidangan tersebut, tidak terkecuali Liam dan juga Roland, juga Roki yang saat ini sudah sampai pagi sekali, seperti perintah dari Andrew.
Mata Roki terbelalak, ketika ia melihat seorang anak laki-laki yang sangat mirip sekali dengan bos besarnya, ia menelisik jauh memperhatikan setiap ujung dari tubuh anak tersebut, ia memang baru pertama kali melihatnya, berbeda dengan Roland dan juga Liam.
__ADS_1
Lukas seketika membalas tatapannya dengan dingin, dengan ekspresi tidak senangnya, ia bukanlah badut yang harus diperhatikan dengan seksama, dari ujung kaki hingga ujung rambutnya, dan ia memang tidak suka dengan tatapan orang-orang yang seperti itu.
"Hai tuan muda, saya adalah bawahan ayah anda, siapa namamu.?" Sontak Roki bertanya untuk menghilangkan kecanggungan, karna anak itu menatapnya balik dengan sangat tajam.
"Lukas, tolong paman jangan menatapku seperti itu.!" Tegasnya dengan nada dingin dan cuek, menunjukan bahwa ia memang tidak nyaman jika ditatap seperti itu.
Roki, "(....)"
Ia hanya bisa tersenyum canggung mendengar ucapan anak tersebut.
"Astaga, benar-benar mewarisi sifat ayahnya."
"Maafkan saya tuan muda, nama saya roki." Ujarnya menjawab seraya mengulurkan tangannya kepada Lukas.
Lukas meraih jabatan tangannya tanpa menjawab, dan ia hanya menganggukkan kepalanya pelan, karna memang ia sudah terlebih dahulu menyebutkan namanya sendiri.
"Lukas, yang sopan nak.!" Sahut Caroline menyela, ketika melihat wajah anaknya dengan ekspresi dinginnya itu.
"Tidak apa-apa nona, buah jatuh tidak jauh dari pohonnya." Seraya ia tersenyum canggung dan sekilas melirik bosnya, dan ia dibalas dengan tatapan tajam dari Andrew.
Elliana yang baru turun, ia segera berniat untuk duduk disamping Andrew dengan ekspresi wajah manjanya. "An, kamu sudah bangun.?" Ujarnya bertanya seraya ia duduk dikursi, tepat disamping Andrew.
Caroline hanya tersenyum tipis ketika melihat wajah Andrew yang tidak senang, dan lelaki itu menatap kearahnya, namun Caroline hanya mengabaikannya seolah-olah ia tidak peduli, dan tidak ingin ikut campur, seketika membuat dahi Andrew berkerut, dan menghela napas berat.
Setelah selesai menyajikan makanan-makanan itu, Caroline seketika duduk tepat disamping Lukas, tanpa ekspresinya yang terganggu sedikitpun.
Seketika suasana meja makan yang semula sangat terasa nyaman, sekarang tiba-tiba terasa begitu dingin dan mencekam, semua orang sadar dengan ekspresi Andrew saat ini, namun Elliana tidak peduli sama sekali, yang ia pikirkan hanya bagaimana kedekatannya dapat dilihat oleh Caroline, dan statusnya tidak bisa direbut begitu saja.
Sontak mata Andrew menatap kearah Lukas, berharap anaknya dapat membantu dirinya saat ini, melihat ekspresi ayahnya, Lukas langsung mengerti dan ia hanya bisa pasrah seraya menghela napas panjang.
Awalnya, pagi ini ia tidak berniat untuk berurusan dengan wanita ular tersebut, namun melihat tatapan benci wanita itu kepada ibunya, ia pun menyetujui permintaan Andrew untuk bekerja sama.
"Momi, aku belum mencuci tangan, tolong antar aku.!" Ujarnya kepada ibunya beralasan.
"Bukannya tadi lukas sudah mencuci tangan.?" Tanya Caroline sedikit bingung, sementara tadi anaknya sudah membersihkan tangannya sebelum ia duduk dikursinya.
__ADS_1
"Kata Momi, aku harus menjaga kebersihan, tadi aku habis bersalaman dengan paman itu, bagaimana jika kuman menempel ditanganku Momi." Ujarnya seraya menujukan telapak tangannya kepada Caroline.
Roki yang sudah mengerti dengan tatapan dan tanda dari Andrew kepada anaknya, ia hanya bisa terdiam tanpa ekspresi, dan ia hanya bisa berbicara pasrah dalam hatinya sendiri.
"Kenapa aku harus ikut terseret dalam drama kalian berdua? ayah dan anak sama saja."
Sementara Liam dan Roland yang mulai terbiasa dengan sikap dan sifat anak itu, mereka hanya bisa menyeringai tipis diujung bibirnya, apalagi melihat ekspresi wajah Roki yang sangat pasrah tanpa bisa berkata-kata, namun mereka juga sangat tahu, dalam hatinya ia pasti menggerutu sedikit kesal.
"Baiklah, ayo.!" Merasa sedikit canggung terhadap roki, ia hanya bisa mengalah terhadap anaknya, ia pun bangkit dari tempat duduknya diikuti oleh anaknya.
Saat Caroline dan lukas kembali, Andrew bangkit dari tempat duduknya, dan segera menghampiri anaknya. "Coba ayah lihat, apakah sudah tidak ada lagi kuman." Ujarnya seraya ia memeriksa telapak tangan anaknya, yang saat itu ia berdiri disampingnya.
"Apakah sudah bersih.?" Ujar Lukas bertanya dengan ekspresi polosnya.
"Sepertinya masih ada, sudahlah, biar ayah bantu menyuapi kamu sarapan.!"
Ujarnya seraya ia mengangkat tubuh anaknya dari kursi, dan ia segera mengambil alih kursi tersebut, Lukas hanya bisa pasrah, dan tersenyum tipis dengan enggan.
"Lain kali, jangan bersalaman dengan orang lain secara sembarangan, bagaimana jika mereka menyebarkan virus, dan nanti kamu bisa sakit." Ujarnya dengan ekspresi tanpa dosa, dan rasa bersalahnya terhadap Roki.
"Baik ayah."
Roki hanya bisa menghela napas beratnya yang pasrah, dengan ekspresi kagumnya, terhadap drama yang dibuat oleh ayah dan anak tersebut.
"Dasar, kalian berdua sengaja membuat drama, kenapa harus aku yang terpojok."
Bersambung....
NOTE :
Hai, hai, hai, terimakasih bagi yang sudah mampir, dan berkenan meninggalkan jejak.
🌿Jangan lupa beri dukungannya ya, dengan tekan tombol like, komen, vote, dan bintang 5 nya, ya.agar othor yang masih belajar ini, semakin semangat dalam menulisnya. 🌿
🍀Dan jangan lupa klik favorite, agar tidak ketinggalan upnya.🍀
__ADS_1
🌾Novel ini masih on going ya, dan belum sampai pada cerita intinya, masih banyak misteri yang belum terpecahkan.🌾
🍃Diusahakan Up setiap 2 hari sekali, lebih dari 2 bab🍃 Terimakasih.